NII, Qiyas Batil, dan Menghalalkan Aneka Cara

(2 dari 3 Tulisan)

 

 

Qiyas batil

Aliran-aliran sesat biasanya memakai metode qiyas batil, menirukan Iblis selaku pendahulu kesesesatan yang menentang perintah Allah Ta’ala dengan membuat qiyas (perbandingan) yang batil. Aliran-aliran sesat biasa memakai metode Iblis itu. Qiyas yang digunakan NII di antaranya berupa ibarat: kalau belum hijrah ke NII itu ibarat tinggal di tong sampah, tepat kotor. Maka walau shalat ya tidak sah, kata M Amin Djamaluddin ketua LPPI yang sering didatangi para orang tua yang membawa anaknya (biasanya mahasiswa/i) korban NII untuk berkonsultasi kepadanya.

Iblis sendiri ketika mengingkari perintah Allah Ta’ala, maka ia memakai qiyas batil:

إِذْقَالَ رَبُّكَ ِللْمَلاَئِكَةِ إِنيِّ جَالِقٌ بَشَراً مِنْ طِيْنٍ # فَإِذَا سَوَّيْتُهُ، وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُوْحِي فَقَعُوْا لَهُ سَاجِدِيْنَ # فَسَجَدَ اْلملاَئِكَةُ كَلُّهُمْ أَجْمَعُوْنَ # إِلاَّ إِبْلِيْسَ اْستَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ اْلكَافِرِيْنَ # قَالَ يَا إِبْلِيْسَ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ اسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ اْلعَاِلْينَ # قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِيْنٍ # قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فِإِنَّكَ رَجِيْمٌ # وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَيِ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ # قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلىَ يَوْمِ يُبْعَثُوُنَ

71. (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”.

72. Maka apabila Telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”.

73. Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya,

74. Kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir.

75. Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang Telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”.

76. Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, Karena Engkau ciptakan Aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”.

77. Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; Sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk

78. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan”.

79. Iblis berkata: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah Aku sampai hari mereka dibangkitkan”. (QS Shaad/ 38: 71-79).

 

Senjata Iblis adalah qiyas batil itu:

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِيْنٍ

76. Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, Karena Engkau ciptakan Aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS Shaad/ 38: 76).

Berbagai aliran sesat termasuk NII biasanya menirukan Iblis, maka senjata Iblis pun mereka gunakan.

Imam Ibnu Katsir mengutip Tafsir At-Thabari meriwayatkan, dari al-Hasan mengenai firman-Nya:

{ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِيْنٍ }

Engkau ciptakan Aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS Shaad/ 38: 76), al-Hasan berkata:

: قاس إبليس، وهو أول من قاس.) إسناده صحيح(.

Iblis membuat qiyas (perbandingan) –secara batil–, dan dia adalah yang pertama-tama membuat qiyas –secara batil. (sanadnya shahih).

 

Dari Ibnu Sirin, ia berkata:

أول من قاس إبليس، وما عُبِدت الشمس والقمر إلا بالمقاييس إسناد صحيح أيضا.

Yang pertama-tama membuat qiyas (perbandingan) –secara batil—adalam Iblis. Dan tidaklah matahari dan bulan itu disembah kecuali karena qiyas-qiyas –secara batil—itu. (sanadnya shahih). (Tafsir At-Thabari, 12/ 328, dikutip oleh Tafsir Ibnu Katsir 3/393).

 

Dari qiyas batil (menganggap api lebih baik dari tanah yang dilakukan Iblis sebagai contoh nyata yang pertama) itu kemudian biasanya dibuat jalan berupa menghalalkan segala cara. Jadi dua cara batil (yakni qiyas batil dan menghalalkan segala cara) itulah kendaraan empuk bagi aneka aliran sesat. Dalam kasus NII inipun dapat dibuktikan.

