NII, Qiyas Batil , dan Menghalalkan Aneka Cara

 (1 dari 3 Tulisan)

 

COBA perhatikan kerja pawang ular ketika memasukkan sejumlah ular-ularnya ke dalam karung, bagian pertama dari ular yang dimasukkan adalah kepalanya. Begitu juga ketika hendak melumpuhkan atau membunuh ular, yang dipukul pertama kali adalah bagian kepalanya hingga tak berdaya, bahkan mati.

 

Teknik pawang ular tadi, seharusnya dipraktekkan aparat kepolisian dalam membasmi bahaya kesesatan dan penyesatan NII (Negara Islam Indonesia). Maksudnya, tangkap biangnya NII yaitu Toto Salam yang kini menyandang nama Syaikh AS Panji Gumilang. Masukkan ke dalam karung, lumpuhkan, kalau perlu musnahkan.

 

Namun demikian, kita harus menyadari bahwa polisi sebagai aparat hukum, dalam bekerja tidak bisa melanggar hukum, tetapi harus berada dalam koridor hukum. Masalah kesesatan dan penyesatan yang dilakukan NII, konon tidak bisa begitu saja ditangani dengan penangkapan, sebelum ada laporan atau pengaduan dari korban.

 

Meski sudah ditangkap, konon tidak bisa begitu saja dibasmi hingga ke akar-akarnya, paling cuma kroco-kroconya yang berhasil ditangkap, itu pun dengan hukuman beberapa tahun. Sudah sering kali aparat kepolisian di berbagai daerah di Indonesia memproses kasus NII, namun hanya rantingnya saja yang berhasil dipatahkan, itu pun akan tumbuh kembali.

 

Di tahun 2008 ini, aparat kepolisian berhasil memproses dan membawa kasus NII hingga ke pengadilan. Khususnya di Bandung. Sejak Agustus 208 lalu, sejumlah 17 aktivis NII disidangkan Pengadilan Negeri (PN) Bandung. Sembilan di antaranya adalah “pejabat” structural NII, yaitu:

 

01.   H. Suganda (Wakil Gubernur Jawa Barat)

02.   Dede Suparman (Bupati Garut Timur)

03.   Dedi Mulyadi (Bupati Sukabumi)

04.   Mugito (Bupati Bandung Daerah Andir)

05.   M Suratman (Wakil Bupati Bogor)

06.   Juhana (Wakil Bupati Garut Sumedang)

07.   Iping Syaripudin (Wakil Bupati Bandung)

08.   Ugas (Bupati Bandung Utara)

09.   Oban (Bupati Garut Sumedang)

 

Delapan terdakwa lainya adalah Ahdiat, Rizal, Uden, Rizal, Onip, Asep Sutardi, Dede, dan Agus.

 

Pada tanggal 8 Agustus 2008, Dede Suparman (37 tahun) yang menjabat sebagai Bupati Garut Timur, diancam pasal 106 KUHP tentang makar dengan ancaman penjara seumur hidup atau kurungan 20 tahun. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Indra Pribadi dalam dakwaannya menyebutkan, Dede Suparman terbukti melakukan makar dengan cara melakukan dan mengajak seseorang untuk masuk NII dari tahun 2002 hingga tertangkap pada hari Minggu tanggal 20 April 2008. Terdakwa Dede Suparman terbukti telah merekrut sekitar 234 orang dan telah memungut uang Rp 6 juta per bulan. Uang tersebut kemudian diserahkan ke Oban alias Abdurrahman sebagai Bupati Garut-Sumedang (Residen Garut-Sumedang Wilayah 72).

 

Terdakwa lainnya dalah H Suganda (63 tahun) yang menjabat sebagai Menteri Penerangan NII, diancam pasal 107 tentang makar dengan ancaman 15 tahun penjara. Sedangkan terdakwa Dedi Mulyadi (41 tahun) yang menjabat sebagai Bupati Sukabumi Timur diancam pasal 154 a KUHP tentang penodaan lambang negara dengan ancaman empat tahun penjara. Dalam dakwaan JPU, H. Suganda dan Dedi Mulyadi juga memungut uang infak dari anggotanya. Setiap anggota NII diwajibkan membayar infak 2,5%-25% dari penghasilan setiap bulannya. Dana tersebut disetorkan kepada Gubernur Kepala Wilayah Jabar Selatan atas nama Muhamad Sobari alias Abupatin melalui rekening nomor 0870.01.006.776.537 cabang BRI Al Zaytun, Indramayu. Belasan terdakwa lainnya ketika itu rata-rata diancam hukuman penjara 5 tahun.

