Para Calon Ketua Umum NU yang Liberal, Ngawur, dan Membela Kesesatan

أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ [هود/78]

Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal? (QS Hud/ 11: 78)

Bicara ngawur tanpa dasar sudah seringkali terjadi di kalangan liberal lebih-lebih liberal dari NU (Nahdlatul Ulama), dan lebih-lebih lagi liberal yang mau mencalonkan diri sebagai ketua umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama).

Kali ini ada contoh lagi ngawurnya tokoh liberal, Ulil Abshar Abdalla, yang mau mencalonkan diri sebagai ketua umum PBNU dalam Muktamar NU ke-32 di Makassar 22-27 Maret 2010. Sekalian para pembela kesesatan yang mencalonkan diri sebagai calon Ketua Umum PBNU kita ungkap pula di sini.

1. Ulil Abshar Abdalla

Sebuah situs, Voa Islam memberitakan dengan judul, Ulil JIL: Dunia Islam Paling Banyak Melanggar HAM, Harus Berguru pada Obama

Di antara isinya sebagai berikut:

SEMAKIN banyak berbicara, semakin terlihat kejahilannya. Itulah ciri khas kelompok liberalis. Setidak-tidaknya, itu diperlihatkan Ulil Abshar Abdalla dalam acara “Debat Kontroversi kedatangan Obama” di studio TVOne, Jakarta, Rabu (17/3/2010).

Ulil Abshar berapi-api menyatakan dukungannya terhadap rencana kedatangan Obama ke Indonesia, dengan ungkapan khas Arab “ahlan wa sahlan bihuduri Obama.”

Sebagai anak didik Amerika, agaknya bisa dimaklumi bila Ulil sangat memuji Obama dan Amerikanya. Mungkin itulah apresiasi balas jasa yang dipersembahkan kepada negara yang telah memberikan beasiswa program magister di Universitas Boston, dan studi tingkat PhD di Department of Near Eastern Languages and Civilizations di Universitas Harvard.

Tapi Ulil –yang lama hidup di negara Amerika– itu menjadi sangat tidak wajar jika ia tidak tahu tentang Amerika. Berangkat dari ketidaktahuan itulah, Ulil memuji Amerika sembari menghina Islam, lalu menganjurkan umat Islam supaya belajar (baca: berkiblat) ke Amerika dalam mengatasi masalah diskriminasi.

“Ada pelajaran penting yang bisa diambil dari pengalaman Obama di Amerika.
Ini luar biasa. Jadi orang Islam harus belajar bagaimana mereka mengatasi diskriminasi. Di dalam negara Islam itu diskriminasi masih banyak sekali,” kata Ulil.

Ngawurnya Ulil itu langsung dibantah dengan bukti ini:

Amnesti Internasional: AS Terbanyak Langgar HAM dalam 50 tahun terakhir

Dalam konferensi pers di London (26/5/2004), Amnesti Internasional, sebuah LSM HAM internasional yang berbasis di London ini melaporkan bahwa Amerika Serikat (AS) adalah pelaku pelanggaran HAM terburuk di seluruh dunia, selama 50 tahun terakhir, sejak negara adidaya itu mengeluarkan kebijakan perang terhadap terorisme dan invasinya ke Iraq. Berita ini dilansir berbagai media internasional semisal AFB, BBC, dan lain-lain. (http://www.voa-islam.com, Kamis, 18 Mar 2010)

2. Said Aqiel Siradj

Calon yang lain yang sangat ngawur pula di antaranya adalah Said Aqiel Siradj yang dalam kasus aliran sesat Ahmadiyah, dia bilang:

“Ahmadiyah jahiliyah fil aqidah, FPI jahiliyah fil akhlak (Ahmadiyah salah secara akidah, FPI salah secara akhlak.red),” katanya dalam seminar mengenai multikulturalisme yang diselenggarakan oleh Muslimat NU, Kamis (10/7) di Jakarta. (Jumat, 11 Juli 2008 12:16, Jakarta, NU Online).

Kasus ngawur lainnya:

KH. Said Aqil Siradj, Fungsionaris PBNU, tanpa canggung berkhotbah dalam acara misa Kristiani disebuah gereja di Surabaya. Dengan background belakangnya salib patung Yesus dalam ukuran yang cukup besar. Beritanya pun dimuat majalah aula milik warga NU, dia juga pernah melontarkan gagasan liberalnya yaitu merencanakan pembangunan gedung bertingkat, dengan komposisi lantai dasar akan diperuntukkan sebagai masjid bagi umat Islam, sedangkan lantai tingkat satu diperuntukkan sebagai gereja bagi umat kristiani, lantai tingkat dua diperuntukkan sebagai pure bagi penganut hindu, demikian dan seterusnya. (KH. Lutfi Bashori, Konsep NU & Krisis Penegakan Syari’at).

