Nasr Hamid Abu Zayd Meninggal

Dia terjangkit virus ‘aneh’ beberapa pekan setelah ia berkunjung ke Indonesia.

Virus ‘aneh’ dari pemikiran dia di antaranya: Ia berpendapat dan mengatakan bahwa al-Quran adalah produk budaya (muntaj tsaqafi), dan karenanya mengingkari status azali al-Quran sebagai Kalamullah yang telah ada dalam al-Lawh al-Mahfuz.

Dia adalah tokoh nyeleneh (aneh) di Mesir yang divonis Murtad oleh Mahkamah Agung 1996

Nasr Hamid Abu Zayd menginggal setelah mengidap virus ‘aneh’. Tokoh nyeleneh (aneh) di Mesir yang divonis Murtad oleh Mahkamah Agung 1996 karena mengobarkan pemikiran bahwa Al-Qur’an itu muntaj tsaqofi (produk budaya) itu difasakh (dibatalkan) perkawinannya pula namun kemudian ia “lari” ke Leiden Belanda dan konon menjadi guru Ulumul Qur’an di sana. Salah satu muridnya di Indonesia adalah seorang dosen di UIN Jogjakarta.

Nasr Hamid Abu Zayd pun pernah diundang ke Indonesia oleh Departemen Agama (kini Kementeri Agama) RI, untuk menatar para dosen IAIN se-Indonesia dalam rangka apa yang disebut meningkatkan pendidikan tinggi agama di Indonesia tahun 2007. Namun kehadiran tokoh nyeleneh dan liberal itu ditolak oleh MUI Riau. Kemudian dijadwalkan untuk berbicara pula di Jawa Timur, Malang, namun ditolak pula oleh MUI dan tokoh-tokoh Islam di Jawa Timur.

Berita tentang meninggalnya tokoh hermeunetik itu sebagai berikut:

Terjangkit Virus Aneh, Nashr Hamid Abu Zaid Tutup Usia

Tuesday, 06 July 2010 08:38

Meninggal pada umur 67 tahun. Terjangkit virus ‘aneh’ beberapa pekan setelah ia berkunjung ke Indonesia

Hidayatullah.com–Pada Senin pagi (5/7), tepatnya pada pukul 09.00, Nashr Hamid Abu Zaid menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumah sakit spesialis As Syeikh Zaid, wilayah 6 Oktober, Kairo, sebagaimana dilansir situs Al Ahram.

Sedangkan situs Masrawy menyebutkan bahwa Nasr Hamid meninggal pada umur 67 tahun, setelah diserang virus tak dikenal, pascakunjungannya beberapa minggu sebelumnya ke Indonesia.

Sebagaimana diketahui, Nashr Hamid merupakan seorang tokoh Mesir yang kerap mengungkapkan pendapat kontroversial, khususnya mengenai agama Islam. Sebab itulah, laki-laki yang lahir tahun 1943 ini pernah divonis murtad oleh pengadilan Mesir dan dipisahkan dengan istrinya.

Para pengajar di Universitas Kairo, tempat Nashr bekerja, banyak yang menentang pemikirannya. Dr. Abdus Shabur Sahin, Dr. Muhammad Al Baltaji, Dr. Ahmad Haikal, serta Dr. Isma’il Salim menulis buku untuk menyanggah pemikiran Nashr Hamid.

Salah satu pemikirannya yang dinilai menyimpang oleh para ulama adalah pandangannya bahwa Al Qur`an merupakan produk budaya.

Nashr Hamid juga dikenal amat getol mempromosikan metode hermeunetika dalam melakukan tela’ah terhadap Al Qur’an. [tho/ahr/msr/hidayatullah.com]

Sumber: hidayatullah.com

Siaran pers MUI Riau tentang penolakannya terhadap kehadiran Nasr hamid Abu Zayd, sebagai berikut:

Siaran Pers

MUI Riau Tolak Prof Nasr Hamid

MAJELIS ULAMA PROVINSI RIAU

Wadah Musyawarah Para Ulama, Zu’ama, dan Cendekiawan Muslim Komplek Masjid Agung An-Nur Pekanbaru Telp (0761) 21415 Fax (0761) 29332

———— ——— ——— ——— ——— ——— –

Siaran pers MUI Riau

Nomor: A-187/MUI-R/ XI/2007

Tentang: “Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) in Indonesia Indonesia VII”

Pekanbaru, 22 November 2007

UMAT ISLAM RIAU TOLAK KEHADIRAN NASR HAMID ABU ZAYD

Nasr Hamid Abu Zayd, intelektual Mesir yang divonis murtad di negerinya, telah ditolak kehadirannya oleh umat Islam Riau. Penolakan itu dilakukan oleh MUI Riau bersama sejumlah Ormas Islam lainnya. Semula, pihak Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Agama memang menjadwalkan akan menghadirkan Abu Zayd dalam acara Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) in Indonesia VII, yang secara resmi telah dibuka oleh Menteri Agama, H. Maftuh Basuni pada Rabu malam 21 November di hotel Syahid Pekan Baru.