 

Namun demikian pada 19 Desember 2008, majelis hakim menjatuhkan vonis 3 tahun bagi H Suganda dan 2,5 tahun bagi Dedi Mulyadi. Begitu juga dengan 15 terdakwa lainnya, divonis rata-rata selama 2,5 tahun penjara, dipotong masa penahanan.

 

Begitulah faktanya. Kerja keras aparat kepolisian menangkap kelompok sesat dan menyesatkan hanya membuahkan vonis 2,5 hingga 3 tahun saja. Persoalan sesat dan menyesatkan tampanya tidak bisa diselesaikan melalui proses hukum (pidana). Polisi baru bisa bertindak bila penganjur kesesatan itu melakukan pelanggaran hukum, itu pun setelah ada laporan dari korban. Tanpa itu, pelaku kesesatan dan penyesatan tak terjangkau hukum pidana.

 

Bukan berarti penganjur kesesatan dan peneyesatan itu bersih dari tindakan melanggar hukum, justru sebaliknya, kelompok penganjur kesesatan ini bergelimang dengan tindakan yang melanggar hukum (kejahatan). Namun, tampaknya tidak serta merta dijangkau aparat dan hukum pidana. Karena, kejahatan itu berlangsung tertutup, dan korban tidak berani mengadukan ke aparat, disamping juga tidak tentu mudah ditemukan bukti-bukti yang dapat membawa pelakunya ke proses hukum.

 

Karena kelompok yang menyesatkan ummat itu makin mencari mangsa, maka umat Islam tidak berdiam diri, tetapi melakukan langkah-langkah pro aktif, agar pelaku kesesatan dan penyesatan tadi dapat diproses secara hukum. Namun dalam prakteknya, kelompok-kelompok yang menghadang para penyesat ini sering kali dituduh melakukan tindakan anarkis, melanggar kebebasan berkeyakinan, beragama, dan sebagainya.

 

Dalam kasus NII di Bandung tadi, sudah bisa dipastikan hanya ke-17 orang tadi saja yang akan menjalani hukuman ringan itu, sementara pejabat-pejabat di atasnya sama sekali tidak terjangkau, apalagi Toto Salam alias Syaikh AS Panji Gumilang yang bertahta di kerajaan Al-Zaytun.

 

Bahkan, meski vonis telah jatuh dan kekuatan hukum tetap telah terbit, namun aparat hukum sama sekali tidak dapat mengaitkan ke-17 pelaku kesesatan dan penyesatan tadi dengan Al-Zaytun, meski di persidangan terbukti bahwa dana yang mereka kumpulkan disetorkan ke Gubernur Kepala Wilayah Jabar Selatan atas nama Muhamad Sobari alias Abupatin melalui rekening nomor 0870.01.006.776.537 cabang BRI Al Zaytun, Indramayu.

 

Kesesatan NII sudah banyak diulas oleh berbagai pihak, antara lain melalui buku berjudul Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, karya Hartono Ahmad Jaiz (Februari 2002). Di nahimunkar.com sendiri pernah disinggung mengenai hal ini, melalui tulisan berjudul Ahmadiyah, Syi’ah dan Liberal (April 7, 2008 2:30 am).

 

Bahkan hingga kini, kesesatan NII tetap dipublikasikan oleh mereka yang pernah menjadi bagian dari kesesatan NII, terutama melalui berbagai situs dan milis di internet. Misalnya sebagaimana diungkapkan oleh seorang mantan jamaah NII melalui blog pribadinya (http://tandisiregar.blogspot.com/2008/06/perjalanan-mencari-tuhan.html). 

