Kiri: Proyek pembangunan wisma atlet di Palembang, konon bernilai Rp 191 milyar dengan dana suap-menyuap hampir Rp 40 milyar. Kanan: Anak Indonesia yang kelaparan, tinggal kulit nempel tulang, tergolek tak berdaya di rumah sakit.

BEBERAPA HARI BELAKANGAN INI nama yang sering disebut-sebut mediamassacetak dan elektronik adalah Nazaruddin. Sosok muda ini diduga terlibat kasus suap-menyuap pembangunan wismaatletSEAGames XXVI Jakabaring,Palembang. Suap-menyuap adalah kata lain untuk tindak korupsi.

Proyek pembangunan wisma atlet tersebut, konon bernilai Rp 191 milyar. Sedangkan dana suap-menyuap yang disediakan hampir Rp 40 milyar. Persisnya, sebesar Rp 39.960.000.000 (tiga puluh sembilan milyar sembilan ratus enam puluh juta rupiah).

Angka-angka itu mencuat dari dakwaan jaksa penuntut umum pada persidangan Mohammad El Idris (13 Juli 2011), manajer pemasaran PT Duta Graha Indah yang memenangkan tender pembangunan wisma atlet tersebut. Dari sejumlah penerima dana suap, hanya Alex Noerdin (Gubernur Sumatera Selatan) yang belum terlaksana.

Bagian Nazaruddin sebesar 13% dari nilai proyek atau sekitar Rp 24.830.000.000, dan ini merupakan bagian terbesar, telah disalurkan secara bertahap sejak Februari 2011. Sedangkan bagian Wafid Muharam sebesar 2% atau sekitar Rp 3.820.000.000 telah diserahkan kepada yang bersangkutan pada bulan April 2011. Bagi-bagi uang suap itu sudah berlangsung sejak Desember 2010.

Nama-nama yang Diduga Terima Dana DGI (Duta Graha Indah)
Nilai Proyek: Rp 191 milyar

No

Nama

%

Rp

01

Gubernur Sumsel Alex Noerdin (belum realisasi)

2,5

4.775.000.000

02

Nazaruddin

13

24.830.000.000

03

Komite Pembangunan Wisma Atlet

2,5

4.775.000.000

04

Panitia Pengadaan

0,5

955.000.000

05

Sesmen Pemuda dan Olahraga Wafid Muharam

2

3.820.000.000

Total A

 

39.155.000.000

06

Ketua Komite Rizal Abdullah

400.000.000

07

Sekretaris Komite Musni Wijaya

80.000.000

08

Bendahara Komite Amir Faizol

30.000.000

09

Asisten perencanaan Aminuddin

30.000.000

10

Asisten administrasi dan keuangan Irhamni

20.000.000

11

Asisten pelaksana Fazadi Abdanie

20.000.000

12

Ketua panitia M Arifin

50.000.000

13

Anggota panitia Sahupi

25.000.000

14

Anggota panitia Anwar

25.000.000

15

Anggota panitia Rusmadi

50.000.000

16

Anggota panitia Sudarto

25.000.000

17

Anggota panitia Darmayanti

25.000.000

18

Anggota panitia Heri Meita

25.000.000

Total B

 

805.000.000

Total A + Total B

 

39.960.000.000

Kalau benar uang sebesar itu (sekitar hampir 40 milyar) dari total Rp 191 milyar nilai proyek, merupakan bagian yang lumrah untuk dibagi-bagi kepada sejumlah pejabat yang terkait dengan proyek itu, maka bisa dibayangkan betapa banyaknya uang lumrah seperti itu digelontorkan untuk para pejabat terkait, dari seluruh proyek yang ada di negara kita.

Kalau satu proyek menengah saja bisa menghasilkan uang lumrah hampir Rp 40 milyar, maka dari mega proyek bernilai ratusan milyar atau triliunan rupiah tentu akan menghasilkan uang lumrah yang jauh lebih banyak lagi. Dan uang yang sangat banyak itu masuk ke kantong pribadi para pejabat yang sudah punya penghasilan tetap, tunjangan dan fasilitas, serta kelak mendapat uang pensiun.

Sementara itu, rakyat kebanyakan, yang tidak punya penghasilan tetap, tidak memperoleh fasilitas, apalagi uang pensiun, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja kesulitan, sampai-sampai anak balita mereka mengalami malnutrisi energi protein (MEP) alias kekurangan gizi, bahkan hinga mencapai gizi buruk (MEP berat).

Secuplik Kasus Gizi Buruk

Menurut Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, ada tiga penyebab gizi buruk, pertama, anak penderita gizi buruk kekurang makanan. Kedua, anak menderita sakit. Ketiga, ketidakmampuan orangtua memberi makanan yang bergizi kepada anak, meski makanan tersebut tersedia. Penyebab ketiga ini, sebagaimana terjadi pada balita bernama Husein Surya, anak dari Yusrawati, warga Padang Lawas, Sumatra Utara.

