Para Teroris dalam Kasus Lutfiana Ulfa

 

ENTAH sejak kapan Pujiono Cahyo Widianto dipanggil dengan sapaan Syekh Puji. Predikat Syekh konon setara dengan sebutan Kiai bagi masyarakat Jawa, atau setara dengan alim ulama bagi masyarakat lainnya. Yang jelas, Syekh Puji selain dikenal sebagai pengusaha kaligrafi dari kuningan juga dikenal sebagai pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Jannah, Bedono, Semarang.

Pada tanggal 5 Agustus 2008, Syekh Puji yang kala itu genap berusia 43 tahun mendatangi rumah Suroso-Siti Huriah (orangtua Lutfiana Ulfa) di Desa Randu Gunting, Kecamatan Bergas, untuk meminang anak pertama mereka. Ketika itu, Lutfiana Ulfa yang lulusan SDN Randu Gunting, mengangguk tanda setuju. Ada beberapa pertimbangan yang mendasari keputusan Lutfiana Ulfa.

Pertama, dia bersedia menikah pada usia belia karena akan dipercaya memimpin PT Sinar Lendoh Terang (Silenter), perusahaan milik Syekh Puji yang didirikan sejak 1991. Faktanya, sejak 19 Oktober 2008 Ulfa langsung diposisikan sebagai General Manager PT Silenter. Kedua, Ulfa tetap dapat bisa melanjutkan sekolah meski dengan cara mendatangkan guru. Sesaat sebelum dinikahi Syekh Puji, Ulfa adalah siswi SMP I Bawen yang merupakan SMP favorit di kawasan itu. Ketiga, meski sudah menikah, Ulfa direncanakan tidak digauli dan baru akan memiliki anak minimal ketika usianya sudah melampaui 17 tahun.

Barulah pada tanggal 8 Agustus 2008 Syekh Puji yang lahir pada tanggal 5 Agustus 1965 ini menikahi Lutfiana Ulfa gadis belia berusia 12 tahun yang telah mengalami menstruasi pertamanya pada usia 10 tahun. Pernikahan berlangsung di Ponpes Miftahul Jannah, dan dihadiri oleh ratusan orang terdiri dari para santri Ponpes Miftahul Jannah, karyawan PT Silenter, para Ketua RT di lingkungan Desa Bedono, Kepala Desa, dan kerabat Syekh Puji.

Acara yang berlangsung ba’da ‘Isya’ itu diawali dengan mujahadah yang dilakukan oleh seluruh hadirin, yang berlangsung hingga pukul 02:00 dini hari, dilanjutkan dengan penjelasan Syekh Puji tentang kondisi perusahaannya dan alasan menikahi Lutfiana Ulfa. Memasuki pukul 03:00 dini hari, akad nikah berlangsung, dipimpiin oleh dua Kiai setempat. Pada pernikahan Syekh Puji sebelumnya dulu, dengan Ummi Hani (26 tahun), isteri pertamanya, juga berlangsung pukul 03:00 dini hari. Syekh Puji beralasan, saat-saat itu merupakan waktu yang tepat untuk memanjatkan doa.

Menurut Suroso, ayah kandung Lutfiana Ulfa, dia dan isterinya sudah ikhlas putri sulungnya dinikahi Syekh Puji, bukan karena ingin memperoleh keuntungan materi. Karena, Suroso merasa masih kuat bekerja dan bisa menghidupi anak-istrinya. Sehingga, meski ada orang kaya yang mau menikahi anaknya, tapi kalau tujuannya tidak jelas, ia dan isterinya tidak bersedia merestui. Dalam hal ini, Suroso melihat Syekh Puji mempunyai tujuan baik.

Pernikahan Syekh Puji dan Ulfa secara administratif memang tidak tercatat pada suku dinas kependudukan setempat, karena pihak berwennag menolak permohonan Syekh Puji untuk memberikan dispensasi kepada Ulfa agar bisa dinikahinya secara resmi. Namun, petugas KUA menolak karena berpedoman kepada perundang-undangan yang berlaku, antara lain usia minimal mempelai wanita harus mencapai 16 tahun. Akhirnya Syekh Puji menikahi Ulfa secara syar’i.

