MUSLIM SEBAGAI PENEMU AMERIKA[1]

(Sumber dan Perspektif Muslim dan Barat, serta Pengamatan lapangan Suku Indian Amerika)

Oleh :

Dr.H. Saifullah SA, MA[2]

Bersafarlah, niscaya kan kau dapatkan ganti orang yang kau tinggalkan

Berbekalllah, karena kenikmatan hidup kan didapat dalam kelelahan

Aku lihat air yang beku berubah menjadi busuk

Jika ia bergerak tentu akan baik rasa dan rupanya

Harimau, jika tidak meninggalkan sarangnya tentu tak kan memangsa

Dan anak panah jika tidak meninggalkan busur, tak kan mengenai sasaranya

Serbuk emas, ketika masih di tempatnya, sama dengan tanah

Dan kayu gaharu di negeri asalnya sama dengan kayu bakar

(Imam Syafi’i)

ISLAM DAN DORONGAN UNTUK MELAKSANAKAN RIHLAH

Istilah “Rihlah” berasal dari kata Arab Irtihal, yang berarti “Berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu”. Sedang seluruh proses pergerakan selama rihlah dinamakan safar. Kata-kata rihlah dalam Al-Qur’an terdapat dalam surat Quraisy ayat 1-2, sedang kata-kata safar terdapat antara lain dalam Surat Saba’ ayat 19.

Dapat dikatakan bahwa manusia, semenjak ia masih janin hingga menghembuskan nafas terakhir, selalu dalam kondisi rihlah terus menerus. Setiap tahap kehidupan merupakan pangkal bertolak menuju tahap berikutnya. Secara biologis, manusia berpindah atau mengalami rihlah dari anak-anak, remaja, dewasa dan tua dan berakhir dengan kematian. Selanjutnya, bagi manusia, bumi adalah tempat lahir, tempat penghunian dan tempat kematian, yang diperintahkan Allah untuk dimakmurkan. Karenanya manusia senantiasa mengalami rihlah atau migrasi dari satu tempat ke tempat lainnya dimuka bumi itu, dalam rangka menunaikan perintah memakmurkan bumi tersebut.

Al-Qur’an berisi banyak sekali dorongan atau motivasi untuk melakukan rihlah dimuka bumi, dengan tujuan untuk dapat melihat keagungan ciptan-Nya berupa alam semesta dengan seluruh isinya; gunung dan lembah, langit bumi dan apa yang terdapat pada keduanya atau antara keduanya, tetumbuhan dan hewan-hewan. Juga dengan memperhatikan bukti-bukti arkeologis dan historis sejarah umat-umat terdahulu sehingga dapat menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya. Ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi dorongan untuk melakukan rihlah, antara lain Surat al-Muluk ayat 15 : “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalankah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. Juga : Ali Imran : 137, Al-An’am : 11, an-Nhl : 36, an-Naml : 69, al-‘Ankabut : 20, Rum : 42,

Islam memberikan arahan dan tuntunan dalam melakukan rihlah, termasuk tujuan dan maksud rihlah, yakni :

Rihlah untuk mencari keselamatan

Hijrah. Secara spesifik adalah hijrah pada masa Nabi (Hijrah ke Habasyah I, ke Habasyah II dan ke Madinah). Kisah Hijrahnya Nabi Ibrahim ke Syam (al-Ankabut : 26-27, al-Anbiya’ : 71-73, al-Isra’: 1), Rihlah Ibrahim ke Mesir, kisah keluarnya Musa dari Mesir ke Madyan (al-Qashash : 18-19, Qashash : 21-22), Rihlah Musa bersama Khaidir as

Keluar dari daerah yang didominasi oleh Bid’ah dan yang haram, karena mencari sesuatu yang halal adalah kewajiban setiap muslim.

Melarikan diri dari ancaman yang menyangkut keselamatan jiwa dan harta (al-’Ankabut : 26, Ash-Shafat : 99, al-Qashash : 21). Contoh rihlah yang populer dalam Al-Quran misalnya kisah Rihlah Nabi Nuh. As (Hud : 36-41, al-Qamar : 13-14, Hud ; 44,

Rihlah untuk tujuan keagamaan

Untuk dapat menyaksikan keagungan Allah melalui ciptan-Nya (ar-Rad : 4, al-Mukmin : 57, Ali Imran : 190-191, Yunus : 101, al-A’raf : 185, dan Yusuf : 109). Dan agar umat lebih bersyukur kepada Allah atas segala limpahan rahmat-Nya yang dapat kita saksikan dengan menjelajahi bumi dengan semua isinya (al-A’raf : 10, Yunus : 14)..

Untuk menyampaikan dakwah keseluruh pelosok dunia (Saba’ : 28, al-Anbiya’ : 107).

Untuk menuntut ilmu pengetahuan. Sebagaimana maksud Hadits : ”Tuntutlah ilmu sekalipun sampai ke Negeri China”.

Untuk menunaikan ibadah haji dan umrah

Berjihad dijalan Allah atau waspada menghadapi musuh.

Ziarah ketempat-tempat yang mulia (ziarah ke Masjid Haram, Masjid Madinah dan Masjid al-Aqsha serta tempat-tempat mulia lainnya).

Bersilaturrahim, ta’awwun mengunjungi ikhwan sesama Muslim

Safar untuk mendapatkan ’ibrah dari kejadian sejarah masa lampau (Ali Imran : 137, Al-An’am : 11, an-Nahl : 36, an-Naml : 69, Rum : 42). .

Rihlah untuk mendapatkan kemaslahatan duniawi

Safar untuk mencari kebutuhan hidup, berusaha berdagang dan usaha lainnya (al-Baqarah : 198)

Melakukan tugas diplomatik (an-Naml ; 20-31)

Turisme atau darmawisata/melancong, Kisah rihlah Zulqarnain ke wilayah barat (al-Kahfi : 83-85), Rihlah Zulqarnaini ke wilayah timur (Kahfi : 86-88), ke penjurtu dunia (Kahfi : 92-98).

Melakukan rihlah akan sangat bermanfaat bagi pribadi yang melakukannya, bagi peradaban manusia sezaman dan bagi generasi berikutnya. Surat al-Furqan ayat 63-76 dengan sangat bagus menggambarkan betapa rihlah akan dapat meningkatkan derajat, martabat dan kedudukan kaum Muslim yang melakukan rihlah sesuai dengan tuntunan dan etika Islam.

Dalam menunaikan perintah rihlah itulah muncul para tokoh penjelajah, peneroka bumi, penemu daerah baru, dan penemu berbagai peralatan, perangkat dan media yang memudahkan rihlah. Dengan rihlah juga ditemukan berbagai ilmu pengeatahuan dan kemahiran serta ketrampilan baru.

