Oknum Polisi, Otak Komplotan Penyebar Paku di Jalanan

Oknum polisi berpangkat Brigadir dari Polresta Bandung Tengah, otak dari komplotan penyebar paku di jalanan, berhasil dibongkar.

Tersangka Brigadir MR dan tiga anak buahnya kini masih menjalani pemeriksaan intensif dan ratusan paku siap tebar berhasil disita.

Selain ada ratusan paku, juga ditemukan tali plastik. Ada dugaan tersangka akan melakukan tindak kejahatan.

Inilah beritanya:

Komplotan Penebar Paku Diotaki Oknum Polisi Digulung

Sabtu, 12 Juni 2010 – 15:31 WIB

BANDUNG (Pos Kota) – Komplotan penebar paku, yang diotaki oknum polisi berpangkat Brigadir dari Polresta Bandung Tengah, berhasil dibongkar jajaran reskrim Polres Garut, Sabtu dini hari.

Tersangka Brigadir MR dan tiga anak buahnya kini masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres Garut. ” Selain mengamankan empat tersangka, ratusan paku siap tebar berhasil disita,” kata sejumlah anggota polisi, di Garut, Sabtu.

Terungkapnya kasus ini berawal dari kecurigaan seorang pengendara. Dengan berpura-pura meminjam dongkrak dari mobil komplotan penjahat itu, warga tadi  melihat banyak paku yang layaknya digunakan untuk gembos ban.

Tanpa pikir panjang, korban pun berteriak minta tolong. Saat warga sekitar berdatangan keempat tersangka langsung menghidupkan kendraanya, dan tancap gas kabur ke polsek setempat untuk minta perlindungan.

Petugas Polsek yang melakukan pemeriksaan ke dalam mobil tersangka menemukan banyak paku. ”

Polres garut yang dihubungi polsek datang, lalu mengamankan mobil bersama tersangka.

Dalam pemeriksaan, terungkap ada oknum anggota polisi yang turut bergabung dalam komplotan itu. Keempat tersangka kini masih diamankan dan menjalani pemeriksaan intensif.

” Kami terpaksa menahan mereka karena membawa peralatan yang dinilai sangat tak lazim. Selain ada ratusan paku, juga kami menemukan tali plastik. Ada dugaan tersangka akan melakukan tindak kejahatan,”ujar petugas.(dono/ir)

Sumber: poskota.co.id

Bagaimana negeri ini mau aman?

Bagaimana negeri ini mau aman, lha wong petugas keamanannya ada oknum yang diduga jadi otak komplotan penjahat seperti itu. Tetapi oknum itu mungkin juga bisa berdalih macam-macam.

Lebih tidak aman lagi bahkan pertanda kehancuran bila yang ditangkap dan diusut serta diadili kemudian dihukum itu hanya penjahat-penjahat kecil, sementara yang besar-besar dilindungi, misalnya. Atau dihukum juga, tetapi diam-diam dengan fasilitas mewah, atau cara-cara lain yang penuh permainan, misalnya. Baru ketika ketahuan seperti kasus kamar mewah Artalyta yang dipenjara karena kasus menyuap, buru-buru heboh dan ada yang diplorotkan jabatnnya atau diapakanlah. Begitu saja jalan keluarnya, kira-kira.

Ketika penjahat sudah bersarang di tempat-tempat strategis yang fungsinya sebagai pemberantas penjahat, ini baru ruwet. Antivirus tetapi justru dia sendiri virus. Ya tentu saja akan merusak semua komponen.

Lebih celaka lagi ketika penjahat yang kejahatannya menyebar ke seluruh negeri, tetapi tidak dijerat hukum karena hukumnya itu sendiri tidak jelas atau pasal karet, atau bisa ditarik ulur dan dimainkan dan sebagainya, atau bahkan menutupi kejahatan.

Mana ada, hukum tetapi menutupi kejahatan?

Ya jelas ada. Contohnya, kejahatan berupa maksiat zina. Karena hukumnya diambil dari orang kafir penjajah Belanda, maka kalau suka sama suka antara lelaki dan perempuan tidak disebut zina.

