News Maker From Jombang

 

JIKA diperhatikan dengan seksama, entah mengapa, dari Jombang Jawa Timur sering lahir sejumlah organisme yang masuk kategori news maker (pembuat berita). News maker from Jombang ini, uniknya, adalah sosok yang eksistensinya berada di dua titik ekstrem yang saling bertolak belakang. Ada yang berasal dari titik ekstrem dalam makna kemajon alias kebablasan, ada yang berasal dari titik ekstrem sebaliknya, yaitu terbelakang (primitif). Dua-duanya sangat berbahaya bagi aqidah Islam.

Dari Jombang ada dua guru bangsa yang dielu-elukan sekelompok orang dan sejumlah besar media massa. Bahkan kedua guru bangsa ini punya reputasi internasional. Kelas mereka bukan lagi tokoh nasional, namun sudah menjadi tokoh internasional. Namun, dari Jombang pula kita temukan dua dukun cilik, Ponari dan Dewi Setiawati.

Pada tulisan sebelumnya di nahimunkar.com, telah diungkap beberapa sosok dari Jombang (lihat tulisan berjudul The Men From Jombang, August 11, 2008 9:42 pm), antara lain Verry Idam Henyansah alias Ryan, Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Nurcholish Madjid alias Cak Nur, dan Wahid Hasjim.

 

Batu dan Kemusyrikan

 

Yang primitif, misalnya bisa dilihat dari kasus Ponari dan Dewi, dukun cilik yang dianggap sakti karena dipercaya bisa menyembuhkan segala macam penyakit, berkat batu petir yang dimilikinya. Itu sisa-sisa keyakinan primitive yang bersumber pada ajaran dynamisme, yang dalam Islam disebut syirik, menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya. Karena menganggap batu itu sebagai batu sakti yang memiliki kekuatan untuk penyembuhan. Kecuali kalau khasiat untuk obat itu ada landasan dalilnya yang shahih, misalnya air zamzam, madu, dan habbatus sauda’ (jinten hitam). Ternyata barang-barang yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu memang bisa dibuktikan secara ilmiyah lantaran memiliki kandungan yang berunsur obat. Demikian pula barang-barang yang bisa dibuktikan secara ilmiyah memang bisa untuk obat, dengan hukum sebab akibat, maka boleh-boleh saja untuk berobat. Namun ketika batu dipercaya sebagai barang ajaib dan menyembuhkan aneka penyakit, tanpa bukti-bukti ilmiyah dan juga tanpa dalil syar’i,  maka ini termasuk yang digolongkan mempercayai kekuatan sakti pada selain Allah. Dalam keyakinan Islam digolongkan syirik, menyekutukan Allah Ta’ala. Itu dosa terbesar.

Oleh karena itu ketika Al-Lajnah Al-Daaimah di Saudi Arabia (terdiri dari kibar ulama/ ulama-ulama besar) ditanya tentang sepotong kain atau sepotong kulit dan sejenisnya diletakkan di atas perut anak laki-laki dan perempuan pada usia menyusu dan juga sesudah besar, maka jawabnya:

Jika meletakkan sepotong kain atau kulit yang diniatkan sebagai tamimah (jimat) untuk mengambil manfaat atau menolak bahaya, maka ini diharamkan, bahkan bisa menjadi kesyirikan. Jika itu untuk tujuan yang benar seperti menahan pusar bayi agar tidak menyembul atau meluruskan punggung, maka ini tidak apa-apa.” (Al-Lajnah Ad-Daaimah, Fatawa al-‘Ilaj bi Al-Qur’an wa Assunnah, ar-Ruqo wamaa yata’allaqu biha, halaman 93).

Mencari berkah kepada pohon, batu dan lainnya termasuk dilarang dalam Islam, bahkan bila dilakukan maka termasuk kemusyrikan. Karena telah jelas dalam Hadits:

عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ قَالَ خَرَجَنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِبَلَ حُنَيْنٍ فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا هَذِهِ ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لِلْكُفَّارِ ذَاتُ أَنْوَاطٍ وَكَانَ الْكُفَّارُ يَنُوطُونَ بِسِلَاحِهِمْ بِسِدْرَةٍ وَيَعْكُفُونَ حَوْلَهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ لِمُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةً إِنَّكُمْ تَرْكَبُونَ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

Riwayat dari Abi Waqid Al Laitsi, ia berkata: “Kami keluar kota Madinah bersama Rasulullah menuju perang Hunain, maka kami melalui sebatang pohon bidara, aku berkata: “Ya Rasulullah jadikanlah bagi kami pohon “dzatu anwaath” (pohon yang dianggap keramat) sebagaimana orang kafir mempunyai “dzatu anwaath”. Dan adalah orang-orang kafir menggantungkan senjata mereka di pohon bidara dan beri’tikaf di sekitarnya. Maka Rasulullah menjawab: “Allah Maha Besar, permintaanmu ini seperti permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa: (`Jadikanlah bagi kami suatu sembahan, sebagaimana mereka mempunyainya`), sesungguhnya kamu mengikuti kepercayaan orang sebelum kamu.”  (HR Ahmad dan Al-Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, hadits no 267, juga riwayat At-Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan shahih).

