Nasib Guru Ngaji, Honornya Rp 20 Ribu Perbulan

Sejumlah Daerah Mulai Giatkan Baca Al-Qur’an

 

Guru Ngaji di mana-mana tampaknya hampir seperti dianggap sebagai malaikat yang tidak butuh makan, minum, sandang, papan/ perumahan dan sebagainya. Sehingga orang yang kaya ataupun penguasa di pusat dan daerah belum tentu mau menengok nasib guru ngaji. Bahkan mungkin orang-orang yang kini memegang jabatan di aneka tempat, dan di antara ilmunya itu dari guru ngaji pun belum tentu mau menoleh kepada guru ngaji. Makanya tidak mengherankan bila sampai kini ketika hari h guru ngaji menerima “gaji”, yang diterima hanya seperti uang receh jajanan sekali jalan bagi anak TK (Taman Kanak-kanak) di lingkungan pejabat. Duit RP20 ribu per bulan yang diterima oleh guru ngaji, sampai di mana? Tetapi itu kenyataan!

    Berikut ini beberapa berita tentang honor guru ngaji.

 

Digaji Rp 20 Ribu/Bulan
Sabtu, 22 Nopember 2008 | 12:54 WIB

TAMAN Pendidikan Quran (TPQ) Al Hasan -diambil dari pendiri sekaligus nama masjid di desa setempat- adalah salah satu TPQ tertua di pinggiran kota Jombang. TPQ yang berlokasi di Dusun Balongombo, Desa/Kec. Tembelang. Nama TPQ Al Hasan berdiri sejak 1992, bersamaan dengan awal-awal pengenalan sistem pengajaran model Iqra’.

Pada awal berdiri, sistem pembelajaran TPQ di masjid ini dikelola oleh keluarga KH Hasan sendiri. Proses belajar mengajar ini dilakukan sebagai pelengkap atau pendidikan tambahan untuk anak-anak Taman Kanak-kanak (TK) dan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang dilaksanakan pagi harinya. Sedangkan pembelajaran di TPQ dilaksanakan siang hingga sore harinya.

Semula para santri TPQ adalah warga sekitar masjid, para tetangga dan kerabat pemangku masjid. Meski demikian, anak didiknya tidak terbatas hanya siswa MI atau ana-anak pra sekolah di TK desa setempat, melainkan dari warga sekitar yang sengaja ingin menambah kemampuan baca Al Quran bagi anak-anaknya.

 TPQ Al Hasan ini berkembang pesat. Hanya dalam kurun waktu empat tahun, ia tidak hanya diminati warga dusun setempat, tapi juga banyak anak warga desa sekitar yang dititipkan mengikuti pendidikan baca Al Quran di sini. Seperti dari Desa Kedungotok, Kedunglosari dan Pesantren, semuanya di Kec. Tembelang.

Malah sekarang anak-anak yang belajar ngaji di TPQ Al Hasan ini, tidak kurang dari 120 anak. Demikian juga jumlah guru ngajinya, terus bertambah dan hingga sekarang setidaknya sudah ada delapan oran dan tiga diantaranya adalah lulusan sarjana agama (SAg) atau keluaran pondok pesantren. Mereka umumnya adalah lulusan TPQ setempat yang sengaja pengabdi untuk TPQ Al Hasan selepas menamatkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Rifai, salah satu pengasuh TPQ Al Hasan menceritakan, dalam mengelola pendidikan agama ini, pihaknya tidak mewajibkan uang syahriyah (iuran bulanan) kepada siswanya. Ia hanya memungut iuran yang sifatnya sukarela dengan besaran Rp 2.000.00 per bulan. Dengan jumlah siswa sekitar 120 anak, uang yang terkumpul hanya sekitar Rp 240 ribu per bulan. Jumlah itu pun sudah cukup untuk membayar delapan guru ngaji.

“Memang tidak semuanya rutin membayar iuran, karena sifatnya sukarela. Tapi alhamdulillah, kita juga tidak sampai kekurangan uang untuk membayar guru. Nyatanya ada saja pemasukan untuk membayar guru. Barangkali inilah barokahnya menyelenggarakan taman pendidikan Al Quran itu,” kata Rifai.

Lagi pula, tambahnya, honor bukan tujuan utama bagi guru ngaji, tapi lebih karena panggilan agama dan bagian dari ibadah. Karena itu, sampai sekarang ia belum pernah mendengar ada guru ngaji menuntut honor. “Memang kalau dibanding dengan pekerjaan lain, guru ngaji itu tidak ada apa-apanya, karena sebulan hanya mendapat Rp 20 ribu. Bandingkan dengan pekerjaan lain,” tandasnya.