 

Korban berikut ini menamakan diri Endang Agustin. Dari posting yang dipublikasikannya di http://nii-alzaytun.blogspot.com/2007/09/saya-mantan-nii.html nampaknya ia korban yang cukup kritis, sehingga tidak merasa seperti dikejar-kejar setan NII karena belum “hijrah”. Selengkapnya sebagai berikut:

 

Saya Mantan NII

Oleh Endang Agustin

 

Sebelumnya perlu diketahui bahwa setiap Desa dan Qobilah/Tim dalam NII memiliki ilmu yang agak berbeda-beda namun pada intinya sama, saya akan menjelaskan secara umum tentang NII. Adapun kesalahan yang dilakukan NII biasanya ditujukan kepada oknum sebagai kambing hitamnya. Seolah mereka yang merasa benar tidak menganggap NII yang salah sebagai bagian darinya.

 

NII atau Negara Islam Indonesia adalah salah satu gerakan Islam di Indonesia. Secara teritorial keberadaan negara ini tidak tampak karena istilah ibukota dan bagian negara lainnya hanyalah bayangan atau mereka sendiri yang menamai. Contohnya, ibukota NII berada di Indramayu tepatnya di Ma’had Az-zaitun sebagai Madinah Indonesia. Struktur negara dibagi menjadi 7 tingkatan: Dewan 1, Dewan 2, Wilayah, Dauroh, Distrik, ODO, Desa.

 

Setiap Desa memiliki RT. Ada pula aturan, setiap RT tidak boleh bertukar informasi. Bisa jadi mereka tidak tahu orang-orang dari RT dengan RT lainnya, apalagi beda desa. Hal ini cukup aneh mengingat surat (49:13): “Bahwa manusia diciptakan berbagai bangsa dan suku untuk saling kenal”. Tujuan mereka tidak dibenarkannya mengenal yaitu tidak lain untuk tidak merusak antara satu dengan yang lainnya di sini terlihat bahwa rapuh sekali konsep jaringannya.

 

Gerakan ini beranggapan bahwa merekalah yang akan membangkitkan Islam di hari kemudian kelak. Memang benar bahwa banyak dalil yang menjelaskan Islam akan berjaya kembali namun tidak ada penjelasan bahwa NII-lah yang menjayaknnya. Hal ini masih ghaib dan tidak ada yang tahu secara pasti seperti yang dijelaskan pada QS An-Naml ayat 65: “Katakanlah: ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.”

 

Historis

 

NII atau Negara Islam Indonesia didirikan pertama kali oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pada tanggal 7 Agustus 1949, kemudian diteruskan oleh beberapa imam hingga akhir ini dipimpin oleh Syeh Panji Gumilang. Gerakan ini mempercayai sunnatullah bahwa kejadian Futuh Mekah akan terulang serupa kembali di Indonesia. Seperti yang telah saya jelaskan, bahwa Sunnatullah yaitu hukum Allah yang telah ditetapkan-Nya atau ketetapan yang tidak akan berubah namun tidak ada penjelasan dalam Al-Quran bahwa kejadian-kejadian dalam Al-Quran akan terulang kembali secara identik.

 

Aqidah

 

Tauhid mereka diambil dari surat Al-Fatihah dan An-Nas karena mereka berpendapat bahwa apabila kita membaca buku pembuka dan penutup maka intisari buku itu akan ditemukan. Kata-kata yang sama di antara 2 surat tersebut dimaknai Trias Politica atau Syarat berdirinya sebuah negara.

 

Pembuka

(Al-Fatihah)

Penutup

(An-Nas)

– Rabbi

– Rabbi

Tuhan semesta alam

Tuhan yang menguasai manusia

 

 

– Malik

– Malik

Menguasai hari pembalasan

Raja manusia

 

 

– Na’budu

– Ilahi

Menyembah

Disembah

 

 

Tauhid mereka yang membedakan dari tauhid yang lainnya yaitu tauhid mulkiyah yang ditujukan pada Malik yang artinya Raja Manusia. Coba kita teliti lebih lanjut apa hubungannya Raja Manusia dengan wilayah/tempat? Ini salah satu pembelokan tafsiran atau pena’wilan. Raja memang punya wilayah tapi yang dimiliki raja bukan cuma wilayah. Kenapa bukan tahta, kekuasaan, kekayaaan, rakyat yang diambil sebagai maknanya. Ini adalah penyempitan pola pikir yang disebut “Ghazwul Fikri”.

