وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا [الإسراء/32]

MUI Dukung Usulan Wagub Jatim Tutup Lokalisasi Dolly

31 March 2010

Usulan wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf agar Wali Kota Surabaya Bambang DH segera menutup lokalisasi Dolly dan Jarak direspon positif ketua MUI Jatim KH. Abdussomad Bukhori.

“MUI sangat mendukung ide Wagub Gus Ipul tersebut,” ujarnya ketika dihubungi hidayatullah.com, Selasa (30/3), tadi pagi.

KH. Abdussomad Bukhori lebih jelas mengatakan, sebenarnya pemerintah kota (Pemkot) Surabaya bisa mencontoh Jakarta. Menurutnya, Jakarta saja bisa menutup lokalisasi Kramat Tunggak (kini jadi Islamic center di tanjung Priok, red nm), kenapa Surabaya tidak bisa.

Apalagi, penduduk Surabaya sekitar 96 persen lebih adalah muslim. Selain keberadaanya menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan dan sosial, juga merusak citra Islam. “Sebenarnya, kita malu jika disindir-sindir Dolly sebagai lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara, terlebih mayoritas penduduknya muslim” terangnya.

Dia menambahkan, MUI sendiri telah lama mengusulkan penutupan tempat itu. Namun, hingga kini, belum mendapat respon serius dari pemkot. Lebih jauh dia mengatakan, penutupan Dolly dan Jarak akan berdampak positif bagi pembangunan kota Surabaya. Sebab, pembangunan ada dua macam; fisik dan non-fisik.

Selama ini, menurutnya, pembangunan fisik kota, seperti reboisasi dan sebagainya berjalan cukup bagus. Namun, pembangunan non-fisik seperti moral belum mendapat porsi signifikan dan hal itu dibuktikan dengan belum ditutupnya lokalisasi Dolly. Dia menambahkan, selama Dolly belum ditutup, maka ancaman degradasi akhlak sangat tinggi.

Dikatan dia, seperti yang sering terjadi, lokalisasi kerap menjadi ajang perbuatan kriminal; trafficking, penjualan narkoba, minuman keras dan sebagainya. Karena itu, tidak dimungkiri jika beradaanya akan berekses negatif bagi pertumbuhan moral masyrakat.

Terlebih, menurutnya, Dolly bukanlah lokalisasi. Dinamakan lokalisasi, jika berada jauh dari pemukiman masyarakat. Sedang Dolly berada di tengah perkampungan masyarakat. Jadi, keberadaanya sangat mengganggu.

Lebih tegas dia mengatakan, pemerintah jangan bersikap paradoks. Satu sisi Dolly dianggap banyak menularkan penyakit HIV/AIDS, tapi keberadaanya tetap dipertahankan.

“Pemerintah harus berbuat yang ril,” tegasnya. Karena itu, dia menghimbau agar pemkot merespon usulan tersebut. “Jangan lagi ada alasan HAM yang menghalangi,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya,  Senin, (29/30), Wagub yang akrab disapa Gus Ipul meminta agar pemkot Surabaya segera menutup lokalisasi Dolly dan Jarak. Karena dua tempat tersebut memiliki risiko penularan HIV/AIDS yang cukup tinggi.

“Saya mendukung jika Pemkot Surabaya mau menutup lokalisasi Dolly,” tambahnya. Karenanya, Gus Ipul meminta kepada otoritas Pemkot Surabaya bersinergi dan berkoordinasi dengan Pemprov Jatim untuk membuat program pembinaan PSK. Program itu berupa pemberian keterampilan dan modal usaha, sehingga mau beriwirausaha dan mengalihkan profesinya dari PSK.

Data yang dihimpun Puskesmas Putat Jaya yang secara rutin melakukan pemeriksaan kesehatan PSK di lokalisasi Gang Dolly, dari 1.287 PSK Dolly, sekitar 80 persen mengidap infeksi penyakit seks menular. Tahun 2006 tercatat ada 65 pengidap, tahun 2007 ada 95 pengidap, tahun 2008 ada 72 pengidap, dan 2009 ada 46 pengidap.

http://ats-tsaqofah.blogspot.com/2010/03/mui-dukung-usulan-wagub-jatim-tutup.html?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign=Feed%3A+Ats-tsaqofah+(Ats-Tsaqofah)&utm_con

10 penyakit yang paling umum akibat berzina di antaranya:

1. Herpes Genital

2. Sifilis (Penyakit Raja Singa)

3. Gonore (Kencing Nanah)

4. Klamidia

5. Jengger Ayam atau Kutil di kelamin (Genital wart)

6. Hepatitis B

7. Kanker prostate

8. Kanker Serviks (leher rahim)

9. HIV/AIDS

10. Trichomoniasis

(lihat http://dirikudimas.blogspot.com/2010/03).

Islam melarang dekati zina apalagi berzina

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا [الإسراء/32]

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS Al-Israa’/ 17: 32).

Imam As-Sa’di dalam tafsirnya, At_Taisir, menjelaskan: Dan larangan mendekati zina itu lebih mengena (ablagh) daripada larangan hanya perbuatan zina itu sendiri, karena yang demikian itu mencakup larangan terhadap seluruh awalan-awalannya, dan faktor-faktor yang menyebabkan zina. Karena “siapa yang menggembala sekitar daerah larangan maka dia hampir jatuh ke dalamnya”, terutama masalah ini, yang dalam banyak jiwa adalah alasan paling kuat untuk itu.

Allah menyifati buruknya zina dengan: { كَانَ فَاحِشَةً } adalah suatu perbuatan yang keji , artinya, dosa yang dinilai buruk dalam syari’at, akal, dan fitrah (naluri); karena kandungannya adalah pelanggaran atas keharaman di dalam hak Allah, hak perempuan, hak keluarga perempuan atau suaminya; dan merusak tikar (kehormatan suami isteri), mencampur aduk keturunan, dan keburukan-keburukan lainnya. (Tafsir As-Sa’di, juz 1 halaman 457). (nahimunkar.com)