Pernikahan syar’i itu berlangsung mulus dan aman, tidak ada yang menggubris, tidak ada yang menuduh Syekh Puji mengidap paedophilia segala. Namun, karena Syekh Puji naluri yang suka dengan sensasi, maka terciptalah sebuah sensasi. Misalnya, selepas shalat Jum’at, 26 September 2008 (bertepatan dengan 26 Ramadhan 1429 H)  lalu, Syekh Puji membagi-bagikan zakat maal (harta) senilai Rp 1,3 milyar. Kepada warga desa Bedono zakat maal yang diberikan sebesar Rp 120 ribu (untuk orang dewasa) dan Rp 50 ribu (untuk anak-anak). Sementara, warga dari desa lain zakat maal yang diberikan sebesar Rp 45 ribu (untuk orang dewasa) dan Rp 15 ribu (untuk anak-anak).

Kebiasaan membagi-bagikan zakat maal itu sudah berlangsung sejak dua tahun terakhir. Syekh Puji beralasan, dengan memberi langsung kepada warga diharapkan doa mereka akan langsung sampai kepada dirinya. Hal ini rupanya mampu membetot perhatian khalayak ramai, terutama media massa. Namun demikian, pernikahannya dengan Ulfa tetap belum dijadikan berita sensasional oleh media massa.

 

Asma

 

Barulah pada 22 Oktober 2008, hampir sebulan pasca pembagian zakat maal, media massa mulai mem-blow up pernikahan Syekh Puji dengan Lutfiana Ulfa. Entah siapa yang memulai lebih dulu, setidaknya di detikcom edisi 22 Oktober 2008 mulai diturunkan secara serial pernikahan Syekh Puji dengan Lutfiana Ulfa. Maka mulai hari itu juga banyak tokoh nasional yang terkena penyakit asma (asal mangap).

Salah satu  di antaranya adalah Musdah Mulia, sebagaimana diberitakan detikcom 22 Oktober 2008, ia menuduh perkawinan Syekh Puji dengan Lutfiana sebagai trafficking (perbudakan) bermodus perkawinan, dan merupakan penipuan. Bahkan Musdah menilai Syekh Puji sebagai orang yang tidak punya perasaan kemanusiaan.

Musdah yang juga aktif di Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP) dan peneliti LIPI, menilai perkawinan Syekh Puji dengan Lutfiana Ulfa salah menurut Undang-undang Perkawinan no. 1 tahun 1974 yang menentukan usia minimal mempelai wanita 16 tahun untuk menikah. Musdah sama sekali mengabaikan aspek syar’i. Ini masih mending, sebelumnya Musdah pernah asma dengan membolehkan perkawinan sejenis (gay dan lesbian), sama sekali tidak mendasarkan pada aspek syar’i dan hukum positif yang berlaku.

Ketua MUI, Umar Shihab yang dianggap oleh sebagian orang sebagai orang yang dekat dengan Syi’ah ini, pada detikcom edisi 22 Oktober langsung menyesalkan terjadinya pernikahan itu, bahkan ia mengecam. Meski menilai pernikahan itu melanggar UU Perkawinan dan UU Perlindungan Anak, namun Umar Shihab juga mengatakan bahwa pernikahan yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang sudah baligh dan memenuhi syarat-syarat pernikahan, sah menurut hukum Islam. Demikian pula pernikahan siri, asal memenuhi syarat-syarat pernikahan maka tidak ada masalah. Namun karena menurut UU Perkawinan batas usia menikah anak perempuan adalah 16 tahun, maka pernikahan dengan anak berumur 12 tahun menjadi tidak sah. Oleh karena itu, Umar Shihab berpendapat tidak masalah bila Syekh Puji dipidanakan.

Dari pernyataan Umar Shihab tersebut terkesan ia mengidap penyakit asma (asal mangap). Sebab, sebagai ulama, pendapatnya kalau sudah didasarkan pada aspek syar’i itu diyakini sebagai kebenaran yang tertinggi. Tidak ada yang mengungguli benarnya Islam. Karena haditsnya sudah jelas:

وَعَنْ عَائِذِ بْنِ عَمْرٍو الْمُزَنِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { الْإِسْلَامُ يَعْلُو وَلَا يُعْلَى } أَخْرَجَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ . سبل السلام – (ج 6 / ص 220)

Dari Aidz bin Amr Al-Muzani radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Islam itu tinggi dan tidak diungguli. (Hadits dikeluarkan oleh Ad-Daraquthni, Subulus Salam juz 6 halaman 220).

