Nabi Palsu Ahmadiyah Mengaku Maryam

Isteri Jibril Palsu Mengaku Imam Mahdi

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Mirza mengaku reinkarnasi Nabi Muhammad,

Lia mengaku Abdurrahman lah reinkarnasi Nabi Muhammad

Mirza Ghulam Ahmad mengaku reinkarnasi / penjelmaan sempurna dari Nabi Muhammad saw, sebagai berikut:

“Dalam wahyu ini Tuhan menyebutkanku Rasul-Nya, karena sebagaimana sudah dikemukakan dalam Brahin Ahmadiyah, Tuhan Maha Kuasa telah membuatku manifestasi dari semua nabi, dan memberiku nama mereka: Aku Adam, Aku Seth, Aku Nuh, Aku Ibrahim, Aku Ishaq, aku Ismail, aku Ya’qub, aku Musa, aku Daud, aku Isa dan aku adalah penjelmaan sempurna dari Nabi Muhammad saw., yakni aku adalah Muhammad dan Ahmad sebagai refleksi. (Haqiqatul Wahyi, h. 72, seperti dikutip Majalah Amadiyah, Sinar Islam, 1 Nopember 1985, h 11-12)

Kalau Lia Aminuddin yang jenisnya perempuan pernah mengaku sebagai Imam Mahdi (laki-laki) kemudian mengaku sebagai reinkarnasi Maryam, maka sebaliknya, Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai Maryam (perempuan) kemudian (reinkarnasi) jadi Isa bin Maryam. Berikut ini pengakuan Mirza Ghulam Ahmad.

Klaim Wahyu Mirza Ghulam Ahmad:

“Firman Tuhan yang telah kubentangkan pada beberapa tempat dalam bukuku Barahin Ahmadiyah menjelaskan bagaimana Tuhan Maha Kuasa menjadikanku Isa bin Maryam. Dalam buku itu mula-mula Tuhan menamaiku Maryam dan kemudian menyingkap bahwa Tuhan telah mengembuskan Ruh-Nya ke dalam Maryam ini dan bersabda bahwa sesudah pengembusan ruh ini keadaanku sebagai Maryam berubah menjadi keadaanku sebagai Isa, dan dengan demikian Isa yang lahir dari Maryam dinamai anak Maryam. (Haqiqatul Wahyi, h. 72, Catatan Kaki, seperti dikutip Majalah Amadiyah, Sinar Islam, 1 Nopember 1985, h 11).

Klaim Wahyu Lia Eden

Dalam Risalah Tahta Suci Kerajaan Tuhan Eden yang diklaim berisi Fatwa-fatwa Tuhan dan Ruhul Kudus yang dikeluarkan/ diedarkan 7 Juni 2005 terdapat berbagai penyimpangan dan penodaan agama (Islam). Di antaranya:

Menyimpangkan maksud Al-Qur’an dengan menuduh banyak ayat reinkarnasi.

  1. “…banyak ayat-ayat tentang reinkarnasi dalam Al-Qur’an, antara lain dalam Surat Al-Waqi’ah ayat 61 dan 62.
  2. Sesungguhnya Maria itu adalah Hawa (Eva). Itulah penciptaan pertama. Demikian, kemudian di zaman Akhir dia terlahir lagi menjadi Lia Eden. Hendaklah umat Islam mau mempelajari hakekat kehidupan setelah kematian (reinkarnasi) Ayat-ayat reinkarnasi di Al-Qur’an itu banyak, antara lain Surat ar-Ruum ayat 25.
  3. Seperti Maria yang telah wafat, tercipta kembali sebagai Lia Eden. Percayalah! Surat Ar Ruum ayat 27.” (Fatwa Ruhul Kudus, halaman 2).

Lia Aminuddin dan Mirza Ghulam Ahmad sama-sama anehnya, sama-sama mempercayai reinkarnasi –keyakinan kafir–, sama-sama berdusta, sama-sama mengklaim mendapatkan wahyu dari Allah swt. Anehnya, mereka sama-sama “berebut” sebagai Maryam. Mirza Ghulam Ahmad yang jenisnya laki-laki pun mengaku sebagai Maryam. Hanya saja tidak melahirkan Isa, tetapi dengan cara mengklaim bahwa:

1. Mula-mula Tuhan menamai Mirza Ghulam Ahmad dengan Maryam.

2. Tuhan mengembuskan Ruh-Nya ke dalam Maryam

3. Keadaan Mirza Ghulam Ahmad berubah jadi Isa

4. Lalu dinamai Isa anak Maryam.

Aneh sekali. Mirza Ghulam Ahmad seorang laki-laki, lalu mengaku jadi Maryam (wanita), lalu mengaku berubah jadi Isa (laki-laki lagi). Padahal itu semua ya diri-diri Mirza Ghulam Ahmad itu sendiri. Dan kemudian mengaku pula sebagai reinkarnasi/ penjelmaan sempurna Nabi Muhammad saw. Ini dari segi kenyataan sudah sangat aneh, sedang secara keyakinan/ aqidah sangat melecehkan aqidah Islam, menghina Nabi Muhammad saw, dan menuntun orang Muslim untuk menjadi kafir lagi alias murtad. Karena keyakinan yang tadinya mengikuti wahyu yang datangnya dari Allah swt ditarik ke arah keyakinan yang berdasarkan bisikan syetan yang sangat jauh dari kebenaran.

Sebaliknya, Lia Aminuddin, jenisnya perempuan. Dia mengaku Imam Mahdi (laki-laki). Itu juga aneh sekali. Namun juga mengaku sebagai reinkarnasi Maryam (kadang Lia menyebutnya Maria) maka anaknya yang laki-laki, Ahmad Mukti, yang telah lahir lama sebelum pengakuan itu, diklaim sebagai Isa anak Maryam. Namun anaknya ini diam-diam tidak mengikuti faham ibunya, hingga ia (Ahmad Mukti) bergabung dengan Muslimin di Masjid Sunda Kelapa Jakarta, menurut salah satu saudarinya –yang juga anak Lia.

Klaim-klaim Lia agak berbeda dengan klaim Mirza Ghulam Ahmad. Kalau Mirza Ghulam Ahmad kadang masih memakai alasan atau mengemukakan prosesnya, lalu dicocok-cocokkan dengan cara dusta, walau kadang juga langsung tanpa alasan. Misalnya, Mirza mengklaim dirinya sebagai manifestasi dari semua nabi, itu tanpa alasan. Tetapi ketika sebagai penjelmaan sempurna Nabi Muhammad saw maka dia kaitkan dengan namanya, Ahmad. Juga proses dirinya dijadikan Maryam, dikarang-karang dengan dusta dikaitkan dengan perbuatan Allah swt lagi.

Nabi palsu, penoda agama, dan penjara

Lia Aminuddin telah divonis 2 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dan telah mendekam di penjara, kemudian keluar dari penjara akhir Oktober 2007, yang saat itu nabi palsu Ahmad Moshaddeq giliran masuk tahanan untuk kemudian diproses pengadilan dan akhirnya divonis 4 tahun penjara. Sementara itu pengikut setia Lia Eden yang dijadikan nabi palsu dengan diklaim sebagai reinkarnasi Nabi Muhammad saw, yakni Abdul Rahman alumni IAIN Jakarta 1997 (sudah ikut kesesatan Lia sejak 1996, jadi sejak masih sebagai mahasiswa IAIN Jakarta), divonis penjara 3 tahun oleh Mahkamah Agung. Jadi Lia Eden keluar dari penjara, kemudian nabi palsunya, Abdul Rahman giliran masuk penjara.

Sama-sama menodai Islam, dan berkaitan dengan memalsu kenabian Muhammad saw, rupanya Ahmadiyah yang jadi pengikut nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad belum mendapat giliran sebagaimana Lia Eden, Ahmad Moshaddeq, dan Abdul Rahman yang jelas-jelas divonis penjara dan mendekam di penjara. Justru sebaliknya, orang-orang FPI yang anti Ahmadiyah, mereka ditahan gara-gara bentrok akibat dioprovokasi oleh AKKBB gerombolan demo yang membela Ahmadiyah. Justru AKKBB yang terbukti (ada foto) menteror massa FPI dengan mengacungkan pistol pun sampai kini kabarnya belum ada yang ditahan. Bahkan pengaduan dari pihak FPI atas iklan AKKBB di Media Indonesia dan lainnya 26 Mei 2008 yang isinya diduga menghasut atau memprovokasi, berisi 298 orang yang membela Ahmadiyah dengan memojokkan yang anti Ahmadiyah, belum ada khabar untuk diproses.

Berbagai factor itu menambah lantangnya Ummat Islam yang merasa agamanya dinodai oleh Ahmadiyah tampak lebih aktif lagi dalam memperjuangkan tuntutannya untuk membubarkan Ahmadiyah. Mereka menuntut agar Ahmadiyah dibubarkan lewat Keppres, sesuai dengan UU PNPS No 1 tahun 1965.

