Parpol Keblinger Merangkul Artis

Keseriusan partai politik di Indonesia di dalam membela kepentingan rakyat, nampaknya jauh panggang dari api. Apalagi, parpol-parpol itu kini semakin bersemangat menjadikan artis sebagai vote getter (pengumpul suara).

Pada Pemilu 2004, perolehan suara artis seperti Angelina Sondakh dan Adji Massaid (dari Partai Demokrat), juga Nurul Arifin dari Partai Golkar sangat tinggi. Inilah yang menjadi salah satu landasan parpol memburu artis masuk partainya. Padahal, belum tentu artis yang dijadikan pengumpul suara tadi punya bekal memadai untuk menjadi politisi.

Memang, tidak semua artis yang terjun ke dunia politik minim pendidikan. Ada juga (sedikit dari mereka) yang memadai, seperti Gusti Randa, Farhat Abbas, Ruhut Sitompul, yang bergelar sarjana hukum, dan berprofesi sebagai pengacara, mereka dicalonkan sebagai anggota legislatif dari tiga parpol berbeda. Farhat adalah calon legislatif dari PKPB (Partai Karya Peduli Bangsa). Namun demikian, menurut Arie Sujito dari UGM Jogjakarta, fenomena artis masuk parpol merupakan drama politik yang tidak akan mampu membangun basis massa yang kuat. Seharusnya, untuk membangun massa yang kuat, parpol giat menjalankan pendekatan politik kepada rakyat, melakukan kaderisasi internal dan pengorganisasian yang baik, sehingga kader yang dimiliki dapat membangun basis massa yang benar-benar kokoh.

Artis dianggap memiliki nilai tinggi yang diharapkan dapat mempengaruhi (baca: membodohi) perilaku masyarakat awam atau massa (rakyat) mengambang di dalam menyalurkan aspirasi politiknya. Namun jangan lupa, popularitas artis tidak berjalan sepanjang masa, ada masa-masa dimana ketenarannya surut. Selain itu, mereka belum tentu memiliki dasar ideologi yang kuat, disamping juga tidak dapat diharapkan kesetiaannya kepada partai, sehingga mereka dengan mudah pindah partai seperti ganti baju.

Keberhasilan Rano Karno menduduki kursi Wakil Bupati Tangerang dan Dede Yusuf sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat baru-baru ini, merupakan salah satu faktor yang mendorong masuknya para artis ke dalam parpol. Atau pada sisi lain, peristiwa itu telah mendorong parpol untuk memanfaatkan artis dalam rangka mendongkrak perolehan suaranya pada Pemilu 2009 mendatang.

Faktor lain, karena masyarakat lebih mengenal para artis yang kerap muncul di layar televisi ketimbang para birokrat atau pensiunan tentara dan polisi. Selain itu, menurut sebuah survei, untuk memenangkan pilkada (pemilihan kepala daerah) misalnya, popularitas sang tokoh lebih penting ketimbang misi dan visi yang dimiliki sang calon.

Berdasarkan faktor tersebut, maka sumber rekruitmen politik tidak lagi berasal dari kalangan politisi, birokrat, ataupun pensiunan TNI dan polisi, tetapi juga para artis yang bisa dibujuk masuk parpol. Bahkan partai Hanura pimpinan Wiranto saking seriusnya, mempunyai sayap partai dari kalangan artis yang dinamakan Insan, Seni dan Budaya.

Memprihatinkan, Parpol Islam pun menggandeng artis

Kecenderungan memanfaatkan popularitas artis tidak saja dilakukan parpol sekuler, tetapi juga parpol berbasis massa Islam. Saiful Jamil pedangdut pria yang pernah menikah dengan Dewi Persik, dilamar PPP (Parai Persatuan Pembangunan—dahulu gabungan dari partai-partai Islam zaman Soeharto–, yang bukan partai Islam masuk ke Golkar dan PDI) untuk dicalonkan sebagai Wakil Walikota Serang (Propinsi Banten). Yang dilamar ternyata bersedia, padahal selama ini ia belum menunjukkan kemampuannya di bidang politik praktis. Latar belakang pendidikan formal dan non formalnya pun tidak begitu jelas. Yang jelas, hanya popularitasnya sebagai penyanyi dangdut pria yang kemudian mencuatkan kehebohan karena kasus percekcokannya dengan sang istri. Bahkan kehebohannya hendak bercerai dengan sang istri ini yang lebih dikenal masyarakat.

