MUI Jabar Himbau Masyarakat Berhati-hati Peredaran Dendeng Babi


Sunday, 29 March 2009 07:41

MUI Jawa Barat mengimbau masyarakat Bandung berhati-hati dalam membeli produk dendeng/abon terkait ditemukan dendeng babi abon babi

Hidayatullah.com–Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dinas Peternakan Jawa Barat mengimbau masyarakat konsumen umum di Kota Bandung dan Kota Bogor, agar berhati-hati dalam membeli produk dendeng/abon. Imbauan itu dilontarkan terkait ditemukannya beberapa merek dendeng/abon, yang berdasarkan pengujian laboratorium ditemukan kandungan daging babi namun mencantumkan label halal pada kemasannya.

Sebagaimana diketahui, Selasa (24/3/2009) kemarin, Kepala Dinas Peternakan Jabar H. Koesmayadie, didampingi Kepala Bidang Kesehatan Hewan-Kesmavet, Nana M. Adnan, di Bandung, menyampaikan temuan produk dendeng/abon mengandung daging babi.

Ditemukannya produk dendeng/abon daging babi ini setelah melalui pengujian rutin oleh Balai Penyidikan Penyakit Hewan dan Kesmavet (BPPHK) Cikole, Kec. Lembang, Kab. Bandung Barat.

Di Bandung mereka mengambil 31 sampel bakso sapi dan 15 sampel dendeng sapi dari Pasar Baru, Pasar Andir, Pasar Ujungberung, Pasar Antapani, Pasar Cicaheum, Pasar Cicadas, Pasar Kosambi, dan Pasar Basalamah. Di Bogor diambil 17 sampel bakso sapi dan 4 sampel dendeng sapi dari Pasar Balekambang, Pasar Anyar, dan Pasar Bogor, masing-masing pada 11 dan 26 Februari 2009 lalu.

Dari hasil pemeriksaan, menurut Koesmayadie, ditemukan adanya daging babi pada produk dendeng/abon yang diedarkan oleh penjual di pasar tradisional. Lain halnya bakso sapi, sejauh ini belum terbukti adanya penggunaan campuran daging babi.

“Kendati ditemukan adanya merek-merek dendeng/abon tertentu yang menggunakan bahan daging babi, masyarakat konsumen umum tak perlu panik dan tinggal berhati-hati dalam menentukan pilihan produk yang akan dibeli. Kami juga terus memantau sejauh mana peredaran dendeng/abon yang berbahan daging babi di Jabar, demi kenyamanan dan keamanan para konsumen umum,” kata Koesmayadi.

Mereka menyebutkan, produk dendeng/abon yang sudah terbukti menggunakan bahan daging babi, mereknya berinisial CKS No. SP:0094/13.06/92 dan dendeng berinisial CPM No. SP:030/1130/94, di mana pencantuman Halal pun tak sesuai dengan prosedur.

Sementara itu, di sebuah stasiun TV swasta, Sekretaris Umum MUI Jabar, H. Rafani Akhyar mengatakan, abon merk CKS dan CPM belum terdaftar dalam sertifikasi halal MUI Jabar.

Selama ini, nomor SP berangka 92 dan 94 diketahui berasal dari Jawa Tengah, namun oleh tim penguji merek CKS ditemukan di Pasar Kosambi dan Pasar Basalamah Bandung, sedangkan merek CPM diambil dari Pasar Anyar Bogor.

Secara terpisah, Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LP POM) MUI Jabar, Prof. Dr. H.A. Surjadi, M.A. mengatakan, produk/merek dendeng/abon merek CPS dan CPM yang belum mendapat sertifikat halal dari MUI itu ditengarai mencantumkan label Halal secara sepihak. [pr/ttv/cha/www.hidayatullah.com]


Makanan Mengandung Babi Beredar Luas di Jakarta

Jum’at, 13 Februari 2009 – 15:12 wib

Fahmi Firdaus – Okezone

Penyitaan barang berbahaya (Foto: Sindo) *JAKARTA* – Makanan mengandung unsur babi masih beredar secara bebas di Indonesia. Badan Pusat Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPPOM) menemukan ribuan makanan dan kosmetik dengan kandungan tersebut berlabel Jepang.

Produk-produk makanan mengandung babi tersebut berupa makanan anak-anak, mi instant merek Butaniku, kornet, permen dan semua yang berbahasa Jepang.

Selain makanan, BPPOM juga merazia kosmetik-kosmetik ilegal. Semua itu merupakan bagian dari razia yang dilakukan BPPOM terhadap produk-produk ilegal di sejumlah tempat di Jakarta. Yakni sebuah gudang yang berada di Jembatan Genit, Pesing, Jakarta Barat. Kemudian Pasific Place, Gran Indonesia, Kemp Chik, Ranch Market, dan Metro Pasar Baru.

Setidaknya produk-produk ilegal yang berhasil dirazia oleh BPPOM sebanyak 1.130 item makanan, dan 300 kosmetik. “Kami juga perlu melakukan evaluasi agar konsumen tahu semuanya. Karena produk tersebut berbahasa asing,” ujar Kepala BPPOM Husniah Rubiana Thamrin saat menggelar konferensi pers di Departemen Komunikasi dan Informasi, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (13/2/2009).

Berbagai produk tersebut menurut Husniah, masuk secara bebas ke Indonesia. Maka itu BPPOM bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk melakukan razia produk-produk ilegal dari luar negeri yang melewati pengawasan BPPOM. “Ini juga merupakan pelecehan bagi negara ini,” tukasnya.*(mbs)* (Okezone).

145. Katakanlah: “Tiadalah Aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – Karena Sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha penyayang”. (QS Al-An’am: 145)