PARA PENJELAJAH, PENULIS RIWAYAT PERJALANAN, PENCIPTA PETA DAN GLOBE MUSLIM :

Perkembangan pesat Ilmu Geografi di dunia Islam dimulai ketika Khalifah al-Ma’mun (813-833) memerintahkan sarjana Muslim melakukan pengukuran jarak-jarak antara beberapa kota dan wilayah Islam. Sejak itulah munculnya istilah “mil” untuk ukuran jarak tertentu, dimana sebelumnya Orang yunani menghunakan istilah “stadion”. Khalifah Al-Ma’mun memerintahkan untuk membuat peta bumi dan globe. Diperkirakan Musa al-Khawarizmi dan kawan-kawan merupakan tokoh paling awal yang mempu menciptakan globe tahap awal.

Al-Khawarizmi menulis buku Geografi yang berjudul Surah al-Ard (Morfologi bumi), sebuah koreksi terhadap Ptolemaeus. Pada abad yang sama al-Kindi juga menulis buku bertajuk Keterangan tentang Bumi yang Berpenghuni. Sejak itu geografi berkembang kian pesat.

Setidak-tidaknya tercatat nama-nama penulis, peneliti, penjelajah dan pembuat peta Muslim sebagai berikut : Muhammad bin Musa al-Razi (w. 273H/882M), Qasim bin Asbagh al-Bayani (244-340H/859-951M), Ahmad bin Muhd. Al-Razi (284-344H), Ahmad bin Umar bin Anas al-‘Azri al-Dalaie (393-476H/1002-1083M), Abu ‘Ubaid al-Bakri (432-487H/1040-1094M), Abdullah bin Ibrahim al-Hijari (kurun ke 6H/12M), al-Idrisi (110-1166M), Ibn Bashkawal (494-578H/1101-1183M), al-Yasa’ bin Isa bin Hazm al-Ghafiqi (w. 575H/1179M), Abu Hamid al-Gharnati (lahir 473H/1080-1081M), Mohammad bin Abi Bakr al-Zuhri (kurun ke 6H/12M), Abu Bakar bin al-‘Arabi (468-542H/1076-1148M), Ibn Jubayr (1145-1217M), Muhammad bin Ayub bin Ghalib al-Gharnaiti, Abu al-Hasan Ali bin Sa’id (610-685H/1213-1286M), Abu Abdullah Muhd. Al-Abdari, Muhd. Bin Abd. Al-Mun’im al-Hamiri (w. 900H/1494M) dan lainnya.

Pada awal abad ke 10M, Abu Zayd al-Balkhi yang berasal dari Balk mendirikan sekolah di Bagdad yang khusus mengkaji geografi. Selanjutnya, abad ke 11M, geografer Muslim Spanyol Abu Ubaid al-Bakri menulis Mu’jam al-Ista’jam (Ensiklopedia Geografia) dan al-Masalik wa al-Mamalik (Jalan dan Kerajaan). Buku pertama berisi nama-nama tempat di Jazirah Arab, sedangkan buku kedua berisi pemetaan geografis dunia Arab zaman itu.

Pada abad ke-12, Geografer Muslim, Al-Idrisi berhasil membuat peta dunia. Al-Idrisi yang lahir tahun 1100M di Ceutia Spanyol juga menulis kitab Geografi berjudul Nazhah al-Muslak fi Ikhtira al-Falak (Tempat Orang yang rindu Menembus Cakrawala). Kitab ini sangat fenomenal sehingga diterjemahkan kedalam bahasa Latin dengan judul Geographia Nubiensis.

Seabad kemudian, dua geografer Muslim, Qutbuddin Asy-Syirazi (1236-1311M) dan Yaqut ar-Rumi (1179-1229M), kembali membuat keajaiban. Qutbuddin mampu membuat peta Laut Tengah (Laut Mediternia) yang dihadiahkan kepada Raja Persia. Sedangkan Yaqut menulis enam jilid ensiklopedia bertajuk Mu’jam al-Buldan (Ensiklopedi Negeri-negeri).

Penjelajah Muslim asal Maroko, Ibn Battuta pada abad ke-14 M, memberi sumbangan dalam menemukan rute perjalanan baru. Hampir selama 30 tahun, Ibn Battuta menjelajahi daratan dan mengharungi lautan mngelilingi dunia. Penjelajah Muslim lainnya adalah laksamana Cheng Ho dari Tiongkok. Dia melakukan ekspedisi sebanyak tujuh kali dari tahun 1405-1433M.

Al-Biruni digelari sebagai “Bapak Geodesi”, karena berjasa dalam mengembangkan ilmu geografi dan geologi. John J.O’Connor dan Edmund F. Rebertson memberikan pengakuan terhadap kontribusi besar al-Biruni dalam bukunya Mac-Tutor Histopry of Mathematics. Menurut mereka, al-Biruni telah menyumbangkan kontribusi penting bagi pengembangan geografi dan geodesi. Al-Buruni-lah kata mereka, yang memperkenalkan teknik pengukuran bumi dan jarak-jaraknya dengan menggunakan teknik triangulation. Al-Biruni juga yang menemukan radius bumi mencapai 6.339,6 km. Hingga abad ke-16M, Barat belum mampu mengukur radius bumi seperti yang dilakukan al-Biruni.

Di Palermo, Sicilia, 1138M, sebuah pertemuan istimewa antara seorang raja Kristen dengan ilmuan Muslim berlangsung di Istana kerajaan Sicilia. Dalam suasana keakraban, Raja Roger II – penguasa Sicilia – secara khusus menyambut kedatangan tamu Muslim yakni al-Idrisi, seorang geografer dan kartografer (pembuat peta) termasyhur abad ke-12M. Raja Roger II sangat tertarik dengan studi geografi dan minta dibuatkan peta oleh sang ilmuan Muslim bersangkutan. Pada era itu belum ada ahli geografi dan kartografi Kristen Eropah yang dapat membuat peta bumu secara akurat. ”Pada saat itu, ahli geografi dan kartografi Barat masih menggunakan pendekatan simbolis, fantasi bahkan mistis”, demikian ungkap Frances Carney Gie dalam tulisannya berjudul al-Idrisi and Roger’s Book. Dalam pertemuan tersebut diatas, Roger II dan al-Idrisi sepakat untuk membuat peta dunia pertama yang akurat, yang memakan waktu 15 tahun. Mega proyek pembuatan peta dunia itu melibatkan 12 sarjana, 10 orang ilmuan Muslim dan dua dari Kristen, dipusatkan di Palermo. Di kota Palermo berkumpul para navigator dan pelaut dari berbagai wilayah, seperti Mediterania, Atlantik dan perairan utara. Dari merekalah al-Idrisi dan kelompoknya menggali dan mengembangkan ilmu geografi dalam rangka pembuatan peta dunia. Pada 1154, maka peta pesanan Roger II dapat diselesaikan, bagaimana al-Idrisi mempersembahkan peta tersebut kepada Roger II, dapat disimak dalam bukunya Nuzhat al-Mustaq fi Ikhtirak al-Afaq.

