MUI: Film Karya Hanung Mendukung Orang Murtad

Paham Liberal

“Setelah saya menyaksikan film TANDA TANYA, karya Hanung, produksi Mahaka Picture (Kelompok Republika), saya menyatakan; “Film itu menyebarkan paham syirik modern (Pluralisme Agama), mendukung orang murtad dari Islam, menyatakan semua agama menuju Tuhan yang sama, mencampuradukkan antara tauhid dan syirik, antara iman dan kufur, dan berlebih-lebihan dalam menggambarkan konflik antar agama,” demikian disampaikan KH A.Cholil Ridwan, Ketua MUI Bidang Budaya kepada redaksi hidayatullah.com, Kamis (07/3) malam.

***

Untuk kesekian kali, sutradara Hanung Bramantyo kembali menuai kecaman. Setidaknya, dua institusi besar, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Banser Nahdlatul Ulama menyatakan kekecewaannya.

Film terbaru garapan Hanung yang berjudul ‘?’ (baca:Tanda Tanya) yang mulai menghiasi layar lebar di Indonesia pada 7 April 2011 dan diputar perdana di Planet Hollywood, Jakarta Selatan dinilai MUI telah menyebarkan paham syirik modern bernama “pluralisme agama”.

“Setelah saya menyaksikan film TANDA TANYA, karya Hanung , produksi Mahaka Picture (Kelompok Republika), saya menyatakan; “Film itu menyebarkan paham syirik modern (Pluralisme Agama), mendukung orang murtad dari Islam, menyatakan semua agama menuju Tuhan yang sama, mencampuradukkan antara tauhid dan syirik, antara iman dan kufur, dan berlebih-lebihan dalam menggambarkan konflik antar agama,” demikian disampaikan KH A.Cholil Ridwan, Ketua MUI Bidang Budaya kepada redaksi hidayatullah.com, Kamis (07/3) malam.

Selain itu, Kiai Cholil juga meminta kaum Muslim agar waspada terhadap propaganda kemusyrikan berkedok membina kerukunan seperti film yang telah dikampanyekan Hanung tersebut. Kiai Cholil mengingatkan, dalam al-Quran Surat Al An’am: 112 telah disebutkan, bahwa Allah telah menjadikan setan-setan dari jenis manusia yang selalu membisikkan kata-kata indah untuk menipu.

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ [الأنعام/112]

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” [Quran Surat 6:112]

Sementara itu di tempat berbeda, Banser Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Kota Surabaya juga mengecam penayangan film tersebut yang dinilai telah mendiskreditkan sosok Banser.

Sekretaris Satkorcab Banser Kota Surabaya M Hasyim As’ari, Rabu (6/4) mengatakan, protes tersebut dilakukan karena dalam film tersebut Hanung menukil peran Soleh sebagai sosok Banser dengan beragam perannya sesuai fakta di masyarakat.

Menurut Hasyim, Hanung harus meminta maaf kepada para tokoh Banser sekaligus merevisi film tersebut. “Banyak yang tidak terima penggunaan seragam Banser yang tanpa meminta izin itu,” kata Hasyim dikutip Antara.

Sebelum ini, sejumlah tokoh Islam pernah mengecam film karyanya yang berjudul Perempuan Berkalung Sorban (PBS). KH. Prof Dr Ali Mustafa Yakub, Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang dinilai telah mendiskreditkan pesantren.

Sementara itu, sineas Chaerul Umam berkesimpulan, film PBS sarat dengan propaganda paham liberalisme, budaya jahiliyah, bahkan nilai-nilai Kristiani. Dicontohkannya, dalam salah satu adegan film itu, Annisa (santriwati tokoh utama PBS yang diperankan Revalina S. Temat) mengajak bekas pacarnya, Khudori, untuk berzina di kandang kuda. Meski Khudori menolak, namun keduanya sudah kadung ketangkap basah. Hanya dengan bukti jilbab Annisa yang terlepas dari kepala, massa menuntut keduanya dihukum rajam.*

Foto: pnri

Sumber :
Red: Cholis Akbar

Sumber: Hidayatullah.comKamis, 07 April 2011  dengan diberi teks ayat oleh nahimunkar.com.

Ulasan yang mengecam film Tanda Tanya (?) itu dapat juga dibaca di http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/04/06/14019/menyoal-film-pluralisme-tanda-tanya-garapan-hanung/

Beberapa kali nahimunkar.com mempersoalkan karya Hanung. Di antaranya dapat dibaca di Hanung, Kau Keterlaluan: Pesantren dan Kiyai Begitu Kau Burukkan……., https://www.nahimunkar.com/hanung-kau-keterlaluan-pesantren-dan-kiyai-begitu-kau-burukkan%E2%80%A6%E2%80%A6/#more-3394

Adapun mengenai kaitan Hanung dengan Muhammadiyah, dan juga film Perempuan Berkalung Sorban, disoroti pula:


Muhammadiyah Satu Abad, Mau Dibawa ke Mana?

12:59 am

Sementara itu Hanung Bramantyo adalah sutradara yang diprotes keras oleh tokoh di MUI Pusat, karena film Perempuan Berkalung Sorban jelas bernuansa feminisme liberal yang diangkat dari novel yang didanai the Ford Foundation.Menurut Indra Yogi, The Ford Foundation terlanjur mempunyai citra yang tidak bagus. Di Indonesia, Ford Foundation pernah ikut menerbitkan sebuah buku berjudul Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neomodernisme Nurcholis Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid yang diterbitkan secara bersama antara Paramadina, Yayasan Adikarya Ikapi, di tahun 1999.Buku tersebut aslinya merupakan disertasi Greg Barton (1995) tentang kemunculan pemikiran liberal di kalangan pemikir Indonesia. (lihat nahimunkar.com, 8:46 pm, Fenomena Sinetron dan Film Indonesia Bertendensi Merusak Citra Islam).

Masalah liberal, bahkan pluralisme agama bukan lah masalah kecil dalam Islam. Bahkan MUI telah mengharamkan faham pluralisme agama itu dalam fatwanya tahun 2005. Namun faham yang diharamkan MUI itu kadang justru menyusup ke lembaga-lembaga Islam, kemungkinan pula Muhammadiyah. Maka perlu waspada.

https://www.nahimunkar.com/muhammadiyah-satu-abad-mau-dibawa-ke-mana/#more-2743

Fenomena Sinetron dan Film Indonesia Bertendensi Merusak Citra Islam

8:46 pm

Adanya fenomena Hanung dan film Perempuan Berkalung Sorbanmembuat umat Islam harus lebih tegas. Apa-apa yang dilakukan Hanung bukan sekedar berkreasi dengan bebas, tetapi memang ada unsur memfitnah Islam.

https://www.nahimunkar.com/nomena-sinetron-dan-film-indonesia-bertendensi-merusak-citra-islam/#more-242

Demikianlah kecaman-kecaman terhadap Hanung yang jualan kemusyrikan baru dengan nama bukan dari Islam yakni pluralism agama lewat film, menurut Ketua MUI bidang Budaya, seperti dikutip hidayatullah.com di atas.

(nahimunkar.com)