 

          Tafsir Al-Qur’an keluaran Departemen Agama RI mengulas sebagai berikut:

          Kenyataan tentang adanya kepercayaan itu diisyaratkan hadits di atas pada masa dahulu dan masa sekarang hendaknya merupakan peringatan bagi kaum muslimin agar berusaha sekuat tenaga untuk memberi pengertian dan penerangan, sehingga seluruh kaum muslimin mempunyai akidah dan kepercayaan sesuai dengan yang diajarkan agama Islam. Masih banyak di antara kaum muslimin yang masih memuja kuburan, mempercayai adanya kekuatan gaib pada batu-batu, pohon-pohon, gua-gua, dan sebagainya. Karena itu mereka memuja dan menyembahnya dengan ketundukan dan kekhusyukan, yang kadang-kadang melebihi ketundukan dan kekhusyukan menyembah Allah sendiri. Banyak juga di antara kaum muslimin yang menggunakan perantara (wasilah) dalam beribadah, seakan-akan mereka tidak percaya bahwa Allah Maha Dekat kepada hamba-Nya dan bahwa ibadah yang ditujukan kepada-Nya itu akan sampai tanpa perantara. Kepercayaan seperti ini tidak berbeda  dengan kepercayaan syirik yang dianut oleh orang-orang Arab Jahiliyyah dahulu, kemungkinan yang berbeda hanyalah namanya saja. (Al-Qur’an dan Tafsirnya, Departemen Agama RI, Jakarta, 1985/ 1986, jilid 3, halaman 573-574).

 

 

Ponari Dukun Tiban

 

Sekitar Desember 2008, Ponari yang berusia sembilan tahun ini tengah bermain di bawah guyuran air hujan, sementara itu petir menyambar-nyambar di atasnya. Ketika itu, hujan deras memang sedang mengguyur Dusun Kedungari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tiba-tiba tubuh bocah itu kemasukan hawa panas, seperti terkena sambaran petir. Sesaat setelah petir menyambar di atas kepalanya, Ponari mendapati sebuah batu sebesar telur ayam berada tepat di atas rambut kepalanya. Batu ini, oleh Ponari dibawa pulang.

Peristiwa batu gepeng sebesar telur ayam yang ditemukan Ponari itu, sampai ke telinga kakeknya. Atas saran sang kakek, batu berwarna kuning itu dibuang. Namun, meski sudah tiga kali dibuang, batu itu selalu kembali. Peristiwa ganjil itu, karena memang dasar akidahnya (keyakinan Islamnya) tidak kuat, membawa keluarga Ponari sampai pada penafsiran, bahwa batu itu bertuah. Ponari kemudian menyimpan batu itu. Sambil bergurau Ponari mengatakan, bahwa batu ini bisa menyembuhkan orang yang sakit

Gurauan Ponari itu kemudian disambut oleh kedua orangtuanya, dengan meminta Ponari menyembuhkan salah satu kerabatnya yang saat itu sedang sakit demam tinggi. Ponari pun mencelupkan batu petirnya itu ke dalam segelas air kemudian diberikan kepada si sakit. Tanpa dinyana, pasien pertamanya itu sembuh. Mendengar keajaiban ini, tetangga sekitar yang sedang sakit mencoba untuk disembuhkan. Dan ternyata semuanya sembuh juga.

Keampuhan batu ‘bertuah’ itu pun menyebar bagai kabar burung ke seantero dusun, bahkan melintasi batas dusun. Maka, sejak pertengahan Januari 2009, rumah Ponari didatangi sejumlah orang yang ingin berobat. Saking banyaknya yang antri, menyebabkan Rumiadi (58 tahun) asal Kediri dan Nurul Miftadin (42 tahun) asal Jombang meninggal dunia selain akibat kelelahan, terutama karena penyakit yang dideritanya. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 1 Februari 2009.

Setelah kejadian itu, mulai 2 Februari 2009, polisi melarang warga berobat. Di depan jalan masuk menuju rumah Ponari, polisi memasang plang dan meminta warga yang ingin berobat untuk kembali pulang. Namun, ribuan warga tak bisa ditundukkan dengan sekedar plang dan anjuran belaka, karena mereka begitu yakin batu bertuah milik Ponari bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Mereka datang ke tempat itu, setelah mendengar kabar, ada beberapa orang yang lumpuh bisa sembuh, hanya dengan meminum air putih yang sudah dicelupkan batu petir milik Ponari. Apalagi, Ponari tidak memberlakukan tarif resmi kepada pasiennya. Namun demikian, ada ketentuan bagi pasien yang ingin memberikan uang, tidak boleh lebih dari Rp15 ribu.

Akhirnya, puluhan ribu orang secara bergelombang berjejal di rumah Ponari. Mereka tidak saja berasal dari Jombang, tetapi ada yang dari berbagai kota di Jawa Timur, Jawa Tengah dan sebagainya. Mereka berharap, batu petir di tangan Ponari bisa menyembuhkan penyakit yang dideritanya.

