MUI Kudus: Aliran Sabda Kusumo Sesat

Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Kudus menilai ajaran aliran Sabda Kusumo yang dikembangkan Kusmanto Sujono di Kauman, Belakang Masjid Menara Kudus, Jawa Tengah, adalah sesat.
Kusmanto Sujono mengaku dirinya nabi.

Aliran ini telah mengubah syahadat Rasul yang seharusnya berbunyi ‘Asyhadu anna Muhammadan Rasululllah‘ diubah jadi ‘Asyhadu Anna Sabda Kusuma Rasulullah,

Pengubahan kalimah syahadat itu ada dalam diktat “Lempiran Sabdaning-Suma” 3 jilid berasal dari kelompok Sabda Kusumo.

Inilah berita-beritanya:

Majelis Ulama Kudus Vonis Aliran Sabda Kusumo Sesat

Kamis, 12 November 2009 | 15:44 WIB

TEMPO Interaktif, Kudus – Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Kudus menilai ajaran aliran Sabda Kusumo yang dikembangkan Kusmanto Sujono di Kelurahan Kauman, Belakang Masjid dan Makam Menara Kudus, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jaw Tengah, adalah sesat.

“Ia mengaku dirinya nabi. Padahal, dalam Islam, nabi terakhir adalah Muhammad SAW,” ucap KH.Syafiq Nashan, Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Kudus, dihubungi, Kamis ( 12/11). Penegasan itu juga dituangkan dalam surat pernyataan MUI Kabupaten Kudus No K.30/MUI/XI/2009 tanggal 10 November 2009.

“ Kesimpulan ini berdasarkan temuan dan dibahas dalam rapat koordinasi di Kantor Kesbanglinmaspol,” ucap Syafiq. “Kami berharap aparat kepolisian menindaknya”.

Sudah sekitar lima lalu, Kusmanto Sujono yang mengontrak rumah milik Azis di Kelurahan Kauman, Kudus, itu mengembangkan aliran yang ia namai Sabda Kusumo.

Menurut keluarga Kusmanto, Suparman, sejak kecil Kusmanto tinggal di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Nama Sabda Kusumo itu diambil sebagai nama barunya, setelah ia mengaku keturunan Raden Syarif Hidayatullah, Sultan Keraton Kanoman Cirebon.

Ketika akan dikonfirmasi, menurut Suparman, Kusmanto sedang tidak di rumah. “Dia sedang ke luar kota,” ucap Suparman.

Tidak banyak warga setempat mengetahui tentang apa yang diajarkan Sujono itu. Seorang warga setempat, Baedowi, mengatakan sejauh ini dirinya mengetahui Sujono sebagai dukun. “Yang saya ketahui, dia itu sebeh,” ucap Baedowi.

“Kebanyakan mereka berasal dari luar desa,” ucap Yahya, perangkat Kelurahan Kauman. Menurut Yahya, hingga kini akibat ajaran itu belum sampai menimbulkan gesekan. Muridnya mencapai sekitar 70 orang dan mereka berkumpul untuk pertemuan setiap Kamis malam.

BANDELAN

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/11/12/brk,20091112-208007,id.html

Mengubah Syahadat

12 Nov 2009

Aliran Sesat di Kudus Merubah Syahadat

Aliran ini mengajarkan kalimat syahadat Rasul ‘Asyhadu Anna Sabda Kusuma Rasulullah‘, yang seharusnya berbunyi ‘Asyhadu anna muhammadan rasululllah.

Kudus (voa-islam) – Aliran baru yang dinyatakan sesat ditemukan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.  Aliran Sabda Kusuma telah mengubah kalimat syahadat dengan memasukkan nama pemimpin aliran tersebut, yakni Raden Sabda Kusuma.
Aliran Sabda Kusuma pertama kali ditemukan di RT 01/RW 04 Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Lokasi rumah aliran Sabda Kusuma masih berada di lingkungan komplek Masjid Menara Kudus. Dan dari informasi lapangan, pengikut ajaran ini sudah mencapai 60 orang.