PPP (Partai Persatuan Pembangunan) yang berlambang Ka’bah ini, dan berbasis massa Islam, tentu harus menjelaskan kepada konstituennya yang beragama Islam, perihal latar belakangnya merekrut penyanyi dangdut pria Saiful Jamil sebagai salah satu kader yang diunggulkan untuk menjadi Wakil Walikota Serang. Bagaimana PPP menjelaskan kepada Ummat Islam yang menjadi konstituennya, bahwa partai tersebut memperjuangkan aspirasi Ummat Islam, padahal Islam mengharamkan musik apalagi dangdut yang identik dengan goyang seronok bermuatan syahwat.

Di tahun 2006 lalu, PKS (Partai Keadilan Sejahtera), salah satu partai berbasis massa Islam juga, pernah mencalonkan Marissa Haque artis bergelar sarjana hukum untuk menjadi calon Wagub (Wakil Gubernur) Banten. Namun gagal. Artis berjilbab-gaul yang pernah aktif di PDI-P ini, disandingkan dengan salah satu kader partai berbasis massa Islam tersebut sebagai pasangan Cagub dan Cawagub, tentunya untuk mendongkrak perolehan suara parpol berbasis massa Islam tersebut.

Bagaimana parpol tersebut menjelaskan kepada konstituennya tentang peranan perempuan di dalam kepemimpinan politik? Bolehkah seorang wanita menjadi “imam” meski hanya menjadi Wakil Gubernur?

Kegagalan parpol berbasis massa Islam itu dalam mencalonkan artis ternyata tidak surut. Sebab di tahun 2008 parpol tersebut sukses mengusung kadernya yang disandingkan dengan artis Dede Yusuf menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Dan berhasil. Begitu artis itu terpilih, langsung bersuara, bahwa dirinya bertekad untuk mengembangkan kesenian Sunda. Tidak dia jelaskan, apakah mau menandingi goyang ngebornya Inul dengan goyang Jaipong atau goyang Karawang atau apa, tak jelas. Itulah yang tersembul dari otak pejabat baru pilihan mereka dari kalangan artis. Ummat Islam sudah gerah dengan aneka seni yang mendekatkan manusia pada zina, malah diangkatlah manusia yang mendukung seni yang biasanya berdekatan dengan zina. Kalau itu diwujudkan dalam kenyataan berupa pengembangan seni yang mendekatkan zina, maka jadilah tabungan dosa manusia-manusia parpol yang akan dipertanggung jawabkan di akherat kelak!

Kecenderungan parpol berbasis massa Islam menjadikan artis sebagai daya tarik, tentunya membuat prihatin dan mengelus dada bagi yang berpikiran normal dan menghargai Islam. Sebab artis bukanlah orang yang berprofesi mulia, bukan pula sosok yang bisa dijadikan suri tauladan. Bahkan dalam dunia kesenian itu sendiri pun diakui, bahwa pemeran badut atau lawakan atau penghibur itu tidak pantas dijadikan tauladan, apalagi diangkat jadi orang berpangkat. Hingga ada lakon wayang yang khas untuk menyindir keadaan yang terbalik-balik, yaitu lakon Petruk dadi Ratu (Petruk jadi Raja). Penghibur jadi pejabat. Itu dunia wayang yang jelas kesenian saja telah menyindirnya. Lha kok dunia nyata malah mempraktekkannya, bahkan dunia perpolitikan yang berbasis Ummat Islam di barisan depan untuk mempraktekkannya. Lha ini bagaimana?

Salah satu partai nasionalis sekuler yang pendirinya Amien Rais dan Goenawan Mohamad, namun menjadikan massa Islam (khususnya komunitas ormas Muhammadiyah) sebagai basis konstituennya, pasca kepemimpinan Amien Rais dipimpinan oleh SB, yang juga gandrung memanfaatkan keartisan seseorang untuk mempopulerkan partainya. Menjelang akhir Maret 2006, mencuat sebuah kabar tak sedap tentang perzinaan (?) antara SB sang Ketua Umum partai tersebut dengan artis Nia Paramitha (yang ketika itu masih menjadi isteri Gusti Randa). Ketika itu, 30 Maret 2006, SB disebut-sebut telah berselingkuh hingga membuahkan kehamilan bagi Nia Paramitha. Tapi, SB membantah isu ini, bahkan dia merasa difitnah.