Karena itu, tambahnya, dengan adanya insentif honor dari Pemkab untuk para guru ngaji, meskipun besarannya Rp 400 ribu setahun, sudah sangat berarti bagi mereka. Apalagi kalau insentif itu diberikan rutin setiap tahun kepada seluruh guru ngaji di Jombang, tentu akan sangat membantu kelancaran pendidikan di TPQ-TPQ.

“Kita (maksudnya, pengelola TPQ, red) tinggal memberi tambahan honor kepada para ustadz dan ustadzah itu. Selebihnya, hasil syahriyah (bulanan) bisa untuk kebutuhan lain, seperti membeli (kitab) Iqra’ atau perlengkapan ngaji lainnya. Sehingga bila sewaktu-waktu dibutuhkan, tidak repot-repot mencari pinjaman,” katanya.

 Menyinggung adanya wacana agar ada verififakasi atau semacam akreditasi TPQ dan guru ngaji, Rifai sependapat dengan rencana tersebut. Menurutnya, langkah itu perlu dilakukan karena akan membantu pengawasan penyelenggara TPQ yang kini jumlahnya terus bertambah. Termasuk bila perlu memberi bekal kepada para ustadz dan ustadzah melalui pendidikan dan latihan (Diklat), sebelum mereka terjun menjadi pengajar TPQ.

“Dengan adanya diklat, paling tidak ada bekal dan untuk menyamakan modul pembelajaran yang akan diberikan kepada para santri. Yang penting, asal jangan sampai verifikasi atau akreditasi itu mempersulit penyelenggara TPQ atau guru ngaji,” ungkap Rifai, yang dibenarkan Rochim. (ton) http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=4fa177df22864518b2d7818d4db5db2d&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc&PHPSESSID=0d5393452fba6498e6a191848bd57b29

 

Insentif, ‘Vitamin’ Ustadz
Sabtu, 22 Nopember 2008 | 12:54 WIB

OLEH: M. FATONI

PEMERINTAH Kabupaten Jombang, awal pekan lalu kembali mencairkan insentif untuk guru ngaji yang mengajar di Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) sekabupaten. Sebanyak 3.873 guru ngaji tahun ini menerima insentif dari pemerintah daerah atas pengabdian dan dedikasinya dalam pembelajaran baca-tulis Al Quran.

Honor guru ngaji itu dianggarkan melalui APBD 2008 dengan besarannya Rp 400 ribu per orang per tahun. Total anggaran untuk insentif guru ngaji seluruh Kabupaten Jombang yang dicairkan sekitar Rp 1,5 miliar setahun. Pencairan insentif untuk para guru ngaji itu diberikan langsung Wakil Bupati Jombang, Widjono Soeparno di pendapa kabupaten.

Secara kumulatif, jumlah ini memang lumayan besar. Namun dibanding belanja pembangunan, seperti untuk pembangunan infrasrtuktur, anggaran pendidikan agama ini jauh dari memadai. Apalagi jika dibanding dengan jumlah ustadz (guru laki-laki) dan ustadzah (guru perempuan) yang mengajar di TPQ.

Di seluruh Jombang sendiri ada sekitar 1.500 lembaga pendidikan TPQ dengan total ustadz/ustadzah sekitar 5.000 orang. Dari jumlah tersebut, Pemkab Jombang baru mampu memfasilitasi sekitar 1.251 lembaga pendidikan Al Quran, 3.873 guru ngaji dengan besaran Rp 1,2 juta. Artinya, setiap TPQ hanya mendapat jatah paling banyak tiga orang. Padahal, rata-rata setiap TPQ umumnya mempunyai lebih dari empat ustadz atau ustadzah.

Dengan kata lain, anggaran yang disediakan Pemkab Jombang, sebetulnya masih jauh dari kebutuhan riil, apalagi jika melihat nilai insentif yang diberikan. Jika dibandingkan dengan ketentuan kebutuhan hidup layak (KHL), jumlah yang diterima para guru ngaji itu masih jauh dari mencukupi. Termasuk bila dibandingkan dengan upah para pekerja pabrik yang besarannya sekitar Rp 680 ribu per bulannya.

