Kiri: Gubug reot yang dihuni Sahawiyah, ibu dan enam anaknya di Kelurahan Ammassangang, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Kanan: Mobil Mewah Nikita Willy, Kado Ultah Seharga 3,4 Miliar

BETAPA BERUNTUNGNYA NIKITA WILLY, gadis kelahiran Jakarta  29 Juni 1994, putri pertama pasangan Henry Willy dan Yora Febrine asal Minang ini, pada saat merayakan ulang tahun ke-17 mendapat hadiah sebuah mobil mewah seharga Rp 3,4 milyar. Mobil mewah Cadillac Escalade ESV berwarna putih ini merupakan salah satu kendaraan termewah di dunia yang lazim dimiliki selebriti Hollywood.

Hadiah mewah itu diterimanya dari sang kekasih bernama Bara Tampubolon (kelahiranJakarta tahun 1985), putra pengacara kondang Juan Felix Tampubolon yang banyak memangani kasus-kasus keluarga Cendana.

Nikita disebut beruntung, karena banyak anak-anak Indonesiaseusianya yang boro-boro bisa bermimpi punya mobil mewah seharga milyaran rupiah, bisa bermimpi mampu bayar uang keperluan sekolah saja rasanya cukup sulit.

Misalnya, sebagaimana terjadi pada seorang gadis belia berusia 16 tahun bernama Ari Setyani, siswi kelas X jurusan Tata Boga SMKN 1 Jenar, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah ini, tidak bisa mengambil buku rapor semester ganjil karena belum melunasi uang gedung sebesar ‘hanya’ Rp 800.000, meski ia termasuk salah satu siswi berprestasi.

Suyono (46 tahun), orangtua Ari Setyani, sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. Dana sebesar itu, bagi mereka tidaklah sedikit. Namun Suyono tidak lari dari tanggung jawab. Suyono sudah berdialog dengan pihak sekolah untuk diberi tempo yang cukup memenuhi kewajiban membayar uang gedung. Namun menurut Suyono, “…pihak sekolah tetap ngotot kalau rapor anak saya baru bisa diambil setelah uang gedungnya lunas. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana…”

Karena kecewa, akhirnya Suyono mengadu ke LSM Formas (Forum Masyarakat Sragen) pada hari Ahad tanggal 03 Januari 2011. Bila pengaduan Suyono benar, menurut Sri Wahono (Wakil Ketua Formas), “… tindakan pihak sekolah seperti itu  telah mencoreng dunia pendidikan, seharusnya pihak sekolah tidak bertindak sewenang-wenang terutama bagi wali murid yang tidak mampu, apalagi pihak walimurid sudah menyatakan kesanggupan menutup biaya, meski masih butuh waktu.”

Di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, sebuah lembaga pendidikan madrasah dinyatakan bubar akibat orangtua murid tidak mampu membayar biaya sekolah. Sejak pertengahan Desember 2010, proses belajar mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Hidayatus Sibyan, yang berlokasi di Jalan Syech Muhammad Arsyad Albanjari Desa Limamar Kecamatan Astambul ini, sudah tidak menentu, karena orangtua murid tidak mampu memenuhi biaya operasional sekolah untuk membayar gaji atau insentif tenaga pengajar.

Di lembaga pendidikan swasta ini, ada sekitar enam orang tenaga pengajar, ditambah seorang kepala sekolah, dan jumlah siswa-siswi mencapai 130 orang. Sistem pembayaran yang diterapkan adalah setiap murid menyerahkan sekitar 20 liter gabah satu tahun sekali atau setiap panen. Gabah yang terkumpul kemudian dijual, dan hasil penjualan berupa uang tunai dibagikan kepada seluruh tenaga pengajar yang ada. Termasuk untuk menutupi biaya operasional. Namun karena hasil pertanian di sana mengalami penurunan drastis, maka sistem pembayaran dengan gabah macet. Biaya operasional sekolah pun tak bisa dipenuhi.

