Tanda-Tanda Kecil Kiamat

Oleh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

6. MUNCULNYA BERBAGAI MACAM FITNAH

(اَلْفِتَنُ) adalah bentuk jamak dari kata (فِتْنَةٌ), maknanya adalah cobaan dan ujian. Kemudian banyak digunakan untuk makna ujian yang dibenci, lalu dimutlakkan untuk segala hal yang dibenci atau berakhir dengannya seperti dosa, kekufuran, pembunuhan, pembakaran, dan yang lainnya dari segala hal yang dibenci.[1]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah munculnya fitnah besar yang bercampur di dalamnya kebenaran dan kebathilan. Iman menjadi goyah, sehingga seseorang beriman pada pagi hari dan menjadi kafir pada sore hari, beriman pada sore hari dan menjadi kafir pada pagi hari. Setiap kali fitnah itu muncul, maka seorang mukmin berkata, “Inilah yang menghancurkanku,” kemudian terbuka dan muncul (fitnah) yang lainnya, lalu dia berkata, “Inilah, inilah.” Senantiasa fitnah-fitnah itu datang menimpa manusia sampai terjadinya hari Kiamat.

Dijelaskan dalam hadits Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِـي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، اَلْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ وَالْقَائِِمُ خَيْـرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي، فَكَسِّرُوا قِسِيَّكُمْ وَقَطِّعُوا أَوْتَارَكُمْ وَاضْرِبُوا بِسُيُوفِكُمُ الْحِجَارَةَ، فَإِنْ دُخِلَ عَلَى أَحَدِكُمْ فَلْيَكُنْ كَخَيْرِ ابْنَيْ آدَمَ.

‘Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat akan muncul banyak fitnah besar bagaikan malam yang gelap gulita, pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir di sore hari, di sore hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi hari. Orang yang duduk saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri saat itu lebih baik daripada orang yang berjalan dan orang yang berjalan saat itu lebih baik daripada orang yang berlari. Maka patahkanlah busur-busur kalian, putuskanlah tali-tali busur kalian dan pukulkanlah pedang-pedang kalian ke batu. Jika salah seorang dari kalian dimasukinya (fitnah), maka jadilah seperti salah seorang anak Adam yang paling baik (Habil).’” [HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak][2]

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَادِرُوا بِاْلأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا.

“Bersegeralah kalian melakukan amal shalih (sebelum datangnya) fitnah-fitnah bagaikan malam yang gelap gulita, seseorang dalam keadaan beriman di pagi hari dan menjadi kafir di sore hari, atau di sore hari dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi hari, dia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” [3]

Diriwayatkan dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata:

اسْتَيْقَظَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَزِعًا، يَقُوْلُ: سُبْحَانَ اللهِ! مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْخَزَائِنِ؟ وَمَـاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْفِتَنِ؟ مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ -يُرِيدُ بِهِ أَزْوَاجَهُ- لِكَيْ يُصَلِّينَ؟ رُبَّ كَاسِيَةٍ فِـي الدُّنْيَـا عَارِيَةٍ فِي اْلآخِرَةِ.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun pada suatu malam yang menakutkan, lalu beliau berkata, ‘Subhaanallaah, harta simpanan apakah yang telah diturunkan? Fitnah apakah yang telah diturunkan? Siapakah yang membangunkan pemilik kamar-kamar -yang beliau maksud adalah isteri-isterinya- sehingga mereka melakukan shalat? Banyak sekali wanita yang berpakaian di dunia, di akhirat kelak dia telanjang.’”[4] [HR. Al-Bukhari][5]

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhuma, ia berkata:

نَادَى مُنَـادِي رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلصَّلاَةَ جَامِعَةً. فَاجْتَمَعْنَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ: إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَـى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ، وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ، وَإِنَّ أُمَّتَكُمْ هَذِهِ جُعِلَ عَافِيَتُهَا فِي أَوَّلِهَا، وَسَيُصِيْبُ آخِرَهَا بَلاَءٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا، وَتَجِيءُ فِتْنَةٌ، فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا، وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ: هَذِهِ، هَذِهِ… فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ.

