Muktamirin NU

Pilih Kyai Pro Khonghuchu atau Pro Hindu dan Ahmadiyah?

أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ [هود/78]

Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal? (QS Hud/ 11: 78)

Muktamirin NU yang punya hak pilih ada 509. Mereka kemungkinan hanya akan memilih dua calon ketua umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama). Pemilihan yang akan berlangsung Jumat malam (26/03/ 2010) itu menurut perkiraan Salahuddin Wahid –yang dimuat Fajar Online– hanya akan ada calon yang mampu lolos dua orang, yakni dirinya (Salahuddin Wahid) dan Said Aqiel Siradj.

Bila perkiraan itu benar, berarti muktamirin NU ini hanya memilih dua calon ketua umum, yang satu pro Khonghuchu, yakni Said Aqiel Siradj yang menjadi Anggota Kehormatan Majelis Tinggi Agama Khonghuchu (Matakin) (1999-2002). Atau memilih Kyai yang pro Hindu dan Ahmadiyah, yakni Salahuddin Wahid yang pernah menjadi juri dalam acara resmi Pemuda Hindu, dan juga dalam kasus Ahmadiyah yang difatwakan murtad dari Islam oleh MUI ternyata Salahuddin wahid membujuk pemerintah agar tidak merujuk pada Fatwa MUI.

Untuk memperjelas dua Kyai yang satu pro Khonghuchu dan yang satunya pro Hindu dan Ahmadiyah itu, mari kita simak lagi berita ini:

Said Aqiel Siradj Terlibat dalam Majelis Khonghucu

Said Aqiel Siradj mestinya terganjal oleh tata tertib pemilihan ketua umum PBNU dalam muktamar NU ke-32 di Makassar 23-28 Maret 2010. Beberapa indikasi yang dijalani

Said Aqiel Siradj jelas bertentangan dengan NU Ahlussunnah waljama’ah. Bahkan sangat jauh dari faham NU, karena Said Aqiel Siradj tercatat sebagai Anggota Kehormatan Matakin

(1999-2002).

Matakin singkatan dari Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia adalah sebuah organisasi yang mengatur perkembangan ajaran agama Khonghucu di Indonesia.
Keanggotaan Said Aqiel Siradj dalam organisasi non Islam itu di antaranya dimuat di situs http://alumni-ploso.web.id , Monday, March 22, 2010, 7:20 dalam judul Prof DR KH Said Aqil Siradj, Kandidat PBNU.

Selain itu, Said Aqiel Siraj juga ada yang menyebut blusak-blusuk ke gereja:

KH. Said Aqil Siradj, Fungsionaris PBNU, tanpa canggung berkhotbah dalam acara misa Kristiani disebuah gereja di Surabaya. Dengan background belakangnya salib patung Yesus dalam ukuran yang cukup besar. Beritanya pun dimuat majalah aula milik warga NU, dia juga pernah melontarkan gagasan liberalnya yaitu merencanakan pembangunan gedung bertingkat, dengan komposisi lantai dasar akan diperuntukkan sebagai masjid bagi umat Islam, sedangkan lantai tingkat satu diperuntukkan sebagai gereja bagi umat kristiani, lantai tingkat dua diperuntukkan sebagai pure bagi penganut hindu, demikian dan seterusnya. (KH. Lutfi Bashori, Konsep NU & Krisis Penegakan Syari’at).

Lebih dari itu, SaidAqiel Siradj berindikasi membela Syi’ah bahkan mengecam para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Betapa beraninya Said Agil Siradj itu dalam mengkafirkan para sahabat, seperti dalam tulisannya yang kami kutip ini:

“Sejarah mencatat, begitu tersiar berita Rasulullah wafat dan digantikan oleh Abu bakar (b kecil dari pemakalah), hampir semua penduduk jazirah Arab menyatakan keluar dari Islam. Seluruh suku-suku di tanah Arab membelot seketika itu juga. Hanya Madinah, Makkah dan Thaif yang tidak menyatakan pembelotannya. Ini pun, kalau dikaji secara saksama, bukan karena agama, bukan didasari keimanan, tapi karena kabilah. Pikiran yang mendasari sikap orang Makkah untuk tetap memeluk Islam adalah logika bahwa kemenangan Islam adalah kemenangan Muhammad; sedang Muhammad adalah Quraisy, penduduk asli kota Makkah; dengan demikian, kemenangan Islam adalah kemenangan suku Quraisy; kalau begitu tidak perlu murtad. Artinya, tidak murtadnya Makkah itu bukan karena agama, tapi karena slogan yang digunakan oleh Abu Bakar di Bani Saqifah; _al-aimmatu min quraisy_, bahwa pemimpin itu berasal dari Quraisy. Dan itu sangat ampuh bagi orang Quraisy.” (Dr. Said Agil Siradj, makalah berjudul Latar Kultur dan Politik Kelahiran ASWAJA, hlm. 3-4).

Dengan indikasi seperti itu jelas bertentangan dengan tata tertib calon ketua umum PBNU.

Kandidat lainnya yang mestinya terlindas tata tertib adalah Salahuddin Wahid.

Salahuddin Wahid adik Gus Dur yang juga mencalonkan diri sebagai ketua umum PBNU jelas tidak sesuai dengan faham NU. Karena Salahuddin Wahid terlibat kegiatan Pemuda Hindu, dan juga ada indikasi membela Ahmadiyah.

Salahuddin Wahid lebih cenderung membela Ahmadiyah dan menyuara untuk menyingkirkan fatwa MUI tentang sesatnya Ahmadiyah,Inilah beritanya:

Salahuddin Wahid: Negara Tidak Boleh Merujuk MUI

Kamis, 14 Februari 2008 | 19:47 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng Salahuddin Wahid mengatakan negara tidak boleh merujuk fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Negara itu rujukannya UUD 1945 dan undang-undang,” kata Salahuddin yang biasa disapa Gus Sholah, di sela seminar mengenai Jaminan Perlindungan Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Kebebasan Beragama dan Beribadah Menurut Agama dan Kepercayannya di Hotel Sultan, Kamis (14/2).

Ia menyebut fatwa sesat Ahmadiyah dari MUI merupakan sudut pandang agama. “Tapi negara tidak usah merujuk ke MUI,” katanya.

Negara, mantan anggota Komnas HAM itu melanjutkan, bertugas melindungi rakyat. Negara juga yang mempunyai hak untuk melarang. Karena itu polisi harus berani menindak pelaku kekerasan.
Sementara itu, anggota Dewan Pertimbangan Presiden Adnan Buyung Nasution mengatakan pemerintah masih ragu-ragu dalam menindak pelaku kekerasan terhadap Ahmadiyah.
Menurut Buyung, MUI adalah lembaga warisan Orde Baru untuk mengontrol dan menyeragamkan rakyat. “Siapa yang berhak memvonis orang sesat atau tidak,” ujarnya.

Iqbal Muhtarom

Sumber:http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2008/02/14/brk,20080214-117541,id.html

Salahuddin Wahid juga sukarela berkiprah dalam acara yang diselenggarakan Hindu. Inilah beritanya:

Salahuddin Wahid

Salahuddin Wahid adik Gus Dur (Abdurrahman Wahid) adalah orang yang belum tentu jelas wala’nya. Dia pernah menjadi juri Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah Indonesia) dalam acara Peradah Indonesia menganugerahkan Peradah Award, Juni 2009. Bertindak sebagai dewan juri adalah KH Salahuddin Wahid, Pdt Nathan Setiabudi dan Ngakan Putu Putra.

Di antara yang diberi anugerah adalah mendiang Pramoedya Ananta Toer tokoh sastrawan Lekra (Lembaga milik PKI – Partai Komunis Indonesia) yang berideologi komunis dengan dituangkan dalam tulisan-tulisannya hingga pemerintah sering melarang buku-bukunya untuk dibaca.

Sedang media yang dimenangkan justru media yang disebut plural (dalam arti pluralisme agama, menyamakan semua agama) yakni Majalah Tempo.

Dari Islam, yang dimenangkan dan dianugerahi Penghargaan MPU Peradah 2009 (yang jurinya dari Islam Salahuddin Wahid Itu) adalah tokoh yang mengusung faham pluralisme agama yang telah diharamkan MUI, yakni Ahmad Syafii Maarif mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah. (lihat detiknews Minggu, 14/06/2009 06:44 WIB). (nahimunkar.com, 2:15 am).