Sebagai geografer yang meyakini bahwa bumi berbentuk bulat, al-Idrisi secara gemilang membuat globe (bula bumi) dari perak. Bola bumi tersebut memiliki berat 400 kg. Dalam globe itu, al-Idrisi menggambarkan enam benua, lautan, jalur perdagangan, danau, sungai, kota-kota utama, daratan dan gunung-gunung. Lebih dari itu, globe itu juga memuat informasi tentang jarak, panjang dan tinggi satu ke tempat lainnya. Untuk menjelaskan globe tersebut al-Idrisi menulis komplomenter berjudul al-Kitab al-Rujari (Buku Roger).

Seperti sudah disebut, al-Idrsi juga menulis buku Nuzhat al-Mushtaq fi Ikhtiraq al-Afaq, yang dapat disebut sebagai Ensiklopedia Geografi yang berisi Peta dan informasi mengenai negara-negara di Erpah, Afrika dan asia yang pertama. Selanjutnya al-Idrisi juga menulis buku yang bertajuk Rawd un-Nas wa Nuzhat al-Nafs, buku geografi yang lebih detail dan lebih komprehensif. Selama mendedikasikan dirinya di Sicilia, al-Idrisi sempat membuat 70 peta daerah-daerah yang sebelumnya tak tercatat dalam peta.

Siapakah al-Idrisi ?. nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad Ibn al-Idrisi Ash-Sharief, atau al-Syarif al-Idrisi al-Qurtubi, sedang orang barat mempopulerkannya dengan Edrisi atau Dreses. Dilahirkan di Ceuta, maroko, Afrika Utara pada tahun 1100, mendapat pendidikan di Cordova, Spanyol. Sejak muda ia telah tertarik dengan geografi, untuk itu dia telah menjelajahi Laut Mediterania, Eropah (Spanyol, Perancis, Potugal, Inggeris dan beberapa negeri Eropah lainnya), disamping Afrika Utara tempat wilayah asalnya. Al-Idrisi meninggal di Sicilia pada tahun 1160.

Seorang tokoh lain dalam bidang geografi dan kartografi yang cukup misterius adalah al-Hassan Ibn Muhammad al-Wazzan al-Fassi sedang masyarakat Eropah menyebutnya dengan ”Leo Africanus”, karena. dia seorang spesialis geografi Afrika. Al-Wazzan adalah seorang ilmuan yang unik. Sejarawan Tom Verde menyebut al-Wazzan sebagai ”Manusia dua wajah”. Saat berada di Afrika Utara, dia mengabdikan dirinya untuk Sultan di Maroko. Ketika di Barat, ia bekerja untuk kepentingan pemimpin tertinggi umat Katholik, Paus. Menurut Bouchentouf, al-Wazzan adalah seorang Muslim yang hidup sebagai seorang Kristen dan menulis dunia Islam untuk masyarakat Kristen.

Layaknya intelektual Muslim sekaliber Ibnu Battuta, Ibnu Khaldun dan Ibnu Jubair, maka al-Wazzan adalah juga seorang yang serba bisa. Ia adalah seorang penjelajah, navigator, karena itu dia geografer dan kartografer, lanjutannya dia Sejarawan dan diplomat. Secara khusus ternyata Al-Wazzaan juga seorang ahli hukum, bahkan pengelola rumah sakit. Al-Wazzan mampu menjembatani peradaban yang berseberangan melalui keilmuan dan kamus tiga bahasa yang ditulisnya : Arab-Latin dan Yahudi.

Al-Wazzan terlahir di Granada, Andalusia (Spanyol) pada 1493 (ada yang menyebut 1494). Menurut Prof. Mohammad Hajji, penyusun Ensiklopedia Maroko, nama asal al-Wazzan adalah Hassan, ayahnya Muhammad, seorang terpandang di istana Sultan Granada. Al-Wazzan dan keluarganya hijrah ke kota Fez, Maroko, ketika umat Islam terusir dan dibantai oleh penguasa Kristen pada abad ke-15. Prof. Hajji menuturkan, sang ayah dan paman al-Wazzan bekerja untuk Sultan Fez. Al-Wazzan sempat menimpa ilmu di Perguruan al-Qarawiyyin. Disinilah sebenarnya al-Wazzan mengenal seluk-beluk Afrika secara mendalam, mulai dari geografi, adat-istiadat, sosiologi, masyarakat Afrika yang sangat majemuk itu, sehingga kemudian terkenal sebagai “Ahli tentang Afrika atau Leo Africanus”.

Perjalanan intelektual a-Wazzan, kelihatan ketika berumur 14 tahun dia sudah menjadi qadli. Dua tahun kemudian dia mulai menjalankan tugas sebagai diplomat. Pada usia 16 tahun, al-Wazzan telah menemani pamannya menjalankan tugas diplomatik mewakili Sultan Wattasid, untuk kawasan Afrika Utara. Ia juga sempat mendatangi Timbuktu dan Gaodua, yang berada di wilayah Mali dan dibawah kekuasaan Kerajaan Songhai. Karena kemampuannya mencatat dan memperkenalkan Timbukti secara luas, dan menjelaskan jalur perdagangan timur-barat-dan utara-tengah Afrika melalui Sub-Sahara, akhirnya dia diangkat menjadi duta kepercayaan Sultan untuk Mali dan Nigeria.

Kariernya yang cemerlang sebagai diplomat membawanya hingga ke Istambul (Turki Utsmani), dan berkenalan dengan beberapa penguasa Eropah Timur. Pada 1518, dalam perjalanan pulang dari Istambul, rombongannya ditangkap bajak laut yang bekerja untuk Ksatria Saint Jhon. Anggota rombongan dijual ke pasar budak di Pisa dan Genoa, tapi karena keilmuannya, al-Wazzan diserahkan pada Paus Leo X.

Karena pada waktu itu sedang berlangsung Perang salib, maka kehadiran Al-Wazzan di Roma menjadi begitu istimewa, dia diminta menjelasklan kekuatan Turki Utsmani, dan kekuatan Islam lainnya di belahan Asia Kecil dan Asia Barat, guna mempermudah perjalanan angkatan Salib.

