Nahi Munkar dalam Masyarakat Masabodoh

Oleh Ir. H. Muhammad Umar Alkatiri

 

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ…

“Kamu adalah umat yang terbaik untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (Al-Qur’an, Surat 3 [Ali ‘Imran] ayat 110).

Islam memerintahkan kita untuk menjalankan ‘amar ma’ruf satu paket dengan nahi munkar. Seringkali kita sebagai muslim hanya menjalankan ‘amar ma’ruf saja sambil mengabaikan nahi munkar. Dua contoh aktual dan nyata di bawah ini setidaknya dapat dijadikan ilustrasi perlunya menjalankan nahi munkar.

Beberapa waktu lalu (tahun 2002) para pedagang di Pasar Senen Jakarta Pusat berdemo ke kantor polisi dan mengeluh bahwa pengunjung Pasar Senen semakin sepi dan dagangan mereka kurang laku. Mereka menuntut agar polisi lebih aktif menjaga keamanan dan tidak membiarkan pencopet merajalela.

Para pedagang, baik yang di toko maupun di kaki-lima sebenarnya tahu dan mengenali para pencopet yang bergentayangan di sekitar mereka, tetapi karena rasa takut dan sifat tidak peduli (masabodoh), mereka membiarkan terjadinya pencopetan atau penodongan.

Sekalipun mata mereka melihat tindak kejahatan tersebut, namun mereka diam saja. Akibatnya para pencopet menjadi leluasa dan Pasar Senen menjadi kawasan yang terkenal banyak copetnya. Dengan kondisi seperti itu, banyak orang yang takut belanja di pasar tersebut sehingga pasar menjadi sepi.

Sekiranya para pedagang bersatu-padu menegakkan nahi-munkar, dengan jalan memberikan perlawanan atau setidaknya meminimalisir ruang gerak para pelaku kemunkaran, tentu para pencopet, penodong dan sebagainya itu tidak bisa leluasa bergerak, sehingga pengunjung merasa lebih aman, dan pasar tetap ramai didatangi pembeli.

Di pasar Jatinegara Jakarta pernah ada seorang penjual daging yang mencampurkan daging sapi dengan daging babi. Karena harga daging babi lebih murah daripada daging sapi, maka si penjual menjadi banyak untungnya. Beberapa penjual daging sapi di dekatnya tahu perbuatan itu, tetapi diam saja dan menganggap bahwa itu urusan masing-masing. Ada pula yang berpendapat perbuatan itu adalah salah tetapi biarlahlah Allah swt yang membalas.

Beberapa minggu kemudian banyak pembeli yang tahu dan merasa tertipu, sehingga jarang ada orang yang membeli daging sapi atau daging kambing di pasar tersebut. Sekarang, para penjual daging sapi dan daging kambing rugi karena sepi pembeli. Pada bulan Maret 2002 mereka membuat spanduk untuk memberikan informasi kepada khalayak bahwa daging sapi yang mereka jual seratus persen murni tanpa campuran daging babi. Usaha itu tidak membuahkan hasil yang diharapkan, karena memang tidak mudah mengembalikan kepercayaan konsumen apalagi dalam hitungan waktu yang relatif singkat.

Sekiranya ketika itu mereka memprotes dan kalau perlu memberi resiko kepada pelaku kemunkaran (pedagang daging sapi yang mencampur dagangannya dengan daging babi), insya Allah mereka semua akan selamat dari kerugian.

Dari dua contoh aktual dan nyata yang terjadi pada tahun 2002 ini, bisa menjadi bahan renungan, bahwa apa-apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah patut dilaksanakan. Barang siapa yang tidak melaksanakan nahi-munkar atau tidak mencegah kemunkaran, maka cepat atau lambat, langsung atau tidak langsung kerugian akan menghampiri dirinya sendiri.

Multikrisis yang menimpa bangsa kita dan tidak kunjung berakhir sejak delapan tahun lalu (1997), adalah kerugian yang menimpa kita sebagai akibat dari sikap kita yang membiarkan terjadinya kemunkaran.

Merajalelanya korupsi, pornografi, narkoba, pelacuran, perkosaan dan aneka bentuk kriminalitas lainnya, itu karena kita hanya berhenti pada ‘amar ma’ruf dan tidak punya keberanian menjalankan nahi munkar.

Bukan mustahil bangsa Indonesia kelak akan menjadi the vanishing nation, bangsa yang lambat laun punah. Indikasinya sudah jelas, terjadinya penjualan asset rakyat kepada kekuatan asing. Tidak hanya asset, bahkan harga diri pun sudah tergadaikan!

Supaya tidak punah, marilah sejak sekarang kita tidak sekedar menjalankan ‘amar ma’ruf, tetapi tegakkanlah semangat nahi munkar dalam konteks kehidupan berummat dan bermasyarakat. Hal ini bisa dimulai dari lingkungan terkecil seperti keluarga, lingkungan RT-RW (Rukun Tangga – Rukun Warga) dan seterusnya, agar tidak mengalami kerusakan dan kerugian di dunia dan akherat.