 

Oleh karena itu seluruh isi Al-Qur’an dianggap sebuah buku tata negara. Dan ketaatan kepada negara sama saja sepeti ketaatan mereka terhadap Allah. Negara hanyalah sebuah benda mati, yang menggerakkannya adalah para pemimpin. Pimpinan yang menjalankan perintah negara dianggap rasul, sebab menurut mereka tugas rasul menyampaikan isi kandungan Al-Qur’an sama halnya seperti pemimpin.

 

Selanjutnya pada setiap mereka menafsirkan (asma Allah, din, agama, darul) segalanya dihubungkan pada “negara” dan penafsiran (rasul, nabi-nabi termasuk nabi muhammad) dihubungkan kepada “pemimpin negara” karena menurutnya tugas pemimpin negara sama halnya seperti nabi dan rasul yang tidak lain adalah menerapkan isi Al-Quran.

 

Syari’at

 

Syari’at yang ditegakkan hanya menggunakan Al-Qur’an sebagai segala sumber pengambilan keputusan. Karena menurutnya Al-Qur’an adalah buku tata negara yang terdapat segala ilmu kehidupan manusia di dalamnya. Mereka tidak menggunakan hadis dikarenakan menurut mereka banyak yang dhaif, kecuali hadis itu menguntungkan bagi mereka, seperti perintah taat pada pemimpin.

 

Jadi istilah fiqih tidak jelas, atau NII merupakan gerakan LIF (Lintas Ilmu Fiqih) atau Ingkar Sunah. Singkat kata, hukum yang digunakan di NII bersifat setengah-setengah yaitu mengambil syari’at dari Al-Qur’an kemudian dijelaskan menurut tafsiran mereka sendiri.

 

Tafsiran mereka tidak disandarkan pada dalil-dalil yang lainnya melainkan menggunakan logika. Contohnya saja tafsiran mereka seperti pada surat Al ‘Ankabuut ayat 45: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.”

 

Mereka menafsirkan dengan mempertanyakan apakah shalat yang telah kalian lakukan dapat mencegah perbuatan keji dan munkar? Hanya perbuatan langsunglah yang dapat mencegahnya, maka muncullah aturan shalat universal yaitu mengajak orang-orang untuk masuk NII.

 

Adapun contoh lainnya berupa zakat yang kadarnya ditentukan oleh pimpinan bukan berdasarkan hadis.

 

Dari pengertian mereka tentang sunnatulah saja sudah salah, begitu pula hal-hal yang di dalamnya. Seperti halnya sunnatullah yang mereka percaya akan terulang mereka melakuan hijrah dan perang (mengajak orang masuk NII). Namun yang dilakukan banyak sekali perbedaannya dengan zaman dulu, seperti dakwah sembunyi-sembunyi yang telah dilakukan bertahun-tahun. Padahal, Nabi Muhammad dakwah sembunyi-sembunyi hanya berselang 3 tahun, dan itu juga keadaannya berbeda dengan keadaan sekarang ini sebagaimana yang dilakukan oleh NII.

 

Hal lainnya, mengenai futuh Indonesia atau masa kebangkitan NII yang ditetapkan pada tahun 2004 berdasarkan penafsiran sunnatullah mereka, tidak terlaksana hingga sekarang, diundur 2009, bahkan Desa lain ada yang bilang 2010. Saya pernah mencoba mengkalkulasi ulang sebenarnya tahun berapa futuh menurut tafsiran perhitungan mereka. Ternyata seharusnya beberapa puluh tahun silam.