Sesuatu yang misteri dan tidak terungkap secara jelas, adalah tentang (terpaksanya) Al-Wazzan masuk Kristen. Menurut sumber Barat, pada tanggal 6 Januari 1520, saat al-Wazzan berusia 24 tahun, dia sempat dibaptis oleh Paus Leo X dan diberi nama baptis “Johannes Leo de Medicis” atau “Giovanni Leone” atau dalam sebutan Arabnya “Yuhanna al-Asad”. Dari beberapa nama itulah kemudian dia dipopulerkan di Barat oleh penulis buku dari Venetsia, Giovanni Battista Ramusio dengan “Leo Africanus”. Tapi sumber-sumber Islam menyatakan bahwa hakekatnya al-Wazzan tetap seorang Muslim, karena bagaimanapun dia pernah juga pulang ke Afrika Utara. Apa yang dilakukannya di Roma dihadapan Sri Paus, adalah sebuah upaya penyelamatan diri dan posisi keilmuannya (Taqiyyah). Pada waktu Roma diserang Raja Charles V, pada Mei 1527, menurut kalangan barat, al-Wazzan meninggal dunia di Roma pada waktu itu, sedang menurut kalangan Muslim, Al-Wazzan sempat melarikan diri ke Tunis, Tunisia, dan meninggal dunia di Tunis pada 1550.

Benarkah al-Wazzan menjadi Kristen ?, menurut Prof. Hajji, pembaptisan oleh Paus itu hanyalah strategi agar lepas dari penjara Paus, juga lepas dari pembayaran pajak tahanan/tawanan yang cukup tinggi. ”Pada saat itu, hal seperti itu biasa terjadi”, kata Sejarawan Ahmed Bouchard, mantan Dekan Sekolah Seni dan Sains Universitas Muhammad Khamis di Maroko.

”Saat itu, demi keselamatannya, orang Islam dan Yahudi pindah menjadi Kristen, orang Kristen menjadi Muslim”, ujar Bouchard. Sebagaimana misalnya dalam sejarah terbaca Kekhalifahan Turki diperkuat prajurit yang sebenarnya (pada mulanya) beragama Kristen, atau kesultanan Maroko memiliki prajurit yang (pada awalnya) sebenarnya beragama Kristen.

Pada masa dia berada dilingkungan Paus itulah dia menyelesaikan buku besarnya Cosmographia Del Africa, Maret 1526. Buku ini juga diterbitkan dalam bahasa Italia berjudul Della Descrittionedell’Africa et Delle Cose Notabli che Ivi Sono. Buku ini kemudian diedit ulang pada 1554, 1563, 1588, 1606 dan 1613M. Pada edisi 1588, editor dan penerbit mengklaim Leo al-Wazzan meninggal di Roma. Adalah juga ketika di Roma dia menulis beberapa buku Tentang Bahasa Arab, buku Tentang Sejarah Islam daln lain nya.

Selain itu, buku berjudul Fenomenal al-Wazzan juga diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis pada 1556 oleh Jean Temporal dengan judul Historiale Description de l’Afrique Tierce Partie du Monde. Diterjemahkan kedalam bahasa Latin dengan judul De Totius Africae descriptione Libri IX, tahun 1559 dan 1632. Kedalam bahasa Jerman, diterjemahkan dan diterbitkan oleh Lorbach dengan judul Beschreibung von Africa pada 1805. Bahkan tiga abad kemudian diterbitkan di Perancis dengan judul Description de l’Afrique pada 1896.

MUSLIM SEBAGAI PENEMU AMERIKA : SUMBER-SUMBER DAN PRESPEKTIF MUSLIM

Selama ribuan tahun, selalu dipersepsikan bahwa penemu Benua Amerika adalah Christopher Colombus pada 12 Oktober 1492. Menurut versi tersebut, ketika pertama kali menginjakkkan kakinya di daratan, dia menyangka mendarat di semenanjung Hindia, sehingga penduduk aslinya disebut ”Indian”.

Tapi menurut versi lain, penelitian ulang yang dilakukan oleh beberapa peneliti Barat, atau penelitian dari sumber-sumber tertulis dari kalangan Muslim, ilmuan Muslim, ditemukan data-data baru bahwa Benua Amerika telah ditemukan oleh penjelajah Muslim 603 tahun sebelum Colombus menginjakkan kakinya di benua Amerika.

Literatur yang menerangkan bahwa penjelajah Muslim sudah datang ke Amerika sebelum Colombus, antara lain pakar sejarah dan geografer Abul Hassan Ali Ibnu al-Hussain al-Masudi (871-957M). Dalam bukunya Muruj Adh-Dhahabwa Maad al-Jawhar (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels / Hamparan Emas dan tambang Permata), al-Masudi telah menuliskan bahwa Khaskhas Ibnu Sa’ied Ibn Aswad, seorang penjelajah Muslim dari Cordova, Spanyol, berhasil mencapai benua Amerika pada 889M.

Al-masudi menjelaskan, semasa pemerintahan Khalifah Abdullah Ibn Muhammad (888-912M) di Andalusia, Khaskhas berlayar dari Pelabuhan Delbra (Palos) pada 889, menyeberangi lautan Atlantik hingga mencapai sebuah negeri yang asing (al-ardh majhul). Sekembalinya dari benua asing tersebut, dia membawa pulang barang-barang yang menakjubkan, yang diduga berasal dari benua baru yang kemudian berama Amerika.

Sejak itulah, pelayaran menembus Samudera Atlantik yang saat itu dikenal sebagai ”lautan yang gelap dan berkabut”, semakin sering dilakukan oleh pedagang dan penjelajah Muslim. Literatur yang paling populer adalah essay Dr. Yossef Mroueh dalam Prepatory Committe for International Festivals to Celebrate the Millenium of the Muslims Arrival to the America tahun 1996. Dalam essay berjudul Precolumbian Muslims in America (Muslim di Amerika Pra Colombus), Dr. Mroueh menunjukkan sejumlah fakta bahwa Muslimin dari Anadalusia dan Afrika Barat tiba di Amerika sekurang-kurangnya lima abad sebelum Colombus.

Pada pertengahan abad ke-10, pada masa pemerintahan Bani Umayyah Andalusia: Khalifah Abdurrahman III (929-961M), kaum Muslimin dari Afrika berlayar ke arah barat dari pelabuhan Delbra (Palos) di Spanyol menembus “samudera yang gelap dan berkabut”. Setelah menghilang beberapa lama, mereka kembali dengan sejumlah harta dari negeri yang “tak dikenal dan aneh”. Dalam pelayaran itu, ada sejumlah kaum Muslimin yang tinggal bermukim di negeri baru itu. Mereka inilah imigran Muslim gelombang pertama yang tiba di Amerika.

Masih menurut Dr. Mroueh, berdasarkan catatan sejarawan Abu Bakr Ibnu Umar al-Gutiyya, yang hidup pada masa pemerintahan Khalifah Hisyam II (976-1009) di Andalusia, penjelajah dari Granada bernama Muhammad Ibnu Farrukh meninggalkan pelabuhan Kadesh, Februari 999. M.Farrukh melintasi Lautan Atlantik, mendarat di Gando (Kepulauan canary) dan berkunjung pada Raja Guanariga. Ia melanjutkan pelayaran ke arah barat, melihat dua pulau dan menamakannya dengan Cpraria serta Pluitana. Ia kembali ke Andalusia Mei 999 M.