Namun sekali lagi, upaya Pemkab Jombang ini patut mendapat apresiasi. Paling tidak, kepedulian dan keberpihakan pemerintah daerah dalam mendorong peningkatan mutu pendidikan agama, khusunya peningkatkan kemampuan baca dan tulis Al Quran bagi generasi muda Jombang, ke arah tren positif dan nyata. Sehingga kepedulian itu tidak sekadar jargon atau basa-basi politik, tapi benar-benar direalisasi.

“Bantuan yang diberikan kepada para guru ngaji ini nilainya memang sangat kecil, tidak sebanding dengan nilai pengabdian dan perjuangan para ustadz dan ustadzah yang mengajar di TPQ-TPQ. Dan, memang masih sebatas itulah kemampuan Pemkab Jombang dalam ikut serta memberantas buta huruf, khususnya buta baca Al Quran,” tutur Widjono.

“Tapi saya yakin, mengajar ngaji dan membimbing baca tulis Al Quran bagi anak-anak kita adalah sudah menjadi panggilan jiwa para ustadz dan ustadzah. Tanpa honor sekalipun saya yakin mereka tetap mengajar dan dengan ikhlas memberi bimbingan dan pengajaran kepada anak-anak, calon penerus bangsa ini,” imbuh Wabup.

Meski demikian, tambah mantan Sekdakab Jombang ini, bukan berarti pemerintah daerah akan berpangku tangan. Pemerintah akan tetap berusaha memberikan bantuan kepada guru-guru ngaji dan guru diniyah dengan jumlah penerima lebih besar dan nilainya lebih layak. Sehingga semua lembaga yang kini belum mendapatkan karena keterbatasan dana dari APBD, pada tahun berikutnya bisa mendapatkannya.

“Tidak menutup kemungkinan anggaran untuk TPQ ini bisa ditambah tahun depan, sehingga semua lembaga TPQ yang ada sekitar 1.500 itu mendapat bagian. Termasuk guru ngaji dan guru diniyah,” tandasnya seraya berharap legislatif juga ikut memikirkan usulan dari eksekutif untuk meningkatkan nilai bantuan ke TPQ.

Wabup Widjono kemudian berpesan, agar bantuan untuk para guru ngaji ini tepat sasaran, maka hendaknya ada kriteria atau semacam sertifikasi. ”Dan Pemkab siap memfasilitasi proses sertifikasi kepada guru-guru ngaji serta lembaga pendidikan non-formal, seperti TPQ dan madrasah diniyah lainnya,” pungkasnya.

Afairur Ramadlan SAg, Sekretaris Bidang Dakwah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jombang, menyambut baik langkah yang dilakukan Pemkab Jombang tersebut. Ia berharap anggaran yang diberikan ke lembaga pendidikan non-formal keagamaan ini bisa diperbesar jumlahnya, sehingga semua TPQ dan sekolah diniyah lainnya bisa terjangkau.

“Meskipun nilainya tidak seberapa dan bukan tujuan utama, tapi paling tidak bantuan itu bisa memberi stimulus kepada para guru ngaji. Dan, secara psikologis bisa memberi semangat para ustadz dan ustadzah bahwa mereka ternyata masih ada yang memperhatikan,” kata Ramadlan.

Menanggapi permintaan Wabup agar dikeluarkan semacam sertifikasi khusus untuk lembaga pendidikan non-formal keagamaan dengan tujuan agar bantuan yang diberikan tepat sasaran, Ramadlan menyatakan usulan tersebut patut dipertimbangkan. Ia berharap Kantor Depag Jombang, segera mengambil langkah-langkah teknis menyambut usulan Pemkab tersebut.

“Kalau memang MUI diminta, kita siap membantu pendataan maupun proses sertifikasinya. Memang idealnya seperti itu, Kantor Depag bersama MUI melakukan pembinaan teknis semacam akreditasi, sehingga ada kriteria lembaga mana yang lebih layak mendapat bantuan dan yang belum waktunya mendapatkan. Atau sebaliknya, lembaga mana yang mendesak dibantu dan yang sudah tidak perlu bantuan, sehingga ada pemerataan,” tandasnya.

Terlepas bagaimana teknis pembinaannya nanti, namun kenyataannya insentif

untuk guru ngaji yang dianggarkan melalui APBD sudah dicairkan. Semoga insentif itu menjadi vitamin yang menyehatkan. Bukan menjadi parasit yang bisa mengancam “kekebalan: atau imunitas keimanan dan keikhlasan para ustadz dan ustadzah dalam membimibing murid dan para santrinya. Sehingga tujuan mulia membangun generasi melek baca-tulis Al Quran yang menjadi dambaan orangtua dan masyarakat, benar-benar menjadi nyata. Semoga. (*)http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=ef72d53990bc4805684c9b61fa64a102&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc&PHPSESSID=460bcbfa23bc4b017c204cfa1fd2c25d

Guru biasa honornya standar, tetapi guru ngaji honornya minim. Berikut ini beritanya.