 

Cerita Mistis

 

Berita tentang ‘kesaktian’ Ponari juga dihiasi dengan berbagai cerita mistis. Antara lain sebagaimana diceritakan oleh Nurhayati asal Nganjuk, Jawa Timur. Ia mendatangi Ponari untuk meminta obat guna kesembuhan adiknya yang lumpuh. Nurhayati ketika itu mencoba mengambil gambar beberapa gelas yang berisi air, foto dan KTP pasien, melalui telepon selularnya yang mempunyai fasilitas kamera. Namun, ia tidak berhasil menangkap objek apapun.

Cerita mistis lainnya datang dari ibunda Ponari bernama Mukaromah, berusia 28 tahun. Menurut Mukaromah, ketika seorang fotografer mengabadikan Ponari beserta dirinya dan Ibu Lurah setempat, sosok Ponari tak terlihat di hasil jepretan fotografer tersebut, yang ada hanya gambar Ibu Lurah dan Mukaromah.

Pasca tewasnya dua ‘pasien’ Ponari, pihak kepolisian melakukan penutupan (sementara), dan mengupayakan untuk memindahkan tempat praktik Ponari ke Balai Desa, atau rumah salah satu warga yang memiliki pekarangan yang luas. Namun Ponari menolak, dengan alasan wangsitnya diterima di rumah, jadi tidak bisa jauh-jauh dari rumah. Kalau dipindah ke luar Dusun pengobatannya tidak berkhasiat. Begitu alasan Ponari sebagaimana disampaikan Mukaromah.

Bukan cuma itu, Ponari bahkan berani menawarkan ‘kesaktiannya’ untuk menghentikan semburan lumpur Lapindo. Dan, menurut Kamsin (bapak kandung Ponari), pihak PT Minarak Lapindo tertarik dengan tawaran Ponari itu. Menurut Kamsin pula, sudah dua kali utusan Lapindo menemui Ponari, bahkan salah satu dari mereka meminta air dari Ponari untuk membuktikan kemampuan Ponari. Hanya saja, menurut Kamsin, pihak Lapindo masih mempertimbangkan, mengingat banyaknya pasien yang berharap kesembuhan dari Ponari. Apalagi menurut Ponari, dia tak bisa lagi menyembuhkan orang yang sakit jika sudah menutup lumpur Lapindo dengan batu saktinya itu. Oleh karena itu, menurut Kamsin, utusan Lapindo meminta agar Ponari menyelesaikan dulu pengobatan terhadap pasiennya.

Nila Retno Nur Cahyani, Kepala Desa Balongsari Kecamatan Megaluh Kabupaten Jombang, membenarkan hal ini. Menurut Retno, utusan dari PT Minarak Lapindo telah bertemu dengannya dan berniat untuk membawa Ponari ke lokasi semburan lumpur di Sidoarjo. Salah satunya, bernama Hartono. Menurut Nila Retno Nur Cahyani, ketika itu Hartono mengatakan, bahwa Tatty Aburizal Bakrie akan datang menemui Ponari secara langsung. (okezone.com edisi Senin, 2 Februari 2009 – 18:00 wib).

Kalau informasi dari Hartono itu benar, betapa menyedihkannya. Karena, ternyata, kejahiliyahan itu terbentang luas, dari keluarga paling miskin sampai kepada keluarga paling kaya di Indonesia. Harta memang tidak ada hubungannya dengan kualitas keimanan dan akidah seseorang.

Sejak tanggal 1 dan 2 Februari 2009, praktek Ponari ditutup sementara oleh aparat keamanan, namun sejak 3 Februari 2009, praktek Ponari kembali dibuka, setelah mendapatkan izin dari Kapolres Jombang AKBP Khosim. Hal ini langsung disambut anstusias oleh masyarakat, terbukti, dalam tempo singkat sudah ada 4.000 pasien yang siap antre. Untuk kali ini, diterapkan sistem kupon, yang dibatasi hingga 5.000 pasien saja. Selebihnya, akan diberi kesempatan pada hari berikut. Selain itu, praktik dukun cilik Ponari ini, dijaga oleh sekitar 70 personel Polisi, dan sejumlah aparat TNI.

Baru dua hari praktik, sejak 5 hingga 8 Februari praktik Ponari ditutup kembali, karena perbaikan jalan. Sejak 9 Februari 2009, kembali dibuka. Sejak pukul 07:30 WIB, warga sudah memadati lokasi praktek Ponari. Semakin siang, jumlah calon pasien semakin banyak hingga mencapai ribuan orang. Akibatnya, antrean menuju tempat Ponari berjajar hingga dua kilometer. Bahkan, massa tak peduli dengan rintik hujan yang mengguyur, mereka tetap sabar menanti pengobatan Ponari dengan harapan penyakit yang dideritanya sembuh.