Jadi secara realita hukum, kemungkinan negeri ini masih lebih cinta kepada penjajah kafir Belanda atau penjajah-penjajah lain dibanding kepada masyarakatnya sendiri yang mayoritas Muslim.

Lho, kok?

Kenapa pura-pura tanya? Padahal sudah jelas kenyataannya. Kalau dalam pidato sih memang bagus. Di saat moment-moment acara yang dianggap keislaman, maka kata-kata bahwa Islam sebagai landasan etik, moral dalam ini dan itu senantiasa meluncur dalam pidato-pidato. Entah di depan ulama, para kiyai pesantren, atau masyarakat Muslim secara umum. Tetapi mana buktinya? Kalau memang Islam jadi landasan etik, moral dalam hal ini dan itu seperti yang mereka pidatokan, begitu ada kasus perzinaan, maka tinggal merujuk hukum Islam. Di antaranya:

1. Zina ghoiru muhshon (belum pernah nikah) hukumannya didera 100

kali  dan  dibuang selama setahun.

2. Zina muhshon (sudah pernah nikah) hukumannya dirajam (dilempari batu) sampai mati.

3. Liwath (homoseks atau lesbian, bersetubuh melalui lubang dubur yang bukan suami isteri) hukumannya dirajam sampai mati, tanpa membedakan muhshon atau ghoiru muhshon.

4. Orang yang berzina dengan mahramnya (orang yang haram dinikahi seperti ibunya, isteri ayahnya, saudarinya, bibinya, anak kandungnya, cucunya dan sebagainya) maka hukumannya adalah hukum bunuh, baik dia sudah pernah menikah maupun belum.

5. Menyetubuhi binatang maka kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bunuhlah dia dan bunuh pula binatangnya.

(lihat nahimunkar.com, Hukuman Zina dan Larangan Membelanya, Penguasa Membela Perzinaan? 10:17 pm)

Aneh, masyarakat Muslimnya mayoritas, pejabat muslimnya juga mayoritas, tetapi hukum Islam ditolak, hingga akibatnya justru clingak-clinguk, ketika ada artis-artis diduga melakukan perzinaan yang gambarnya tersebar ke mana-mana. Para pelakunya mau dijerat pakai hukum apa, tidak jelas. Padahal semua manusia tahu bahwa zina itu kejahatan yang keji, tetapi negeri yang penduduknya 200 juta orang lebih ini, hukumnya tidak tahu bahwa itu kejahatan. Ini sangat aneh!

Sekali lagi, bahkan dalam kasus artis-artis bejat, video zinanya tersebar ke seluruh negeri hingga mayarakat jadi korban kejahatannya hingga rusak, sampai di Jembrana Bali ada lelaki (umur 18 tahun) menzinai sapi segala, tetapi para petugas seperti clingak-clinguk. Mau diproses pakai hukum apa, karena sejak semula menolak hukum Islam yang telah komplit, sehingga kejahatan yang jelas merusak pun tidak begitu jelas apa hukumannya. Padahal kalau tidak menolak hukum Islam, maka bisa dikenai hukum zina.

Hukuman bagi pezina menurut Islam telah jelas seperti tersebut di atas.

Lebih aneh lagi, orang yang nikah siri, yang jelas-jelas kalau memenuhi syarat rukun pernikahan berarti sah menurut Islam, justru dirancang undang-undang untuk dipidanakan. Ini apa bukan berarti pro zina? Ya. Lantaran anti poligami, sedangkan poligami telah dijerat dengan aturan yang mengharuskan pakai lewat pengadilan dan persetujuan isteri pertama, mesti pakai tandatangan segala, lalu orang menghindari jerat keparat itu maka pilih nikah siri. Lalu dirancang undang-undang yang memidanakan orang yang nikah siri. Jadi ujung-ujungnya pro zina dan anti poligami.

Itu bukan sekadar menentang Ummat Islam tetapi menentang Allah Ta’ala.