Tampaknya Umar Shihab mudah sekali berkata tanpa panjang pikir, sampai hal yang menyangkut aqidah pun asal bicara. Contohnya, ketika sedang ramai dibicarakan tentang fatwa haramnya Yoga di Malaysia, justru ada berita sebagai berikut:

MUI Tak Persoalkan Umat Muslim Beryoga

*Chazizah Gusnita*

– detikNews * * *Jakarta* –

 Badan tertinggi Islam di Malaysia melarang umat muslim melakukan yoga. Alasannya, latihan fisik asal India itu mengandung elemen-elemen Hindu yang bisa merusak muslim.

Bagaimana di Indonesia?

“Nggak apa-apa. Yoga seperti olahraga itu tidak dilarang. Kalau yoga yang mungkin menyebabkan mereka syirik, itu tidak tahu,” ujar Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Umar Shihab kepada detikcom, Minggu (23/11/2008).

Demikianlah kenyataan dari orang yang tidak tahu tetapi bicara atas nama lembaga keulamaan karena dia seorang ketua.

Seto Mulyadi Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) juga yang terkena penyakit asma. Menurut Seto, pernikahan itu lebih menonjolkan kepentingan orangtua dengan motif ekonominya dibanding kepentingan sang anak. Bahkan Seto juga menilai, menikahi Ulfa merupakan pelanggaran hak anak. Yaitu, melanggar hak anak untuk tumbuh dan berkembang, bersosialisasi, belajar, menikmati masa anak-anaknya. Sebagaimana Musdah, Seto juga mengaitkannya dengan trafficking, perdagangan anak dan mengarah kepada eksploitasi dan kekerasan ekonomi.

Bahkan Seto Mulyadi sejak 24 Oktober 2008 sudah berencana hendak menemui Syekh Puji. Namun Syekh Puji menolak. Saking ngototnya, Seto Mulyadi bahkan akan menemui Syekh Puji meski dikabarkan sosok brewokan ini sedang berada di Singapura (27 Oktober 2008). Akhirnya, Seto dan Syekh Puji beberapa kali bertemu muka di Bedono. Intinya, Seto menyarankan Syekh Puji mengembalikan Ulfa kepada kedua orangtuanya.

Sikap Seto tadi jelas berlebihan. Ia telah memposisikan dirinya lebih tinggi dari wali nasab (orangtua Ulfa). Dengan dalih melindungi hak asasi anak-anak (Lutfiana Ulfa), Seto justru mengangkangi hak asasi orangtua Ulfa dan Syekh Puji.

 

Vulgar

 

Ada juga yang tidak saja terkesan terjangkiti asma tetapi juga vulgar. Contohnya, Said Abdullah politisi asal PDIP yang menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi VIII. Said mengatakan, pernikahan Syekh Puji dengan Lutfiana Ulfa bukan persoalan agama, tetapi persoalan syahwat. Pendapat Said boleh jadi keluar dari lubuk hatinya yang terdalam, dan merupakan output dari hasil interaksinya dengan anggota DPR RI yang selama ini sering tertimpa kasus beraroma syahwat selain korupsi.

Yang juga asma dan vulgar namun sedikit ilmiah adalah pendapat yang mengatakan pernikahan itu terjadi karena Syeh Puji diposisikan sebagai pengidap paedophilia. Antara lain sebagaimana dikatakan Dosen Psikologi Politik Pasca Sarjana Universitas Indonesia (UI) Hamdi Muluk.

Secara psikologis, perilaku Syekh Puji bisa dikatakan pengidap peadophilia. Menurut Hamdi Muluk pula, Paedophilia adalah sifat kejiwaan manusia yang mempunyai ketertarikan kepada anak di bawah umur. Ciri-cirinya antara lain, punya ketertarikan seksual terhadap anak-anak, baik itu balita atau anak belum akal baligh. Selain itu, pengidap paedophilia menyukai aktivitas seks dengan partner yang jarak umurnya jauh berbeda.

Tudingan paedophilia juga dilontarkan dr Boyke Dian Nugraha SpOG MARS terhadap perilaku Syekh Puji yang menikahi Ulfa dan rencana berikutnya menikahi dua anak perempuan lainnya yang masih berusia tujuh dan sembilan tahun. Menurut dokter Boyke, anak-anak itu masih berada dalam masa pra pubertas dan alat reproduksinya belum berkembang dengan sempurna. Berdasarkan hal itu, dokter Boyke langsung menyimpulkan bahwa Syekh Puji melakukan penyimpangan perilaku seks.