Warga sekitar komplek Masjid Menara Kudus merasa resah dengan keberadaan aliran ini. Mereka khawatir paham aliran ini akan menyebar ke warga lain serta santri-santri yang sedang menimba ilmu.

Aliran ini telah melakukan penyimpangan dengan mangajarkan kalimat syahadat Rasul ‘Asyhadu Anna Sabda Kusuma Rasulullah‘, yang seharusnya berbunyi ‘Asyhadu anna muhammadan rasululllah‘.

Selain itu, aliran ini juga melakukan pengambilan sumpah para pengikutnya di pegunungan atau tempat-tempat sunyi lainnya dengan cara telanjang meskipun para pengikutnya ada yang laki-laki dan perempuan.

“Secara tersirat pemimpin aliran Sabda Kusuma juga mengaku-ngaku keturunan dari Sunan Gunung Jati, meskipun hasil penelusuran kami pengakuan tersebut tidak benar,” kata juru bicara masyarakat Kauman Kompleks Menara Kudus, Maesah Anggni.

Bahkan, aliran ini juga menjanjikan kepada para pengikutnya akan masuk surga bersama tujuh turunan sebelum dan sesudahnya.

Menanggapi munculnya aliran Sabda Kusuma, Majelias Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kudus pada Selasa (10/11) kemarin, mengeluarkan fatwa sesat, karena jelas-jelas telah menyimpang dari ajaran Islam. Fatwa tersebut tertuang dalam surat resmi MUI Kudus dengan nomor surat K.30/MUI/XI/2009. Surat itu ditandatangani oleh Ketua Umum Muhammad Syafiq Nashan dan Sekretaris Umum Ahmad Mundakir.

Menurut penjelasan Ketua MUI Kabupaten Kudus, Muhammad Syafiq Naschan, Rabu (11/11),  alasan utama yang dijadikan dasar dikeluarkannya fatwa yang menyatakan sesatnya aliran Sabda Kusuma adalah karena merubah kalimat syahadat dengan ucapan Asyhadu An laa Ilaaha Illallah, Wa Asyhadu Anna Sabda Kusuma Rasulullah.

Dengan dikeluarkannya fatwa MUI tersebut, dia berharap, aparat kepolisian segera melakukan pemanggilan terhadap pemimpin aliran tersebut untuk dimintai keterangan dan klarifikasinya soal ajaran yang diduga menyimpang dari ajaran Agama Islam itu.

Jika ajaran tersebut terbukti menyimpang, maka perlu ditelusuri siapa pembuat buku milik aliran Sabda Kusuma itu, agar tidak menimbulkan fitnah, ujarnya.

Sebelumnya, Kasatreskrim Polres Kudus, Iptu Suwardi mengatakan, pihaknya memang menunggu fatwa dari MUI terhadap aliran Sabda Kusuma tersebut, sebelum melakukan sejumlah tindakan.

Apalagi, berdasarkan Penetapan Presiden Nomor 1 tahun 1965, Tentang Penistaan Agama dijelaskan aliran sesat dibubarkan atau dibina setelah ada fatwa dari MUI.
Sementara itu, Kepala Kantor Departemen Agama (Depag) Kabupaten Kudus Dahwan Hadi mengatakan, pihaknya akan memanggil pimpinan dan pengikut aliran Sabda Kusuma untuk dimintai keterangannya Kamis (12/11).

Pada kesempatan tersebut, katanya, Depag Kudus akan menghadirkan pula petugas Polres Kudus, Kesbangpolinmas, dan MUI guna mengungkap keterangan terkait dugaan adanya aliran yang menyimpang dari ajaran Islam.

Dahwan mengaku belum berani menyatakan aliran tersebut sesat, sebelum bertemu langsung dengan pimpinan dan para pengikut aliran yang diduga menyimpang dari ajaran Islam tersebut. (PurWD/dbs)

http://www.voa-islam.net/news/indonesia/2009/11/12/1672/aliran-sesat-di-kudus-merubah-syahadat/

Bukti-bukti Kesesatan

Radar Kudus

[ Sabtu, 14 November 2009 ]

Tim Menara Siap Buktikan

KUDUS – Kasus dugaaan adanya aliran sesat yang dipimpin oleh Sabda Kusumo yang beralamat di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus diperkirakan bakal panjang. Setelah sebelumnya Sabda Kusumo membantah ia telah mengajarkan aliran sesat, kini Tim Menara siap membeberkan bukti-bukti adanya dugaan penyimpangan oleh aliran tersebut.

