MUI, NU, dan Muhammadiyah Telah Sepakat, Ahmadiyah Sesat Menyesatkan

Pemerintah Masih Menunggu Apa lagi?

MUI, NU, dan Muhammadiyah telah sepakat bahwa ahmadiyah itu aliran sesat dan menyesatkan. Pemerintah masih tunggu apa lagi.

Demikian suara dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat di Jakarta yang dikutip media massa, Selasa (8/2 2011).

Suara MUI itu berkaitan dengan bentrokan berdarah di Cikeusik Banten Ahad (6/ 2 2011) yang diantaranya menurut Polisi karena dipicu oleh pihak Ahmadiyah yang memprovokasi terhadap warga dengan menantang, akibatnya timbul bentrokan, menewaskan 3 orang Ahmadiyah dan lima orang luka.

Sementara itu Menteri Agama Surya Dharma Ali mengatakan, untuk mengatasi konflik Ahmadiyah, pemerintah menawarkan beberapa opsi. Salah satunya, Ahmadiyah akan diminta menanggalkan ke-Islaman mereka.

Berikut ini beritanya:


Penyerangan Ahmadiyah Cikeusik

Pemerintah Sarankan Ahmadiyah Tanggalkan Islam

SURABAYA – Untuk mengatasi konflik Ahmadiyah, pemerintah menawarkan beberapa opsi. Salah satunya, Ahmadiyah akan diminta menanggalkan ke-Islaman mereka.

Hal ini berarti Ahmadiyah tidak bisa lagi menggunakan masjid sebagai tempat ibadahnya, Alquran sebagai kitab sucinya, dan sejumlah simbol Islam dalam keyakinan dan peribadatan aliran ini.

“Tapi tentu saja, opsi ini akan ditolak oleh Ahmadiyah,” kata Menteri Agama Suryadharma Ali sesaat sebelum membuka Musywarah Wilayah VI Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Senin (7/2/2011).

Selain opsi itu, lanjut Suryadharma, saat ini pemerintah juga tengah melakukan evaluasi terkait pelaksaanaan Surat Keputusan Bersama (SKB) soal jamaah Ahmadiyah.

Yang terpenting, Menteri Agama meminta agar masyarakat tidak sampai main hakim sendiri dengan melakukan tindakan kekerasan dengan dalih apa pun.

“Hindari kekerasan perkuat jalur hukum,” ujarnya.

(ded)

Sumber: Okezone, Amir Tejo – Senin, 7 Februari 2011 – 14:19 wib

MUI juga menyuara. Inilah beritanya:

Pemerintah Tunggu Apa Lagi?

MUI, NU & Muhammadiyah Sepakat Ahmadiyah Sesat

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Kerukunan Antarumat Beragama Slamet Effendi Yusuf menegaskan bahwa Ahmadiyah adalah ajaran sesat dan menyesatkan.

Selain MUI, ormas-ormas Islam lainnya juga sudah sepakat bahwa ajaran Ahmadiyah di luar dari Islam. Misalnya Muhammadiyah yang sudah menganggap Ahmadiyah sesat sejak 1926 dan MUI pada 1980 di bawah pimpinan Buya Hamka dan diperbarui pada 2005 sudah menyatakan Ahmadiyah sesat begitu juga dengan Nahdatul Ulama (NU).

Oleh karena itu, Slamet Effendy menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah untuk membubarkan Ahmadiyah. [mah]

Sumber: INILAH.COM, Jakarta – Oleh: MA Hailuki,Nasional – Selasa, 8 Februari 2011 | 02:02 WIB

Kenapa Ahamdiyah belum dilarang?

Mari dianalisis peristiwa bentrokan yang sering terjadi berkenaan dengan aliran sesat.

Kenapa sering terjadi bentrok antara aliran sesat (dalam hal ini Ahmadiyah) dengan warga?

Karena meresahkan masyarakat.

Kenapa meresahkan?

Karena aliran sesat biasanya mesti mengusik ajaran agama (Islam) dengan menyelewengkannya, menambah, mengurangi, atau bahkan memalsu. Dalam hal aliran sesat Ahmadiyah, seluruh unsur penyelewengan itu dilakukan, hingga memalsu Islam. Mengaku Islam namun bernabi palsu, Mirza Ghulam Ahmad yang lahir di India, hidup tahun 1835-1908M.

Kenapa dipersoalkan, bukankah itu hak mereka?

Justru wajib dipersoalkan. Karena mereka sudah melanggar hak, yakni utuhnya agama (Islam) itu merupakan hal yang harus dijaga, tidak boleh diusik oleh siapapun. Sebagaimana rumah kita, tidak boleh ada orang yang mengacak-acak bangunannya, isinya dan sebagainya. Ketika tahu-tahu ada yang mengacak-acak bangunan dan isinya, padahal rumah itu milik sah kita, maka harus dipertahankan, dan yang mengacak-acak itu harus bertanggung jawab atas kesalahannya. Jadi ketika kita yang punya rumah bereaksi dan sampai menyerang orang yang mengacak-acak rumah kita, itu hanya akibat. Sedang yang jadi sumbernya adalah yang mengacak-acak itu.

Ahmadiyah juga begitu. Ketika Islam ini sudah jelas nabinya yakni nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam nabi terakhir, lalu ada golongan yang mengaku Islam namun mengangkat nabi baru lagi yakni Mirza Ghulam Ahmad, itu artinya mengacak-acak Islam dan memalsu Islam. Maka ketika Ummat Islam bereaksi dan bahkan sampai menyerang Ahmadiyah, itu hanya akibat. Sedang sumbernya adalah yang mengacak-acak Islam itu, yaitu Ahmadiyah.

Biasanya diatasi dengan cara memburu siapa yang dianggap berbuat kekerasan. Lalu dianggap selesai bila yang dituduh berbuat kekerasan itu ditindak. Cukupkah?

Itu malah menimbulkan kesan, membiarkan sumber pemicunya. Kalau seperti itu, maka kemungkinan akan terjadi dan terjadi lagi. Ketika sudah jelas Ahmadiyah itu mengacak-acak Islam, yang hal itu lebih dahsyat dibanding mengacak-acak rumah orang, dan malahan yang dipermasalahkan justru yang mempertahankan rumahnya (agamanya), itu terbalik. Itu sama dengan memelihara pengacak-acak, agar setiap saat beraksi untuk mengacak-acak.

Jadi bagaimana?

Ya harus distop, agar tidak akan terjadi lagi.

Ooo gitu, sebenarnya mudah kan?

Ya mudah.

Jadi apa susahnya?

Susahnya, … (karena yang nulis ini tidak perlu mewakili mereka, maka tanyakan saja kepada mereka). Sudah, gitu saja ya. Dan jangan lupa ada pertanyaan dari MUI itu tadi: Pemerintah masih menunggu apa lagi?

(nahimunkar.com)