Menurut Darmili (Ketua Majelis Madrasah Hidayatus Sibyan), Jumat 21 Januari 2011, pihaknya sudah menyampaikan permasalahan yang terjadi di lembaga pendidikan Islam ini kepada aparatur desa, dan konon sudah ada pertemuan lanjutan untuk membahas permasalahan yang ada. Dari sekitar 130 siswa-siswi, sebagian memilih pindah sekolah, sebagian besar lainnya terancam putus sekolah karena orangtua mereka yang tak mampu.

Di Demak, Jawa Tengah, ada remaja pria bernama Shobar tak mampu membayar ujian akhir termasuk ujian nasional sebesar Rp1.904.000 karena tak terjangkau. Shobar adalah warga RT 7 RW 3 Desa Menur, Kecamatan Mranggen, Demak, Jawa Tengah, yang menjadi siswa di jurusan Multimedia SMK Al Kautsariyah, Desa Jamus, Mranggen. (Okezone, Selasa, 15 Maret 2011).

Orangtua Shobar, Lianah (58 tahun) adalah janda beranak delapan, dan Shobar merupakan anak bungsunya. Kegiatan sehari-hari Lianah adalah membuat Tali Tampar dengan penghasilan per hari sebesar Rp 6.000. Meski sudah dibantu oleh anak-anaknya, termasuk Shobar, biaya sebesar hampir dua juta rupiah itu bagi Lianah dan keluarganya sangatlah besar.

Di kawasan Sukawati, Bali, tiga siswa-siswi SMK Saraswati terpaksa dipulangkan karena tidak mampu bayar SPP. Mereka adalahNovi, I Wayan Jariana dan Kerta Wiyoga, semuanya siswa kelas satu. Selain dipulangkan, ketiganya juga tidak dibenarkan mengikuti ujian semester sebelum melunasi SPP. Selain di SMK Saraswati, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali ini, kasus serupa juga terjadi di Buleleng dan Karangasem.

Menurut I Nyoman Parta (anggota DPRD Provinsi Bali), sikap pihak sekolah sungguh keterlaluan. “Seharusnya, pihak sekolah sebelum melakukan itu dapat menempuh jalan musyawarah terlebih dahulu.” (bali.antaranews.com, 23 Mei 2011).

Di Kabupaten Polewali Mandar (Sulawesi Barat), ada sebuah keluarga super miskin yang sebagian anak-anaknya dari enam anak sama sekali tidak pernah merasakan duduk di bangku sekolah. Tiga lainnya, sempat menikmati bangku sekolah berkat bantuan sebuah lembaga pemerhati pendidikan dan anak telantar. Namun ketiganya terancam tidak bisa melanjutkan pendidikan, karena tidak mampu membayar biaya seragam yang besarnya ‘hanya’ Rp 500.000 per anak  (untuk empat jenis seragam: putih merah, batik, olahraga dan pramuka).

Sahawiyah, ibu enam anak yang tinggal di sebuah gubuk reot yang jauh dari permukiman warga dan berbatasan dengan hutan di Kelurahan Ammassangang, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, hanya bisa pasrah: “Saya, sih, maunya semua anak saya tidak ada yang buta huruf seperti saya dan bapaknya. Tapi karena kami tak mampu, ya, kami terima apa adanya saja.”

Begitu juga dengan Hasniwati salah satu anak Sahawiyah yang baru saja tamat SD, hanya bisa pasrah: “Kalau tidak bisa lanjut, ya, terpaksa ikut bantu-bantu orangtua di sawah…”(Kompas 31 Mei 2011).

Sementara itu Julianti salah seorang pemerhati pendidikan dan anak telantar di Polewali Mandar, yang terlibat mendorong tiga dari enam anak Sahawiyah untuk bersekolah, menjanjikan, “Kami sedang mendorong pemerintah agar kewajiban seragam sekolah tak berlaku kepada semua sekolah, untuk meringankan orangtua siswa yang tidak mampu.”