Balita Husein Surya kian hari kian kurus dengan perut kian buncit, karena Yusrawati sang ibu tidak mampu membelikan makanan bergizi yang diperlukan balitanya. Suami Yusrawati merantau mencari kerja, dan sesekali mengirim sejumlah uang yang tidak tentu jumlahnya, namun seringkali tak mencukupi. Sehingga, manakala Yusrawati tidak mampu membeli beras, ia hanya bisa memberikan Husein Surya beberapa keping biskuit berharga Rp 500 sebungkus, dan air putih. Tetanga kiri-kanan tak bisa membantu, karena sama-sama kekurangan. (liputan6.com edisi21 September 2010).

Di Polewali Mandar, batita bernama Syawal hanya disuguhi segelas kopi oleh sang Nenek (Tasia), karena tak mampu membeli susu. Sejak ibunya (Hasna) meninggal dunia, Syawal diasuh sang Nenek. Ayah Syawal yang bekerja sebagai tukang batu, tidak diketahui rimbanya. Syawal warga Kelurahan Madatte, Kecamatan Polewali Mandar, Sulawesi Barat, pada Maret lalu berusia 15 bulan dengan berat badan hanya lima kilogram. Padahal, ketika lahir berat badan Syawal normal yaitu 2,9 kilogram. Sehari-hari Syawal tergolek lemah, dan terus menangis di pangkuan sang nenek. (liputan6.com edisi 02 Maret 2011).

Di Sampang, Madura, ada balita berusia empat tahun bernama Umi Salamah yang selain mengidap gizi buruk juga menderita lumpuh dan buta sejak usia tiga tahun. Umi Salamah adalah putri dari pasangan Holifah dan Markasan, sejak lahir hingga berusia tiga tahun hidup normal. Pada suatu ketika, Umi Salamah mengalami kejang-kejang dan muntah. Namun karena tidak ada biaya, oangtuanya tidak membawa Umi ke dokter. Sejak saat itu, berat badan Umi tidak bertambah, hanya sembilan kilogram pada usia 4 tahun.

Sebenarnya Umi Salamah pernah dibawa ke RSUD Soetomo Surabaya, namun karena tidak ada biaya, kembali ke rumah setelah hampir sepekan dirawat. Keadaan Umi kian buruk pasca perceraian kedua orangtuanya. Sang Ibu, mencari nafkah keSurabaya, sehingga Umi Salah dirawat oleh kakek dan neneknya. Sehari-hari Umi hanya bisa terolek lemah di bilik bambu kediaman kakeknya. (liputan6.com edisi 11 Maret 2011).

Di Ternate, Maluku Utara, ada Marlina Fabanyo balita berusia 4 tahun yang menderita gizi buruk. Menurut Masyita, sejak usai satu tahun Marlina tidak mendapat perawatan serius. Sehingga, mengalami gizi buruk. Kondisi Marlina memprihatinkan. Bila tersentuh seseorang, Marlina merintih kesakitan, karena menahan rasa sakit yang dideritanya. Untuk biaya makan sehari-hari saja, Masyita kesulitan, apalagi biaya untuk berobat. Meski tetangga kiri-kanan sudah mengumpulkan dana untuk membawa Marlina berobat ke RSUD Chasan Bisorie, namun itu jauh dari cukup untuk menutupi biaya perawatan. (okezone.com edisi08 April 2011).

Di Serang, Banten, ada Efi Afrilia (4 tahun) penderita gizi buruk yang meninggal dunia pada10 April 2011. Efi menderita gizi buruk sejaklimabulan sebelumnya. Kondisi tersebut diketahui orangtua Efi ketika memeriksakan sang anak di Posyandu terdekat. Orangtua Efi sudah empat kali bolak-balik ke RSUD Serang, namun karena tidak ada biaya dan tidak punya jamkesda, Efi tidak bisa dirawat di rumah sakit. Akhirnya dibawa pulang ke rumah di Kampung Baru, Desa Sawah Luhur, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten. Namun Efi akhirnya meninggal dunia.

Orangtua Efi, Jamil, sehari-hari bekerja sebagai pemulung, dengan penghasilan per hari hanya Rp 20.000. Sedangkan ibunya, Titik Fatmawati, menjadi tenaga kerja wanita di Arab Saudi, sejaklimabulan sebelumnya. Kakak Efi, Harni Sahara (6 tahun), menunjukkan gejala yang sama, yaitu sering batuk dan panas. Persis seperti Efi sebelum meninggal. (tempointeraktif.com edisi11 April 2011).

Di Wates,Kediri, Jawa Timur, ada Adi Purwanto (10 tahun) yang menderita gizi buruk dengan berat badan hanya 7,9 kilogram. Adi Purwanto merupakan anak dari pasangan Erik Nuryanto dan Siti Khusnul, warga desa Duwet, Kecamatan Wates, yang  mengalami gangguan pertumbuhan sejak berusia 7 bulan, meski ketika lahir ia tumbuh normal. Erik bekerja sebagai sebagai sopir di luar Jawa, sedangkan Siti Khusnul bekerja sebagai TKW di Singapura. Adi sehari-hari dirawat oleh Giyem sang nenek.