Senin, 26 Juli 2004

PANTURA

Line

 

240 Guru Ngaji Tuntut Honor Tahunan

TEGAL – Sebanyak 240 guru ngaji dari Madrasah Diniyah se-Kota Tegal menuntut pemberian honor tahunan dari Pemkot Tegal. Selama ini mereka tidak pernah mendapat honor tahunan dan hanya menerima honor bulanan dari sekolah sebesar Rp 100.000.

Guru ngaji di Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA), serta sekolah umum memperoleh honor tahunan sebesar Rp 150.000, di samping honor bulanan yang mereka terima.

Ketua Kelompok Kerja Kepala Madrasah Diniyah (K3MD), Hadi Mulyono SAg kemarin mengatakan, para guru Madrasah Diniyah tidak dapat mengandalkan gaji dari sekolah untuk menopang hidupnya. “Gaji mereka hanya berkisar Rp 50.000 – Rp 100.000,” ujar Hadi.

Akibatnya, banyak guru ngaji yang terpaksa menyambi pekerjaan lain, seperti jualan warung makan dan berdagang kecil-kecilan. Kondisi tersebut dapat mengurangi kualitas mengajar para guru. Padahal, di sisi lain mereka dituntut profesional. Karena itu, untuk memperjuangkan nasib para guru tersebut, dia sudah melayangkan surat ke Wali Kota Tegal. Selain itu, meminta bantuan ke Komisi E DPRD Kota Tegal.

Ketua Komisi E DPRD Kota Tegal KH Habib Ali ZA mengatakan, dapat memahami tuntutan tersebut. Selama ini honor bulanan para guru ngaji tergolong paling minim dibandingkan dengan guru lain. Padahal, rekan-rekan mereka yang mengajar di MTs dan MA mendapatkan gaji sesuai dengan standar. (on-74) http://www.suaramerdeka.com/harian/0407/26/pan16.htm

 

 

Sejumlah Daerah Mulai Menggairahkan pendidikan Al-Qur’an

Pendidikan membaca Al-Qur’an dengan bimbingan guru ngaji mulai digairahkan di sejumlah daerah. Beberapa daerah mulai menganggarkan honor untuk para guru mengaji. Berita-berita berikut ini memberikan gambaran gairah pendidikan Al-Qur’an di berbagai daerah. 

Murid SD Di NAD Wajib Bisa Baca Al-Quran

Kam, Jan 15, 2009

Pendidikan & Budaya

Banda Aceh ( Berita ) :  Para murid Sekolah Dasar (SD) di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), khususnya bagi mereka yang sudah duduk dibangku kelas VI, wajib bisa membaca Al-Quran.

Kepala Dinas Syariat Islam Provinsi NAD melalui Kepala UPTD Lembaga Pendidikan Taman Quran (LPTQ)  T. Muchtaruddin di Takengon, menyatakan, mulai 2009 murid kelas VI akan diuji kemampuannya membaca Al-Quran.

Pernyataan itu disampaikan pada acara penyerahan honor tahap kedua guru lembaga pengajian yang ada di Kabupaten Aceh Tengah tahun 2008 sebanyak Rp 279,63 juta.

Pada acara yang dihadiri Wakil Bupati Aceh Tengah H. Djauhar Ali, ia  menyebutkan, bagi mereka yang sudah bisa membaca Al-Quran akan diberi sertifikat yang bisa digunakan untuk sekolah lanjutan.

Wajib baca Al-Quran tidak hanya anak-anak SD, tapi secara bertahap akan diberlakukan bagi siswa SMP, SMA, hingga ke perguruan tinggi.  Untuk mendukung program tersebut, Dinas Syariat Islam Provinsi NAD memberi bantuan honor kepada guru di lembaga-lembaga pengajian.

Honor tersebut merupakan salah satu penghargaan Pemerintah Aceh atas jasa para guru yang telah bertanggung jawab terhadap  anak-anak untuk bisa membaca Al-Quran. 

