NU Jatim Dukung Penutupan Pusat Pelacuran Dolly

Top of Form

Bottom of Form

Surabaya, Bhirawa

Sikap tegas Gubernur Jatim Dr H Soekarwo SH Mhum akan menutup tempat pelacuran terbesar se Asia Tenggara Dolly, mendapat sambutan baik dari PW NU Jatim. Bahkan PW NU tidak hanya mendukung malahan mendesak agar penutupan itu dilakukan secepatnya.
“Makin cepat makin baik, karena warga Surabaya terlepas dari maksiat dan dosa,” tegas KH Miftakhul  Achyar, Mustasyar PW NU Jatim kemarin.

Seharusnya semua pihak yang cinta akan amar makruf nahi munkar ikut mendukung keinginan gubernur untuk menutup tempat pelacuran Dolly tersebut.

Menurut Kiai Miftakh, selain soal perzinaan di dalam Alquran sangat jelas dan keras pelarangannya, juga kalangan masyarakat dipastikan akan risih dan sangat terganggu dengan keberadaaan tempat maksiat tersebut. Disamping itu dampak yang ditimbulkan sangat besar, baik moral maupun kesehatan seperti terjangkitnya penyakit HIV AIDS dan lain sebagainya.
Makanya Rapat Harian PW NU yang digelar pada 2 Nopember lalu, selain dengan tegas  melarang perdagangan syahwat, juga mendukung Gubenrur dan mendesak percepatan pembubaran Dolly.

Ketika disinggung soal kompensasi atau relokasi, dengan tegas secepatnya kiai Miftakh menyampaikan penolakannya, dikatakan tidak perlu melakukan relokasi atau kompensasi segala macam.

“Sebaiknya para penjaja syahwat itu disadarkan dan diarahkan ke jalan yang benar, sehingga mereka ada kesempatan menjadi orang baik dan tidak lagi menjual diri,” tegasnya.
Kiai Miftakh sangat yakin rencana penutupan Dolly itu akan berhasil asal saja ada niatan yang baik dan ada dukungan penuh dari semua lapisan masyarakat.

Semua pihak ikut serta aktif melakukan pemberantasan terhadap tempat  berbuat dosa itu.
“Sudah bukan rahasia lagi tempat maksiat ini biasanya jadi tempat persembunyian dan bersenang-senang para penjahat mulai kelas teri sampai kakap,” jelasnya lagi. [ma]

Friday, 05 November 2010 02:21 Media Online Bhirawa

(nahimunkar.com)