Tapi, penolakan terhadap Abu Zayd sangat kuat dari umat Islam Riau. Abu Zayd akhirnya batal hadir. Dalam pidato sambutan pembukaan ACIS VII, Direktur Pendidikan Tinggi Islam Depag RI, Prof. Dr. Abdurrahman Mas’ud, MA, menjelaskan bahwa Abu Zayd tidak bisa datang karena satu hal. Namun katanya, Abu Zayd berjanji akan hadir pada acara International Seminar di UNISMA Malang, 26 November minggu depan.Malang,

Nasr Hamid Abu Zayd adalah tokoh liberal yang pendapat-pendapatnya sangat ekstrim, sehingga dia divonis murtad oleh Mahkamah Mesir. Dia lalu melarikan diri ke Leiden University. Dari sanalah, dengan dukungan negara-negara Barat, dia mulai mendidik beberapa dosen UIN/IAIN. Beberapa muridnya sudah kembali ke Indonesia dan menduduki posisi-posisi penting di UIN/IAIN.

Di Indonesia, para penghujat al-Quran di kampus-kampus UIN/IAIN hampir selalu menjadikan Abu Zayd sebagai rujukan. Dalam hasil penelitiannya terhadap perkembangan paham-paham keagamaan Liberal di sekitar kampus UIN Yogyakarta, Litbang Departemen AgamaYogyakarta, Litbang Departemen Agama menulis:

“Al-Quran bukan lagi dianggap sebagai wahyu suci dari Allah SWT kepada Muhammad saw, melainkan merupakan produk budaya (muntaj tsaqafi) sebagaimana yang digulirkan oleh Nasr Hamid Abu Zaid. Metode tafsir yang digunakan adalah hermeneutika, karena metode tafsir konvensional dianggap sudah tidak sesuai dengan zaman. Amin Abdullah mengatakan bahwa sebagian tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam selama ini dianggap telah melanggengkan status quo dan kemerosotan umat Islam secara moral, politik, dan budaya. Hermeneutika kini sudah menjadi kurikulum resmi di UIN/IAIN/STAIN seluruh Indonesia. Bahkan oleh perguruan tinggi Islam di Nusantara ini hermeneutika makin digemari.” (Lebih lengkap tentang kekeliruan pemikiran Abu Zayd bisa dilihat dalam buku “Al-Qur’an Dihujat”, karya Henri Shalahuddin, MA (GIP, Jakarta: Mei 2007).

MUI Riau bersama MUI pusat saat ini telah menghimpun data-data pelecehan dan penghujatan al-Quran di lingkungan UIN/IAIN. Bahkan, di IAIN Surabaya, gugatan terhadap al-Quran sebagai Kitab Suci pernah menghebohkan, ketika seorang dosen di sana, secara sengaja menginjak lafaz Allah yang ditulisnya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa al-Quran bukanlah kitab suci, tetapi merupakan hasil budaya manusia. Kata dosen tersebut: “Sebagai budaya, posisi Al-Quran tidak berbeda dengan rumput.” (Majalah GATRA, 7 Juni 2006). Karena itulah, MUI Riau sangat berkeberatan dengan kehadiran orang-orang seperti Abu Zayd dan antek-anteknya yang secara jelas-jelas telah begitu melecehkan Kitab Suci al-Quran. Pola pikir orientalis Yahudi-Kristen sangat mewarnai tulisan-tulisan di berbagai jurnal, tesis, buku, dan artikel-artikel para penghujat al-Quran tersebut.

Dalam acara ACIS VII ini pun, sekali pun Abu Zayd tidak datang, tetapi buku karya murid kesayangannya, yaitu Dr. M. Nur Kholis Setiawan (dosen UIN Yogyakarta, yang disertasinya diterbitkan dengan judul “Al-Quran Kitab Sastra Terbesar”) yang berjudul “Orientalisme, Al-Qur’an dan Hadis”, telah diproyekkan untuk dibagikan kepada semua peserta ACIS VII. Yang menjadi pertanyaan kemudian, “Apakah relevansinya bagi kemajuan studi al-Qur’an di Indonesia sehingga buku Nur Kholish itu dijadikan proyek untuk dimiliki semua peserta?”

