MUI: Ma’had Al-Zaytun Tak Bisa Dilepaskan dari NII KW 9

NII KW 9 adalah aliran sesat yang menyimpang dari Islam

mahad-al-zaytun-tak-bisa-dilepaskan-dari-nii-kw-9

“MUI menyimpulkan secara tegas bahwa NII KW 9 adalah aliran sesat yang menyimpang dari Islam,” ujar Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat, KH Aminuddin Ya`qub, pada acara ‘Halqah Islam dan Peradaban’ bertema “Teror NII: Kriminalisasi Perjuangan Islam,” Selasa sore, (10/5/2011) di Auditorium Adhiyana Wisma Antara Jalan Medan Merdeka Selatan Jakarta.

Terhadap keberadaan Ma’had (pesantren) Al-Zaytun Indramayu yang dibawahi oleh Panji Gumilang, penelitian MUI menyimpulkan bahwa Al-Zaytun tidak bisa dipisahkan dari NII KW 9, dengan bukti adanya persamaan dan hubungan yang kuat antara NII KW 9 dengan Al-Zaytun.

***

JAKARTA (voa-islam.com) – Keberadaan Ma’had Al-Zaytun tak bisa dipisahkan dari NII KW 9 yang dibuat intelijen untuk pembusukan gerakan Islam.

Setelah melakukan penelitian terhadap NII dan Ma’had Al-Zaytun Indramayu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat menyimpulkan bahwa NII yang meresahkan saat ini bukanlah NII asli yang diproklamirkan oleh Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, melainkan NII KW 9 buatan intelijen untuk membusukkan gerakan Islam.

Berbagai ajaran sesat NII KW 9 inilah yang mengajarkan berbagai penyimpangan ajaran Islam, misalnya: tidak mewajibkan shalat sampai terjadinya masa Fathu Makkah, menjalankan tugas negara lebih penting daripada shalat ritual, penyimpangan penafsiran Al-Qur’an, mengafirkan semua orang di luar kelompok mereka, dan rekayasa tentang bermacam-macam shadaqah (shadaqah hijrah, shadaqah istigfar, dst).

“MUI menyimpulkan secara tegas bahwa NII KW 9 adalah aliran sesat yang menyimpang dari Islam,” ujar Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat, KH Aminuddin Ya`qub pada acara ‘Halqah Islam dan Peradaban’ bertema “Teror NII: Kriminalisasi Perjuangan Islam,” Selasa sore, (10/5/2011) di Auditorium Adhiyana Wisma Antara Jalan Medan Merdeka Selatan Jakarta.

Selain sebagai kelompok sesat, MUI juga menyimpulkan bahwa NII KW 9 adalah gerakan kriminal yang punya motif untuk memberikan efek traumatik yang menjadikan orang alergi terhadap gerakan-gerakan Islam. NII sesat di bawah kepemimpinan Abu Toto alias Panji Gumilang ini ini lahir pasca meninggalnya para pemimpin NII: Kartosuwiryo, Daud Beureh dan Kahar Muzakar.

Terhadap keberadaan Ma’had (pesantren) Al-Zaytun Indramayu yang dibawahi oleh Panji Gumilang, penelitian MUI menyimpulkan bahwa Al-Zaytun tidak bisa dipisahkan dari NII KW 9, dengan bukti adanya persamaan dan hubungan yang kuat antara NII KW 9 dengan Al-Zaytun.

“Ada tiga relasi yang signifikan antara gerakan NII KW 9 dengan Ma’had Al-Zaytun,” jelas Aminuddin.

Ketiga relasi itu, lanjutnya, adalah relasi historis, relasi kepemimpinan dan relasi finansial (keuangan). Relasi historis nampak jelas dan tak bisa ditampik, karena lahirnya Al-Zaytun tidak lepas dari NII KW 9. Sedangkan relasi kepemimpinan terbukti dengan adanya persamaan kepemimpinan antara Al-Zaytun dengan NII KW 9. Para pejabat dari Panji Gumilang, pengurus yayasan, dewan guru sampai staff yayasan itu tidak lepas dari NII. Fakta ini diakui oleh Imam Supriyanto, mantan Wakil Ketua YPI yang sekarang sudah bertaubat.  “Eksponen kepemimpinan dalam gerakan NII sama persis dengan eksponen yang ada di Yayasan Pesantren Indonesia (YPI). Nama-nama di YPI yang menaungi Al-Zaytun adalah tokoh-tokoh NII,” ujar Aminuddin.

….Di Ma’had Al-Zaytun, pada event Harokah Muharrom, satu hari bisa terkumpul dana milyaran rupiah, setoran dari para pejabat NII KW 9….

Sedangkan relasi finansial terbukti dengan adanya aliran dana yang signifikan, dari NII KW 9 ke Al-Zaytun, terutama setoran pada Harokah Muharrom. “Di Ma’had Al-Zaytun, pada event Harokah Muharrom, satu hari bisa terkumpul dana milyaran rupiah, setoran dari para pejabat NII KW 9, mulai dari bupati, camat hingga lurah,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, MUI Pusat memfokuskan penelitian terhadap NII dan Ma’had Al-Zaytun sejak tahun 2002 dengan membentuk Tim Peneliti Gerakan NII yang dikaitkan dengan Ma’had Al-Zaytun, diketuai oleh KH Ma’ruf Amin yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat.