Kalau gejala buruk yang nyata ini dibiarkan terus-menerus, maka pada dasarnya adalah membentuk Fir’aun dalam bentuk komplotan, sekalipun tidak berujud satu sosok. Sedangkan Fir’uan yang berbentuk satu sosok saja hukuman dari Allah Ta’ala adalah menenggelamkannya bersama wadyabalanya di tengah laut secara massal, maka entah apa adzab atas Fir’aun yang terdiri dari komplotan.

Sadarilah wahai para manusia, bahwa sebenarnya Islam itu sudah sempurna, hukumnya juga sempurna. Termasuk tentang perzinaan pun sudah komplit hukumnya seperti tersebut di atas. Kita tinggal bersikap sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami taati). Juga hukum Islam itu tidak pandang bulu. Sampai-sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, seandainya Fathimah puteri beliau mencuri maka pasti beliau potong tangannya.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّتْهُمْ الْمَرْأَةُ الْمَخْزُومِيَّةُ الَّتِي سَرَقَتْ فَقَالُوا مَنْ يُكَلِّمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ ثُمَّ قَامَ فَخَطَبَ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا ضَلَّ مَنْ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ الضَّعِيفُ فِيهِمْ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرَقَتْ لَقَطَعَ مُحَمَّدٌ يَدَهَا

Dari Aisyah radliallahu ‘anha; bahwa orang-orang Qurasy diresahkan seorang wanita bani Makhzum yang mencuri. kemudian mereka berujar; ‘tidak ada yang bisa bicara dengan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dan tidak ada yang berani (mengutarakan masalah ini) kepadanya selain Usamah bin Zaid, kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Akhirnya Usamah berbicara kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi Rasulullah bertanya; “apakah kamu hendak memberikan syafa’at (pembelaan) dalam salah satu perkara had (hukuman) Allah?” kemudian beliau berdiri dan berkhutbah: “Wahai manusia, hanyasanya orang-orang sebelum kalian tersesat karena, sesungguhnya mereka jika orang terhormat mencuri mereka membiarkannya, namun jika yang mencurinya orang lemah, mereka menegakkan hukuman terhadapnya. Demi Allah, kalaulah Fathimah binti Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam mencuri, niscaya Muhammad yang memotong tangannya.” (HR Al-Bukhari – 6290 dan Muslim).

Bagaimana ini, bicara tentang oknum polisi jadi otak penyebaran paku di jalanan, kok tahu-tahu membicarakan zina, artis-artis video porno, dan hukum yang tidak jelas?

Ya, ini kaitannya, sudah oknum petugasnya justru membuat bahaya bagi masyarakat seperti menebar paku di jalanan itu, masih pula perangkat hukum yang dijalankannya itu tidak jelas. Sampai-sampai zina yang setiap orang tahu bahwa itu kejahatan saja hukumnya di negeri ini tidak tahu bahwa itu kejahatan. Itu karena mengadopsi hukum dari kafir penjajah, dan menepis hukum Islam yang dipeluk oleh mayoritas penduduk. Sehingga pada hakekatnya mereka lebih cinta kepada penjajah kafir daripada masyarakat Muslim yang jadi mayoritas penduduk ini. Itu secara realita dan kenyataan hukum. Sudah seburuk itu, masih pula dilamisi dengan bibir dalam pidato-pidato yang senantiasa menegaskan bahwa Islam sebagai landasan etik dan moral dalam berbagai hal ini dan itu. Di acara-acara keislaman, pidato itu sering terdengar. Tetapi buktinya, kasus zina yang jelas pelanggaran moral dan etik, mereka sama sekali tidak menengok kepada Hukum Islam yang telah jelas, apalagi merujuk, apalagi menerapkannya. Jadi, apakah bicara oknum penebar paku di jalanan tidak bisa dikaitkan dengan kebobrokan lain yang jelas-jelas nyata pula?

O, begitu… ya ya, saya faham. Dan begitulah adanya. Saya juga ikut clingak-clinguk kalau begitu. Hanya saja saya tidak sebagai petugas, jadi saya cukup meyakini benarnya hukum dari Allah Ta’ala, dan batilnya selain itu, apalagi yang diadopsi dari penjajah kafir. Ya, saya faham. (nahimunkar.com).