“Seorang penyeru Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berseru, ‘Shalat berjama’ah!’ Lalu kami berkumpul bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berkata, ‘Sesungguhnya tidak ada seorang Nabi pun sebelumku melainkan wajib baginya untuk menunjuki umatnya kepada kebaikan yang ia ketahui, dan memberikan peringatan kepada mereka dari kejelekan yang ia ketahui, dan sesungguhnya umat kalian ini, dijadikan keselamatannya di awalnya, dan (orang) yang ada di akhirnya akan tertimpa musibah juga berbagai perkara yang kalian ingkari, dan datanglah fitnah, sebagiannya menjadi lebih ringan (karena besarnya fitnah yang setelahnya,-penj.), dan datanglah fitnah, lalu seorang mukmin berkata, ‘Ini, ini…’ maka barangsiapa ingin diselamatkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka hendaklah kematian mendatanginya dalam keadaan dia beriman kepada Allah dan hari Akhir.’” [HR. Muslim][6]

Dan hadits-hadits tentang fitnah banyak sekali. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan peringatan kepada umatnya dari berbagai fitnah, memerintahkan mereka untuk berlindung darinya. Beliau mengabarkan bahwa akhir dari umat ini akan ditimpa musibah juga fitnah yang sangat besar, tidak ada yang bisa melindungi darinya kecuali keimanan kepada Allah dan hari Akhir, tetap bersama jama’ah kaum muslimin, mereka adalah Ahlus Sunnah -walaupun mereka hanya sedikit-, menjauhkan diri dari berbagai fitnah, dan memohon perlindungan darinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari segala fitnah, yang nampak darinya dan yang tersembunyi.”

Diriwayatkan oleh Muslim [7] dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu.

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Lihat Lisaanul ‘Arab (XIII/317-321), an-Nihaayah (III/410-411), dan Fat-hul Baari (XIII/3).
[2]. Musnad Imam Ahmad (IV/408 -dengan catatan pinggir Muntakhab Kanzul ‘Ummal), Sunan Abi Dawud (XI/337, ‘Aunul Ma’buud), Sunan Ibni Majah (II/1310), dan Mustadrak al-Hakim (IV/440), beliau berkata, “Ini adalah hadits yang isnadnya shahih, akan tetapi keduanya (al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.” Dan adz-Dzahabi tidak mengomentarinya.
[3]. Shahiih Muslim, kitab al-Aimaan, bab al-Hatstsu ‘alal Mubaadarah bil A’maal Qabla Tazhaahuril Fitan (II/133, Syarah an-Nawawi).
[4]. Sebuah isyarat bagi isteri-isteri beliau agar banyak melakukan ibadah, serta tidak malas dengan anggapan mereka isteri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.-ed. (Fat-hul Baari, syarah hadits no. 112).
[5]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab Laa Ya-ti Zamaanun illalladzi Ba’dahu Syarrun minhu (XIII/ 20, Syarh an-Nawawi).
[6]. Shahiih Muslim, kitab al-Imaarah, bab Wujuubul Wafaa’ bi Bai’atil Khaliifatil Awwal fal Awwal (XII/232-233, Syarh an-Nawawi).
[7]. Shahiih Muslim, kitab al-Jannah wa Shifatu Na’iimihaa wa Ahluhaa, bab ‘Ardu Maq’adil Mayyit ‘alaih wa Itsbaatu ‘Adzaabil Qabri wat Ta’awwudz minhu (XVII/203, Syarh an-Nawawi).

Sumber: https://almanhaj.or.id/3209-6-munculnya-berbagai-macam-fitnah.html

***

Presiden Jokowi Sampaikan Ucapan Selamat Natal pada Umat Kristiani di Indonesia

Di tengah kunjungannya ke Manado, Sulawesi Utara,  Presiden sampaikan ucapan selamat natal kepada umat Kristiani di seluruh Indonesia.