Rupanya, uang sebesar Rp 500.000 sangat sulit diperoleh oleh keluarga super miskin ini. Padahal, uang sebesar itu bagi Nikita Willy, barangkali hanya semacam recehan yang begitu mudah keluar dari dompetnya tanpa harus dipikir dua kali. Apalagi, konon, honor Nikita Willy sekali shooting mencapai Rp50 juta. Sebuah angka rupiah yang sangat mustahil dimiliki keluarga Sahawiyah.

Di Jember, Jawa Timur, sejumlah siswa kelas X SMA 3 di sana, tidak bisa menerima buku rapor masing-masing, karena belum melunasi biaya uang gedung sekolah yang besarnya mencapai Rp3 juta. Namun, tidak sekaligus dibayar. Melainkan dicicil sebanyak tiga kali. Setiap wali murid diminta membayar angsuran sebesar Rp 250 ribu saat mengambil rapor. Namun, meski sudah diberlakukan sistem pembayaran yang dianggap meringankan, masih ada saja orangtua murid yang tidak punya uang saat mengambil buku rapor anaknya (17 Juni 2011).

Menurut Tatang Priyanggono (pelaksana tugas Kepala SMA Negeri 3 Jember), pihak sekolah sudah melakukan sosialisasi secara lisan dan tertulis agar orangtua murid bisa mengangsur pembayaran uang gedung sekolah. Selain itu Tatang juga mengatakan, pihak sekolah memberikan toleransi kepada siswa yang belum melunasi biaya perawatan gedung sekolah, dan sama sekali tidak menahan buku rapor siswa.

Di Jakarta, ada Fiona (16 tahun) siswi SMKN 12 Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara yang baru saja naik ke kelas 11, namun belum bisa menerima buku rapor karena orangtuanyabelum bisa melunasi uang pembangunan sebesar Rp 2,5 juta. Namun menurut Hary Petrus (Kepala sekolah SMKN 12 Kebon Bawang), tidak ada tindakan menahan buku rapor siswa. “…setahu saya memang ada rapot yang saat ini belum diambil oleh beberapa orangtua murid. jadi bukan ditahan.” (Poskota, Rabu, 6 Juli 2011).

Selain Fiona ada siswa kelas 12 SMAN 80 Sunter Agung, Jakarta Utara, yang belum bisa menerima buku rapor karena belum melengkapi pembayaran uang pembangunan Mushola dan pagar sekolah sebesar Rp2 juta dari total Rp4 juta. Menurut salah seorang wali murid, seharusnya kekurangan Rp2 juta dicicil sampai siswa yang bersangkutan lulus, ternyata harus dilunasi saat itu juga.

Menurut Kepala Sekolah SMAN 80 Sunter Agung, memang ada kesepakatan antara orangtua murid dan komite sekolah berkenaan dengan uang pembangunan, namun tidak dipaksakan. “… kalau tidak mampu bisa mengajukan surat keterangan tidak mampu dari RT/RW setempat. Kalau mampu bisa dicicil. Kami telah membebaskan 70 siswa.” (Poskota, Rabu, 6 Juli 2011).

Di Mandau, Duri, Bengkalis, Provinsi Riau, ada Yesica Manulang yang sempat terancam tidak bisa masuk SMKN 1 Mandau, karena orangtuanya tidak sanggup membayar uang masuk sebesar Rp 6 juta sekaligus. Lemiana (45 tahun) orangtua Yesica sempat menangis di depan salah seorang guru SMKN 1 Mandau untuk meminta keringanan pembayaran. Namun sang oknum guru tersebut, sebagaimana ditirukan Lemiana, mengatakan: “Kalo tak bisa membayar, masih banyak anak yang ingin sekolah di sini.”

Lemiana juga sempat mengkomunikasikan permasalahan yang dihadapinya dengan salah seorang anggota komite sekolah. Namun ia mendapat jawaban yang tak menggembirakan. Sebagaimana ditirukan Lemiana, anggota komite sekolah itu mengatakan, “…kalo tak mampu bayar itu jadi urusan ibu! Kenapa memaksakan diri menyekolahkan anaknya ke SMK.”