Pemilihan rais Aam dan Ketua Umum PBNU

Pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU dilaksanakan Jumat 26 Maret malam. Calon ketua umum yang akan dipilih dalam Muktamar NU ke-32 di Makassar ini kemungkinan yang memenuhi syarat mencapai 99 suara hanya dua orang.

Menurut Salahuddin Wahid adik Gus Dur, yang akan mencapai 99 suara itu hanya dirinya dan Said Aqiel Siradj.

Jumlah pemilih yang memiliki hak pilih sah hanya 509 suara, karena 35 suara hangus.

Fajar online memberitakan, berdasarkan hasil verifikasi terakhir yang dilakukan panitia dan Sekjen PBNU Endang Tarmudi, ternyata ada 31 suara PCNU dan PCI yang dipastikan hangus. Penyebabnya, kepengurusan 19 PCNU dinyatakan sudah kedaluarsa, serta 12 PCI dari 26 PCI yang terdaftar, tidak hadir di arena muktamar hingga malam tadi.

Itu berarti, terjadi penyusutan 35 suara yang akan diperebutkan malam nanti. Di awal muktamar, panitia sempat mengumumkan bahwa total pemegang hak pilih dalam muktamar kali ini mencapai 544 suara. Rinciannya, 33 suara PWNU, 485 suara PCNU, dan 26 suara PCI.

“Jumlah cabang atau PCNU yang berhak ikut pemilihan sebetulnya ada 481. Tapi yang kepengurusannya berlaku dan dianggap sah ikut pemilihan hanya 462. Selebihnya, 19 dinyatakan kedaluwarsa. Sementara untuk cabang istimewa, hanya ada 14 cabang saja,” kata Endang malam tadi.

Perkiraan

Fajar online memberitakan, Pengasuh Pesantren Tebuireng Jawa Timur, Salahuddin Wahid memprediksi jumlah kandidat yang akan bertarung di pemilihan ketua umum hanya dua atau paling banyak tiga orang. “Insya Allah saya bisa maju di pencalonan. Hasil pantauan kami, yang bisa menjadi calon paling hanya dua sampai tiga orang saja. Tapi lebih cenderung dua saja,” katanya.

Menurut dia, mendapat 99 suara dukungan sebagai persyaratan untuk maju, itu tidak mudah. “Kalau saya, Insya Allah bisa. Yang satu lagi Said Aqil,” katanya.

Bagaimana dengan KH Masdar F Mas’udi yang pada muktamar ke-31 lalu lolos menjadi kandidat, serta Slamet Effendi Yusuf, Ahmad Bagja, Ulil Abshar Abdalla, dan KH Ali Maschan Moesa? Adik kandung mantan Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ini mengatakan, mereka itu akan kesulitan mendapat dukungan 99 suara.

“Rasanya tidak mencapai. Itu sesuai pemantauan yang ada dan dari berbagai info. Bahkan juga ada survei. Ahmad Badja saja yang katanya hasil survei dia didukung 42 persen, tidak mungkin jadi calon. Ulil juga demikian,” katanya. (lihat Fajar Online, JUMAT, 26 MARET 2010 | 01:13 WITA ).

Kalau perkiraan itu benar, berarti para muktamirin NU yang punya hak suara yang sah itu hanya akan memilih dua sosok, yang sebenarnya tidak sesuai pula dengan tata tertib yang telah mereka putuskan dalam muktamar. Memangnya Agama Khonghuchu dan Hindu serta Ahmadiyah itu masih sesuai dengan faham NU Ahlus Sunnah wal Jama’ah?

Bertanyalah kepada hati nuranimu wahai para tokoh NU!