Dasar Hukum untuk Pelarangan Ahmadiyah di Indonesia

1. Undang-undang No.5 Th.1969 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama menyebutkan;

1.Pasal 1: Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceriterakan, menganjurkaan atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu: penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.

2.Pasal 4: Pada Kitab Undang–Undang Hukum Pidana diadakan pasal baru yang berbunyi sbb.: PASAL 56 a: Dipidana dengan Pidana penjara selama–lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a. yang pokoknya bersifat permusuhan. Penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama di Indonesia. (hlm. 87-88)

2. Majelis Ulama Indonesia telah memberikan fatwa bahwa ajaran Ahmadiyah Qadian sesat menyesatkan dan berada di luar Islam. (fatwa dua kali, tahun 1980 dan tahun 2005).

3. Surat Edaran Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Nomor D/BA.01/3099/84 tanggal 20 September 1984, a.l. :

2. Pengkajian terhadap aliran Ahmadiyah menghasilkan bahwa Ahmadiyah Qadian dianggap menyimpang dari Islam karena mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, sehingga mereka percaya bahwa Nabi Muhammad bukan Nabi terakhir.

3. Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas kiranya perlu dijaga agar kegiatan jemaat Ahmadiyah Indonesia (Ahmadiyah Qadian) tidak menyebarluaskan pahamnya di luar pemeluknya agar tidak menimbulkan keresahan masyarakat beragama dan mengganggu kerukunan kehidupan beragama.

 

Sikap Negara-negara Islam dan Organisasi Islam Internasional terhadap Ahmadiyah

1. Malaysia telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Malaysia sejak tanggal 18 Juni 1975.

2. Brunei Darussalam juga telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Negara Brunei Darussalam.

3. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah adalah kafir dan tidak boleh pergi haji ke Makkah.

4. Pemerintah Pakistan telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah golongan minoritas non muslim.

5. Rabithah ‘Alam Islamy yang berkedudukan di Makkah telah mengeluarkam fatwa bahwa Ahmadiyah adalah kafir dan keluar dari Islam.

Mirza Ghulam Ahmad Menganggap Muslimin Musuh

Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908M) mengaku dirinya Nabi Isa as, anak Allah, dan bahkan pada kedudukan Tauhid Allah. Bahkan Allah dianggap darinya. Itu diungkapkan dalam Kitab Tadzkirah, yang diklaim sebagai kumpulan wahyu muqoddas (suci).

Dalam Kitab Tadzkirah halaman 276 s.d. 284 dinyatakan:

1.

Wahai Isa yang tidak menyia-nyiakan waktunya

1. يَا عِيْسَى الَّذِىْ لاَ يُضَاعُ وَقْتُهُ

2.

Kamu disisiku memiliki ke-dudukan yang tidak diketahui oleh makhluk

2. اَنْتَ مِنِّىْ بِمَنْزِلَةٍ لاَّ يَعْلَمُهَا الْخَلْقُ

3.

Engkau di sisi-Ku pada ke-dudukan Tauhid-Ku dan ke-Esaan-Ku, maka waktunya untuk ditolong dan dikenal di kalangan manusia

3. اَنْتَ مِنِّى بِمَنْزِلَةِ تَوْحِيْدِىْ وَتَفْرِيْدِىْ – فَحَانَ اَنْ تُعَانَ وَتُعْرَفَ بَيْنَ النَّاسِ

Tadzkirah, halaman 435 s.d. 436:

Kamu disisi-Ku pada kedudukan anak-anak-Ku

1. اَنْتَ مِنِّىْ بِمَنْزِلَةٍ اَوْلاَدِيْ

Kamu berasal dari-Ku dan Aku darimu

2. اَنْتَ مِنِّىْ وَاَناَ مِنْكَ

Sanggahan:

1. Mirza Ghulam Ahmad mengaku mendapatkan wahyu, mengaku sebagai nabi, bahkan mengaku sebagai Isa, lebih dari itu mengaku sebagai orang yang pada kedudukan anak Tuhan. Bahkan Mirza mengaku, Allah memberi wahyu yang isinya: Kamu berasal dari-Ku dan Aku darimu. Ini jelas kekafiran dan kemusyrikan, perbuatan dosa yang paling puncak. Mengaku dirinya sebagai anak tuhan, bahkan tuhan, dan menyamai keesaan Allah swt. Ini benar-benar musyrik murni lagi puncak-cak. Anehnya, justru Mirza menganggap orang yang tidak mempercayainya sebagai rasul adalah musuh lagi kafir sehingga orang Ahmadiyah tidak boleh nikah dengan selain golongannya dan tidak boleh makmum sholat kepada orang Muslim (yang bukan golongan Ahmadiyah).

