Nasihat Alumnus ESQ untuk Ulama yang Menyesatkan ESQ, Benarkah Itu Nasihat?

Situs voaislam menurunkan tulisan Nasihat Alumnus ESQ untuk Ary Ginanjar Agustian Oleh: Farid Achmad Okbah, M.A. (Alumnus ESQ ke-46) Senin, 19 Jul 2010. Belakangan setelah sekitar sebulan berita-berita dan tulisan tentang sesatnya ESQ bertebaran di sana-sini di antaranya di situs voaislam.com, tampaknya kini ada yang baru yakni voaesq.wordpress.com.

Apakah itu merupakan situs tandingan?

Wallahu a’lam. Hanya saja ada tulisan yang tampaknya seperti berhadapan langsung dengan isi voaislam. Misalnya saja judul di voaislam seperti tersebut, sedang voaesq menampilkan judul Nasihat Alumnus ESQ untuk Segelintir Ulama yang Menyesatkan ESQ.

Tulisan yang judulnya nasihat itu justru di antaranya berisi kecaman-kecaman kepada apa yang disebut segelintir Ulama, misalnya dengan kata-kata yang tak sopan terhadap Ulama. Misalnya lontaran “Begitu serampangannya mereka memvonis”, “kecerobohan segelintir ulama yang dengan mudahnya mengatakan ESQ sesat”.

Entah siapa yang serampangan dan ceroboh, apakah apa yang disebut segelintir Ulama yang memvonis sesat ESQ, atau justru penulis Nasihat Alumnus ESQ itu sendiri.

Inilah tulisannya:

NASIHAT ALUMNUS ESQ UNTUK SEGELINTIR ULAMA YANG MENYESATKAN ESQ

Posted by voesq on August 9, 2010

Sungguh tak habis pikir apa yang ada di kepala segelintir ulama yang
mengatakan ESQ sesat. Begitu mudahnya mereka memberikan hujjah. Begitu
gampangnya mereka memberikan fatwa. Begitu serampangannya mereka memvonis.
Dan begitu dangkalnya alasan-alasan yang mereka sampaikan. Mereka tak pernahberpikir apa dampak yang akan terjadi dan kelak mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang mereka ucapkan.

Ketika menyatakan ESQ sesat, tak pernahkah terpikir dibenak mereka jika umat akan menyamakan ESQ dengan Ahmadiyah, komunitasnya Lia Aminudin dan jamaahnya Mushadeq yang mengaku sebagai nabi baru. Ya, itulah persepsi yang pertama kali terbangun saat umat mendengar bahwa ESQ sesat. Sebuah persepsi yang tak bisa dihindarkan akibat dari kecerobohan segelintir ulama yang dengan mudahnya mengatakan ESQ sesat.

Teramat banyak keanehan dibalik fatwa sesat ESQ. Majelis Ulama Indonesia
(MUI), sebagai lembaga yang memiliki otoritas mengeluarkan fatwa, memberikan 10 kriteria aliran sesat, yakni:

Tak ada satupun dari semua kriteria itu yang pas untuk ESQ.  ESQ bukan Ahmadiyah; ESQ bukan Lia Aminudin, dan ESQ bukan pula Mushadeq yang jelas-jelas mengajarkan kesesatan.

1)      Apakah ESQ mengajarkan kita untuk menyembah selain Allah? Sepanjang saya mengikuti training ESQ dan membaca bukunya, tak ada satu pun materi dan kalimat dari Ary Ginanjar yang mengajak kita untuk menyekutukan Allah. Justru sebaliknya, ia meminta kita untuk percaya kepada Allah. Itulah materi Star Principle.  Kita harus bekerja karena Allah dan ingatlah selalu Allah: dimana dan kapanpun.

2)      Apakah ESQ memiliki kitab suci seperti Ahmadiyah dengan tazkirahnya?
Tak ada. Yang ada justru ESQ meminta kita untuk hidup berlandaskan Al-Qur’an Sunnah. Lihat saja, betapa banyaknya ayat-ayat al-Qur’an dan hadits yang dijadikan rujukan Ary Ginanjar, sebagai pondasi dan ruh ESQ Model yang fenomenal itu. Simak saja materi Learning Principle. Kita diminta untuk meyakini Al-Qur’an karena merupakan pedoman bagi kehidupan manusia.

3)      Apakah Ary Ginanjar mengaku sebagai nabi baru seperti Ahmad Mushadeq? Tak pernah. Justru ia meminta kita untuk meneladani Nabi Muhammad saw seperti yang terdapat dalam materi Leadership Principle. Jika anda telah mengikuti training ESQ, pasti akan menangis mendengar pemaparan dan melihat tayangan perjuangan Rasulullah saw saat materi Leadership Principle.

4)       Apakah ESQ mengajarkan kita untuk tidak mempercayai Hari Kiamat? Tidak sama sekali. Ary Ginanjar malah mengajak kita untuk meyakini Hari Akhir seperti yang termaktub dalam materi Vision Principle.