Menurut Miswardi (Wakil Kepala Sekolah SMKN 1 Mandau), bagi orangtua yang tak mampu membayar uang masuk, bisa mengkonfirmasikan ke pihak sekolah. “Untuk jurusan Teknik Komputer dan Jaringan, tiap anak diharuskan memiliki perangkat komputer sendiri. Dan kami menetapkan kapasitas kecepatan harus minimal Core 2 Duo. Namun bila yang bersangkutan telah memilikinya, tak perlu mengeluarkan biaya lagi.”

Namun, ketika Lemiana survei harga komputer dengan spesifikasi yang ditentukan pihak sekolah, ternyata harganya lebih mahal. Ia jelas tidak mampu. Akhirnya Lemiana mendapat keringanan sistem pembayaran, namun pada akhir Juli 2011 biaya tersebut harus sudah dibayarkan.

Menurut Sugito (Kepala Sekolah SMKN 1 Mandau), sejak awal pihak sekolah sudah mengimbau kepada orangtua calon murid, bahwa “…selain lolos seleksi, calon peserta didik juga harus bersiap biaya yang cukup besar, karena memang pada jurusan TKJ akan menghadapi praktikum yang membutuhkan perangkat komputer.”

Biaya pendidikan yang berkualitas memang mahal. Tapi, itu merupakan kewajiban pemerintah. Rakyat, justru berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Kalau pendidikan berkualitas dengan harga mahal harus ditanggung sendiri oleh peserta didik, maka yang pinter dan berkualitas hanya anak orang kaya. Bagaimana nasib si miskin?

Barangkali hal-hal seperti ini belum terfikir oleh sosok muda seperti Nikita Willy.

Fenomena njomplang antara yang kaya dengan yang miskin seperti di atas, konon bukan hal yang aneh dan asing bagi masyarakat Indonesia ini. Ada yang tidur dalam keadaan perutnya kekenyangan, namun tak jauh darinya ada yang tak bisa tidur karena kelaparan. Ada yang mati karena kelaparan, namun tak jarang ada yang mati karena kekenyangan.

Benarlah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ (البخارى فى الأدب ، وأبو يعلى ، والطبرانى ، والحاكم ، والبيهقى ، والخطيب عن ابن عباس)

أخرجه البخارى فى الأدب المفرد (1/52 ، رقم 112) ، وأبو يعلى (5/92 ، رقم 2699) ، والطبرانى (12/154 ، رقم 12741) ، قال الهيثمى (8/167) : رجاله ثقات . والحاكم (4/184 ، رقم 7307) ، وقال : صحيح الإسناد . والبيهقى (10/3 ، رقم 19452) ، والخطيب (10/391) . وأخرجه أيضًا : البيهقى فى شعب الإيمان (3/225 ، رقم 3389) .

Bukanlah mukmin orang yang (perutnya) kenyang sedang tetangganya lapar di sampingnya. (HR Al-Bukhari dalam Al-Adab, Abu Ya’la, At-Thabran, Al-Hakim dengan berkata sanadnya shahih, Al-Baihaqi, dan Al-Khathib dari Ibnu Abbas. Al-Albani mengatakan, shahih karena lainnya dalam riwayat Al-Hakim dari Aisyah).

Bahkan ada ancaman dari Allah Ta’ala:

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ﴿٤٢﴾ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ ﴿٤٣﴾ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ﴿٤٤﴾

042. “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” 043. Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,044. dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, (QS Al-Muddatstsir/74: 42, 43, 44).

وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ ﴿٢٧﴾ لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ ﴿٢٨﴾ لَوَّاحَةٌ لِّلْبَشَرِ ﴿٢٩﴾

027. Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? 028. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. 029. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. (QS Al-Muddatstsir/ 74: 27, 28, 29).

Sadarlah wahai para manusia, kemewahan di dunia akan ditanyakan di akherat kelak, dari mana diperolehnya dan untuk apa digunakannya. Ketika di dunia ini tidak memberi makan orang miskin saja, di ayat itu diancam dicemplungkan ke neraka saqar. Mari kita selamatkan diri kita sebelum harta dan kemewahan itu justru akan menjadi siksa kelak di akherat.

(haji/tede).

Foto: bisikbisikartis dan sumber lain