Di Kabupaten Aceh Tengah tercata ada 3.585 orang guru ngaji ditambah 28 orang pengawas yang akan memberikan honor tersebut. Pemberian honor bagi guru pengajian dan petugas setiap tahunnya diberikan dalam dua tahap. Untuk tahap pertama terhitung Januari sampai Juni 2008, sedangkan tahap kedua terhitung mulai Juli sampai Desember 2008. Pengawas menerima Rp400 ribu per bulan, sedangkan guru pengajian  disesuaikan dengan jumlah murid. Satu murid dihitung Rp13 ribu per bulan.

Pada kesempatn itu, ia juga menegaskan agar para pengawas tidak memotong honor guru pengajian sepeser pun. “Para pengawas jangan coba-coba  memotong honor guru  di lembaga pengajian yang ada di Aceh Tengah,” katanya.

Sementara Wakil Bupati Djauhar Ali menyatakan upaya yang dilakukan para guru pengajian mendidik anak-anak merupakan tugas mulia, karena sejalan dengan diberlakukannya syariat Islam.

Aceh Tengah telah  dua tahun berjalan memberlakukan wajib baca Al-Quran bagi siswa SD kelas VI.   “Masyarakat Aceh, khususnya Aceh Tengah jangan buta Al-Qur’an. Bila  ada yang meninggalkan Al-Quran sama saja dia meninggalkan Islam,” kata Djauhar.

Baca Al-Quran tidak hanya tanggung jawab pemerintah saja. Lebih dari itu, orang tua juga merupakan guru pertama dalam mengajarkan kitab suci tersebut terhadap anak-anaknya.  

“Saya bercita-cita anak-anak SMA juga selain mampu baca Al-Quran dapat menjadi imam shalat wajib. Paling tidak dia bisa menjadi imam di tengah-tengah anak dan istrinya kelak,” kata Djauhar.

Menyangkut tentang bantuan honor bagi pengawas dan guru pengajian, Djauhar berharap agar program bantuan itu dapat terus berlanjut. 

 

DPR Dukung

Anggota Komisi VIII DPR RI H Humaedi mendukung rencana strategis pendidikan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang menambah jam pelajaran agama di sekolah umum dari dua menjadi delapan jam PER minggu.

“Kami sangat mendukung rencana itu. Kalau ini berhasil mungkin bisa diterapkan di provinsi lain,” kata H Humaedi pada pertemuan dengan jajaran Kanwil Departemen Agama Provinsi NAD di Banda Aceh, Rabu.

Sebenarnya Komisi VIII DPR sudah memperjuangkan agar pelajaran agama di sekolah umum ditambah minimal empat jam dalam seminggu, katanya, namun hingga saat ini belum mendapat respon dari Departemen Pendidikan.

Menurut dia, dua jam pelajaran agama dalam seminggu terlalu sedikit, sehingga tidaklah heran apabila ilmu agama bagi anak sekolah sangat rendah, dan itu berpengaruh terhadap perilaku mereka.

Oleh karenanya, kata dia, rencana strategis pendidikan Aceh yang akan menambah jam pelajaran agama itu harus didukung dan segera direalisasikan, sehingga ke depan pendidikan akhlak dan keimanan anak-anak sekolah bisa bertambah.

Kepala Kanwil Depag NAD A. Rahman TB menyatakan, qanun (peraturan daerah) tentang pendidikan di Aceh sudah selesai, namun belum bisa diterapkan khususnya tambahan pelajaran agama karena terbatasnya jumlah pengajar.

Penambahan jam pelajaran agama tersebut disamakan dengan madrasah di bawah naungan Depag di samping keistimewaan yang dimiliki Aceh, yakni telah diberlakukannya syariat Islam.

Menanggapi hubungan Kanwil Depag dengan Dinas Syariat Islam, Rahman menyatakan, selalu bersinergis untuk melaksanakan kegiatan agama dan keagamaan.

Pada prinsipnya tugas kedua lembaga tersebut adalah sama, hanya saja yang membedakan masalah pengelolaan dana antara pusat dan daerah. Jadi, tidak ada tumpang tindih, semua kegiatan selalu dikoordinasikan, katanya. ( ant ) http://beritasore.com/2009/01/15/murid-sd-di-nad-wajib-bisa-baca-al-quran/

 

Pemkot Tangerang Siapkan Rp1,5 miliar untuk Honor Guru Mengaji

Jum’at, 6 Februari 2009 – 12:06 wib
Carolina – Okezone

TANGERANG – Pemerintah Kota Tangerang menganggarkan anggaran sebanyak Rp1,5 miliar untuk honor guru mengaji dalam APBD 2009.