Ketika rintik hujan reda dan menyisakan jalan becek, sengatan matahari pun kembali terik. Becek dan terik, membuat antrean sepanjang 2 kilomeer menjadi tak terkontrol. Mereka saling berdesakan sehingga mengakibatkan beberapa orang pingsan. Massa mulai beringas. Sekitar pukul 12:45 wib, polisi menghentikan proses pengobatan yang dilakukan Ponari, untuk mencegah timbulnya korban jiwa sebagaimana terjadi hari Minggu lalu.

Meski sudah ditutup, massa tetap berdesakan dan tidak kunjung bubar meski telah diminta untuk meninggalkan lokasi. Akibatnya, kembali jatuh korban jiwa dua siswa SD akibat ramainya antrean. Saat itu, (9 Feb 2009), menurut perkiraan AKP Sutikno (Kapolsek Megaluh), jumlah pasien yang mendatangi rumah Ponari mencapai 50 ribu orang, dan personel polisi yang diterjunkan ke lokasi berjumlah 500 orang.

Meski sudah ditutup, namun pada tanggal 10 Feb 2009, sejumlah puluhan ribu orang tetap bertahan menanti sang dukun cilik, meski keberadaan Ponari tidak dapat diketahui. Menurut sebuah sumber, Ponari diamankan di Mapolres Jombang. Sumber lain mengatakan, Ponari dirawat di rumah sakit. Sekitar pukul 10.00 WIB Ponari dirawat intensif di RS Bhayangkara Jombang. Menurut dokter Gunawan yang memeriksa, Ponari sakit panas sehingga harus diberikan obat. Suhu badannya panas karena kelelahan setelah kemarin (9 Feb 2009) mengobati puluhan ribu orang. Setelah dirawat selama satu setengah jam, Ponari diperbolehkan pulang.

Muspida Kabupaten Jombang dan Polres Jombang pada tanggal 10 Feb 2009 telah membahas fenomena praktik pengobatan alternatif Ponari. Kesimpulannya, praktik Ponari ditutup karena membuat polisi dan aparat desa kewalahan. Keputusan itu diambil setelah Ponari beserta orangtua, guru, dan aparat Desa Balongsari mengadakan rapat dengan Kapolres Jombang AKBP M Khosim dan Bupati Jombang Suyanto, di Pendopo Kecamatan Megaluh, Selasa sore tanggal 10 Feb 2009. Bahkan, pihak keluarga berencana membuang batu petir milik Ponari, agar tidak ada lagi pasien yang nekat minta diobati. Kedua orangtua Ponari juga telah memutuskan agar anak semata wayangnya itu kembali ke bangku sekolah. Selama tiga minggu lebih, Ponari tak bersekolah karena sibuk mengobati beragam penyakit dari puluhan ribu pasienya.

Meski dinyatakan sudah ditutup, namun ribuan orang masih berjejal ke rumah Ponari (11 Feb 2009), padahal keberadaan Ponari dan keluargnya tidak diketahui. Salah satu di antaranya adalah Kemat alias Imam Khambali salah satu korban salah tangkap pembunuhan Asrori yang sebenarnya dilakukan oleh Verry Idham Henyansyah alias Ryan.

Polisi pun kewalahan menghadapi ribuan orang yang tetap ngotot ingin berobat. Akhirnya praktik dibuka kembali (11 Feb 2009). Menurut Kapolres Jombang AKBP Khosim mengatakan, polisi terpaksa membuka kembali praktik pengobatan Ponari bagi mereka yang telah memiliki kupon, karena amukan warga yang nekat merangsek mendekati rumah Ponari sehingga dorong-dorongan antara massa dan polsi pun terjadi. “Toleransinya ini hari terakhir. Yang tidak memiliki kupon tidak dilayani, dan besok akan ditutup total,” tegas AKBP Khomsin.

Keinginan orangtua Ponari membuang batu petir dan mengembalikan Ponari sebagaimana semula ternyata ditentang keluarga dekat Ponari sendiri. Ayah Ponari sempat dianiaya (14 Feb 2009), ketika berupaya untuk mengambil anaknya dari rumah Mbok Dauk (bibi Ponari), rumah yang sering dipakai Ponari buka praktik. Kamsin dipukul Mbok Dauk dan beberapa anggota keluarganya hingga harus menjalani perawatan selama satu hari di rumah sakit Nur Wahid, Jombang. Saat ini Kamsin sudah dipulangkan dari rumah sakit. Dari kasus penganiayaan ini polisi menetapkan ND sebagai tersangka. Motif dari penganiayaan, dilatarbelakangi kecemburuan sosial. ND yang sejak awal rumahnya dipakai Ponari melayani puluhan ribu pasien, diduga iri lantaran belum mendapatkan hasil dari jerih payah bocah yang mendadak jadi dokter supranatural itu.