 

Mengapa hadits/sunnah itu perlu digunakan sebagai hukum Islam?

 

Al-Qur’an tidak memberi penjelasan menyeluruh tentang syarat-syarat apa yang mesti dipenuhi dalam ibadah. Persoalan itu diserahkan kepada sunnah Nabi, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Sunnah itu yang menafsirkan yang masih bersifat umum, menerangkan yang masih samar, memperkhusus yang terlalu umum, memberikan contoh konkrit pelaksanaannya, dan membuat prinsip-prinsip aktual dan bisa diterapkan dalam kehidupan manusia. Hal itu karena Rasulullah SAW adalah yang bertanggung jawab menjelaskan Al-Qur’an dengan ucapan, perbuatan, dan ketetapan beliau, dan beliau pulalah yang lebih paham tentang maksud firman Allah dalam Al-Qur’an. Contohnya seperti bagaimana shalat, tahkim/hukum dan syarat menunaikan zakat, hal tersebut tidak dijelaskan di dalam Al-Qur’an.

 

Rasullulah bersabda: “Amma ba’du, sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk urusan adalah hal-hal baru dalam agama, setiap hal yang baru dalam agama adalah bid’ah, setiap bid’ah merupakan kesesatan, dan setiap kesesatan ada di neraka.” HR Muslim, An-Nasai, Abu Daud dan Ibnu Majah.

 

Di bawah ini adalah dalil-dalil Al-Qur’an yang telah “jelas/terang maknanya” tentang pandangan perintah rasul – ingat jangan tafsirkan rasul sebagai pemimpin/imam karena rasul memang pemimpin/imam, tapi buang semua pemimpin/imam itu rasul. Apabila disebutkan rasul-rasul maka rujukannya pada seluruh rasul dan jika hanya rasul maka rujukannya yaitu Nabi Muhammad SAW. Apabila kurang mengerti maka bacalah ayat sebelumnya dan sesudahnya atau silahkan tanya orang yang lebih faham.

 

Bagaimana pandangan orang kafir menurut Al-Qur’an:

 

An-Nisaa’ (4) ayat 150: Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan(*) antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan Kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan Perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),

 

An-Nisaa’ (4) ayat 151: merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.

 

(*) Maksudnya: beriman/percaya kepada Allah, tetapi tidak beriman/percaya kepada rasul-rasul-Nya.

 

Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu:

 

An-Nisaa’ (4) ayat 59: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

 

Perintah taat pada Rasul:

 

Al-Hasyr (59) ayat 7: …Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

 

Nabi Muhammad membawa petunjuk dan penjelas:

 

Ash-Shaff (61) ayat 9: Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.

 

Rasul menjelaskan dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan:

 

Al-Maa’idah (5) ayat 15: Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan (*).

 

(*) Cahaya maksudnya: Nabi Muhammad SAW, dan Kitab maksudnya: Al-Qur’an.

 

Ibarat sebuah lampu pijar, pelitanya adalah Al-Qur’an dan cahayanya sebagai penjelas adalah Hadis.

 

Taatilah Allah dan taatilah Rasul:

 

Dalilnya: (47:33), (33:31), (2:285), (48:17), (49:17), (3:132), (4:13), (24:52), (24:54), (9:71).

 

Az-Zumar (39) ayat 33: Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

 

Perjuangan

 

Seperti yang telah saya singgung di atas bahwa NII tidak memiliki hukum yang jelas, begitu pula syariah ibadah/perjuangannya tidak jelas, apakah itu wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram.

 

Apabila dilihat dengan seksama dari apa yang dilakukan aktivis NII, mereka semua menjurus pada mengumpulkan uang untuk negara, kurang-lebih untuk kebutuhan politik, dari mulai shalat universalnya untuk target uang shadaqah, tahkim atau hukuman bagi yang bersalah harus mengeluarkan dam/denda, begitu pula zakat/shadaqah mulai dari ratusan ribu hingga ratusan juta yang dalilnya tidak jelas hanya sebatas taat pada pimpinan. Padahal segala sesuatu ada rujukannya/dalilnya. Mereka yang menjalakan ibadah seperti itu sebenarnya subhat, dikarenakan mereka hanya menjalakan saja atas dasar sumpah ketaatan mereka kepada pimpinan.

