Orang Pajak, di Jalanan Diteriaki Maling di Pengajian Disebut Najis

–Cap maling sudah memasyarakat, bila tidak ada tindakan tegas dan tuntas maka akan ada cap baru: Sesama maling tidak berani saling menindak.

Nasib orang pajak kini lagi apes. Di jalanan mereka diteriaki sebagai maling. Di masyarakat pun tak kalah buruknya citra pegawai pajak sekarang ini. Sampai-sampai di arisan atau pengajian kalau ada orang pajak maka disindir sebagai najis.

Berita seputar itu kini merebak di masyarakat gara-gara kasus Gayus Tambunan pegawai pajak yang bergaji Rp 12,1 juta, namun Gayus diketahui memiliki rekening hingga Rp 28 miliar plus harta rumah dan mobil mewah. Maka sebutan maling bahkan najis itupun memasyarakat kepada siapa saja yang orang pajak. Makanya…. baca berita ini:

Rabu, 07/04/2010 14:55 WIB

Makelar Pajak Rp 28 Miliar

Lupa Lepas Name Tag, Pegawai Pajak Diteriaki Maling

Ramdhania El Hida – detikFinance

Jakarta – Mencuatnya kasus markus pajak Rp 28 miliar yang melibatkan bekas aparat pajak Gayus Tambunan menimbulkan efek yang luar biasa buruk bagi Ditjen Pajak dan para pegawainya. Pandangan masyarakat terhadap aparat pajak berubah menjadi negatif.

Dirjen Pajak M. Tjiptardjo pun berkeluh kesah seputar kesan negatif masyarakat terhadap pajak setelah mencuatnya kasus makelar pajak yang melibatkan Gayus Tambunan ini.

Ia berkeluh kesah seputar cap negatif masyarakat terhadap Ditjen Pajak dan aparatnya terlihat dari berbagai sindiran dan cibiran masyarakat. Bahkan popularitas Gayus pun kini sudah menandingi Ditjen Pajak sendiri.

“Dulu kalau ada bus yang berhenti di depan kantor pusat pajak, kondekturnya bilang pajak…pajak!! Namun setelah kasus Gayus, sekarang kondektur itu berteriak Gayus… Gayus!!” kata Tjiptardjo dalam rapat dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (7/4/2010).

Belum sampai di situ, Tjiptardjo mengatakan, para pegawai di Ditjen Pajak bahkan seringkali diteriaki maling oleh masyarakat saat mereka berada di tempat umum.

“Jadi kalau ada pegawai yang lupa melepaskan name tag kerja, mereka seringkali diteriaki maling,” ungkap Tjiptardjo.

Bahkan yang lebih parah lagi, cibiran kasar juga pernah ditelan oleh pegawai pajak dalam hubungan sosialisasinya di masyarakat.

“Di arisan atau pengajian, kalau ada orang pajak yang ikut, maka orang lain mengatakan najis. Jadi dampak kasus Gayus ini luar biasa,” tutupnya.

Gayus Tambunan merupakan mantan pegawai pajak yang sudah dipecat karena terlibat makelar kasus pajak. Dengan gaji Rp 12,1 juta, Gayus diketahui memiliki rekening hingga Rp 28 miliar plus harta rumah dan mobil mewah. Gayus sempat kabur bersama istri dan 3 anaknya ke Singapura, namun akhirnya menyerahkan diri. Gayus kini ditahan rutan Brimob Kelapa Dua. (dnl/qom) (detikfinance.com)

Perlu diketahui, total jumlah karyawan Ditjen Pajak seluruh Indonesia sebanyak 32 ribu orang. 70 persen penerimaan negara berasal dari pajak, yang petugasnya adalah para pegawai pajak yang 32 ribu orang itu.

Kalau di antara mereka itu adalah jelas maling, sedang yang dipecat baru Gayus, maka cap maling itu akan tetap melekat pada para pegawai pajak. Maka untuk menghilangkan cap maling yang sudah memasyarakat itu perlu dibuktikan bahwa maling-malingnya benar-benar ditindak. Hingga masyarakat tahu dengan melihat buktinya. Kalau tidak, maka di samping cap maling itu akan tetap melekat, masih pula akan muncul lagi cap baru bahwa sesama maling tidak berani saling menindak. (nahimunkar.com)