Kekerasan (dan ancaman kekerasan) juga terjadi pada sejumlah wartawan. Antara lain sebagaimana terjadi pada diri Amir, salah satu wartawan televisi nasional. Amir mendapat ancaman melalui telepon dari seorang pria yang mengatasnamakan Karang Taruna Dusun Kedungsari. Pria tersebut meminta Amir untuk berhenti meliput Ponari. Sebab, liputan itu bisa menyebabkan praktik Ponari dihentikan petugas. Keputusan polisi menutup praktik Ponari membuat sebagian warga yang ikut menanggok keuntungan dari praktik pengobatan Ponari merasa kecewa, mereka pun menuding wartawan sebagai penyebab penutupan praktik pengobatan itu. Ancaman yang sama juga terjadi pada diri Doni, salah satu wartawan media cetak lokal. Saat meliput di Dusun Kedungsari, Doni sempat didatangi dua orang pemuda yang memaksanya untuk tidak meliput.

Meski aparat sudah berupaya menutup praktik Ponari sejak 12 Feb 2009, namun hingga 16 Feb 2009, rumah Ponari masih dipadati ratusan calon pasien yang tetap berharap Ponari mau membuka praktik darurat.

 

Kak Seto Mendukung Kemusyrikan

 

Karena ada unsur eksploitasi, maka Seto Mulyadi pun turun ke Jombang menemui keluarga Ponari (16 Feb 2009). Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPA), kedatangan Kak Seto hanya memberikan pengertian kepada Ponari dan keluarganya tentang hak-hak Ponari sebagai anak, yang harus dilindungi. Kak Seto juga berusaha menawarkan solusi yang tidak merugikan masyarakat yang memerlukan pengobatan, namun tidak merampas hak-hak Ponari sebagai anak.

Ketika itu, Kak Seto mengusulkan agar dibuatkan semacam instalasi untuk mengalirkan air sakti ala Ponari ke beberapa tempat tertentu di area lokasi pengobatan.  Instalasi itu terdiri dari beberapa drum atau tangki air ditempatkan pada lokasi agak tinggi, dihubungkan dengan pipa-pipa paralon, kemudian di tempat-tempat tertentu dipasang keran untuk mengucurkan air di tangki lewat pipa. Setiap hari drum besar atau tangki diisi air, kemudian Ponari mencelupkan batu ajaib ke dalam air di tangki dengan disaksikan para pengunjung. Selanjutnya air yang sudah dicelup batu ajaib akan mengalir ke pipa-pipa, yang dipasangi kran di tempat-tempat tertentu, untuk mengucurkan air. Dengan cara ini, setiap pasien yang membutuhkan air untuk berobat, tinggal buka kran dan diisikan ke gelas pasien. Menurut Kak Seto, usulannya itu sudah disetujui oleh Ponari maupun keluarganya.

Secara tehnis, dan sesuai dengan kapasitas Kak Seto sebagai Ketua KPA, usulan itu sangat masuk akal. Namun, sayangnya sama sekali tidak mempertimbangkan unsur agama. Menurut perpespektif agama, femonema Ponari adalah kemusyrikan. Oleh karena itu, yang harus dihilangkan adalah kemusyrikannya, bukan masalah tehnis dan hak asasi anak atau ada tidaknya unsur eksploitasi.

Seusai menemui Ponari, Kak Seto menemui Bupati Jombang Suyanto, dan menyampaikan usulannya itu. Bupati Suyanto berjanji akan membantu dengan membangun instalasi air sakti tersebut. Sebetulnya, Suyanto sebelumnya pernah mengusulkan hal serupa, tapi ditolak panitia karena pengunjung hanya minta diobati secara langsung, yakni tangan Ponari yang memegang batu ajaib mencelupkan ke air di wadah para pasien. Nampaknya usulan Kak Seto akan mendapat kendala tehnis.

Dengan usulan itu, maka peluang mencetak uang sebanyak-banyaknya justru terancam. Apalagi, menurut perkiraan harian Surya, uang yang terkumpul dari kotak amal hingga 16 Feb 2009 mencapai sekitar Rp 500 juta.

Usulan Kak Seto itu, sebenarnya merupakan langkah mundur dari apa-apa yang sudah dilakukan aparat kepolisian. Sejak 12 Feb 2009, polisi secara tegas menutup permanen praktik Ponari, karena menyadari hal itu merupakan syirik dan takhayul. Bahkan, polisi merusak paksa sumur milik Ponari, karena meski lokasi praktik pengobatan supranatural itu telah ditutup total, namun warga tetap berebut meminta “berkah” dari Ponari. Antara lain dengan berebut air sumur milik Ponari yang diyakini bisa menjadi obat macam-macam penyakit. Akibat banyaknya warga yang berebut air sumur ini, polisi terpaksa merusak bagian pompa manual yang terpasang di atas sumur. Bahkan Kapolres Jombang sudah enggan membicarakan fenomena Ponari. Tiba-tiba, Kak Seto datang, membawa usulan agar dibuatkan instalasi air sakti.