Al-Syarif al-Idrisi (1099-1166), pakar Geografi dan ahli pembuata peta, dalam bukunya Nuzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq (Ekskursi dari yang rindu mengharungi Ufuk) menulis, sekelompok pelaut Muslim dari Afrika Utara berlayar mengharungi samudera yang gelap dan berkabut. Ekspedisi yang berangkat dari Lisbon (Portugal) ini, dimaksudkan untuk mendapatkan jawaban apa yang ada di balik samudera itu ?, berapa luasnya dan dimana batasnya?, Merekapun menemukan daratan yang penghuninya bercocok tanam.

Pelayaran melintasi samudera Atlantik dari Maroko juga dicatat oleh penjelajah Shaikh Sayn-eddin Ali bin Fadhel al-Mazandarani. Kapalnya melepas jangkar dari pelabuhan Tarfay di Maroko pada masa Sultan Abu Yacoob Sidi Yossef (1286-1307M), penguasa keenam Kekhalifahan Marinid. Rombongan ekspedisi ini mendarat di Pulau Green di Laut Karibia pada 1291. menurut Dr. Mroueh, catatan perjalanan pelaut Maroko ini banyak dijadikan referensi oleh ilmuan Islam pada era sesudahnya.

Sultan-sultan dari Kerajaan Mali di Afrika Barat yang beribukota Timbuktu, juga melakukan penjelajahan hingga mendarat di benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl al-Murai (1300-1384), menulis catatan tentang geografi Timbuktu, yang waktu itu ternyata telah menjadi kota pusat peradaban dan cukup maju di Afrika Barat.

Ekspedisi laut yang berawal dari Timbuktu, antara lain dilakukan oleh Sultan Abu Bakari I (1285-1312M) yang merupakan saudara dari Sultan Mansa Kankan Musa (1312-1337M0. Sultan Abu Bakar I melakukan dua kali ekspedisi menembus Lautan Atlantik dan mendarat di Amerika. Bahkan, penguasa Afrika Barat ini sempat menyusuri sungai Missisippi, dan mencapai pedalaman Afrika Tengah antara tahun 1309-1312. Selama berada di benua baru ini, para eksplorer ini tetap berkomunikasi dengan bahasa Arab dengan penduduk setempat. Dua abad kemudian tepatnya tahun 1513, penemuan benua Amerika ini diabadikan dalam peta berwarna yang disebut Piri Re’isi. Peta ini dipersembahkan kepada Khalifah Ottoman, Sultan Selim I, tahun 1517 di Turki. Peta ini berii informasi akurat tentang belahan bumi bahagian barat, Amerika Selatan, dan pesisir pantai Brasil. Piri sendiri sebenarnya merupakan nama seorang pejabat laut sekaligus pembuat peta kerajaan Turki Utsmani, yang berbakti pada kerajaan Turki Utsmanimasa pemerintahan Sultan Salim (1512-1520) sampai pemerintahan Sultan Sulaiman al-Qanuny (1520-1566). Gelaran ”Reis” (berasal dari bahasa Arab Raais, yang berarti panglima atau Pimpinan), diberikan pada Piri setelah yang bersangkutan memenangkan peperangan laut melawan Bendeqia.

Peta Piri Reis yang bertarikh 1513 M itu disimpan di Tobco Serai/Top Kopi, dan kemudian pada tahun 1929, dikaji ulang oleh seorang orientalkis Jerman Prof. Paul Kalhe yang membentangkannya dalam Kongres Kajian Oriental di Leiden pada 1931. Untuk mengenang jasa-jasanya, pemerintah Turki mengabadikannya menjadi perangko Peta Piri Reis itu

D. MUSLIM SEBAGAI PENEMU AMERIKA : Sumber-sumber dan Perspektif Barat :

Pertama, dalam bukunya Saga America (New York, 1980), Dr. Barry Fell, arkeolog dan ahli bahasa berkebangsaan Selandia Baru jebolan Harvard University menunjukan bukti-bukti detail bahwa berabad-abad sebelum Colombus, telah bermukim kaum Muslimin dari Afrika Utara dan Barat di beua Amerika. Tak heran jika bahasa masyarakat Indian Pima dan Algonquain memiliki beberapa kosakata yang berasal dari bahasa Arab.

Di negara bahagian Inyo dan California, Dr. Barry menemukan beberapa kaligrafi Islam yang ditulis dalam bahasa Arab salah satunya bertuliskan ”Yesus bin Maria” yang artinya ”Isa anak Maria”. Kaligrafi ini dapat dipastikan datang dari ajaran Islam yang hanya mengakui nabi Isa sebagai anak manusia dan bukan anak Tuhan. Dr. Barry menyatakan bahwa usia kaligrafi ini beberapa abad lebih tua dari usia Negara Amerika Serikat. Bahkan lebih lanjut, Dr. Barry menemukan reruntuhan, sisa-sisa peralatan, tulisan, digram, dan beberapa ilustrasi pada bebatuan untuk keperluan pendidikan di Sekolah Islam. Tulisan, diagram dan ilustrasi ini merupakan mata p[elajaran matematika, sejarah, geografi, astronomi dan navigasi laut. Semuanya ditulis dalam tulisan Arab Kufi dari Afrika Utara.

Penemuan sisa-sisa sekolah Islam ini ditemukan dibeberapa lokasi seperti di Valley of Fire, Allan Springs, Logomarsino, Keyhole, Canyon Washoe, Hickison Summit Pas (Nevada), Mesa Verde (Colorado), Mimbres Valley (New Mexico) dan Tipper Canoe (Indiana). Sekolah-sekolah Islam ini diperkirakan berfungsi pada tahun 700-800 M. Keterangan yang sama juga ditulis olh Donald Cyr dalam bukunya yang berjudul Exploring Rock Art (Satna barbara, 1989).

Kedua, dalam bukunya Africa and the Discovery of America (1920), pakar sejarah dari Harvard University, Loe Weiner, menulis bahwa Colombus sendiri sebenarnya juga mengetahui kehadiran orang-orang Islam yang tersebar di Karibia, Amerika Utara, Tengah dan Selatan, termasuk Canada. Tapi tak seperti Colombus yang ingin menguasai dan memperbudak penduduk asli Amerika, umat Islam datang untuk berdagang, berasimilasi dan melakukan perkawinan dengan orang-orang India suku Iroquis dan Algonquin. Colombus juga mengakui, dalam pelayaran antara gibara dan Pantai Kuba, 21 Oktober 1492, ia melihat masjid berdiri diatas bukit dengan indahnya. Saat ini, reruntuhan masjid-masjid itu telah ditemukan di Kuba, Mexico, Texas dan Nevada.