 

Rasulullah Bersabda: “Amma ba’du, sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk urusan adalah hal-hal baru dalam agama, setiap hal yang baru dalam agama adalah bid’ah, setiap bid’ah merupakan kesesatan, dan setiap kesesatan ada di neraka.” (HR Muslim, An-Nasai, Abu Daud dan Ibnu Majah).

 

Apabila anda menannyakan kepada pencuri kenapa dia mencuri, maka dia akan mejawab: “saya melakukan ini untuk menafkahi keluarga saya.” Dari kasus tersebut yang kita lihat bahwa niat dari pencuri untuk menafkahi keluarga adalah tugas mulia, namun jika dilakukan dengan cara yang salah tetap saja salah. Hal serupalah yang dilakukan aktivis NII untuk menjalakan perjuangannya dengan niat yang benar untuk menegakkan syari’ah Islam namun dilakukan dengan cara yang salah.

 

Apa yang menyebabkan umat NII melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya?

 

1. Fa’i atau rampasan perang. Menurut mereka keadaan sekarang sedang perang jadi harta orang di luar NII (kafir) boleh diambil.

 

2. Nukson atau krisis keuangan. Pada beberapa Desa memiliki target mendapatkan uang yang tinggi sekali yang harus diserahkan kepada negara tiap bulannya. Ada kalanya Desa itu tidak mendapatkan umat baru. Loh apa hubungannya umat baru dengan target keuangan Desa? Setiap umat baru yang berhasil mereka doktrin diwajibkan membayar shadaqah tuk membersihkn diri dikarenkan keadaan mereka yang sebelumnya kafir (banyak dosa) menuju tempat suci harus dibesihkan dengan jumlah uang yang jumlahnya mulai dari jutaan sampai puluhan juta.

 

Bagaimanapun ceritanya Desa harus mencapai target keuangnnya, maka saat krisis umat diharuskan mengeluarkan uang dengan segala cara, entah itu berhutang, jual atau gadai barang, puasa tidak makan bahkan sampai menipu orangtua dengan alasan uang kuliah, les atau menghilangkan barang teman. Setiap orang akan memetik buah amalnya sendiri, perilaku mereka yang menyimpang dari moral mengakibatkan mereka dipandang buruk oleh orang sekitar.

 

Sekali lagi saya ingatkan bahwa setiap ibadah ada tata cara/rujukan/dalilnya. Dan janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu:

 

Al-Maa’idah (5) ayat 77: Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah
kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.”

 

Ibadah adalah amalan yang mulia, apakah pantas dilakukan dengan cara berbohong (menipu). Mengingkari ayat-ayat Allah, mencampur-adukkan antara yang haq dengan yang bathil dan menyembunyikan kebenaran:

 

Ali ‘Imran (3) ayat 70: Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah(*), padahal kamu mengetahui (kebenarannya).

 

Ali ‘Imran (3) ayat 71: Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur-adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran(*), padahal kamu mengetahuinya?

 

Kesimpulan: Siapakah yang benar dalam beribadah menurut padangan Al-Qur’an dan Hadis?

 

Dalam salah satu hadits masyhur, Rasulullah SAW bersabda, “…Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga kelompok, setiap kelompok akan masuk neraka kecuali satu saja.” Para sahabat bertanya, “Kelompok apa itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH (artinnya: Mereka yang keadaannya seperti keadaanku dan sahabat-sahabatku saat ini).