Adi Purwanto termasuk beruntung, karena ia bisa dirawat di RSUD Pare. Menurut Ahmad Raziq (Kepala Bagian RSUD Pare), Adi menderita gangguan syaraf otak sehingga asupan gizinya berkurang. Akibatnya, berat badan Adi tidak dapat bertambah dengan sempurna. Meski sangat sulit untuk memulihkan kondisi Adi seperti semula, namun menurut Ahmad Raziq penderitaan Adi bisa dikurangi dengan cara terapi agar semua anggota badannya berfungsi. (okezone.com edisi 18 Juni 2011)

Di Nias, Sumatera Utara, ada Gefnia Gulo (4 tahun) warga Desa Zuzundrao Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat Sumatera Utara, yang berbobot hanya 6,7 kilogram. Jauh dari berat ideal, sehingga Gefnia terlihat sangat kurus, tulang belikat menyembul keluar. Tangan dan kaki Gefnia yang kurus tidak bisa digerakkan. Hanya bola matanya sesekali bergerak ke kiri dan kanan, dengan tatapan suram. Gefnia kini dirawat di balai pengobatan Faomasi Santa Margaretha Kompleks Laverna Gunungsitoli. Gefnia berasal dari keluarga tak mampu. Ayahnya, peminta-minta yang menderita lumpuh akibat penyakit polio. Ibunya juga dalam kondisi sakit dan tak sadarkan diri. (okezone.com edisi 27 Juni 2011)

Di Muara Bulian, Jambi, ada Awalul Rahmat (5 tahun), bocah penderita gizi buruk putra dari Emi dan Asmadi. Ketika lahir, Awalul Rahmat dalam kondisi normal, dengan berat badan 3,5 kilogram. Namun perkembangan selanjutnya, Awalul Rahmat divonis mengidap gizi buruk oleh dokter di RSUD Hamba, Muara Bulian. Emi dan Asmadi merasa sudah berbuat banyak agar anaknya tetap sehat. Bahkan harta mereka terkuras untuk biaya berobat Awalul Rahmat selamalimatahun belakangan. Awalul Rahmat termasuk yang beruntung, karena mendapat perhatian dari istri Bupati Batanghari, Sofia Fattah, yang berjanji akan mengucurkan dana pribadinya jika di Pemkab Batanghari tidak tersedia alokasi dana untuk itu. (jambi.tribunnews.com edisi 30 Juni 2011)

Di Pasaman Barat, Sumatera Barat, ada Wafiatul Ahdi (4,5 tahun) putri pasangan Maswan (43 tahun) dan Misbah (43 tahun), warga jorong Simpang Rabat, Kecamatan Parit Koto Balingka. Berat badan Wafiatul hanya 8 kilogram, jauh dari bobot ideal. Kondisi gizi buruk yang dialami Wafiatul sudah berlangsung sejak 3 tahun lalu, saat mereka membawa Wafiatul berobat ke Puskesmas Pembantu (Pustu) Kecamatan Parit Koto Balingka, Pasbar.

Misbah, orangtua Wafiatul bekerja sebagai buruh serabutan, dengan penghasilan sebesar Rp 40 ribu per hari. Dengan penghasilan sebesar itulah Misbah menghidupi keluarganya yang berjumlah 8 orang. Misbah dan Maswan beserta anak-anak mereka tinggal di rumah kayu sederhana berukuran 5×5 meter, dengan atap terbuat dari daun rumbia. (padangekspres.co.id edisi 14 Juli 2011)

Wafiatul termasuk yang beruntung, karena ia mendapat perhatian dari Baharuddin R (Bupati Pasaman Barat). Saat itu Wafiatul dirawat di RSUD Jambak, Kecamatan Luhak Nanduo. Menurut Aris Tejo Priharjo (Kepala RSUD Pasbar), berdasarkan diagnosa dan pemeriksaan intensif, Wafiatul bukan menderita penyakit gizi buruk, melainkan menderita penyakit Microsepal, yakni penyakit pengecilan pada otak, yang dibawa sejak dalam kandungan dan mengakibatkan pertumbuhan tubuhnya tidak normal. (padangekspres.co.id edisi 14 Juli 2011)

Apapun alasannya, yang jelas itu semua terjadi karena mereka miskin, sehingga tidak punya kemampuan membeli makanan yang bergizi dan berprotein cukup untuk dikonsumsi oleh si ibu saat hamil. Bahkan kemiskinan itu pula yang menyebabkan orangtua Wafiatul dan orang-orang senasibnya tidak mampu berobat ke dokter, termasuk ke Puskesmas yang relatif murah.

Boleh jadi, kemiskinan yang terjadi di sana-sini hingga anak-anak pun mengalami kelaparan hebat yang istilahnya menderita gizi buruk yang sangat mengenaskan itu merupakan dampak langsung dari korupsi yang membudaya, yaitu sebuah perilaku kolektif yang sudah menjadi bagian dari kaidah demokarasi kita. Maksudnya, di dalam kaidah demokrasi, sesuatu yang disepakati bersama, menjadi boleh meski ia bertentangan dengan ajaran agama. Maka, korupsi pun berganti nama menjadi gratifikasi, uang kerohiman, uang rokok, dan sebagainya. (haji/tede)

(nahimunkar.com)