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ أَخْبَرَنَا الزُّبَيْرُ أَبُو عَبْدِ السَّلَامِ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مِكْرَزٍ وَلَمْ يَسْمَعْهُ مِنْهُ قَالَ حَدَّثَنِي جُلَسَاؤُهُ وَقَدْ رَأَيْتُهُ عَنْ وَابِصَةَ الْأَسَدِيِّ قَالَ عَفَّانُ حَدَّثَنِي غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَمْ يَقُلْ حَدَّثَنِي جُلَسَاؤُهُ قَالَ

أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ لَا أَدَعَ شَيْئًا مِنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ إِلَّا سَأَلْتُهُ عَنْهُ وَحَوْلَهُ عِصَابَةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَسْتَفْتُونَهُ فَجَعَلْتُ أَتَخَطَّاهُمْ قَالُوا إِلَيْكَ يَا وَابِصَةُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ دَعُونِي فَأَدْنُوَ مِنْهُ فَإِنَّهُ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ أَنْ أَدْنُوَ مِنْهُ قَالَ دَعُوا وَابِصَةَ ادْنُ يَا وَابِصَةُ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا قَالَ فَدَنَوْتُ مِنْهُ حَتَّى قَعَدْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَقَالَ يَا وَابِصَةُ أُخْبِرُكَ أَوْ تَسْأَلُنِي قُلْتُ لَا بَلْ أَخْبِرْنِي فَقَالَ جِئْتَ تَسْأَلُنِي عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ نَعَمْ فَجَمَعَ أَنَامِلَهُ فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهِنَّ فِي صَدْرِي وَيَقُولُ يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ (حديث حسن رويناه في مسندي الإمامين أحمد بن حنبل والدرامي بإسناد حسن)

(AHMAD – 17320) : Telah menceritakan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengabarkan kepada kami Az Zubair Abu Abdus Salam dari Ayyub bin Abdullah bin Mikraz -namun ia tidak mendengar hadits itu darinya- ia berkata, telah menceritakan kepadaku orang-orang yang duduk bersamanya dan saya melihatnya dari Wabishah Al Asadi -Affan berkata; ia telah menceritakan kepadaku beberapa kali, namun ia belum pernah mengatakan, ‘Telah menceritakan kepadaku orang-orang yang bermajelis dengannya’-, Ia berkata, ” Saya datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan saya ingin agar tidak ada sesuatu baik berupa kebaikan atau keburukan kecuali aku telah menanyakannya pada beliau. Dan pada saat itu di sekeliling beliau banyak terdapat kaum muslimin yang sedang meminta nasehat kepadanya beliau. Maka aku pun nekat melangkahi mereka hingga orang-orang itu berkata, “Wahai Wabishah, menjauhlah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menjauhlah wahai Wabishah!” Saya berkata, “Biarkan saya mendekat kepada beliau. Karena beliau adalah orang yang paling saya cintai dan sukai untuk saya dekati.” Maka beliau pun berkata, “Biarkan Wabisah mendekat. Mendekatlah wahai Wabishah.” Beliau mengatakannya dua atau tiga kali. Wabishah berkata, “Saya pun mendekat kepada beliau hingga saya duduk di hadapannya. Kemudian beliau bertanya: “Wahai Wabisah, aku beritahukan kepadamu atau kamu yang akan bertanya padaku?” saya menjawab, “Tidak, akan tetapi beritahukanlah padaku.” Beliau lantas bersabda: “Kamu datang untuk bertanya mengenai kebaikan dan keburukan (dosa)?” Saya menjawab.”Benar.” Beliau kemudian menyatukan ketiga jarinya seraya menepukkannya ke dadaku. Setelah itu beliau bersabda: “Wahai Wabishah, mintalah petunjuk pada hati dan jiwamu -beliau mengulanginya tiga kali-. Kebaikan itu adalah sesuatu yang dapat menenangkan dan menentramkan jiwa. Sedangkan keburukan itu adalah sesuatu yang meresahkan hati dan menyesakkan dada, meskipun manusia memberimu fatwa dan membenarkanmu.” (HR Ahmad – 17320 dan Addarimi HADIST NO – 2421 dengan sanad hasan).

Kalau yang bisa maju dan terpilih sebagai pemimpin NU justru hanya yang pro kekafiran dan kemusyrikan, maka perlu direnungkan kembali ayat Al-Quran, firman Allah Ta’ala:

أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ [هود/78]

Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal? (QS Hud/ 11: 78)

(nahimunkar.com)