 

Ungkapannya itu diberi judul Perjalanan Mencari Tuhan yang dipublikasikan pada 07 Juni 2008, sebagai berikut (setelah melalui proses editing seperlunya):

 

Perjalanan Mencari Tuhan

 

TIGA BELAS tahun yang lalu, aku kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri terkenal. Kegelisahanku muncul ketika aku iri melihat orang-orang bisa ikut berbakti pada agamanya seperti aktif berorganisasi Islam, kuliah sambil mondok dan lain sebagainya. Aku hanya tau kampus, bioskop, mall, kos-kosan. Aku ingin seperti mereka yang kelihatan dari prilakunya sangat relijius. Ya, namanya juga orang yang baru tau kehidupan kota besar. Aku yang sering bolos kuliah, malas, mengisi hari-hari dengan ke bioskop, mall, dan lain-lain, bersama-sama teman, yang akhirnya aku sadar tidak bermanfaat, mulai di titik jenuh. Ingin rasanya mengisi hari-hari dengan misalnya mengaji, pondokan mahasiswa. Tapi belum ketemu jalannya. Hingga aku ketemu teman lama yang mengajak ku ikut ngaji.

 

Aku terima tawaran itu. Dia mengenalkan aku dengan temannya yang ngaku kuliah S1, ternyata yang akhirnya kutau setelah hijrah. Aku diajak hijrah dan aku mau karena menurut penjelasannya dalam Al-Qur’an orang yang tidak hijrah matinya jahiliah, kafir, zalim dan fasik. Ketika setelah hijrah aku tau dia cuma tamatan SMA. Dia bohong sama aku. Dia jelaskan padaku, “kan kondisi kahfi lagipula kamu masih jahilliah,” katanya.

 

Di awal pengajian, dia tidak jelasin hijrahnya kemana. Aku dihantam pakai ayat yang mengatakan: “jangan kamu sampaikan berita Muhammad ke musuh-musuhmu (orang-orang yang belum hijrah/kafir)”, dan surat kahfi. Akupun tak berkutik dengan ayat-ayat yang digunakannya. Aku tak berani curhat masalah pengajian itu kepada siapapun. Karena bagiku itu perintah Al-Qur’an yang sangat sakral.

 

Begitu juga katanya boleh pakai cara apa saja asal bisa hijrah, termasuk berbohong degan ortu. Dia memberi ide agar aku bisa hijrah minta saja uang satu juta katakan untuk uang kuliah katanya. Itu pun aku lakukan. Al hasil aku pun hijrah karena aku takut dikatakan kafir, zalim, fasik. Aku dicurigai orangtuaku karena dilaporkan saudara sepupuku yang dari Partai PKS, kalau aku ikut aliran NII sesat KW9. Aku terpaksa berbohong, kalau aku bilang aku tidak sadar saat diajak hijrah. Tapi tidak mereka percaya,aku disuruh cuti kuliah.

 

Aku sempat mengkafirkan orangtuaku, teman-teman, yang tidak mau hijrah ke NII. Aktif di NII katanya harus totalitas, sehingga kuliah pun dinomorduakan. Lulus dengan masa studi paling lama 8 tahun, dengan IPK pas-pasan. Empat tahun aktif di NII, setor infak setiap bulan 300 rb hingga 500 ribu diwajibkan. Lulus kuliah aku jadi aparat, aku senang ortu tidak curiga lagi

 

Selama dua taun jadi aparat, aku kerja di kantor swasta. Kurang lebih dua tahun aku sering bertengkar dengan atasanku dengan alasan sering tidak mengisi acara atau turun ke malja. Aku digoblok-gobloki, dibangsat-bangsati, dan makian lainnya. Aku kecewa, sakit hati. Harusnya dia tau diri, aku kerja siang dan malam demi mengejar setoran infak. Kadang aku rela makan hanya sekali sehari, asal infak yang kuanggap sebagai bendera perjuangan tidak terjatuhkan.Tetes keringat dan air mata selalu mengiringi perutku yang lapar. Aku ingin negara Allah, negara Islam, tegak.

 

Akhirnya aku mengundurkan diri. Mulanya dia minta maaf, aku maafin tapi hatiku berkata aku akan tunjukkan ke dia kalau aku lebih baik dari dia, aku mau lanjutkan S2. Selama itu komunikasi kita terputus 2 tahun.

 

Mulanya aku tidak mau lanjutin S2, karena aku mau pulang ke daerahku saja, tapi aku takut dalam keadaan bimbang mati kafir. Aku balik kembali menemui pimpinanku untuk aktif kembali. sambil S2 aku bekerja, jadi mas’ul atau aparat negara NII KW9. Benar-benar sibuk. Timbul niat untuk tahkim dari keikhlasan hati yang paling dalam, aku merasa penuh dosa. Ditambah lagi desakan orangtuaku yang menyuruh menikah.