Hal tersebut diungkapkan oleh perwakilan Tim Menara, Maesah Aggni, saat ditemui Radar Kudus, kemarin (13/11). “Kita siap membuktikan,” paparnya.

Lebih lanjut dijelaskan, pihaknya telah mendapatkan mandat secara resmi dari masyarakat sekitar. “Surat mandat ini merupakan wujud representasi keresahan warga,” ujarnya, sambil memperlihatkan surat mandat yang telah ditanda tangani oleh BPD, Ketua Rw, ketua RT danjuga tokoh agama.

Selain itu, pihaknya juga telah memperoleh mandat khusus dari Kepala Desa Kauman, Rofiqul Hidayat serta Ketua Yayasan Masjid Menara & Makam Sunan Kudus (YM3SK), H Em Nadjib Hassan untuk segera bertindak mengenai adanya dugaan aliran sesat oleh Sabda Kusumo ini. Tindakan yang dimaksud adalah melakukan penelitian, menggali dan memverifikasi data dan fakta ajaran Sabda Kusumo. Selain itu, dalam mandat tersebut pihaknya diberikan wewenang untuk menyusun strategi untuk menyikapi temuan adanya ajaran Sabda Kusumo.

Maesah meyakini, diktat “Lempiran Sabdaning-Suma” yang didalamnya telah mengubah syahadat adalah memang dari kelompok aliran ini. “Dari mandat ini saya mendapatkan diktat asli. Kalau mereka (para pejabat-red) foto copy,” katanya.

Dijelaskan, dalam diktat yang diyakini berasal dari kelompok Sabda Kusumo tersebut adalah berjumlah 3 jilid. Dan di antaranya tersebut mengatakan tentang adanya pengubahan syahadat yang mengatakan bahwa Sabda Kusuma rasululullah.

“Ketika mereka tidak mengakui diktat yang mengubah syahadat itu, bisa dibuktikan dengan mengkaji diktat yang diakui dari kelompoknya,” ujaranya.

Maesah membeberkan, ada banyak kesamaan antara diktat yang diakui Sabda Kusumo dan yang tidak diakuinya. “Baik dari fisiknya, dari isinya, dari font dan tulisannya,” lanjutnya.

Diakui Maesah, memang diktat ini tidak dikasihkan kepada semua pengikutnya. “Tidak semua mridnya mendapatkan diktat ini,” akunya.

Mesah menegaskan, meskipun dalam pengakuan Sabda Kusumo di Kantor Departemen Agama Kabupaten Kudus Kamis (12/11), ia tidak mengakui diktat yang diangap melenceng dari Islam, tetapi, pihaknya yakin mereka telah mengajarkan isi dari diktat yang melenceng tersebut kepada para pengikutnya. “Sudah berapa banyak yang disesatkan dengan ajaran tersebut,” tanyanya.

Selain membeberkan mengenai diktat tersebut, Maesah juga mengakui telah mempunyai saksi-saksi dari para mantan pengikut Sabda Kusumo. “Kita telah mempunyai saksi-saki dari mantan pengikut Sabda Kusuma yang siap bersaksi,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, pihaknya telah mengumpulkan keterangan-keterangan para saki di atas materai. “Kita siap memberikan saksi atas kasus tersebut. (kha)

http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=126214

Warga Khawatir Masyarakat Tercemari Kesesatan

Radar Kudus

[ Minggu, 15 November 2009 ]

Warga Inginkan Kauman “Bersih”

KUDUS-Sebagai salah satu pusat pengembangan ajaran Islam di Kabupaten Kudus, warga Desa Kauman, Kecamatan Kota, sebenarnya menginginkan wilayah Kauman kembali seperti semula serta bersih dari ajaran-ajaran yang menyesatkan. Pasalnya, selama ini kawasan Kauman sudah dikenal sebagai pusat pengembangan ajaran Islam dan menjadi tidak baik bila dikotori adanya dugaan ajaran-ajaran Sabda Kusumo yang menyesatkan di tempat tersebut.