“Saya ingin mengucapkan selamat Natal kepada masyarakat di Manado khususnya, dan seluruh umat Kristiani di seluruh Indonesia. Selamat hari Natal 2016,” ucap Presiden di Mega Mall Manado, Senin malam 26 Desember 2016.

Sebelumnya, Presiden juga menyampaikan ucapan natal melalui cuitannya di akun Twitter pribadi @jokowi, Senin sore, 26 Desember 2016.

“Selamat merayakan Hari Natal tahun 2016 untuk seluruh umat Kristiani di Indonesia -Jkw,” cuitnya.

Dilansir dari Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo akan menghadiri Peringatan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2016 di Kabupaten Minahasa pada Selasa, 27 Desember 2016. (Humas Kemensetneg).*/setneg.go.id -Selasa, 27 Desember 2016

***

Pesan Presiden Jokowi di Ibadah Natal Tingkat Nasional 2016 : Torang Samua Basudara

TONDANO, bagitu.com – Ibadah Perayaan Natal Yesus Kristus tingkat Nasional tahun 2016 di gedung Wale Ne Tou, Tondano Kabupaten Minahasa Propinsi Sulawesi Utara (Sulut), Selasa (27/12) dihadiri langsung Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo (Jokowi) bersama Ibu Negara Iriana.

NATAL NASIONAL 2016 : Presiden Joko Widodo meminta tetap menjaga dan merawat spirit Bhinneka Tunggal Ika, Selasa (27/12). (Foto : Simon/www.bagitu.com)

Ibadah Natal Yesus Kristus tingkat Nasional tahun 2016 ini menjadi momentum lahirnya pesan persatuan bangsa yang disampaikan langsung Presiden Jokowi, yakni dengan tetap menjaga dan merawat spirit Bhinneka Tunggal Ika.

 “Dalam pesan Natal bersama ini, dengan penuh sukacita mari kita bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa, karena Gembala umat mengingatkan kita semua untuk memperkuat Persaudaraan dan cinta anak bangsa. Torang Samua Basudara,” ingat Jokowi yang disambut gemuruh tepuk tangan seluruh masyarakat yang hadir.

Jokowi menutup pidato sambutan Natalnya dengan menyampaikan ucapan selamat Natal kepada seluruh umat Kristen di Indonesia.

“Selamat Hari Natal Tahun 2016 bagi seluruh umat Kristiani di seluruh Indonesia, di seluruh Tanah Air, dan Selamat Tahun Baru 2017,” ujar Jokowi.

Perayaan Natal Nasional 2016 ini juga dihadiri Presiden Republik Indonesia ke-5 Hj. Megawati Soekarnoputri, Wakil Ketua MPR EE Mangindaan, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Kepala BKPM Thomas Lembong, Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey, sejumlah duta besar negara sahabat, juga sejumlah Kepala Daerah di Indonesia.

Tampak juga hadir beberapa Kepala Daerah Kabupaten da Kota di Propinsi Sulawesi Utara.

Penulis : Simon Siagian./www.bagitu.com dipetik sebagiannya.

***

Sikap Mudahanah dan Gencarnya Seruan Kebatilan

Mudahanah adalah lawan kata dari mudaroh. Imam al Qurtubi membedakan antara keduanya bahwa mudaroh adalah mengorbankan dunia untuk kemaslahatan agama atau  dunia atau kedua duanya, dan itu di bolehkan bahkan dianjurkan.  Adapun mudahanah adalah mengorbankan agama untuk urusan dunia. (Fathul Bari 10/454)