Ketiga, John Boyd Thacher dalam, bukunya Christopher Colombus yang terbit di New York, 1950, menunjukkan bahwa Colombus telah menulis bahwa pada hari Senin, 21 Oktober 1492, ketika sedang berlayar di dekat Cibara, bahagian tenggara pantai Cuba, ia menyaksikan mesjid di atas puncak bukit yang indah. Sementara itu , dalam rangkaian penelitian antropologis, para antropolog dan arkeolog memang menemukan reruntuhan beberapa masjid dan menaranya serta ayat-ayat al-Qur’an di Cuba, Mexico, Texas dan Nevada.

Keempat, Clyde Ahmad Winters dalam bukunya Islam in Early North and South America, yang diterbitkan penerbit Al-Ittihad, Juli 1977, halaman 60 menyebutkan, para antropo0log yang melakukan penelitian telah menemukan prasasti dalam bahasa Arab di lembah Mississipi dan Arizona. Psasasti itu menerangkan bahwa imigran Muslim pertama tersebut juga membawa gajah dari Afrika.

Sedangkan Ivan Van Sertima, yang dikenal karena karyanya They Came Before Colombus, menemukan kemiripan arsitrektur bangunan penduduk asli Amerika dengan kaum Muslim Afrika. Sedang dalam bukunya yang lain African Presence in Early America, juga menegaskan tentang telah adanya pemukiman Muslim Africa sebelum kehadiran Colombus di Amerika.

Kelima, ahli sejarah Jerman, Alexander Von Wuthenan juga memberikan bukti bahwa orang-orang Islam sudah berada di Amerika tahun 300-900 M. Artinya, umat Islam sudah ada di Amertika, paling tidak setengah abad sebelum Colombus lahir. Bukti berupa ukiran kayu berbentuk kepala manusia yang mirip dengan orang Arab diperkirakan dipahat tahun 300 dan 900 M. Beberapa ukiran kayu lainnya diambil gambarnya dan diteliti, ternyata memiliki kemiripan dengan orang Mesir.

Keenam, salah satu buku karya Gavin Menzies, seorang bekas pelaut yang menerbitkan hasil penelusurannya, menemukan peta empat pulau di Karibia yang dibuat pada tahun 1424 dan ditandatangani oleh Zuanne Pissigano, kartografer dari Venezia, yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Peta ini berarti dibuat 68 tahun sebelum Colombus mendarat di Amerika. Dua pulau pada peta ini kemudian diidentifikasi sebagai Puertorico dan Guadalupe.

Henry Ford dalam bukunya The Complete International Jew, terdapat cuplikan yang menjelaskan bagaimana kondisi riil Umat Islam pada akhir kekuasaan Islam di Spanyol, yang mengalami penyiksaan yang sangat luar biasa, dan bagaimana dari penyiksaan tersebut akhirnya ada yang melarikan diri bersama rombongan Colombus ke Amerika. Dalam buku tersebut dapat disarikan sebagai berikut :

Perjalanan Colombus dimulai 3 Agustus 1492, sehari setelah jatuhnya Granada, benteng terakhir umat Islam di Spanyol. Dalam pertarungan hidup-mati itu, 300 ribu orang Yahudi diusir dari Spanyol oleh raja Ferdinand yang Kristen. Selanjutnya, dalam buku tersebut dikisahkan bagaimana perjuangan penggalanagan dana oleh kaum Yaahudi untuk mendukung perjalanan Colombus dan pada hakekatnya juga pelayaran bagi pelarian Yahudi Spanyol ke Amerika. Tapi ada bahagian informasi yang sengaja tidak dipublikasikan, yakni bahwa Colombus membawa dua kapal, yakni kapal Pinta dan Nina. Kedua kapal ini dibantu oleh nakhoda Muslim bersaudara. Martin Alonso Pinzon menakhodai kapal Pinta, dan Vicente Yanex Pinzon menakhodai kapal Nina. Keduanya menggunakan Spanyol namun keduanya sebenarnya masih keluarga Sultan Maroko Abu Zayan Muhammad III (1362-1366) yang menguasai kekhalifahan Marinid (1196-1465). Informasi tersebut juga ditemukan dalam buku karya John Boyd Thacher, Christopher Colombus, New York, 1950.

MUSLIM SEBAGAI PENEMU AMERIKA : HASIL PENGAMATAN LAPANGAN DAN PERSPEKTIF SUKU-SUKU INDIAN AMERIKA (CHEROKEE)

Hari ini, kalau kita membuka peta Amerika paling mutakhir buatan Rand McNally dan mencermati nama-nama tempat. Hampir di semua bagian benua ini akan ditemukan jejak-jejak umat Islam jauh sebelum Colombus. Di tengah kota Los Angeles misalnya, terdapat kawasan Alhambra, teluk El-Morro dan al-Amitos serta nama-nama kawasan seperti Andalusia, Attilla, Alla, Aladdin, Albany, Al-Cazar, Alameda, Alomar, al-Mansor, Almar, Alva, Amber, Azuredan La Habra.

Di bahagian tengah Amerika, dari selatan hingga Illionis terdapat nama-nama kota Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon dan Tullahoma. Di negara bagian Washington ada kota Salem. Di Karibia (berasal dari bahasa Arab Qariiban) dan Amerika Tengah terdapat kawasan bernama Jamaika, Pulau Cuba (dari kata Quba) dengan ibukotanya Havana (dari La-Habana). Juga nama-nama pulau Grenada, Barbados, Bahama dan Nassau.

Di Amerika Selatan terdapat nama kota seperti Cordova (di Argentinma), Al-Cantara (di Brazil), Bahia (di Brazil dan Argentina). Selanjutnya , ada nama-nama pegunungan seperti Appalachian (Afala-che) di pantai timur dan pegunungan Absarooka (Abshaaruka) di pantai barat. Kota besar di negara bagian Ohio yang terletak di muara sungai Wabash yang panjang dan meliuk-liuk bernama Toledo, nama Universitas Islam ternama pada masa kejayaan Islam di Andalusia.

Menurut Dr. Youssef Mroueh, hari ini di Amerika Utara terdapat 565 nama tempat, baik nergara bagian, kota, sungai, gunung, danau dan desa yang diambil dari nama Islamatau nama dengan akar kata dari bahasa Arab. Selebihnya, sebanyak 484 nama terdapat di Amerika Serikat dan 81 di Kanada. Nama-nama ini diberikan oleh penduduk asli yang telah ada sebelum Colombus menginjakkan kaninya di Amerika.

Dr. A. Zahoor juga menulis bahwa nama negara bagaian seperti Alabama berasal dari kata Allah Bamya. Nama negara bagian Arkansas berasal dari kata Arkan-Sah dan Tenesse dari Tanasuh. Demikian njuga nama kota besar seperti Tallahassee di Florida, berasal dari bahasa Arab yang artinya ”Allah akan menganugerahkan sesuatu dikemudian hari”.