Hal tersebut ditegaskan Perwakilan Tim Menara, Maesah Aggni, Kepada Radar Kudus Jumat (13/11) lalu. “Kita tidak rela Kauman dikotori dengan ajaran-ajaran yang melenceng dari Islam,” ungkapnya.

Dijelaskan, selama ini warga sekitar resah kalau ternyata di wilayah kauman yang dikenal sebagai salah satu pusat pengembangan Islam justru dinodai dengan ajaran-ajaran Sabda Kusumo yang diduga melenceng dari Islam.

Sebagai pusat pengembangan Islam, wilayah Kauman memang berdiri banyak pondok pesantren dan juga sekolah-sekolah Islam. Hal ini akan berpengaruh negatif ketika terbukti di wilayah tersebut ditemukan ajaran-ajaran yang melenceng dari Sabda Kusumo.

Sebenarnya, kata Maesah, warga menginginkan agar semua ajaran Sabda Kusumo yang diduga sesat tidak lagi disebarluaskan di kawasan Kauman. “Kalau memang Sabda Kusuma meyakini ajaran tersebut jangan disebarluaskan di sini, donk,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan, ia khawatir citra kota santri yang disandang Kota Kudus, utamanya di wilayah sekitar Menara Kudus sebagai pusat ajaran Islam justru ternoda seiring dengan dugaan ditemukannya aliran sesat yang berada di Desa Kauman. “Bagaimana perasaan orang tua di luar sana yang memondokkan anaknya di daerah sini. Pasti mereka was-was terhadap kondisi anaknya. Jangan-jangan terpengaruh dengan aliran tersebut,” cemasnya.

Hal seperti ini, kalau terus dibiarkan, akan semakin menyudutkan serta menodai wilayah ini. “Sesegera mungkin aliran ini dapat ditindak,” tegasnya.

Maesah menambahkan, pihaknya siap memberikan bukti-bukti atas dugaan adanya penyimpangan-penyimpangan aliran ini. “Apalagi MUI sudah melayangkan surat pernyataan tentang aliran tersebut sesat,” imbuhnya. (kha)

http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=126345

Mbulet

Di saat Ulama bahkan MUI tidak dibagi daya apapun untuk memberantas kesesatan, hanya boleh sekadar bicara, dan itupun belum tentu digubris, sedang yang punya wewenang selama ini belum banyak bukti bahwa mereka sungguh-sungguh memberantas kesesatan walaupun telah meresahkan masyarakat, maka ketika tempo-tempo ada yang bertindak di antara anggota masyarakat, justru seringkali yang ditindak oleh aparat adalah yang menghendaki kesesatan itu diberantas ini.

Itulah sulitnya keadaan ketika orang-orang yang diberi amanah justru telah jadi rahasia umum bahwa mereka belum tentu memegang amanah, masih mbulet pula. Qadarullah, suatu ketika kewetu (terlontar ucapan, belum tentu sadar akan dampaknya) di antara mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai buaya, dan akhirnya masyarakat pun hafal dengan sebutan itu. Maka tidak mengherankan bila kesannya aliran-aliran sesat itu justru jadi piaraan, kapan-kapan dipertontonkan kepada masyarakat untuk kepentingan tertentu. Bukan untuk diberantas. Buktinya, aliran sesat Islam Jama’ah yang telah dilarang Jaksa Agung tahun 1971 pun sampai sekarang masih dielus-elus, kadang-kadang sarangnya disowani (didatangi dengan munduk-munduk penuh hormat), lalu dimintai restunya dalam pemilihan kepemimpinan.

Itulah yang selama ini terjadi di Indonesia, dan itulah salah satu kebusukan saja, belum lain-lainnya. Tangan Allah lah yang akan menyelesaikannya, insya Allah, ketika hamba-hamba-Nya yang taat justru jadi sasaran rekayasa dengan dibiarkannya aliran-aliran sesat hampir jarang diberantas. (nahimunkar.com)