Lebih dari itu:

Betapa beraninya Said Agil Siradj itu dalam mengkafirkan para sahabat, seperti dalam tulisannya yang kami kutip ini:

“Sejarah mencatat, begitu tersiar berita Rasulullah wafat dan digantikan oleh Abu bakar (b kecil dari pemakalah), hampir semua penduduk jazirah Arab menyatakan keluar dari Islam. Seluruh suku-suku di tanah Arab membelot seketika itu juga. Hanya Madinah, Makkah dan Thaif yang tidak menyatakan pembelotannya. Ini pun, kalau dikaji secara saksama, bukan karena agama, bukan didasari keimanan, tapi karena kabilah. Pikiran yang mendasari sikap orang Makkah untuk tetap memeluk Islam adalah logika bahwa kemenangan Islam adalah kemenangan Muhammad; sedang Muhammad adalah Quraisy, penduduk asli kota Makkah; dengan demikian, kemenangan Islam adalah kemenangan suku Quraisy; kalau begitu tidak perlu murtad. Artinya, tidak murtadnya Makkah itu bukan karena agama, tapi karena slogan yang digunakan oleh Abu Bakar di Bani Saqifah; _al-aimmatu min quraisy_, bahwa pemimpin itu berasal dari Quraisy. Dan itu sangat ampuh bagi orang Quraisy.” (Dr. Said Agil Siradj, makalah berjudul Latar Kultur dan Politik Kelahiran ASWAJA, hlm. 3-4).

3. Salahuddin Wahid

Calon ketua umum PBNU yang tidak kalah ngawurnya pula adalah Salahuddin Wahid, adik kandung Gus Dur (Abdurrahman Wahid). Dalam hal membela Ahmadiyah dan kesesatan serta tidak jelas wala’ (kecintaan) dan bara’ (kebencian)nya dia ini hampir sama dengan Gus Dur, hanya beda gaya. Jadi dekat-dekat juga terhadap yang sesat-sesat, bahkan jauh dari Islam serta tidak ada bau-baunya kekyaian dalam keilmuan karena dia keluaran sekolah teknik. Inilah buktinya:

Salahuddin Wahid lebih cenderung membela Ahmadiyah dan menyuara untuk menyingkirkan fatwa MUI tentang sesatnya Ahmadiyah,Inilah beritanya:

Salahuddin Wahid: Negara Tidak Boleh Merujuk MUI

Kamis, 14 Februari 2008 | 19:47 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng Salahuddin Wahid mengatakan negara tidak boleh merujuk fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Negara itu rujukannya UUD 1945 dan undang-undang,” kata Salahuddin yang biasa disapa Gus Sholah, di sela seminar mengenai Jaminan Perlindungan Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Kebebasan Beragama dan Beribadah Menurut Agama dan Kepercayannya di Hotel Sultan, Kamis (14/2).

Ia menyebut fatwa sesat Ahmadiyah dari MUI merupakan sudut pandang agama. “Tapi negara tidak usah merujuk ke MUI,” katanya.

Negara, mantan anggota Komnas HAM itu melanjutkan, bertugas melindungi rakyat. Negara juga yang mempunyai hak untuk melarang. Karena itu polisi harus berani menindak pelaku kekerasan.
Sementara itu, anggota Dewan Pertimbangan Presiden Adnan Buyung Nasution mengatakan pemerintah masih ragu-ragu dalam menindak pelaku kekerasan terhadap Ahmadiyah.
Menurut Buyung, MUI adalah lembaga warisan Orde Baru untuk mengontrol dan menyeragamkan rakyat. “Siapa yang berhak memvonis orang sesat atau tidak,” ujarnya.

Iqbal Muhtarom

Sumber:http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2008/02/14/brk,20080214-117541,id.html

Salahuddin Wahid juga sukarela berkiprah dalam acara yang diselenggarakan Hindu. Inilah beritanya:

Salahuddin Wahid

Salahuddin Wahid adik Gus Dur (Abdurrahman Wahid) adalah orang yang belum tentu jelas wala’nya. Dia pernah menjadi juri Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah Indonesia) dalam acara Peradah Indonesia menganugerahkan Peradah Award, Juni 2009. Bertindak sebagai dewan juri adalah KH Salahuddin Wahid, Pdt Nathan Setiabudi dan Ngakan Putu Putra.

Di antara yang diberi anugerah adalah mendiang Pramoedya Ananta Toer tokoh sastrawan Lekra (Lembaga milik PKI – Partai Komunis Indonesia) yang berideologi komunis dengan dituangkan dalam tulisan-tulisannya hingga pemerintah sering melarang buku-bukunya untuk dibaca.

