بسم الله الرحمن الرحيم

NASEHAT BUAT BAPAK ARY GINANJAR

Mukaddimah

Dalam rangka melaksanakan perintah Allah untuk saling menasehati dengan kebenaran dan kesabaran (تواصوا بالحق و تواصوا بالصبر ), maka saya sebagai saudara muslim tergugah untuk memberikan nasehat kepada Bapak Ary Ginanjar, barangkali memberikan manfaat. Ini saya lakukan, setidaknya, karena tiga hal.

Pertama, saya mencintainya karena Allah.

Kedua, karena saya sudah menyaksikan baik lewat kumpulan vcd maupun pelatihan ESQ yang ke-46 dengan regristrasi nomor 166. Maka, tanggung jawab orang yang mengetahui berbeda dengan orang yang tidak mengetahui.

Ketiga, bahwa saya tidak ada kepentingan apapun selain menyampaikan kebenaran agar Bapak Ary terhindar dari ancaman surat Al-Ahzab ayat 66 – 68 karena mengajarkan yang salah dan diikuti oleh orang banyak, meskipun bapak menyatakan bahwa ini training manajemen, bukan agama. Namun, isi training ini lebih menonjol sisi agamanya. Allah menyebutkan dalam surat Yunus ayat 32 “Adakah setelah kebenaran kecuali kesesatan?” Semoga saja, nasehat yang keluar dari hati akan masuk ke hati.

Penilaian Umum

A. HAL-HAL YANG POSITIF

Setelah menyaksikan secara langsung pelatihan ESQ ke-46 di Hotel Melia, Kuningan yang diikuti oleh 650 peserta dan dibuka oleh menteri Sugiharto serta diramaikan oleh alumnus-alumnus berbobot ESQ seperti AM. Fatwa, saya melihat ada sejumlah kelebihan pelatihan ESQ. Yaitu:

1. Penampilan menarik.

2. Situasi dibuat sedemikian rupa sehingga betul-betul mendukung.

3. Multimedia bagus.

4. Kerja sama tim yang rapi dan kompak.

5. Selingan humor dan olahraga.

6. Menampilkan hasil penelitian ilmiah.

7. Banyak memakai istilah bahasa Inggris.

8. Ary Ginanjar tampil all out.

9. Cerita-cerita yang memukau.

10. Pemberian hadiah memotivasi.

11. Banyak diikuti oleh kalangan elitis yang belum tersentuh pengajian.

12. Menampilkan pengalaman-pengalaman pribadi atau orang lain seperti kapten Abdul Razak.

13. Insya Allah ini akan berkembang tapi perlu disempurnakan.

B. HAL-HAL YANG NEGATIF PERLU DIPERBAIKI

Agar objektif dan jujur saya terpaksa mengemukakan hal-hal yang saya pandang negatif agar diperbaiki.

1. Dalam masalah akidah.

a. Meyakini Allah terdapat dalam hati.

Seperti mengemukakan riwayat Umar yang telah melihat Tuhan dengan hatinya.

Koreksi: riwayat ini tidak benar. Tetapi yang benar adalah Aisyah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apakah beliau melihat Tuhan di sidratul muntaha. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Cahaya, bagaimana aku melihatnya?”

Terdapat pendapat Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Tuhan dengan mata hatinya. Demikian keyakinan ahlus sunnah.

b. Berkali-kali Pak Ary Ginanjar menyebut hadits:

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

Siapa yang mengetahui dirinya, maka dia mengenal Tuhannya.”

Koreksi: Kalimat di atas bukanlah hadits, melainkan ucapan Saad bin Muadz (lihat kitab المقاصد الحسنة karangan Imam Shahawi ٍ). Sementara Abu Nuaim dalam kitabnya الحلية ج 10 / ص. 208 mengatakan bahwa ucapan itu adalah kata-kata Sahal Attasturi. Ibnul Qayyim dalam kitabnya الفوائد hal 290 telah menjelaskan maknanya. Maaf, berbahaya berbicara mengatas namakan Nabi, padahal beliau tidak mengatakannya. Rasulullah bersabda:

مَنْ قَالَ مَالَمْ أَقُلْهُ فَلْيَثِبُوْا مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ (متفق عليه )

“Siapa yang mengatakan sesuatu yang saya tidak mengatakannya, maka hendaknya dia menempati tempat duduknya dalam api neraka.” (HR Muttafaqun alaihi).

c. Pak Ary sangat menekankan Asmaul Husna untuk diikuti dan berpegang kepada ungkapan

تَخَلَّقُوْا بِأَخْلَاقِ الله ِ

“Berakhlaklah dengan akhlak Allah.”

Koreksi: tekanan Al-Qur’an adalah agar kita berakhlak seperti Nabi Muhammad. Allah berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ (القلم : 4)

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

(Al-Qalam:4)

Sedang terhadap asmaul husna, Allah memerintahkan untuk berdoa dengannya.

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا (الأعراف : 180)

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu…” (Al-A’raf: 180)

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Al-ismul A’dham (Nama yang paling agung) seperti dalam beberapa riwayat.

d. Kajian tauhid hanya menekankan kepada tauhid rububiyah yang menekankan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui ciptaan-Nya (ايات كونية ) yang sebenarnya Allah hanya menuntut memahaminya saja agar lebih dekat kepada Allah dan menyampaikan ayat-ayat qur’aniyah (ايات قرانية) sebagai pendukung. Padahal Allah menekankan ayat-ayat qur’aniyah untuk diikuti secara total. Dan misi utama para nabi justru pada tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah (QS. An-Nahl: 36)

Dan jangan lupa sebanyak 84 surat turun di Mekah untuk menekankan tauhid selama 13 tahun tidak mungkin akan difahami dalam 4 hari dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan perintah Allah seperti larangan tepuk tangan (QS. Al-Anfal: 35) dan larangan musik-musik seperti (QS. Al-mukminun: 3)

Beliau bersumpah seandainya mereka siap untuk dimatikan sekarang dan masuk neraka. Jangan nantang Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersumpah Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya.

Dan lain-lain kesalahan akidah (saya sertakan beberapa makalah barangkali bermanfaat).

Yang lebih fatal lagi, Bapak menyebut bahwa Allah menciptakan alam semesta ini untukmu wahai Muhammad. Ini adalah bertentangan dengan Al-Qur’an surat Adz-Dzariyat ayat 56. Dan, kalaupun itu ada yang menyebut hadits ternyata itu palsu. Dan keyakinan harus didasarkan kepada Al-Qur’an dan sunnah yang shahih.

Dan masih banyak kesalahan lain yang belum saya sebutkan. Wallahu A’lam.

Bekasi, 29 April 2006

Farid Achmad Okbah, M.A.

(nahimunkar.com)