Adalah aneh, jika sosok Abu Zayd yang jelas-jelas menghina dan menghujat al-Quran dan Imam Syafii dalam berbagai karyanya justru dipromosikan pemikirannya oleh Departemen Agama RI. Lebih aneh lagi, pihak panitia ACIS sama sekali tidak menghadirkan pembicara yang mampu mengkritik pemikiran Abu Zayd. Padahal, dalam semboyannya ditulis: “ACIS: Barometer Perkembangan Studi Keislaman di Indonesia”.

MUI Riau memandang aneh dengan semboyan ACIS tersebut, mengingat, selain Abu Zayd, pembicara dari luar negeri yang diundang oleh panitia, tidak ada satu pun yang dikenal oleh umat Islam sebagai ulama-ulama terkemuka, tetapi justru para orientalis Barat dan orang non-Muslim. Mereka adalah: Prof. Mark Woodward, Ph.D., Prof. Ron Lukens Bull, Ph.D., dan Prof. Peter Suwarno, Ph.D yang diundang untuk berbicara tentang Islam.

Prof. Peter Suwarno, Ph.D yang saat ini menjabat sebagai associate director of the School of International Letter and Cultures at Arizona StateUniversity USA, Arizona State University USA, di awal presentasinya mengatakan bahwa dia bukan ahli agama dan tidak tahu banyak tentang Islam. Dia memang dikenal kedekatannya dengan Prof. Abdurrahman Mas’ud yang sering berkunjung ke Arizona. Peter menamatkan S1-nya di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

Para pembicara seperti itukah yang dikatakan akan dijadikan sebagai “BAROMETER STUDI ISLAM DI INDONESIA?”

Disamping itu, diantara tema-tema yang dibincangkan adalah isu utama dalam paham liberalisme di bidang keagamaan, baik yang dipaparkan secara halus maupun kasar. Di antara tema-tema yang disetujui untuk dilombakan dalam debat di acara pekan ilmiah mahasiswa dalam rangkaian kegiatan ACIS VII adalah sebagai berikut:

Formalization of Syariah as the Real Enemy of Democracy (=Formalisasi Syariah sebagai Musuh Nyata Demokrasi)

Ranjau Formalisasi Syariat

Mendamaikan Syariat Islam dengan demokrasi Pancasila

Pancasila dalam kepungan formalisasi Syari’ah Islam.

Menolak Poligami: ditinjau dari berbagai pendekatan

Pembaharuan Hukum Islam dalam konteks keindonesiaan merupakan suatu keharusan

Benarkah poligami sebagai sunah nabi?

Ditilik dari tujuannya, sebenarnya ACIS merupakan acara yang bertujuan mulia. ACIS VII ini mengusung tema utama: “Konstribusi ilmu-ilmu keislaman dalam menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan pada millenium ketiga”. Dalam pelaksanaannya, tema utama tersebut dirinci dalam lima bidang yang mencakup:

Islam, politik dan ekonomi global.

Islam dan masalah hak asasi manusia (HAM).

Islam dan masalah pendidikan global.

Islam an hegemoni budaya global.

Islam dan masalah kesehatan, lingkungan dan perkembangan IPTEK.

Oleh sebab itu, harusnya, pihak Depag dan panitia berembuk dengan ulama-ulama Islam lainnya untuk menyusun acara. Bukan malah menghadirkan para pembicara yang sudah dikenal sebagai tokoh-tokoh Liberal, baik di Indonesia maupun di dunia internasional.

Sebagai lembaga pemerintah, harusnya Depag berpikir lebih serius dalam mengembangkan studi Islam di Indonesia, demi kemaslahatan umat dan bangsa Indonesia. Dalam hal pengembangan pemikiran liberal, sikap MUI sudah jelas melalui fatwanya no. 7/MUNAS/MUI/ II/2005 yang mengharamkan penyebaran paham liberal di Indonesia. Juga, pemikiran yang meragu-ragukan keotentikan al-Quran, oleh MUI dimasukkan ke dalam salah satu kriteria ajaran/aliran sesat.

Dewan Pimpinan

Majelis Ulama Indonesia Provinsi Riau

Ketua: Sekretaris Umum

H. Ridwan Syarif H.Fajeriansyah, Lc.

Reaksi berupa penolakan kehadiran Nasr Hamid Abu Zayd itu kaitannya adalah dengan acara Departemen Agama ini:

Depag RI Undang Nasr Hamid Abu Zayd yang Telah Divonis Murtad oleh Mahkamah Agung Mesir 1996 sebagai Pembicara Konferensi Keislaman di Pekanbaru, Riau 2007.