Syaikh Fauzan menjelaskan, mudahanah adalah : berpura-pura, menyerah dan meninggalkan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar serta melalaikan hal tersebut karena tujuan duniawi atau ambisi pribadi. Maka berbaik hati, bermurah hati atau berteman dengan ahli maksiat ketika mereka berada dalam kemaksiatannya, sementara ia tidak melakukan pengingkaran padahal ia mampu melakukannya maka itulah mudahanah (Kitab Tauhid Syaikh Fauzan bin Fauzan jilid 1 ebook)

Mudahanah itu mengakibatkan tidak jelasnya wala’ (kecintaan, loyalitas kepada Allah, Rasul-Nya, Mu’minin, dan hal-hal yang dicintai Allah) dan bara’ (lepas diri, benci  terhadap kekufuran, kemunkaran dan segala yang dibenci Allah Ta’ala). Hingga yang seharusnya diberantas pun dibiarkan atau bahkan didukung.

Sikap mudahanah itu tidak mau mengingkari orang-orang yang bermaksiat padahal ia mampu melaksanakannya (untuk mengingkari itu). Bahkan sebaliknya ia menyerah kepada mereka (yang melakukan atau menyebarkan kemunkaran) dan berbaik-baik  kepada mereka. Hal itu berarti tidak lagi menggubris cinta karena Allah dan benci karena Allah. Yang dicintai Allah tidak dicintainya, sedang yang dibenci Allah tidak dibencinya. Bahkan ia makin memberikan dorongan kepada para pendurhaka dan perusak yang jelas dibenci Allah. Maka orang yang penjilat atau (mudahin) seperti ini termasuk dalam firman Allah :

{ لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (79) تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ} [المائدة: 78 – 80]

“Telah dila`nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan `Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. “ (Al-Maidah : 78 s.d. 80). (lihat Makalah Aqidah Wala’ Dan Bara’ Oleh: Ust. Agus Hasan Bashari Lc, M. Ag).

Mudahanah itu termasuk melayani musuh Islam, bukan sekadar basa-basi, karena sudah mengorbankan unsur agama (Islam), hingga disukai oleh musuh Islam. Maka musuh Islam pun telah disifati dalam Al-Qur’an tentang keinginan itu.

Ayat berikut ini perlu diperhatikan.

{وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ} [القلم: 9]

9. Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). (QS Al-Qalam/ 68: 9).

Maksudnya,

وقال مجاهد: المعنى ودوا لو ركنت إليهم وتركت الحق فيمالئونك. تفسير القرطبي (18/ 230)

Maksudnya, sebagimana kata Mujahid: maknanya, mereka menginginkan kalau kamu condong kepada mereka dan kamu tinggalkan kebenaran (alhaq) maka mereka bersikap lunak kepadamu. (Tafsir Al-Qurthubi dalam menjelaskan ayat 9 Surat Al-Qalam).

Pemimpin digarap untuk mudahanah

Ketika orang Muslim sudah melaksanakan mudahanah sehingga musuh Islam menyukainya, pada dasarnya sudah masuk ke perangkap mereka. Lantas pertanyaannya, bagaimana kalau yang digarap untuk bermudahanah itu para pemimpin? Mereka akan menegakkan kebatilan ataukah kebenaran?

Penggarapan untuk mudahanah bagi pemimpin itu sudah otomatis. Tidak boleh tidak. Maka pemimpin Islam seharusnya sudah faham betul dari awal, agar tidak tergarap atau tidak mempan digarap. Sebab telah secara aksiomatis, para pemimpin itu digarap oleh teman jahat. Tinggal mempan atau tidak. Dalam hadits diriwayatkan :

“مَا بَعَثَ اللهُ مِنْ نَبِي وَلا اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَة إلا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ: بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْخيرِ وتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالسُّوءِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، وَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَم اللهُ ” (3)  (3) صحيح البخاري برقم (6611، 7198) والنسائي في الكبرى برقم (8755).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ وَالٍ إِلَّا وَلَهُ بِطَانَتَانِ بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَاهُ عَنْ الْمُنْكَرِ وَبِطَانَةٌ لَا تَأْلُوهُ خَبَالًا فَمَنْ وُقِيَ شَرَّهَا فَقَدْ وُقِيَ وَهُوَ مِنْ الَّتِي تَغْلِبُ عَلَيْهِ مِنْهُمَا

Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorang pemimpinpun kecuali ia memiliki dua orang teman karib, seorang teman yang menyuruhnya berbuat kebaikan dan melarangnya dari perbuatan mungkar, dan seorang teman yang mengajaknya berbuat kerusakan, maka barangsiapa yang terjaga dari keburukannya maka ia telah terjaga dan ia termasuk diantara yang menang diantara keduanya.” (HR NASAI – 4130)

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْ نَبِيًّا وَلَا خَلِيفَةً إِلَّا وَلَهُ بِطَانَتَانِ بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَاهُ عَنْ الْمُنْكَرِ وَبِطَانَةٌ لَا تَأْلُوهُ خَبَالًا وَمَنْ يُوقَ بِطَانَةَ السُّوءِ فَقَدْ وُقِيَ [قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mengutus seorang Nabi dan tidak juga khalifah kecuali memiliki dua kubu, satu kubu yang menyuruhnya kepada kebaikan dan mencegahnya dari kemunkaran, dan kubu lain yang tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu, dan barangsiapa yang dihindarkan dari teman yang jahat maka dia telah terjaga.” (Tirmidzi/ Abu Isa Berkata: Hadits Ini Hasan Shahih Gharib).

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا اسْتُخْلِفَ خَلِيفَةٌ إِلَّا لَهُ بِطَانَتَانِ بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْخَيْرِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ وَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ اللَّهُ

Dari Abu Sa’id Al Khudzri dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Tidaklah seorang khalifah dilantik melainkan ia mempunyai dua kubu, kubu yang memerintahkan dan mendorongnya melakukan kebaikan, dan kubu yang memerintahkan dan mendorongnya melakukan keburukan, dan orang yang terjaga adalah yang dijaga Allah.” (HR Bukhari – 6121)

Dengan adanya peringatan seperti tersebut dan kenyataan yang rawan, maka Syekh Utsaimin ulama Saudi Arabia pernah mengingatkan:

Wahai kaum Muslimin, sesungguhnya sebab-sebab kemunduran ini kembali pada 2 perkara, yaitu:

1. Lemahnya agama dan kuatnya orang yang menyeru kepada kebatilan.

2. Lemahnya amar makruf dan nahi munkar dan mudahanah (penipuan yang mengatasnamakan agama). Penjagaan agama tidak akan tegak kecuali dengan amar makruf dan nahi munkar. Memerintah apa yang telah di perintahkan Allah‘Azza wa Jalla dan Rasulnya dan melarang apa yang telah dilarang Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasulnya dengan tujuan nasehat karena Allah ‘Azza wa Jalla bagi hambanya

Jika kita tidak melakukan amar makruf nahi munkar, hampir-hampir kita lenyap sebagaimana orang-orang selain kita. Karena itulah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” [Ali Imran/3:104] (Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin, majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XIII/1430/2009M).

Orang terkemuka yang bahaya

Yang sangat perlu kita khawatirkan adalah banyaknya pemuka yang bersikap mudahanah demi kepentingan dunianya. Itu bukan sekadar kerusakan mereka saja lantaran telah « menjual » agamnya, namun akan memperkuat barisan pengusung kebatilan yang merusak agama.

Dahsyatnya dukungan terhadap kebatilan yang merusak agama oleh para mudahin (penjilat) itu akan memuncak ketika orang-orang model mereka itu justru yang dipercaya, yang diamanati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wanti-wanti dengan peringatan beliau yang dapat kita baca dalam hadits.