 

Kutemui pimpinanku yang lama dan dia menawarkan aku untuk menikah. Akuterima asal yang mau dan sesaui kriteriaku. Ujung-ujungnya dia pinjam duitku. Aku pun pinjamkan uang kuliahku. Beberapa minggu dia pinjam uangku, tapi dia tidak mengembalikan sesuai hari dan tanggal yang dijanjikan. Apakah seperti ini calon pemimpin umat? Ketika aku tanya, dia marah-marah dan mengatakan ke aku seakan-akan aku tidak percaya dengan dia.

 

Tapi aku ga masukkan ke hati. Beberapa waktu kemudian aku dikenalkan dengan seorang nisa. Tapi bukan dia (pimpinanku yang meminjam uangku itu) yang mengenalkan ke aku, tapi ada umat NII lain yang simpati ke aku. Tiga bulan aku kenal dengan nisa itu. Aku tidak suka sama dia. Tidak ada rasa cinta kangen atau apa pun. Ya maklumlah aku sendiri tidak pernah tau apa arti dan seperti apa rasa mencintai orang lain. Ketika itu aku berfikir dari pada aku menerima nisa RI pilihan orangtuaku yang aku anggap kafir, dan daripada aku jadi korban pemerasan si Mas’ul korup itu, lebih baik nisa itu sajalah kupilih. Akhirnya gayung waktu terus berjalan, aku sering ketemu dengan dia. masalah pun terjadi, aku pun memutuskan dia dengan alasan selama berkomunikasi dengan dia banyak ketidak cocokan dengan dia. Aku menangis saat menyatakan putusan itu. Antara percaya atau tidak, airmataku selalu menetes, bahkan sampai sekarang kalo kepikiran dia. Sesekali aku bisa melupakan dia, dan mengusirnya jauh-jauh dalam pikiranku, namun tanpa kusadari secara jujur aku benar-benar sangat dan sangat mencintainya.

 

Aku berfikir aku bisa mendapatkan ganti yang lebih baik dari dia dan merasakan cinta yang lebih dalam dari dia, tapi aku tidak bisa menikah dengan wanita yang tidak memiliki keyakinan yang menjadikan Al-Qur’an dan negara islam indonesia untuk diperjuangkan sebagai keyakinannya. Tapi di lain sisi aku sudah tidak aktif lagi di NII. Aku kecewa dan sangat kecewa dengan orang-orang NII yang telah banyak memeras uangku.

 

Ya Allah aku mohon petunjuk-Mu…

 

Memang banyak kudengar dari orang-orang yang saat ini sudah tidak aktif di NII, katanya banyak orang maling di NII termasuk dia. Tapi aku cuek saja. yang penting kan ajarannya sesuai dengan Al-Qur’an atau Islam yang sebenarnya. Kalo orang maling sih ga di NII di RI di mana pun pasti ada, menurut pendapatku. Tapi ini giliran ku yang kena! Naudzubillah minzalik!

 

Ya robbi mau ke mana kubawa hati dan pikiranku…

 

Tunjuki aku ke jalan-Mu yang lurus yaitu jalan orang-orang yang Engkau anugerahi rahmat dan nikmat, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat…

 

Diposkan oleh kisahkudiNIIKW9 di 11:31 

 

Tiga belas tahun yang lalu berarti tahun 1995. Cukup lama. Namun hingga kini, kesesatan dan penyesatan yang dilakukan oleh NII terus berlangsung. Kalau toh berhasil diproses secara hukum, paling-paling dihukum ringan sebagaimana terjadi di Bandung. Sementara itu, Toto Salam tetap aman-aman saja di kerajaannya.

 

Korban NII di atas, meski berpendidikan formal cukup tinggi (S-2), namun karena bekal agama yang kurang memadai, sehingga dapat diombang-ambingkan oleh metode sesat ala NII. Bahkan ia dikejar-kejar rasa takut bila belum “berhijrah” yaitu takut digolongkan sebagai kafir, zalim, fasik. Dari fakta di atas terbukti, meski seseorang itu mempunyai semangat yang positif terhadap Islam, berpendidikan tinggi (lulusan perguruan tinggi terkenal), namun metode penyesatan NII jauh lebih tinggi. Padahal, itu semua adalah kebatilan.  (Bersambung, Insya Allah)