Musibah karena Tidak Menggubris Agama dan Bermaksiat

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Tugas manusia adalah menyembah Allah, sesuai firman Allah Ta’ala:


وَمَا وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾

056. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS Adz-Dzariyat/ 51: 56).

Ketika manusia lalai dari tugasnya itu dan bahkan mengikuti hawa nafsunya, maka sangat sesat.


وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ ﴿٥٠﴾

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al-Qashash/ 28: 50).

Bila masyarakat tediri dari kumpulan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya (syahwat sex dan syahwat perut dengan aneka rangkaiannya) plus tidak menggubris agama, maka ancaman lah yang ada:


عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ قَالَ أَبُو دَاوُد الْإِخْبَارُ لِجَعْفَرٍ وَهَذَا لَفْظُهُ

Apabila kalian (ummat Islam) berjual beli ‘inah (satu jenis jual beli yang hukumnya riba), dan mengikuti ekor-ekor sapi (senang beternak), dan senang dengan pertanian, dan meninggalkan jihad; maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, kehinaan itu tidak dicabut (oleh Allah) kecuali kalau kalian kembali kepada agama kalian. (HR Abu Daud dari Ibnu Umar, dan Riwayat Al-Bukhari).

Kalau suatu masyarakat, cara berjual beli yang ditempuh adalah cara riba, mencari makan tidak lagi menyingkiri yang haram, yang penting asal mendapatkan harta banyak, kemudian kesengsem (sangat tertarik) dengan aneka harta, sibuk dengan urusan harta dunia yang di dalam hadits itu diujudkan dengan ternak dan pertanian; lantas tidak mau mengurusi agama, yang di dalam hadits itu diujudkan dengan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan.

Dari berbagai ancaman Nabi SAW itu semuanya telah dilanggar oleh masyarakat Islam masa kini. Mestinya, segala macam pelanggaran itu dicegah secara tegas dan terus menerus oleh pihak penguasa. Bukannya keadaan yang sudah banyak maksiatnya ini malah ditambah runyam lagi oleh pihak penguasa, dan didukung-dukung lagi oleh para muqollidnya.

Kalau dibiarkan, maka adzab Allah akan menimpa kepada seluruhnya. Termasuk pula orang-orang yang baik, walaupun nantinya di akherat mendapat ampunan dan kerido-an Allah SWT. Namun bala’ yang menimpa di dunia akan mengenai kesemuanya. Sebagaimana dinyatakan dalam Hadits:


ٍ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا ظَهَرَتْ الْمَعَاصِي فِي أُمَّتِي عَمَّهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَا فِيهِمْ يَوْمَئِذٍ أُنَاسٌ صَالِحُونَ قَالَ بَلَى قَالَتْ فَكَيْفَ يَصْنَعُ أُولَئِكَ قَالَ يُصِيبُهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسَ ثُمَّ يَصِيرُونَ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ. (أحمد)

“Jika maksiat-maksiat telah merajalela di dalam ummatku maka Allah meratakan adzab dari sisi-Nya kepada mereka. Lalu aku (Ummu Salamah isteri Nabi SAW) bertanya: Wahai Rasulallah, apakah pada hari itu tidak ada (lagi) orang-orang shaleh/ baik? Beliau menjawab: Masih ada. Aku bertanya: Lalu bagaimana mereka berbuat? Beliau menjawab: Mereka ditimpa musibah-musibah yang menimpa para manusia, kemudian mereka akan mendapatkan ampunan dan keridhoan dari Allah. (HR Ahmad dari Ummu Salamah isteri Nabi SAW VI/ 304 atau no 26122, Al-Haitsami mengatakan, hadits ini rijalnya shahih).

Demikianlah adzab yang telah dan akan ditimpakan Allah SWT kepada orang-orang yang menentang Allah, sombong, berbuat kerusakan, dan bermaksiat.

Musibah karena Dosa


قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ(65)

Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian) kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami (nya). (QS Al-An’am: 65).


وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ(25)

Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.(QS Al-Anfal: 25).

Imam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa juz 15 hlm 41 menjelaskan, musibah dan fitnah/ siksaan itu bisa ditangkal dengan istighfar dan amal shalih:

Apa saja ni`mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (An-Nisa’: 79)

Artinya, apa yang kamu peroleh berupa kesuburan, kemenangan, dan petunjuk; maka Allah lah yang telah memberikan ni’mat kepadamu. Dan apa yang menimpamu berupa kesedihan, kehinaan, dan keburukan maka karena dosa-dosamu dan kesalahan-kesalahanmu. Segala sesuatu itu adanya karena kehendak, kodrat dan ciptaan Allah, maka hamba wajib mengimani qodho dan qodar Allah, dan juga hamba itu wajib meyakini syari’at dan perintahNya.

Maka barangsiapa yang melihat kepada hakekat taqdir tapi dia berpaling dari perintah Allah, larangan, janji, dan ancaman-Nya, maka dia menyerupai orang musyrik.

Barangsiapa melihat kepada perintah dan larangan tetapi membohongkan qodho’ dan qodar maka dia menyerupai orang Majusi.

Barangsiapa beriman kepada ini (taqdir) dan ini (perintah, larangan, janji, dan ancaman Allah), maka dia ketika mendapat kebaikan bersyukur kepada Allah, dan ketika mendapat keburukan minta ampun kepada Allah Ta’ala dan dia tahu bahwa itu karena qodho’ dan qodar Allah, maka dia itu termasuk orang mukmin. Sesungguhnya Adam as ketika dia berdosa maka dia bertobat, maka Allah memilihnya dan memberi petunjuk padanya. Sedangkan Iblis, terus-terusan berbuat dosa dan membantah, maka Allah melaknatnya dan menjauhkannya. Maka barangsiapa bertobat, dia adalah golongan Adam, dan barangsiapa berterus-terusan berbuat dosa dan membantah taqdir maka dia golongan Iblis. Orang-orang yang bahagia adalah yang mengikuti bapak mereka (Adam) dan orang-orang celaka adalah yang mengikuti musuh mereka yaitu Iblis. (Ibnu Taimiyyah, Majmu Fatawa, juz 8, halaman 64)

Ibnu Qoyyim menjelaskan, kalau musibah dari dirimu, artinya, kamu yang berbuat dosa, Allah yang membalas.

فَلَوْلَا إذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ .

Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. (QS Al-An’am: 43).

Allah telah mengabarkan dalam kitabNya, bahwa Dia mencoba hambaNya dengan kebaikan dan keburukan. Kebaikan yaitu ni’mat, dan keburukan adalah musibah-musibah; agar hamba itu jadi orang yang sabar dan bersyukur. Dalam kitab Shahih dari Nabi saw, beliau bersabda:


{ وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَقْضِي اللَّهُ لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدِ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ } .

Demi jiwaku yang ada di tanganNya, tidaklah Allah mentaqdirkan satu taqdir kepada mukmin kecuali jadi kebaikan baginya, dan itu tidak terjadi pada seorangpun kecuali bagi mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia bersyukur, maka jadilah kebaikan baginya. Dan apabila ia ditimpa kesulitan maka dia sabar, maka jadilah kebaikan pula baginya. (Majmu’ Fatawa, Juz 16 hlm 52)

Bencana


فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ(44)

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS Al-An’aam/ 6: 44).


وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ(106)وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ(107)

Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa`at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim”.

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Yunus/ 10: 106-107).