5)      Apakah ESQ menyuruh kita untuk tak meyakini Qadha dan Qadar? Tak sedikitpun. Dalam materi Well Organized Principle, Ary Ginanjar meminta kita mempercayai ketentuan dan ketetapan Allah dengan bahasa yang mudah dicerna.

6)      Apakah ESQ mengajak kita untuk tidak melaksanakan 5 rukun Islam: Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat, Haji? Tidak!!! Justru Ary Ginanjar melalui ilmu ESQ 165 nya mengajak kita untuk beribadah dengan benar. Dan betapa banyak peserta yang tadinya tidak sholat, berkat izin Allah, mereka menjadi rajin sholat. Betapa banyak yang tidak berpuasa, berkat izin Allah melalui ESQ, mereka menjadi berpuasa. Tak cuma shlat dan puasa secara ritual, namun memaknai setiap gerakan dan tujuannya. Kunjungi saja situs
www.esqmagazine.com. Disana, kita akan menemukan banyak kisah nyata seputar ini.

7)      Apakah Ary Ginanjar membuat tafsir baru Al-Qur’an? Sama sekali tidak. Ia mempunyai guru, almarhum Habib Adnan, seorang hafidz yang tawadhu, mantan ketua MUI Bali. Kalaupun ada penafsiran yang selama ini dikritisi oleh segelintir ulama, itu tak banyak. Dan Ary Ginanjar sendiri sudah mengklarifikasi hal tersebut. Jangan samakan Ary Ginanjar dengan JIL, yang menafsirkan al-Qur’an seenaknya dewe. Antara Ary Ginanjar dan JIL bagaikan langit dan bumi. Seperti minyak dan air.

Jelas sudah, ESQ SAMA SEKALI TIDAK SESAT!!! “Militannya” segelintir ulama yang menyesatkan ESQ, sama sekali tak beralasan. MUI saja tak menyatakan sesat, tapi kok ini, beberapa ulama dengan beraninya mengatakan ESQ sesat. Ketua MUI H Amidhan sendiri berujar,” Tidak ada persoalan dengan ESQ.”

Kalaupun ada salah satu anggotanya, yakni H Amin Djamaluddin yang menyebut ESQ sesat, MUI telah meminta keterangan langsung darinya.

“Kami sudah meminta keterangan dari H Amin Djamaluddin dan akhirnya diketahui bahwa Amin hanya meminta halaman tentang Asmaul Husna dalam buku ESQ, dikoreksi,” kata Amidhan.  Karena itu, ia melanjutkan,” Tak ada persoalan dengan ESQ karena hanya sedikit kalimat yang dikoreksi. Yang lain tak ada persoalan.” (antaranews)

Tak cuma MUI, dua ormas keagamaan terbesar di negeri ini: NU dan Muhammadiyah juga mendukung ESQ. “Tak ada yang menyimpang dari ESQ,” kata Ketua Umum PBNU Said Agil Siradj.  Ia melanjutkan,” Kita harus bangga bahwa ada seorang anak bangsa seperti Pak Ary yang kreatif menggunakan metode ajarannya sehingga dapat diterima luas di seluruh dunia.” (warta kota)

Apa kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin? “Tuduhan yang dialamatkan kepada ESQ sangat disayangkan,” ujarnya. Fatwa sesat ESQ, kata dia,”Salah persepsi dan salah pengertian.”

Sayangnya, segala bentuk dukungan, segala macam klarifikasi dan segala upay ESQ untuk menjelaskan duduk persoalannya, sama sekali tak membuat segelintir ulama yang menyesatkan ESQ itu, menarik fatwanya. Sebaliknya, mereka kian semangat untuk terus mengkampanyekan kesesatan ESQ.  Mereka mengadakan acara di berbagai tempat agar masyarakat terpengaruh oleh mereka.

Jika sudah begini, menjadi mudah bagi kita untuk menilai: mana ulama yang
memang berjuang untuk kemaslahatan umat dan mana yang berjuang hanya untuk ego individu dan kelompoknya. Mana ulama yang berbicara dengan pertimbangan matang dan mana ulama yang asal bicara, hanya berdasarkan persepsi dan asumsi. Anda pasti sudah tahu jawabannya! Wallahua’lam bishshowab.

(Akbar Maulana)

http://voaesq.wordpress.com/2010/08/09/nasihat-alumnus-esq-untuk-segelintir-ulama-yang-menyesatkan-esq/

Benarkah itu nasihat?

Penulis nasihat itu menulis:

Majelis Ulama Indonesia(MUI), sebagai lembaga yang memiliki otoritas mengeluarkan fatwa, memberikan 10 kriteria aliran sesat, yakni:

Tak ada satupun dari semua kriteria itu yang pas untuk ESQ.

Benarkah?