Musuh akan berkata: kamu bukanlah orang yang diutus (Rasul)

سَيَقُوْلُ الْعَدُوُّ لَسْتَ مُرْسَلاً

(Tadzkirah, halaman 401.)

2. Orang Muslim dianggap kafir lagi musuh oleh Mirza Ghulam Ahmad dalam kitab sucinya, Tadzkirah. Anehnya, pembela Ahmadiyah seperti Dawam Rahardjo, (penggagas sekulerisme di Indonesia bersama Mukti Ali, Johan Effendi, dan Ahmad Wahib sejak sebelum Nurcholish Madjid menggemakan sekelurerisasi) menipu umat dengan menyatakan bahwa Ahmadiyah itu sama dengan umat Islam, hanya beda penafsiran. Itu penipuan, dan disebarkan lewat situs JIL (Jaringan Islam Liberal). Padahal, Tadzkirah sendiri menegaskan, orang yang tak percaya Mirza sebagai rasul itu adalah musuh. Lha kok Dawam selaku pembela Ahmadiyah menyatakan sama. Nabi Muhammad saw sangat menegaskan, kemusyrikan itu dosa terbesar, tak diampuni Allah swt, bila mati dalam keadaan musyrik. Sebaliknya, nabinya orang Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad, justru mencipta kemusyrikan, dengan mengaku dirinya berkedudukan sebagai anak Allah, sebagai posisi tauhidnya Allah, dan bahkan jadi tuhan, dengan klaim bahwa tuhan pun dari dia. Apanya yang sama, antara Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw dengan Ahmadiyah yang dibawa Mirza Ghulam Ahmad wahai para pembela Ahmadiyah?

Ungkapan ini pantas ditujukan kepada pembela-pembela Ahmadiyah seperti rector UIN Jakarta Azyumardi Azra, tokoh NU Gus Dur / Abdurrahman Wahid, Masdar Farid Mas’udi, tokoh JIL (Jaraingan Islam Liberal) Ulil Abshar Abdalla, Abdul Moqsith Ghazali, tokoh pluralisme agama Syafi’I Anwar, tokoh Muhammadiyah seperti Syafi’I Ma’arif, Amien Rais dan lainnya.

3. Mirza Ghulam Ahmad mengaku Islam tetapi mengaku dirinya pada posisi anak-anak Allah. Ini melecehkan Islam dan benar-benar merusak Islam dari dalam dan dari dasar yang paling pokok, yaitu tauhid, mengesakan Allah. Mirza mengalihkan aqidah Tauhid ke keyakinan kemusyrikan, tetapi mengklaim bahwa justru Islam yang benar itu model dia. Dan itu diatasnamakan wahyu dari Allah swt. Sehingga ada beberapa puncak kebohongan terhadap Allah swt:

a. Berbohong bahwa dirinya mendapatkan wahyu dari Allah.

b. Berbohong bahwa dirinya diutus Allah

c. Berbohong bahwa dirinya diangkat pada kedudukan anak-anak Allah. Inipun dua kebohongan besar, menuduh Allah swt mengangkatnya, dan menuduh Allah swt mempunyai anak-anak. Betapa dahsyatnya dusta ini.

d. Berbohong bahwa Allah pun dari dia/ Mirza Ghulam Ahmad.

Orang Yahudi dan Nasrani telah menjadi contoh yang dikecam oleh Allah swt karena menganggap diri mereka anak-anak Allah.

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ(18)

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). (QS Al-Maaidah).

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ(72)

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72).

Dusta-dusta Mirza memang terang-terangan. Dia mengaku sebagai Isa bin Maryam, tetapi Maryamnya ya diri dia. Lalu perilakunya dan ajarannya pun berdusta atas nama Isa, sedang isinya bertentangan pula. Isa as menegakkan Tauhid, sedang Mirza menegakkan kemusyrikan. Maka jelas-jelas diancam neraka, dan haram masuk surga. Demikian pula para pengikut dan pembelanya tentu saja, apabila sampai mati dalam keadaan demikian, belum bertaubat. (Dimodifikasi dari buku Hartono Ahmad Jaiz, Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2008).