Wacana penutupan lokalisasi Dolly di Surabaya kembali dilontarkan. Kali ini, wacana penutupan tengah diseriusi parpol dan ormas Islam. Namun, sebelum menutup lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara ini, masih dicarikan solusi terbaik berkaitan dengan penanganan masalah yang akan muncul pasca-penutupan.

Pertemuan pembahasan penutupan Dolly ini dihadiri PWNU Jatim, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim. Perwakilan dari MUI Jatim, KH Abdurahman Navis, menyebutkan, pertemuan yang digelar di RM Agis ini, untuk mencari solusi yang terbaik agar tidak menimbulkan masalah lagi setelah ditutup.

“Kami paham, banyak masalah sosial ekonomi yang berhubungan dengan prostitusi Dolly. Tidak melulu masalah agama. Karenanya kami mengundang berbagai elemen masyarakat, khususnya ulama dan pemerintah, untuk duduk bersama,” jelas Abdurrahman, Kamis (17/11).

Bahkan, MUI akan juga mengundang mantan Gubernur DKI Sutiyoso untuk berbagi pengalamannya, yang dulu sukses menutup lokalisasi Kramat Tunggak dan sekarang dijadikan Islamic Centre.

Sementara itu, NU juga mendukung wacana penutupan serta mencari solusi untuk lokalisasi Dolly. Perwakilan dari PWNU Jatim, KH Abdul Matin menyatakan sangat mendukung rencana penutupan Dolly. Ia percaya, penutupan tempat maksiat ini akan membawa dampak baik bagi Indonesia, khususnya warga Jawa Timur.

Menurutnya, jika kemaksiatan dibiarkan merajalela di suatu wilayah, akan mengundang kemudharatan yang lebih besar.

“NU sepenuh hati mendukung rencana ini. Tapi tentu saja harus dicarikan penyelesaian yang baik buat masyarakat yang hidup dari dunia haram ini. Untuk para pelakunya, yakni para WTS, juga mesti dibekali dengan keterampilan tertentu agar bisa tetap hidup layak setelah lepas dari jeratan prostitusi,” pungkasnya, dalam laman NU.*

Rep: CR2

Red: Syaiful Irwan

Kamis, 17 November 2011 Hidayatullah.com

(nahimunakr.com)