Depag RI Mengundang Nasr Hamid Abu Zayd yang telah divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir 1996, sebagai salah satu pembicara dalam konferensi tahunan masalah keislaman yang ke-7 di Pekanbaru, Riau, 21-24 November 2007.

Untuk mengetahui vonis murtadnya Nasr Hamid Abu Zayd, berikut ini uraian Dr Syamsuddin Arif Orientalisches Seminar, Universitas Frankfurt, Jerman:

Nasr Hamid Abu Zayd telah divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir.

Mahkamah Agung Mesir pada 5 Agustus 1996 mengeluarkan keputusan[1] yang sama (dengan keputusan Mahkamah al-Isti’naf Kairo (Pengadilan Tinggi Kairo) 14 Juni 1995, pen):

Abu Zayd dinyatakan murtad dan perkawinannya dibatalkan. Dalam putusan tersebut,

kesalahan-kesalahan Abu Zayd disimpulkan sebagai berikut:

1. Pertama, berpendapat dan mengatakan bahwa perkara-perkara gaib yang disebut dalam al-Quran seperti ‘arasy, malaikat, setan, jin, surga, dan neraka adalah mitos belaka.

2. Kedua, berpendapat dan mengatakan bahwa al-Quran adalah produk budaya (muntaj tsaqafi), dan karenanya mengingkari status azali al-Quran sebagai Kalamullah yang telah ada dalam al-Lawh al-Mahfuz.

3. Ketiga, berpendapat dan mengatakan bahwa al-Quran adalah teks linguistik (nashsh lughawi). Ini sama dengan mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah berdusta dalam menyampaikan wahyu dan al-Quran adalah karangan beliau.

4. Keempat, berpendapat dan mengatakan bahwa ilmu-ilmu al-Quran adalah tradisi reaksioner serta berpendapat dan mengatakan bahwa syariah adalah faktor penyebab kemunduran umat Islam.

5. Kelima, berpendapat dan mengatakan bahwa iman kepada perkara-perkara gaib merupakan indikator akal yang larut dalam mitos.

6. Keenam, berpendapat dan mengatakan bahwa Islam adalah agama Arab, dan karenanya mengingkari statusnya sebagai agama universal bagi seluruh umat manusia.

7. Ketujuh, berpendapat dan mengatakan bahwa teks al-Quran yang ada merupakan versi Quraisy dan itu sengaja demi mempertahankan supremasi suku Quraisy.

8. Kedelapan, mengingkari otentisitas Sunnah Rasulullah SAW.

9. Kesembilan, mengingkari dan mengajak orang keluar dari otoritas teks-teks agama .

10. Kesepuluh, berpendapat dan mengatakan bahwa patuh dan tunduk kepada teks-teks agama adalah salah satu bentuk perbudakan. (Republika, Kamis, 30 September 2004, Kisah Intelektual Nasr Hamid Abu Zayd ,Oleh: Dr. Syamsuddin Arif, Orientalisches Seminar, Universitas Frankfurt, Jerman).

Dari peristiwa-peristiwa itu kemudian kini kabarnya Nasr Hamid Abu Zayd meninggal akibat menderita virus ‘aneh’ setelah datang ke Indonesia.

Virus ‘aneh’ yang menyerang diri dia telah mengakibatkan meninggalnya. Virus ‘aneh’ berupa pemikiran dia justru diusung oleh orang-orang tertentu di antaranya di Indonesia sudah ada muridnya yang berada di UIN Jogjakarta. (nahimunkar.com)


[1] Pada 14 Juni 1995, dua minggu setelah Universitas Kairo mengeluarkan surat pengangkatannya sebagai profesor, keputusan Mahkamah al-Isti’naf Kairo (Pengadilan Tinggi Kairo) menyatakan Abu Zayd telah keluar dari Islam alias murtad dan, karena itu, perkawinannya dibatalkan. Ia diharuskan bercerai dari istrinya (Dr Ebtehal Yunis), karena seorang yang murtad tidak boleh menikahi wanita muslimah. Abu Zayd mengajukan banding. (Republika, Kamis, 30 September 2004, Kisah Intelektual Nasr Hamid Abu Zayd ,Oleh: Dr. Syamsuddin Arif, Orientalisches Seminar, Universitas Frankfurt, Jerman). Kemudian disusul oleh keputusan Mahkamah Agung Mesir 5 Agustus 1996 yang vonisnya sama, Nasr hami Abu zayd dinyatakan murtad, dan isterinya wajib difasakh (dipisahkan).