 

Saingan Ponari

 

Belum usai fenomena Ponari dengan batu petirnya, masih di Jombang, tersiar kabar ada dukun cilik lain yang juga memiliki kemampuan sama, bernama Dewi Setiawati, berusia 14 tahun, warga Dusun Pakel, Desa Brodot, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang juga. Jarak rumah Ponari dengan Dewi Setiawati hanya berkisar lima kilometer saja. Menurut kabar burung, batu milik Dewi merupakan saudara dari batu milik Ponari. Jika batu milik Ponari dihuni makhluk gaib bernama Rono, maka milik Dewi dihuni makhluk gaib perempuan bernama Rani. (Ini jelas keyakinan  syirik, menyekutukan Allah Ta’ala, dosa paling besar, sebagaimana yang dipercayai orang-orang jahiliyah dalam menyembah berhala, yang diyakini ada rohnya di berhala itu yang memberi manfaat dan madhorot).

Bila Ponari mengobati pasiennya dengan cara menyelupkan batu ke air untuk diminum, maka cara yang ditempuh Dewi sama sekali tidak menggunakan air. Slamet (ayah Dewi) membacakan doa, sementara itu Dewi duduk disebelah Slamet, sedangkan batu diletakkan di sebelah Dewi. Slamet selama ini memang telah dikenal sebagai dukun (kecil-kecilan). Jadi, tidak heran bila sejumlah orang kerap mendatanginya. Apalgi setelah Dewi menemukan batu ajaib.

Menurut Simpen (45 tahun) adik Slamet, batu milik Dewi ditemukan pada hari Kamis tanggal 12 Feb 2009 lalu, bersamaan dengan hujan dan petir. Dewi menemukan batu itu di halaman rumahnya. Batu Rani milik Dewi lebih kecil dari kepalan tangan anak-anak, berbeda dengan milik Ponari yang berukuran sekepalan anak-anak.

Dengan batu itulah Dewi menyembuhkan beberapa tetangga dan keluarga. Meski banyak orang berdatangan ke rumah Dewi dan meminta pengobatan, tapi karena suhu badan Dewi meninggi, ia enggan mengobati. Dewi Setiawati merupakan anak pasangan Slamet dan Djumailah. Meski sudah berumur 14 tahun, ia masih duduk kelas VI SDN Brodot I. Dia sering tidak naik kelas.

Agar tidak mengulangi kasus Ponari yang dikunjungi pasien dalam jumlah besar, Slamet diajak bermusyarah oleh pihak polsek dan pemerintah desa, mengenai fenomena pengobatan ala Dewi ini. Musyawarah itu pada dasarnya mengatur pelaksanaan pengobatan agar tidak semrawut. Juga disinggung rencana memindahkan lokasi pengobatan, karena rumah Slamet berada di gang sempit, sehingga rawan terjadi korban jika pasien banyak dan berdesakan.

Jadi, yang diatur masalah tehnis. Bukan memberantas kemusyrikan. Itulah fenomena penyebaran bahkan pelestarian kemusyrikan yang merupakan tantangan terberat bagi Ummat Islam, namun kadang yang mendukung keyakinan syetan itu juga orang-orang yang mengaku beragama Islam.

 

Kasiatun Ibunya Ryan

 

Tokoh news maker from Jombang berikut ini adalah ibu kandung dari Ryan si jagal lagi homo asal Jombang. Sosok ini menjadi kian terkenal setelah Very Idham Henyansah alias Ryan menerbitkan sebuah buku kisah pribadinya berjudul The Untold Story of Ryan. Melalui buku itu, terkumpul mozaik yang menyimpulkan bahwa Kasiatuni telah menjadi penyebab Ryan menjadi seorang gay hingga akhirnya menjadi pembunuh.

Melalui buku tersebut, Ryan menuturkan bahwa ia sering memergoki sang ibu berselingkuh dengan banyak pria. Perselingkuhan ibunya itu, pertama kali disaksikan Ryan ketika ia masih duduk di kelas satu sekolah dasar. Suatu hari, Ryan dilarang berangkat ke sekolah oleh sang ibu karena akan diajak ke tempat hajatan di luar desa. Di arena hajatan dengan hiburan pentas dangdut tersebut, Ryan menonton ibunya bercengkerama dengan para lelaki dewasa. Ketika Ryan mengantuk, salah satu pria mengajak Ryan dan ibunya ke kamar. Ryan pun segera tidur. Ketika terjaga, Ryan menyaksikan ibunya sedang berzina dengan laki-laki tersebut. Ryan tidak bisa menerima kejadian tersebut. Sejak kejadian itu, Ryan menjadi anak yang pendiam, terutama setelah ibunya mengeluarkan ancaman agar Ryan tidak melaporkan pandangan matanya kepada sang ayah.

Setahun kemudian, ketika Ryan duduk di bangku kelas dua sekolah dasar, kakak tirinya bernama Neny Kustiani yang masih berusia 14 tahun, dinikahkan dengan seorang laki-laki yang selama ini menjadi gigolo bagi ibunya Ryan. Pernikahan itu sebenarnya hanya sandiwara, untuk memudahkan sang ibu memanfaatkan lelaki peliharaannya itu. Tanpa sengaja, Ryan ketika itu sempat mendengar percakapan rahasia antara sang gigolo dengan sang ibu. Intinya, sang ibu mewanti-wanti agar sang gigolo sama sekali tidak menyentuh istri pura-puranya itu yakini Nenny.