Dr. Mroueh juga menulis, beberapa nama yang dicatatnya merupakan nama kota suci seperti Mecca di Indiana. Medina merupakan nama paling populer di Amerika. Medina terdapat di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota. Medina di Ohio, Medina di Tenesse. Medina di Texas dengan penduduk 26 ribu jiwa. Medina di Ontario Canada, kota Mahomet di Illionis, Moda di Utah dan Arva di Ontario Canada.

Ketika Colombus mendarat di kepulauan Bahama, 12 Oktober 1492, pulau itu sudah diberi nama Guanahani oleh penduduknya. Guanahani berasal dari kata Arab ikhwana (saudara), kemudian dibawa ke bahasa Mandika (kerajaan Islam di barat Afrika) yang berarti ”tempat keluarga Hani bersaudara”. Tapi kemudian Colombus secara ”seenaknya” memberinya nama San Salvador, dan merampas pulau ini dari pemilik awalnya.

Hari ini, seandainya kita mengunjungi Washington, dan sempat mengunjungi Perpustakaan Kongres (Library of Congress), dan meminta arsip perjanjian pemerintah Amerika Serikat dengan Suku Indian Cherokee, salah satu suku terkemuka Indian, tahun 1787. Di arsip tersebut secara fakta akan ditemukan tandatangan Kepala Suku Cherokee saat itu, bernama Abdel Khak and Muhammad Ibn Abdullah. Nama suku Cherokee sendiri diperkirakan berasal dari bahasa Arab Sharkee

Isi perjanjian itu antara lain adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam bidang perdagangan dan pemerintahan suku yang ternyata didasarkan pada hukum Islam. Lebih lanjut, akan ditemukan kebiasaan berpakaian wanita suku Cherokee yang menutrup aurat, sedangkan kaum lelakinya memakai turban (sorban) dan gamis hingga sebatas lutut.

Cara berpakaian ini dapat ditemukan dalam foto atau lukisan suku Cherokee yang diambil gambarnya sebelum tahun 1832. Kepala suku terakhir Cherokee sebelum akhirnya secara perlahan punah atau dipunahkan dari daratan Amerika adalah seorang Muslim bernama Ramadhan Ibn Wati.

Mengenai aksara Cherokee yang kemudian diteliti, digali dan dihidupkan kembali oleh seorang tokoh Cherokee modern bernama Sequoyah, adalah terdapatnya kemiripan antara aksara Cherokee yang disebut Syllabari dengan aksara Arab . Bahkan beberapa pahatan peninggalan lama Cherokee di Nevada, ternyata mempunyai kemiripan dengan aksara Arab.

Yang lebih mengherankan adalah, ternyata keterkaitan Islam/Arab tidak hanya dengan Suku Cherokke, tapi juga dengan suku-suku Indian lainnya, seperti Anasazi, Apache, Arawak, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu dan Zuni. Beberapa kepala suku Indian juga mengenakkan tutup kepala khas corang Islam. Misalnya kepala suku Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox, Seminole, Shawnee, Sioux, Winnebago dan Yuchi. Hal ini dibuktikan pada foto-foto antara tahun 1835 hingga 1870.

KESIMPULAN DAN PENUTUP

1. Al-Qur’an berisi banyak sekali dorongan atau motivasi untuk melakukan rihlah dimuka bumi, dengan tujuan untuk dapat melihat keagungan ciptan-Nya berupa alam semesta dengan seluruh isinya; gunung dan lembah, langit bumi dan apa yang terdapat pada keduanya atau antara keduanya, tetumbuhan dan hewan-hewan. Juga dengan memperhatikan bukti-bukti arkeologis dan historis sejarah umat-umat terdahulu sehingga dapat menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya. Surat al-Muluk ayat 15 : “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalankah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”.

2. Nama-nama penulis, peneliti, penjelajah dan pembuat peta Muslim sebagai berikut : Muhammad bin Musa al-Razi (w. 273H/882M), Qasim bin Asbagh al-Bayani (244-340H/859-951M), Ahmad bin Muhd. Al-Razi (284-344H), Ahmad bin Umar bin Anas al-‘Azri al-Dalaie (393-476H/1002-1083M), Abu ‘Ubaid al-Bakri (432-487H/1040-1094M), Abdullah bin Ibrahim al-Hijari (kurun ke 6H/12M), al-Idrisi (110-1166M), Ibn Bashkawal (494-578H/1101-1183M), al-Yasa’ bin Isa bin Hazm al-Ghafiqi (w. 575H/1179M), Abu Hamid al-Gharnati (lahir 473H/1080-1081M), Mohammad bin Abi Bakr al-Zuhri (kurun ke 6H/12M), Abu Bakar bin al-‘Arabi (468-542H/1076-1148M), Ibn Jubayr (1145-1217M), Muhammad bin Ayub bin Ghalib al-Gharnaiti, Abu al-Hasan Ali bin Sa’id (610-685H/1213-1286M), Abu Abdullah Muhd. Al-Abdari, Muhd. Bin Abd. Al-Mun’im al-Hamiri (w. 900H/1494M) dan lainnya. pakar sejarah dan geografer Abul Hassan Ali Ibnu al-Hussain al-Masudi (871-957M). Dalam bukunya Muruj Adh-Dhahabwa Maad al-Jawhar (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels / Hamparan Emas dan tambang Permata), al-Masudi telah menuliskan bahwa Khaskhas Ibnu Sa’ied Ibn Aswad, seorang penjelajah Muslim dari Cordova, Spanyol, berhasil mencapai benua Amerika pada 889M

3. Dr. Barry Fell, arkeolog dan ahli bahasa berkebangsaan Selandia Baru jebolan Harvard University menunjukan bukti-bukti detail bahwa berabad-abad sebelum Colombus, telah bermukim kaum Muslimin dari Afrika Utara dan Barat di beua Amerika. Tak heran jika bahasa masyarakat Indian Pima dan Algonquain memiliki beberapa kosakata yang berasal dari bahasa Arab. Clyde Ahmad Winters dalam bukunya Islam in Early North and South America, yang diterbitkan penerbit Al-Ittihad, Juli 1977, halaman 60 menyebutkan, para antropo0log yang melakukan penelitian telah menemukan prasasti dalam bahasa Arab di lembah Mississipi dan Arizona. Prasasti itu menerangkan bahwa imigran Muslim pertama tersebut juga membawa gajah dari Afrika. ahli sejarah Jerman, Alexander Von Wuthenan juga memberikan bukti bahwa orang-orang Islam sudah berada di Amerika tahun 300-900 M. Artinya, umat Islam sudah ada di Amertika, paling tidak setengah abad sebelum Colombus lahir.