 

Penjelasan:

 

Suatu saat umat Islam akan terpecah menjadi banyak sekali kelompok-kelompok, golongan-golongan, manakah yang benar? AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH bukan
aliran tapi sebutan bagi mereka yang menjalankan ibadah sesuai dengan Al-Qur’an
dan Hadits (petunjuk Nabi Muhammad) seperti zaman Nabi Muhammad SAW dulu, selain daripada itu adalah salah (telah menyimpang). Sebutan-sebutan ini seperti halnya sebutan kaum mu’min kepada kaum/kelompok/golongan orang beriman ataupun kaum musyrikin kepada kaum yang syirik kepada Allah SWT.

 

Tidak ada perubahan aturan ibadah yang telah ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW karena agama Islam telah sempurna saat Haji Wada:

 

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al – Maidah, 5:3).

 

Yang dimaksud dengan hari ialah: masa, yaitu: masa haji wada’, haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi Muhammad s.a.w.


Wassalamu’alaikum wr wb.


Endang Agustin

Email [email protected]


Contact me : [email protected]

Aji Cemerlangdi 20:29

 

Demikianlah pengakuan dari orang yang telah mengalami di dalam nii, dengan kesimpulan: bahwa NII tidak memiliki hukum yang jelas, begitu pula syariah ibadah/perjuangannya tidak jelas, apakah itu wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram.

 

Apabila dilihat dengan seksama dari apa yang dilakukan aktivis NII, mereka semua menjurus pada mengumpulkan uang untuk negara, kurang-lebih untuk kebutuhan politik, dari mulai shalat universalnya untuk target uang shadaqah, tahkim atau hukuman bagi yang bersalah harus mengeluarkan dam/denda, begitu pula zakat/shadaqah mulai dari ratusan ribu hingga ratusan juta yang dalilnya tidak jelas hanya sebatas taat pada pimpinan.

 

Khabar terkini soal NII juga terus dirilis oleh beberapa mantan NII, melalui berbagai blog pribadi. Sebagaimana bisa dilihat di http://tandisiregar.blogspot.com/ melalui tulisan berjudul Mengungkap NII-Al Zaytun (KW9) dan GOLKAR, PKPB, HANURA: Perkembangan Terakhir NII KW9 dan Ma’had Al Zaytun, diungkap keterkaitan NII dengan beberapa parpol, sebagai berikut:

 

Mengungkap NII-Al Zaytun (KW9) dan GOLKAR, PKPB, HANURA

Perkembangan Terakhir NII KW9 dan Ma’had Al Zaytun

 

If you can’t beat them, join them. Itu sepenggal peribahasa dari Barat, yang kini sedang menjadi ancang-ancang NII KW9 dan Ma’had Al Zaytun. Begitu banyak serangan dari mantan teman-temannya sendiri (bukan musuhnya ya, baca: Republik Indonesia) lama-lama bikin gerah Panji Gumilang juga. Perjalanan NII KW9 sejak reformasi di negara ini mengarah ke satu titik yang jelas, kompromistis.

 

Dalam doktrinnya, memang sedang berjuang dan di luar kelompoknya adalah kafir. Bahkan menggunakan hujjah, Nahnu Qaumun Yuharibu biduni ma’unatil Musyrikin (maaf kalau ada yang salah kata). artinya, kami adalah orang yang berjuang tanpa meminta bantuan dari orang-orang musyrik, dalam hal ini orang RI. Namun, apa lacur, hujjah itu hanya untaian kata tanpa isi.

 

Tahun 1999, mas’ul fungsional yang menetap di Al Zaytun dikomando untuk nusuk GOLKAR. Tahun 2004, mas’ul fungsional diperintah imamnya untuk nusuk Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) yang dipimpin R. Hartono dan Tutut. Tak lama berselang, setelah negosiasi kompensasi uang=suara dengan Wiranto, mas’ul fungsional dan teritorial dikerahkan ke Al Zaytun untuk nusuk calon pasangan presiden Wiranto-Salahuddin Wahid. Bayangkan 13.000 suara bulat untuk pasangan tersebut. Tentang penusukannya sendiri, anda pasti sudah tau kelanjutannya tentang ramainya kasus penggelembungan suara ini dibicarakan. lebih menyedihkan lagi, santri-santri Zaytun juga dipaksa nusuk.