Inilah Kriteria dari MUI yang dimaksud:

Sepuluh Kriteria Aliran Sesat

– Mengingkari rukun iman dan rukun Islam

– meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`i (Alquran dan as-sunah),

– Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran

– Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran

Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir

– Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam

– Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul

– Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir

– Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah

– Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i

Sumber: MUI (osa/has/ant ) Republika, Rabu, 07 Nopember 2007

Penulis nasihat itu tampaknya tersandung kriteria sesat yang bunyinya:

Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir lalu penulis itu menulis:

7)      Apakah Ary Ginanjar membuat tafsir baru Al-Qur’an? Sama sekali tidak. Ia mempunyai guru, almarhum Habib Adnan, seorang hafidz yang tawadhu, mantan ketua MUI Bali. Kalaupun ada penafsiran yang selama ini dikritisi oleh segelintir ulama, itu tak banyak. Dan Ary Ginanjar sendiri sudah mengklarifikasi hal tersebut.

Jangan samakan Ary Ginanjar dengan JIL, yang menafsirkan al-Qur’an seenaknya dewe. Antara Ary Ginanjar dan JIL bagaikan langit dan bumi. Seperti minyak dan air.

Kalau memang menjelaskan duduk masalahnya, mestinya diakui saja. Poin kesesatan “- Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir” itu jelas nyata. Ya memang tidak baru, karena sudah ada pendahulunya, yakni orang kafir Anand Krishna yang menafsiri Surat-surat Terakhir Al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri, kemudian dicabut oleh penerbitnya, Gramedia, Jakarta. Sementara itu Ary Ginanjar menafsiri ayat-ayat dalam Surat Al-Fatihah dengan pendapatnya sendiri, ya tentu saja bertabrakan dengan kriteria sesat dari MUI yang bunyinya: “- Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir”.

Walaupun Ketua Komisi Fatwa MUI Dr Anwar Ibrahim hanya melontarkan keraguannya tentang kemampuan Ary Ginanjar pengarang buku ESQ terhadap ayat-ayat dan hadits yang dia tulis, namun itu pada dasarnya hanya bahasa sopan. Karena krieria sesat dari MUI itu sudah masuk pada materi ini, hingga sudah mafhum. Makanya Dr Anwar Ibrahim menegaskan bahwa kalau ada yang berpendapat menyangkut ESQ (bernada membela?) itu hanya pendapat pribadi, bukan pendapat MUI.

Secara keilmuan, tulisan nasihat alumnus ESQ yang ditujukan kepada apa yang disebut segelintir Ulama yang menilai sesatnya ESQ ini perlu dilihat pula.

Imam An-Nawawi menjelaskan tentang nasihat terhadap Ulama itu maksudnya adalah:

وَأَنَّ مِنْ نَصِيحَتهمْ قَبُول مَا رَوَوْهُ ، وَتَقْلِيدهمْ فِي الْأَحْكَام ، وَإِحْسَان الظَّنِّ بِهِمْ .

“…sesungguhnya di antara nasihat terhadap mereka (Ulama) adalah menerima apa yang mereka riwayatkan, mengikuti mereka dalam hukum-hukum, dan berbaik sangka kepada mereka.” (Imam An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, hadits Addinun nashihah).

Kalau benar bahwa tulisan alumnus ESQ itu nasihat kepada segelintir Ulama, maka mestinya justru menerima apa yang mereka (Ulama) riwayatkan, mengikuti mereka dalam hukum-hukum, dan berbaik sangka kepada mereka. Itu menurut ilmu yang disampaikan Ulama yakni Imam Nawawi.

Di samping itu mestinya juga mengikuti Sepuluh Kriteria Aliran Sesat dari MUI tersebut, tanpa dikilahi macam-macam. Itu baru nasihat.

Dalam Al-Qur’an ada yang mengaku-aku memberi nasihat, tetapi benar-benar bukan nasihat. Inilah ayat-ayatnya tentang nasihat palsu itu:

وَيَا آَدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ (19) فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآَتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ (20) وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ (21) فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآَتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ (22) [الأعراف/19-22]

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (23) قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ [الأعراف/23، 24]

19. (Dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.”

20. Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).”

21. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”,

22. maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

23. Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

24. Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.” (QS Al-A’raf: 19. 20. 21, 22, 23, 24).

Ternyata syaitan telah mencontohi dengan mengaku-aku memberi nasihat, bahkan sampai bersumpah. Tetapi nasihat itu benar-benar palsu.

Kepada nasihat palsu dan jejak-jejak palsu lainnya yang mendukung kesesatan, telah Allah larang kita agar jangan sampai mengikutinya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ [البقرة/208]

208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Al-Baqarah; 208).

Kembali kepada alumnus ESQ yang menulis nasihat ini, ketika secara keilmuan Islam ternyata adalah nasihat palsu atau mengaku-aku memberi nasihat, maka tinggal dilihat, kira-kira dia sampai dapat melakukan seperti itu apakah karena menirukan langkah-langkah makhluk yang telah dilarang oleh Allah Ta’ala untuk menirukannya, ataukah hasil dari belajar di ESQ Ary Ginanjar. Atau dua-duanya? Wallahu a’lam.

(nahimunkar.com).