Obituari:

Ir. H. Muhammad Umar Alkatiri

 

إِناَّ ِللهِ وَإِناَّ إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ

“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”

 

Artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.

Kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya, baik besar maupun kecil.

 

SEBUAH pesan singkat diterima redaksi nahimunkar. Isinya berita duka: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun. Telah berpulang Ir. H. Muhammad Umar Alkatiri dalam usia 52 tahun.

Pria kelahiran Bandanaira pada 01 November 1956 ini adalah lulusan Fakultas Tehnik Universitas Muhammadiyah, Jakarta. Menikah dengan Hj. Saqinah pada tahun 1984, dikaruniai tiga orang putra-putri. Anak pertamanya, Nadia, perempuan satu-satunya, merupakan lulusan pertama Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah, Jakarta, dan sudah menikah namun belum memberikan cucu. Dua anak almarhum lainnya laki-laki, yaitu Umar dan Wildan. Umar kini melanjutkan pendidikan program D-III pada lembaga pendidikan teknik yang didirikan Astra, di Sunter. Wildan masih SMA.

Sejak pertengahan Mei 2008, almarhum divonis menderita kanker usus besar. Sebagaimana diceritakan almarhum sendiri kepada kawan-kawanya: “Menurut dokter usia ana masih dapat bertahan hingga enam bulan ke depan, bila tidak segera dioperasi,” begitu penjelasan almarhum semasa hidupnya tanpa beban.

Namun, almarhum lebih memilih tidak dioperasi, dan menempuh pengobatan herbal, meski pihak keluarga sudah sangat siap untuk membawanya ke tahapan operasi. Almarhum ketika itu tetap bersikukuh tidak mau dioperasi, dengan alasan: “biaya operasi lumayan besar, toh belum tentu berhasil. Kalau akhirnya meningal juga, sementara biaya sudah dikeluarkan, maka itu akan merepotkan keluarga saja.”

Sepanjang hidupnya, almarhum terkesan seperti orang yang tidak punya rasa takut kepada apapun juga, kecuali Allah. Bahkan, ketika informasi tentang ajalnya sendiri yang disampaikan dengan alasan medis oleh dokter, tidak sedikit pun tergurat ketakutan atau sejenisnya. “Ana sudah ikhlas. Kalau memang hidup ana lebih baik menurut pertimbangan Allah, ana syukuri. Begitu juga bila menurut Allah sebaliknya, ana ikhlas.”

Sudah sejak lama, bahkan konon sejak kecil, almarhum memang bermasalah dengan persoalan BAB (buang air besar), namun tidak pernah dipedulikan. Selain dikenal pemberani, almarhum juga dikenal tidak terlalu peduli dengan kesehatan dan keamanan dirinya. Bahkan almarhum berani pasang badan dalam rangka membela teman-temannya yang benar (di jalan Allah), meski untuk kasus-kasus yang potensial berdarah-darah. Bahkan cuaca buruk tidak digubrisnya untuk menjalankan dan membela sesuatu yang diyakininya membela agama Allah.

Meski menderita sakit, almarhum masih berfikiran jernih, tatapannya masih tajam, begitu juga dengan suaranya yang masih terdengar lantang. Bahkan, di bulan Oktober 2008 lalu, almarhum masih sempat menyumbangkan beberapa tulisannya untuk nahimunkar.com, antara lain berjudul UIN Sunan Kalijaga Menyelundupkan Pluralisme (October 15, 2008 4:49 am), Memperingati Tragedi Bom Bali, Pembantaian Muslimin di Tobelo-Galela dan Pesantren Walisongo (October 19, 2008 10:27 pm), serta Kristen-Katholik dan Hindu Bertingkah (October 21, 2008 1:22 am).

Selama ini almarhum dikenal sebagai sosok yang setia kawan, suka menolong kawan-kawannya baik dalam bentuk tenaga maupun  materi. Semua kawan-kawannya yang kesulitan, pasti dibantu semampunya. Selain itu, almarhum juga dikenal sebagai sosok yang penuh vitalitas, energik, tidak pernah sakit-sakitan. Banyak yang tidak percaya ketika dikabari almarhum sakit. Parah pula. Beberapa rekan kerja dan bisnisnya tidak percaya ketika dikabari almarhum menderita sakit parah. Karena, ketika ditelepon, akan terdengar suaranya yang segar tidak seperti orang sakit. Bahkan banyak yang tidak percaya ketika pada tanggal 22 Desember 2008/ 24 Dzulhijjah 1429H jam 07:00 WIB sosok energik tersebut sudah menghadap Sang Maha Kuasa.

Almarhum menghembuskan nafas terakhir di HCU (High Care Unit) Paviliun Baabussalam Rumah Sakit Islam Jakarta, lantai 3, setelah dua hari sebelumnya memasuki masa kritis. Dari RSI Jakarta, jenazah disemayamkan sejenak di rumah duka di kawasan Otista (tak jauh dari terminal Kampung Melayu). Sebelum Dzuhur dibawa ke sebuah masjid tak jauh dari kawasan pekuburan Kober. Setelah shalat Dzuhur, dilanjutkan dengan shalat jenazah yang dipimpin anak lelakinya (Umar), kemudian jenazah dibawa dengan ambulance RSI Jakarta menuju pemakaman Kober, Rawa Bunga, Jatinegara, Jakarta Timur. Sekitar jam satu siang prosesi pemakaman selesai.

Muhammad Umar Alkatiri yang berusia 52 tahun telah lebih dulu menghadap Sang Khalik. Ia meninggalkan seorang istri, tiga orang anak, dan seorang ibu kandung yang berusia sekitar satu abad.

Almarhum pernah bekerja sebagai salah satu manager di PT Bersaudara, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengadaan alat-alat kedokteran. Kemudian pindah ke sebuah perusahaan sejenis di kawasan Jakarta Timur. Di luar jam kerja, almarhum adalah seorang ‘petani’ di sebuah ‘ladang amal’ yang diusahakannya sendiri bersama sejumlah teman-temannya. Sang ‘petani’ itu kini telah pergi meninggalkan setumpuk pekerjaan di ‘ladang amal’ yang sepi pamrih, jauh dari hiruk-pikuk popularitas. Bahkan, istri dan anak-anaknya pun tidak tahu-menahu bahwa almarhum adalah seorang ‘petani’ dengan ‘ladang amal’ yang terbentang luas namun tidak kasat mata. Semoga Allah menerima amal baiknya, mengampuni dosanya, menyayanginya, dan memasukkan ke surga. Amien  (haji/tede)