Muncul Nabi Palsu Lagi di Makassar

Paruru Daeng Tau, 42 tahun, menyebarkan aliran sesat di Rappocini, Makassar.
Jaka, 30 tahun, mengaku pernah diajak oleh Paruru mengikuti ajarannya. “Dia mengaku Rasul dan syahadatnya tidak ada nama Nabi Muhammad, makanya saya tolak,” kata Jaka.

Ia (Paruru Daeng) berdakwah secara sembunyi-sembunyi, sampai akhirnya pada 25 Desember lalu, ia berbicara di Masjid Bani Adam. Warga kemudian bereaksi dan menuntut dilakukan pertemuan.

Inilah beritanya:

‘Nabi’ dari Rappocini Disidang Warga

Senin, 04 Januari 2010 | 08:14 WIB

TEMPO Interaktif, Makassar – Warga Rappocini, Makassar, kemarin menggelar pertemuan yang dihadiri ulama, perwakilan dari Departemen Agama, serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menyidangkan Paruru Daeng Tau, 42 tahun, yang mereka tuduh telah menyebarkan aliran sesat.

Pertemuan di Masjid H Bani Adam Taba sekitar pukul 13.00-15.00 itu sempat memanas karena Paruru berkukuh menyatakan ajaran bernama Aliran Hamba Allah yang dibawanya berasal dari Allah. “Ajaran ini atas suruhan Allah,” kata laki-laki berambut gondrong, yang mengaku ajaran ini diperolehnya pada 2000, ketika salat di rumahnya di Tamanyuru, Kabupaten Gowa.

Namun dia membantah disebut nabi atau rasul. Di mata Tuhan, kata Paruru, dia hanya seorang pembantu yang disuruh untuk mengajarkan aliran yang dianutnya, namun tidak terlepas dari ajaran Islam. Yang membedakan hanyalah cara beribadahnya dan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Ajaran Paruru itu menuntut kebajikan, keselamatan, dan saling merangkul setiap penganut agama. “Ajaran saya ini tidak membedakan Islam, Kristen, Buddha, Hindu. Semua disamakan untuk mencari kebajikan,” katanya. Ia juga mengatakan akan mematenkan ajarannya itu.

Mendengar penjelasan itu, ratusan warga langsung menuntut Paruru bertobat dan mengucapkan dua kalimat syahadat. “Suruh bacakan dua kalimat syahadat yang sebenarnya. Jika tidak, kami akan menempuh jalur sendiri,” ujar seorang warga, yang diiyakan warga lainnya.

Setelah mendapat penjelasan dari Ketua MUI Makassar Muhammad Achmad dan wakil dari kantor Departemen Agama, Paruru mengakui kesalahannya. Tapi dia tetap tidak membaca dua kalimat syahadat, meskipun ia berjanji siap bertemu dengan kedua instansi itu.

Achmad kepada wartawan mengatakan apa yang dilakukan Paruru bukanlah kejadian pertama, sehingga ia hanya berpesan supaya penyebar ajaran sesat itu kembali ke jalan yang benar. “Bisikan yang diterimanya ini datangnya dari setan, sehingga perlu diluruskan. Saya tidak memvonis seseorang, sebaiknya diberikan pengarahan yang jelas tentang ajaran Islam yang semestinya,” katanya.

Seusai pertemuan, Paruru dibawa ke rumah seorang warga untuk diamankan. Paruru berada di Rappocini sejak beberapa bulan lalu. Ia berdakwah secara sembunyi-sembunyi, sampai akhirnya pada 25 Desember lalu, ia berbicara di Masjid Bani Adam. Warga kemudian bereaksi dan menuntut dilakukan pertemuan.

Jaka, 30 tahun, mengaku pernah diajak oleh Paruru mengikuti ajarannya. “Dia mengaku Rasul dan syahadatnya tidak ada nama Nabi Muhammad, makanya saya tolak,” kata Jaka, yang didekati Paruru pada Ramadan lalu.

ARDIANSYAH (TEMPO Interaktif)