Pada suatu ketika, Ryan pernah memergoki sang ibu sedang mandi bareng dengan sang gigolo. Suatu hari, Ryan pulang sekolah dan kegerahan sehingga ingin segera mandi. Alangkah kagetnya Ryan ketika membuka pintu kamar mandi ia melihat sang ibu dan sang gigolo sedang mandi bareng. Bukannya malu, sang ibu malah mengajak Ryan ikut mandi bareng.

Bukan hanya sang ibu yang berzina dengan gigolo di rumahnya sendiri, tetapi juga sang ayah. Suatu hari, ketika pulang sekolah, Ryan mendapati rumah dalam keadaan sepi. Namun, ketika ia membuka pintu salah satu kamar, Ryan menyaksikan sang ayah sedang berzina dengan kakak kandung ibunya (bude atau mbokde)..

Sejak kecil Ryan didandani seperti anak perempuan karena sang ibu ingin punya anak perempuan. Inilah salah satu faktor yang mengarahkan Ryan menjadi bencong. Apalagi, selama ini Ryan kerap menyaksikan bahwa ibunya berselingkuh dengan banyak pria, sehingga menyebabkan ia membenci kaum perempuan. Sejak SMP Ryan sudah menunjukkan ke arah gay: ia sulit mencintai teman wanita.

Orang bijak pernah berkata, untuk melihat keberhasilan seseorang, jangan lihat berapa banyak harta yang bisa dkumpulkan, berapa tinggi pangkat yang bisa dicapai, tetapi lihatlah anaknya. Dari orangtua seperti Kasiatun-Ahmad, maka memang sudah sewajarnyalah bila lahir seorang anak seperti Ryan. Begitu juga dalam hal menilai keberhasilan seorang guru bangsa ( di awal tulisan ini disebut dari Jombang), lihatlah muridnya. Kalau gurunya dikabarkan suka berzina, apalagi muridnya.

 

Abidah El-Khalieqy

 

Satu lagi news maker from Jombang, dia adalah Abidah El-Khalieqy, penulis novel berjudul Perempuan Berkalung Sorban, yang kemudian difilmkan dan menuai kontroversi. Cewek kelahiran Jombang tanggal 1 Maret 1965 ini, adalah mantan santriwati yang banyak menulis karya satra berupa cerpen, novel, dan puisi dengan mengangkat isu-isu perempuan. (maaf di sini disebut cewek, sesuai dengan cara berfikir, kiprah dan karyanya).

Tahun 2003, Abidah meraih Juara ke-2 pada sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta. Novelnya berjudul Geni Jora, mengungkap kehidupan di seputar pesantren putri. Menurut Abidah, seharusnya pesantren dapat menjadi agent of change (pelaku perubahan) bagi nasib perempuan yang hingga kini masih termarjinalisasi di segala sektor kehidupan.

Tanggal 22 Maret 2007, Abidah menjadi salah satu pembicara pada Seminar Sastra bertema “Perempuan dan Agama dalam Sastra” di Hotel Le Meridien. Ketika itu ia membawakan makalah yang menyoroti peranan tradisi, budaya, dan agama (Islam) dalam mengekalkan budaya patriarki di masyarakat. Dengan lantang Abidah mengatakan, “Fiqihlah yang paling berpengaruh atas ter-subordinasinya perempuan. Karena itu harus dilakukan rekonstruksi fiqih dan re-interpretasi ayat-ayat (kitab suci)…” (http://perca.blogspot.com/2007_04_01_archive.html)

Pernyataan Abidah di atas –merekonstruksi fikih dan menafsirkan kembali ayat-ayat Al-Qur’an– memang khas penganut sepilis (sekulerisme, pluralisme agama alias kemusyrikan baru berupa merelatifkan kebenaran setiap agama, hingga Islam disamakan dengan agama-agama lain, dan liberalisme) yang juga sering dijajakan oleh para aktivis kesetaraan gender seperti Musdah Mulia. Nama Abidah mencuat setelah novelnya berjudul Perempuan Berkalung Sorban difilmkan dan menuai kontroversi. Padahal, sebelumnya, meski ia sudah berkoar-koar menjajakan feminisme (gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan kaum pria) dan sebagainya, namanya tak kunjung muncul di pentas nasional.

Melalui novel Perempuan Berkalung Sorban, Abidah El Khalieqy menggambarkan proses-proses marginalisasi perempuan. Melalui Anissa, putri seorang kiai di sebuah desa, yang menjadi tokoh sentral novel tersebut, Abidah menggambarkan bagaimana sub-ordinasi perempuan itu berlaku sejak fase kanak-kanak hingga dewasa. Ketidakadialan gender atau “pengebirian” terhadap hak-hak kaum perempuan terjadi sejak masa kanak-kanak. Proses itu terjadi dalam pola pendidikan dalam keluarga, sekolah dan juga masyarakat. Melalui novel PBS ini Abidah memotret realitas sosial dalam masyarakat, melalui sosok Anissa. Anissa kecil yang ingin belajar dan mengetahui banyak, terpaksa harus menghadapi beberapa benturan dan hambatan, di mana kaum perempuan belum mendapatkan hak-hak kesejajaran dengan kaum laki-laki.