وَرَدَ فِي حَدِيث سَمُرَة عِنْدَ الطَّبَرَانِيِّ , وَحَدِيث أَنَس أَنَّ أَمَام الدَّجَّال سُنُونَ خَدَّاعَات يُكَذَّب فِيهَا الصَّادِق وَيُصَدَّق فِيهَا الْكَاذِب وَيُخَوَّن فِيهَا الْأَمِين وَيُؤْتَمَن فِيهَا الْخَائِن وَيَتَكَلَّم فِيهَا الرُّوَيْبِضَة الْحَدِيث أَخْرَجَهُ أَحْمَد وَأَبُو يَعْلَى وَالْبَزَّار وَسَنَده جَيِّد , وَمِثْله لِابْنِ مَاجَهْ مِنْ حَدِيث أَبِي هُرَيْرَة وَفِيهِ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَة ؟ قَالَ الرَّجُل التَّافِه يَتَكَلَّم فِي أَمْر الْعَامَّة ”  ( فتح الباري).

Telah datang dalam Hadits Samurah menurut At-Thabrani, dan Hadits Anas: Sesungguhnya di depan Dajjal ada tahun-tahun banyak tipuan –di mana saat itu– orang jujur didustakan, pembohong dibenarkan, orang yang amanah dianggap khianat, orang yang khianat dianggap amanah, dan di sana berbicaralah Ruwaibidhoh. (Hadits dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Ya’la, Al-Bazzar, dan sanadnya jayyid/ baik).

Dan hadits seperti itu oleh Ibnu Majah dari Hadits Abi Hurairah, di dalamnya ada:

قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَة ؟ قَالَ الرَّجُل التَّافِه يَتَكَلَّم فِي أَمْر الْعَامَّة

Nabi saw ditanya, apa itu Ruwaibidhoh? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang yang bodoh (tetapi) berbicara mengenai urusan umum. (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Ya’la, dan Al-Bazzar, sanadnya jayyid/ bagus. Dan juga riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Lihat Kitab Fathul Bari, juz 13 halaman 84 ).

Betapapun, masa kini telah ada gejala masalah yang sangat dahsyat buruknya itu. Coba kita lihat di sekitar kita. Betapa banyak orang-orang yang tidak layak bicara agama, baik karena lakonnya (tingkah lakunya) maupun ilmunya yang tidak berdekatan dengan agama, namun mereka berbicara berbusa-busa tentang Islam lewat media massa yang disaksikan atau didengar jutaan orang.

Betapa banyaknya pula orang-orang yang telah dikenal sebagai pendukung kebatilan namun diberi ruangan untuk menyebarkan kebatilan dan kesesatannya kepada Ummat Islam.

Bahkan lebih mencengangkan lagi, tahun 2012 jamaah haji Indonesia dipimpin oleh rombongan amirul hajj, di antara anggota rombongan amirul hajj itu ada Abdullah Syam pentolan aliran sesat LDII, yang meyakini tidak sahnya keislaman orang selain jamaahnya. (lihat https://www.nahimunkar.com/ketua-sekte-sesat-ldii-jadi-amirul-haji-mau-dibawa-kemana-umat-islam/).

 Jadi, hadits tersebut nyata benar dalam realita. Bukan hanya pengkhianat diberi amanat namun pentolan aliran sesat  –yang menganggap kafir selain jamaahnya–  diberi amanat menjadi anggota pemimpin haji Negara Indonesia yang penduduk Islamnya terbanyak sedunia. Kejadian ceroboh dari kementerian agama itupun diprotes keras. Semoga tidak terulang lagi.

Demikianlah keadaannya, arus perusakan Islam makin kuat, dan celakanya, bermunculan pula para mudahin (penjilat) terhadap perusakan-perusakan agama itu. Seolah stock lama masih ada, sedang stock baru bermunculan; semuanya demi kepentingan dunia dan hawa nafsu mereka dengan mengorbankan agama.

Hanya Allah lah Yang Maha dimintai tolong. Semoga Allah menyelamatkan umat Islam dari segala keburukan. Amien ya Rabbal ‘alamien.

(nahimunkar.com)