Tim peneliti NII dan Al-Zaytun itu sendiri dibentuk setelah mencuat kasus menghebohkan di mana ada wanita berjilbab yang menjual diri demi untuk mengejar shadaqah kepada NII. Hasil penelitian MUI itu sudah dilaporkan ke Mabes Polri maupun Pemerintah RI melalui Departemen Agama, namun hingga kini belum ada pelarangan yang tegas dari pemerintah terhadap NII. [taz]

Voaislam.com, Rabu, 11 May 2011

***

NII KW 9 Adalah Gerakan Kriminal Buatan Intelijen

JAKARTA (voa-islam.com) – Penyimpangan ajaran NII sepeninggal Kartosuwiryo adalah ulah intelijen pada masa Ali Murtopo untuk membusukkan NII yang benar. NII KW 9 buatan intelijen itu adalah aliran sesat dan gerakan kriminal.

Pernyataan ini disampaikan Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat, KH Aminuddin Ya`qub pada acara ‘Halqah Islam dan Peradaban’ bertema “Teror NII: Kriminalisasi Perjuangan Islam (Membongkar Skenario Jahat di Balik Isu NII),” Selasa sore, (10/5/2011) di Auditorium Adhiyana Wisma Antara Jalan Medan Merdeka Selatan Jakarta.

Menurut Aminuddin, persoalan Negara Islam Indonesia (NII) itu tidak sederhana. Karena masyarakat banyak yang salah paham dan tidak objektif terhadap NII karena hanya melihat penyimpangan NII saja. Padahal, NII ada dua versi yaitu versi NII asli yang didirikan oleh Kartosuwiryo dengan NII KW 9 buatan intelijen untuk pembusukan terhadap NII asli. “NII itucomplicated. Kita harus bisa memilah antara NII asli yang didirikan oleh Kartosuwiryo dengan NII KW 9 yang  sangat penuh distorsi. Kita harus objektif dan proporsional bahwa memang ada dua versi NII,” jelas alumnus pesantren Darunnajah Jakarta itu.

NII asli yang didirikan oleh Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, jelas Aminuddin, adalah NII yang  murni sebagai gerakan politik untuk menegakkan Islam tanpa distorsi dalam ajaran-ajarannya. “Apa yang dilakukan oleh Kartosuwiryo adalah gerakan politik murni perjuangan menegakkan syariat Islam,” tegasnya.

Aminuddin menambahkan, secara historis, Kartosuwiryo mendirikan NII pada tanggal 7 Agustus 1949 karena kecewa terhadap Presiden Soekarno yang mengkhianati para pejuang kemerdekaan. “Kartosuwiryo adalah pahlawan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Beliau kecewa dengan Presiden Soekarno yang mencoret tujuh kata dalam WatsiqohJakarta (Piagam Jakarta),” paparnya. “Jadi, NII di era Kartosuwiryo adalah gerakan politik penegakan syariat Islam, tidak ada penyimpangan agama,” tandasnya.

….NII di era Kartosuwiryo adalah gerakan politik penegakan syariat Islam, tidak ada penyimpangan agama…

Sepeninggal Kartosuwiryo, Daud Beureh dan Kahar Muzakar, tahun 1962 NII mengalami kevakuman kepemimpinan, sehingga muncullah krisis di tubuh NII. Di masa Ali Murtopo pada zaman Orde Baru, menurut penjelasan ZA Maulani, NII dibangun intelijen untuk defeksi, yaitu pembusukan dari dalam. Intelijen memasukkan orang-orangnya ke tubuh NII lalu melakukan pembusukan dari dalam.

Dalam kevakuman kepemimpinan NII, lalu intelijen melakukan defeksi di tubuh NII, maka terjadilah perpecahan di tubuh NII yang melahirkan faksi-faksi, antara lain faksi Adah Djaelani. Dari faksi Adah Djaelani inilah di kemudian hari memunculkan Abu Toto alias Panji Gumilang yang sekarang menjadi Syaikhul ma’had Al-Zaytun. “Jadi, kalau sekarang kita bicara NII, maka yang ada adalah NII faksi Adah Djaelani, bukan faksi lain yang masih dalam khittah Kartosuwiryo,” tambahnya.

NII KW 9 inilah yang mengajarkan berbagai penyimpangan ajaran Islam, misalnya: tidak mewajibkan shalat sampai terjadinya masa Fathu Makkah, menjalankan tugas negara lebih penting daripada shalat ritual, penyimpangan penafsiran Al-Qur’an, mengafirkan semua orang di luar kelompok mereka, dan rekayasa tentang bermacam-macam shadaqah (shadaqah hijrah, shadaqah istigfar, dst). “MUI menyimpulkan secara tegas bahwa NII KW 9 adalah aliran sesat yang menyimpang dari Islam,” ujarnya.

Selain sebagai kelompok sesat, Aminuddin tak ragu menyimpulkan NII KW 9 sebagai gerakan kriminal. Di berbagai kampus, NII KW 9 banyak memakan korban mahasiswa yang memiliki semangat keagamaan tapi tidak ditunjang keilmuan keislaman yang memadai.

….Gerakan NII KW 9 adalah gerakan kriminal yang punya motif untuk memberikan efek traumatik kepada gerakan Islam…

“Gerakan NII KW 9 ini adalah gerakan kriminal yang punya motif untuk memberikan efek traumatik kepada gerakan-gerakan Islam di kampus-kampus. Gerakan ini membuat efek menjadikan orang alergi terhadap gerakan-gerakan Islam,” jelasnya.

Aminuddin menyayangkan ketidaktegasan pemerintah terhadap NII KW 9. Meski MUI secara resmi sudah melaporkan berbagai kesesatan dan kejahatan NII KW 9 kepada Mabes Polri dan pemerintah melalui Departemen Agama. “Pemerintah tidak tegas. Pembiaran pemerintah terhadap NII adalah kezaliman yang luar biasa,” kecamnya. [taz]

Voaislam.com, Rabu, 11 May 2011

(nahimunkar.com)