“Kami persiapkan kesejahteraan untuk guru mengaji,” ujar Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkot Tangerang Ahsan Annahar di Kantor Walikota Tangerang, Jumat (6/2/2009).

Menurutnya, pemberian kesejahteraan untuk guru mengaji tersebut sebenarnya sudah diwacanakan sejak dua tahun lalu. Namun saat itu ada ketentuan lain yang harus dipahami oleh Pemkot Tangerang. Sehingga anggaran tersebut baru bisa direalisasikan tahun ini.

“Kami sudah anggarkan di APBD Tahun Anggaran 2009 sebesar Rp1,5 miliar dan tahun ini akan direalisasikan,” katanya.

Ahsan juga mengaku, nantinya masing-masing guru mengaji akan mendapatkan uang kesejahteraan sebesar Rp150-200 ribu. Pemberian honor ini dikarenakan guru mengaji telah banyak memberikan pendidikan yang mengarahkan pribadi anak didik menjadi berbudi pekerti luhur atau akhlakul karima.

“Semua guru mengaji itu masih dalam pendataan sesuai kriteria dan kemungkinan ada sekitar 500 orang lebih guru mengaji yang akan mendapatkan uang kesejahteraan,” pungkasnya.(lam)

(uky) http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/02/06/1/190107/pemkot-tangerang-siapkan-rp1-5-miliar-untuk-honor-guru-mengaji

 

Guru Ngaji Mendapat Honor

Kamis 5 Februari 2009, Jam: 19:45:00

TANGERANG (Pos Kota) – Kabar gembira datang bagi ratusan guru ngaji di Kota Tangerang di tahun 2009. Pemkot siap memberi honor kepada mereka per bulan sekitar Rp200.000.

Kabar ini disampaikan Walikota Tangerang H. Wahidin Halim saat membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) MUI Kota Tangerang.

Dikatakan, honor ini sebagai wujud kepedulian Pemkot kepada para guru ngaji yang banyak terdapat di kampung-kampung yang seringkali mendapat bayaran sekedarnya.

Diakui APBD Kota Tangerang 2009 telah menganggarkan dana Rp1,5 miliar bagi honor para guru ngaji ini. Sekarang Pemkot masih mendata jumlah guru ngaji yang ada di seluruh kota.

Diancer-ancer honor yang akan diberikan berdasar besaran anggaran sekitaran Rp150.000-Rp200.000 per bulannya.

KH Edi Junaedi, Ketua MUI Kota Tangerang menyambut gembira diberikannya honor bagi guru ngaji ini. Diharapkan honor ini bisa meningkatkan kinerja guru ngaji di kampung-kampung seluruh Kota Tangerang. (djamal/ds/g) http://www.poskota.co.id/news_baca.asp?id=51381&ik=3

 

1.200 Guru Ngaji Dapat Honor

Jum’at, 30 Januari 2009 , 18:17:00

BANDUNG, (PRLM).- Peran guru ngaji tidak saja menjadikan anak didiknya pandai baca tulis Alquran, tetapi juga cerdas dalam menyikapi dinamika kehidupan dan lingkungan hidup, mampu mengekspresikan diri atas dasar kedisiplinan Qur’ani dan berbudi pekerti agamis.

Sebagai bentuk apresiasi, Pemkot Bandung memberikan stimulan honor kepada 1.200 orang guru ngaji, masing-masing Rp 600.000/orang/tahun. Diserahkan Wali Kota Bandung, H Dada Rosada dalam acara pengajian rutin Bandung Agamis, di Masjid Raya Al Ukhuwah, Jalan Wastukancana Bandung, Jumat (30/1). (das)*** http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=56285

Semoga honor yang berkisar 400-600 ribu per tahun itu tidak memudarkan niat para guru ngaji, dari ikhlas lillahi Ta’ala menjadi hanya cari honor yang bersarnya hanya sekitar 40 ribuan rupiah per bulan itu. Dan semoga orang-orang kaya serta para penguasa di pusat dan daerah mulai memperhatikan nasib para guru ngaji, sehingga mereka mendapatkan honor yang layak. Bila semuanya berjalan dengan baik, maka insya Allah barokah. Arti barokah adalah banyak kebaikannya. Guru ngaji insya Allah mendapat pahala, anak-anak yang dididik mengaji insya Allah mendapatkan ilmu yang bermanfaat, sedangkan orang-orang yang membantunya insya Allah akan mendapatkan pahala sebagai bekal di akherat kelak. (haji).