Pada sebuah wawancara, terutama ketika ditanya tentang persoalan perempuan yang paling mendesak di negeri ini, Abidah menjawab: “Jika kita mau sekilas saja menengok realitas kehidupan di negeri tercinta ini, kita pasti ternganga menyaksikan kebrutalan dan premanisme laki laki atas perempuan. Tengok saja tayangan teve. Seorang suami yang dibakar cemburu telah memotong payudara istrinya lalu mengunyahnya bak sepotong burger. Di channel lain, seorang suami menyiram wajah istrinya dengan airraksa. Masih banyak channel lagi yang mengekspos poligami para suami, nikah legal nikah illegal. Pada saatnya, ketika kita sedikit mampu lebih serius meneropong kenyataan, saat itu tak sempat lagi kita ternganga. Hanya bersyukur karena tak jadi stroke. Lalu kita tahu, setidaknya ada 15 ribu perempuan per tahunnya yang mengalami kekerasan, baik fisik atau psikis. Angka ini terus naik seiring semakin terbukanya para korban untuk berani bersuara dan melapor. Jadi sejatinya, ada proses pembungkaman yang sistemik telah dilakukan oleh patriarki, oleh budaya dan pemahaman agama. Ini yang mendesak untuk dibongkar dan ditata ulang.” (http://perca.blogspot.com/2007_04_01_archive.html)

Demikian sengitnya ungkapan-ungkapan Abidah itu. Dia hanyalah menjadikan tingkah laku orang yang dia kecam sebagai alat untuk memukul, bahwa pemahaman agama (Islam) –mengenai nasib perempuan di hadapan kaum lelaki selama ini– tidak benar, dan harus diubah. Coba ditanyakan pada Abidah: Banyaknya laki-laki dan perempuan yang berzina, apakah dapat dipukulkan bahwa pemahaman agama para ulama atau kyai telah salah?  Bahkan, banyaknya anak-anak kyai, misalnya, yang sekarang mencari dana ke orang-orang kafir, hingga menjadi antek kafirin dalam melontarkan pendapat-pendapat yang merusak Islam; apakah bisa langsung dipukulkan, bahwa itu kesalahan ulama dan kyai dalam memahami agama?

Orang yang berpikiran waras tentu akan menolak celoteh Abidah. Karena dari masa ke masa, banyaknya orang-orang musyrik (dosa terbesar) hingga banyak kaum dihancurkan langsung oleh Allah Ta’ala seperti kaumnya Nabi Nuh ‘alaihis salam, kaum Nabi Sholeh ‘alaihis salam dan lain-lain itu sama sekali bukan karena salahnya para nabi Allah dalam memahami agama. Sedangkan para ulama adalah pewaris para nabi. Jadi, tuduhan-tuduhan Abidah itu sebenarnya sangat berat dan besar.

Menurut Abidah, dibandingkan dengan novel Geni Jora, novel Perempuan Berkalung Sorban (yang ditulis tahun 2001) justru lebih keras kritiknya terhadap Kitab Kuning dan para kyai. Di mata Abidah, para kyai adalah ‘para penguasa’ yang menciptakan pola pikir dan budaya. Menurut Abidah pula, di tangan Hanung, novel PBS tidak hanya menjadi media ‘kampanye’ untuk memberdayakan kaum perempuan, tetapi Hanung mampu memberikan cerita berkualitas dengan berbagai bumbunya. Begitu puji Abidah.

Bumbu yang dimaksud, antara lain berupa adanya adegan membakar buku-buku yang akan dibaca santri, karena buku-buku itu tidak sesuai dengan ajaran pesantren. Padahal, pada novelnya, hal itu tidak ada. “Dalam tradisi salafi (pembakaran buku) itu tidak ada, tetapi mungkin untuk efek dramatisasi, okelah,” begitu sikap Abidah terhadap kreativitas dan improvisasi Hanung. Padahal, adegan seserius itu seharusnya dia sesali, selain mengada-ada juga telah memfitnah kyai dan pesantren.

Dari fakta ini saja, kita sudah bisa mendapat bukti, bahwa Hanung memang ada niat memfitnah pesantren melalui adegan bakar buku tadi, dan Abidah mendukungnya. Yang penting ngetop.

Sebenarnya ngawur ketemu ngawur itu saja sudah memalukan. Lha ini ngawur ketemu ngawur, masih pula menohok ulama atau kyai atau lembaga pesantren atau bahkan pemahaman Islam, bahkan masih pula berbau dana dari orang kafir.  Betapa komplitnya ramuan tidak mutu ini: Adonan serba ngawur, tidak benar, berbau fitnah, berbau dana dari orang kafir, untuk menuduh dan merugikan Islam serta Ummat Islam. Ketika sudah seperti itu, apakah salah bila Ulama dan Ummat Islam marah? (haji/tede)