Tudingan dokter Boyke nampaknya mendahului kenyataan. Sebab, sampai kini, rencana itu belum juga terlaksana. Lagi pula, mengapa pernikahan selalu dikaitkan dengan hubungan seks?

Ratna Sarumpaet, yang namanya tercantum dalam daftar nama pendukung AKKBB (Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan), juga menuding Syekh Puji sebagai pengidap paedophilia. Padahal, bila yang dilakukan Syekh Puji adalah merupakan keyakinan agamanya, mengapa pula diributkan oleh Ratna Sarumpaet?

Seharusnya sebagai pendukung AKKBB (Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan), Ratna Sarumpaet juga harus mendukung perilaku Syekh Puji, karena hal itu merupakan bagian dari kebebasan berekspresi, kebebasan beragama dan berkeyakinan. Komentar Ratna Sarumpaet menunjukkan kepada kita, bahwa personil pendukung AKKBB sama sekali tidak pernah bisa konsisten dengan argumennya sendiri.

Reaksi dan komentar tokoh nasional kita, termasuk sejumlah LSM agaknya melampaui batas-batas yang bisa dipahami. Mereka begitu bergairah mengomentari pernikahan Syekh Puji dengan Lutfiana Ulfa, saking berlebihannya sampai-sampai kita tidak bisa membedakan antara membela hak Ulfa atau justru yang mereka lakukan adalah menteror Lufiana Ulfa.

Coba bandingkan reaksi dan komentar mereka dengan kasus pencabulan yang dilakukan oleh seorang Guru terhadap dua anak muridnya yang masih di bawah umur. Peristiwa ini terjadi di Desa Sipan, Sibolga, Sumatera Utara.

Erwin Ronaldo sang Guru yang juga merangkap sebagai walikelas ini kerap memaksa dua siswinya melakukan oral seks, di depan kelas dengan disaksikan seluruh murid menjelang pulang sekolah. Bahkan Erwin yang berusia 27 tahun ini mengancam semua muridnya agar tidak memberitahukan hal terebut kepada siapa pun.

Menurut Rn (kelas 5 SD), paksaan itu sudah berlangsung sejak September 2007. Biasanya, terjadi sekitar jam 10:30 di ruang kelas. Erwin biasanya menyuruh korbannya maju ke depan mejanya, lalu menyuruh sang korban jongkok di bawah meja. Kemudian Erwin meminta (memaksa) korbannya memegangi kemaluannya.

Kasus tersebut terkuak setelah salah seorang teman sekelas dari kedua korban tadi bercerita kepada orangtuanya. Informasi itu pun kemudian disampaikan kepada kedua orangtua korban. Tanpa pikir panjang para orang tua korban itu langsung melaporkannya ke aparat kepolisian.

Berbeda dengan kasus pernikahan Syekh Puji dengan Lutfiana Ulfa, pada kasus Guru cabul tadi, pelaku dan korbannya sama-sama orang miskin, jadi tidak terlalu menarik perhatian. Kak Seto pun tidak perlu ngotot terbang ke Sumatera Utara untuk memberikan perlindungan terhadap anak-anak malang itu.

Pernikahan Syekh Puji dan Lutfiana Ulfa menjadi daya tarik bagi insan pers, justru setelah Syekh Puji membagikan zakat maal sebesar 1,3 miliar rupiah. Kalau saja Syekh Puji orang miskin, pernikahannya dengan Lutfiana Ulfa tidak akan dikomentari dan disikapi secara gegap-gempita sebagaimana terjadi selama ini.

Begitulah watak masyarakat kita yang terjangkiti penyakit asma dan mengidap penyakit snob (ikut-ikutan). Seorang ulama, cendekiawan, ilmuwan dan aktivis hak asasi anak, bisa dikendalikan dan dimanfaatkan pers untuk mem-blow up suatu kasus. Padahal, ketika berkomentar, mereka belum tahu duduk persoalannnya secara persis. Tapi sudah berani ngomong. Ini namanya penyakit asma (asal mangap) akut: mereka senang karena pendapatnya dikutip dan namanya disebut-sebut oleh media cetak dan elektronik, sementara itu, Ulfa justru merasa diteror oleh komentar mereka, sehingga kini ia perlu diterapi. (haji/tede)