Sedang media yang dimenangkan justru media yang disebut plural (dalam arti pluralisme agama, menyamakan semua agama) yakni Majalah Tempo.

Dari Islam, yang dimenangkan dan dianugerahi Penghargaan MPU Peradah 2009 (yang jurinya dari Islam Salahuddin Wahid Itu) adalah tokoh yang mengusung faham pluralisme agama yang telah diharamkan MUI, yakni Ahmad Syafii Maarif mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah. (lihat detiknews Minggu, 14/06/2009 06:44 WIB). (nahimunkar.com, 2:15 am).

4. Ahmad Bagdja

Ketika orang jengak (kaget campur heran) mendengar ada calon ketua umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) ada yang mendukung aliran sesat Ahmadiyah, yakni Shalahuddin Wahid dan Ulil Abshar Abdalla, kini ditambah lagi ada calon ketua umum NU yang mendukung aliran sesat LDII yakni Ahmad Bagdja.

Seperti berita sebelumnya (Hati-hati, Ada Calon Ketua Umum NU yang Membela Ahmadiyah, nahimunkar.com 11:43), pemilihan ketua umum PBNU untuk menggantikan posisi KH Hasyim Muzadi akan dilaksanakan pada Muktamar ke-32 NU di Asrama Haji Makassar, Sulawesi Selatan, 22-27 Maret 2010.

Sejumlah kiai sepuh/senior Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur sepakat menolak faham liberalisme, karena itu mereka akan membendung terpilihnya kandidat Ketua Umum PBNU yang proliberal dalam Muktamar ke-32 NU di Makassar, 22-27 Maret 2010 mendatang.

Penolakan faham liberal juga diawaki oleh para kiai muda NU hingga mereka telah menghadapi langsung dedengkot liberal yakni Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL. Maka telah dilangsungkan Tabayyun dan Dialog Terbuka Antara Jaringan Islam Liberal dan Forum Kiai Muda (FKM) NU Jawa Timur Di PP Bumi Sholawat, Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur Ahad, 11 Oktober 2009. Ada 8 butir kesimpulan, di antaranya:

Liberalisasi dalam bidang akidah yang diajarkan JIL, misalnya bahwa semua agama sama, dan tentang pluralisme, bertentangan dengan akidah Islam Ahlussunnah Waljamaah. (lebih lengkapnya lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal Cs, Pustaka Al-kautsar, Jakarta, Februari 2010).

Dalam hal ini setidaknya ada beberapa tokoh liberal yang maju ke pemilihan ketua umum PBNU yakni Salahuddin Wahid, Said Aqiel Siradj (bahkan sampai mengkafirkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyamakan aqidah Islam dengan Kristen), Ulil Abshar Abdalla, dan Masdar F Mas’udi. Mereka ini ada bukti-bukti liberal bahkan berkiprah semacam blusak-blusuk itu. (Lebih rincinya silakan baca buku Hartono Ahmad Jaiz, Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal Cs, Pustaka Al-kautsar, Jakarta, Februari 2010, dan artikel Catatan Kecil Tentang Para Calon Ketua Umum NU, nahimunkar.com 2:15 am).

Ahmad Bagdja mendukung aliran sesat LDII

Ahmad Bagdja telah bertungkus lumus (bersusah payah) menulis surat ditujukan kepada MUI (Majelis Ulama Indonesia) tanggal 17 Agustus 2001 untuk mendukung LDII, namun ternyata tidak digubris oleh MUI karena surat itu tidak ada maknanya belaka. Bahkan MUI mengeluarkan rekomendasi dari MUNAS Ulama 2005 yang isinya LDII itu aliran sesat dan sangat meresahkan masyarakat, disejajarkan dengan Ahmadiyah.

MUI (Majelis Ulama Indonesia) telah mengeluarkan rekomendasi mengenai aliran sesat LDII:

MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti Ahmadiyah, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan sebagainya agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat.

Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut:

Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah.

MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).


Apakah para muktamirin NU yang berjumlah 3.500-an orang itu akan memilih yang ngawur, liberal dan membela kesesatan-kesesatan itu?

Dalam hal ini, yang penting sudah ada yang menyampaikan untuk memperingatkan. Adapun mereka tetap mblasur untuk memilih yang ngawur, misalnya, maka berarti jurus ngawur itu sudah jadi trend di NU. Bahwa makin ngawur itulah yang makin dipilih. Begitu saja lah!!

Kalau misalnya sudah demikian, maka ayat Al-Qur’an telah mengisahkan ungkapan Nabi Luth ‘alaihis salam dalam bentuk pertanyaan yang sangat tandas:

أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ [هود/78]

Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal? (Qs Hud/ 11: 78)

(nahimunkar.com)