4. Dalam peta Amerika paling mutakhir buatan Rand McNally dan mencermati nama-nama tempat. Hampir di semua bagian benua ini akan ditemukan jejak-jejak umat Islam jauh sebelum Colombus. Di tengah kota Los Angeles misalnya, terdapat kawasan Alhambra, teluk El-Morro dan al-Amitos serta nama-nama kawasan seperti Andalusia, Attilla, Alla, Aladdin, Albany, Al-Cazar, Alameda, Alomar, al-Mansor, Almar, Alva, Amber, Azuredan La Habra.

Di bahagian tengah Amerika, dari selatan hingga Illionis terdapat nama-nama kota Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon dan Tullahoma. Di negara bagian Washington ada kota Salem. Di Karibia (berasal dari bahasa Arab Qariiban) dan Amerika Tengah terdapat kawasan bernama Jamaika, Pulau Cuba (dari kata Quba) dengan ibukotanya Havana (dari La-Habana). Juga nama-nama pulau Grenada, Barbados, Bahama dan Nassau. Di Amerika Selatan terdapat nama kota seperti Cordova (di Argentinma), Al-Cantara (di Brazil), Bahia (di Brazil dan Argentina). Selanjutnya, ada nama-nama pegunungan seperti Appalachian (Afala-che) di pantai timur dan pegunungan Absarooka (Abshaaruka) di pantai barat. Seluruhnya membuktikan hubungan antara Arab-Andalus-Mali-Afrika Barat dan Amerika.

DAFTAR BACAAN

Abdul Hakam Ash-Sha’idi, Dr, Bepergian (Rihlah) Secara Islam, terjemahan dari Ar-Rihlatu fil Islam, oleh Abdul Hayyie al-Kattanie, Gema Insani Press, jakarta, 1988.

Abul Hassan Ali Ibnu al-Hussain al-Masudi, Muruj Adh-Dhahabwa Maad al-Jawhar (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels),

Ahmad, Ahmad Ramashan, Dr., al-Rihlat wa al-Rahalat al-Muslimun, Jeddah, Dar al-Bayan al-‘Arabi, (t.t.).

Al-Syarif al-Idrisi, Nuzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq (Ekskursi dari yang rindu mengharungi Ufuk)

Anuar ‘Abdul ‘Alim, Dr., Ibn Majid al-Mallah, Dar al-Katib al-Arabi, 1967.

Anwar G. Chejne, Muslim Spain: Its History and Culture, Minneapolis, The University of Minneapolis Press, 1974.

Asma’ Wardah Bt Surtahman, Prof.Madya Dr. Ahmad Zaki Hj Berahim @ Ibrahim, Penemuan Benua Amerika Berdasarkan Keilmuan Tamadun Islam Di Andalusia: Sorotan Terhadap Pelayaran Eropah, makalah dibentangkan dalam Seminar Antarabangsa bertema “Andalusia 1300 tahun”, oleh USM Pulau Pinang bekerjasama dengan Jabatan Mufti Negeri Pulau Pinang, pada tanggal 5-6 Maret 2008.

Barry Fell, Dr. Saga America, New York, 1980

Chairul Akhmad, “Ibnu Battuta : Pemuda Pencari Tepi Dunia”, sebagaimana termuat dalam Majalah Islam Sabili , Edisi Khusus (Special Edition), The Great Muslim Travelers, nomot 13 tahun XVI 15 Januari 2009/18 Muharram 1430H.

Clyde Ahmad Winters, Islam in Early North and South America, Al-Ittihad, Juli 1977

Diyah Kusumawardhani, “Petualangan Sindbad Menjelajahi Tujuh Lautan Menuju Cina”, sebagaimana termuat dalam Majalah Islam Sabili , Edisi Khusus (Special Edition), The Great Muslim Travelers, nomot 13 tahun XVI 15 Januari 2009/18 Muharram 1430H.

Donald Cyr, Exploring Rock Art, Satna Barbara, 1989

Dwi Hardianto, “Penjelajah : Kisah Para Pembuat Peta”, sebagaimana termuat dalam Majalah Islam Sabili , Edisi Khusus (Special Edition), The Great Muslim Travelers, nomot 13 tahun XVI 15 Januari 2009/18 Muharram 1430H.

——————, “Laksamana Cheng Ho : sebelum Colombus Menembus Atlantik”, sebagaimana termuat dalam Majalah Islam Sabili , Edisi Khusus (Special Edition), The Great Muslim Travelers, nomot 13 tahun XVI 15 Januari 2009/18 Muharram 1430H.

——————, “Cheroke Suku Indian Muslim yang musnah”, sebagaimana termuat dalam Majalah Islam Sabili , Edisi Khusus (Special Edition), The Great Muslim Travelers, nomot 13 tahun XVI 15 Januari 2009/18 Muharram 1430H

Eman Mulyatman, “Hijrah dan Perjalanan Peradaban Baru”, sebagaimana termuat dalam Majalah Islam Sabili , Edisi Khusus (Special Edition), The Great Muslim Travelers, nomot 13 tahun XVI 15 Januari 2009/18 Muharram 1430H

Herry Nurdi (Pemred), Majalah Islam Sabili, nomor 13 tahun XVI 15 Januari 2009/18 Muharram 1430 H, edisi khusus (Special Edition) “The Great Muslim Travelers”, Penerbit PT Bina Media Sabili, jakarta, 2009.

Herry Nurdi, “Para Sahabat : Pengembara di Zaman Nabi”, sebagaimana termuat dalam Majalah Islam Sabili , Edisi Khusus (Special Edition), The Great Muslim Travelers, nomot 13 tahun XVI 15 Januari 2009/18 Muharram 1430H.

Husin Mu’nis, Tarikh al-Jugrafiyah wa al-Jugrafiyyin fi al-Andalus, Madrid, Mathba’ah Ma’had al-Dirasat al-Islamiyyah, 1967.

‘Izzuddin Farag, Fadl ‘Ulama al-Muslimin ‘ala al-Hadarah al-Urubiyahh.(t.t.)

Ivan Van Sertima, They Came Before Colombus

John Boyd Thacher, Christopher Colombus, New York, 1950.

Loe Weiner, Africa and the Discovery of America, Harvard University, 1920.

Yossef Mroueh, Dr. Prepatory Committe for International Festivals to Celebrate the Millenium of the Muslims Arrival to the America tahun 1996.

(nahimunkar.com)


[1] Makalah dipresentasikan dalam acara

Kuliah Dhuha Dewan Da`wah Islamiyah Indonesia

Propinsi Sumatera Barat

Di Padang tanggal 6 Juni 2010

[2] Anggota Majelis Syura Dewan Da`wah Sumatera Barat

Dosen Pasca Sarjana IAIN Imam Bonjol

Bekas Pansyarah Kanan UKM Malaysia