 

Kini, Al Zaytun di bawah naungan Partai Hati Nurani Rakyat (HANURA) pimpinan Wiranto untuk membantu memenangkan calonnya ke kursi kepresidenan. Taukah umat NII KW9? Barangkali. Tapi beranikah mereka kritis menanggapi ini? Tidak akan. Apa pasal? Mereka digambarkan bahwa Wiranto sudah menjadi bagian dari mereka dan merupakan pintu untuk mencapai futuh. Karena harus taat dengan ulil amri, ya percaya saja. Sampai sini anda sudah bisa menebak kan siapa menggalang siapa.

 

Sah-sah saja memang di negara yang tidak jelas ini melakukan itu semua, apalagi azas demokrasi ukurannya. Tapi, apakah begitu mudahnya aqidah digadaikan atas nama perjuangan, walaupun meminta bantuan kepada orang musyrik? Entahlah. Tapi itu yang diyakini sekarang.

 

Politik pencitraan yang dilancarkan Panji Gumilang telah lama dilakukan. Panji mampu membayar dan menginstruksikan semua jamaah untuk membeli oplah beberapa media cetak yang menjadi corongnya. Salah satu di antaranya majalah Garda. Bayangkan, untuk artikel biasa saja, Panji menjamin pembelian 2.000 eksemplar di luar uang yang dibayar dimuka. Berhasilkah? Ya. tapi di lakalangan mereka sendiri untuk menaikkan semangat umat. Di luar, citranya masih belum membaik. Buktinya, ketika dia membayar sebuah Koran untuk memuat dirinya sebagai calon DPRD di Jawa barat, ramai-ramai orang menjegalnya.

 

Dari kaum muslimin, ada beberapa langkah yang membuat Panji berbelok meminta dukungan dari kaum sepilis (sekuler, pluralis dan liberalis). Tahun 2002, FUUI membuat fatwa sesat tentang ajaran NII KW9, tahun 2003 MUI mengeluarkan penelitian yang menghasilkan hal yang sama dengan FUUI, tahun 2004 Litbang Depag memperuncing penelitian MUI. Hasilnya, NII KW9 sesat menyesatkan dan jelas hubungannya dengan Ma’had Al Zaytun. Untuk penelitian Depag sudah ada buku yang diterbitkan tentang perkara ini.

 

Melihat perkembangan tersebut, Panji yang tahun 2003 diangkat menjadi ketua Alumni IAIN Syarif Hidayatullah merapat terus ke tokoh-tokoh ynag menempatkan dirinya menjadi tokoh Islam moderat, seperti Nurcholish Madjid dan Azyumardi Azra. Untuk membuktikan bahwa Zaytun tidak radikal dan bukan NII, Panji membangun gedung kalimatun sawa (kalimat yang sama) yang menampung santri dari Kristen, Katolik, Budha, Hindu dll. Tambah runyam jadinya. Umat Kristen dijadikan teman, umat Islam dikafirkan. Contoh yang gres, ketika pendeta Katolik datang ke Zaytun disambut dengan shalawat badar. Sedangkan umat Islam yang datang, tidak akan ditemui Panji kecuali membawa uang sumbangan minimal 100 juta.

 

Memang, hal-hal yang tersebut di atas merupakan kebohongan bila dilihat dari dalam NII KW9. Bila dilihat dari luar, betapa nistanya perjuangan yang sedang dijalankan.

 

Keterkaitan NII ternyata tidak hanya dengan sejumlah parpol, tetapi juga dengan kalangan sepilis, termasuk tokoh-tokoh sepilis yang menjadi petinggi UIN. Begitulah, ibarat burung, mereka cenderung berkawan dengan sesamanya.

 

(Bersambung, Insya Allah)