Nia Paramitha ketika itu juga telah membantah keras tentang skandal seksnya dengan SB. Bantahan tersebut disampaikan Nia di hadapan mantan Ketua Umum PAN (Partai Amanat Nasional) Amien Rais dan SB, di rumah SB di kawasan Pondok Indah. Sebelumnya, Amien Rais pernah didatangi Gusti Randa. Kepada Amien, Gusti melaporkan tentang hubungan SB dengan Nia yang mengakibatkan Nia Hamil. Karena tak mau termakan isu, Amien Rais kemudian mempertemukan Nia dan SB. Dalam pertemuan itu, Amien menanyakan kepada Nia apakah benar SB telah menghamili dirinya. Secara terbuka Nia ketika itu membantah keras tudingan suaminya.

Isu skandal seks yang menyerempet SB ini berawal dari gugatan cerai Gusti Randa terhadap Nia. Gugatan cerai Gusti Randa telah didaftarkan ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Rabu (29/3/2006). Pasangan ini telah menikah selama 9 tahun dan dikaruniai empat orang anak yang masih kecil-kecil. Gusti Randa mulai mencurigai Nia memiliki pria idaman lain (PIL) sejak Nia keguguran (bleeding) beberapa waktu lalu. Kabarnya, Gusti Randa sudah melakukan vasektomi, sehingga meski Gusti tetap berhubungan intim, istrinya tidak bisa hamil. (www.swaramuslim.net Oleh : Redaksi 09 Feb 2007 – 12:12 am)

Maaf, tulisan ini tampaknya seakan jadi ngerumpi . Tetapi ini sebenarnya hanya untuk memperjelas duduk masalahnya, dunia artis yang bergelepotan dengan kasus-kasus keluarga dan gossip itu ketika justru dirangkul oleh orang-orang parpol, maka jadi lebih ruwet lagi. Jadi dipaparkannya contoh kasus ruwet ini hanyalah sebagai peringatan, sebaiknya jangan.

Jadi rupanya, sebagian artis dimanfaatkan oleh parpol tertentu tidak sekadar dalam rangka meningkatkan perolehan suara dan mengkatrol popularitas partai, namun ada juga yang mungkin dimanfaatkan untuk “urusan lain” yang bernuansa perselingkuhan dan syahwat. Kalau laki-laki dan perempuan bukan suami isteri kemudian runtang-runtung ke sana-sini, bagaimanapun itu sudah tidak benar. Alasan kesibukan partai atau kampanye atau apapun, tetap tidak benar. Hingga ketika perempuan bersuami kemudian hamil, sebenarnya wajar. Tetapi karena ada indikasi-indikasi seperti tersebut di atas, maka mencuatlah berita yang sampai diadukan kepada pendiri partai. Dan pendiri partai pun ketiban sampur (diminta berperan) untuk jadi penengah dalam kasus yang memalukan. Seandainya pendiri partai itu memberi keputusan, dengan adanya kasus yang ruwet ini maka saat itu tidak usah parpolnya membawa-bawa artis; maka urusan akan berkurang ruwetnya. Tetapi tidak. Akibat ketidak tegasan Amien Rais itu maka sekarang justru partai ini rupanya lebih melirik lagi kepada para artis.

Ini lebih heboh

Masih ingat kasus Yahya Zaini aktivis Partai Golkar yang konon sempat mau dicalonkan sebagai Menteri Agama oleh partainya, namun urung karena kasus perselingkuhannya dengan Maria Eva artis penyanyi dangdut yang belum ngetop keburu mencuat ke permukaan?

Maria Eva adalah salah satu artis yang dimanfaatkan parpol tersebut di dalam menarik simpati massa terutama di sekitar Jawa Timur. Menjelang akhir November 2006, beredar video mesum yang merekam perzinaan (?) Yahya Zaini dengan Maria Eva. Yahya Zaini adalah anggota DPR dari Partai Golkar. Sedangkan Maria Eva yang berasal dari Sidoardjo, adalah mantan wakil Bendahara AMPI (ormas kepemudaan underbouw Golkar).

Hubungan intim (?) YZ dan ME mulai terjadi saat kampanye Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif 2004 lalu, ketika itu ME menjadi artis penghibur dalam kampanye Golkar di berbagai tempat, sedangkan YZ merupakan salah satu jurkam (juru kampanye). (www.swaramuslim.net Oleh : Redaksi 09 Feb 2007 – 12:12 am)

Artis pendukung porno pun dirangkul

PKB (Partai Kebangkitan Bangsa –didirikan oleh orang-orang NU/ Nahdlatul Ulama) yang berbasis massa Islam juga pernah “memanfaatkan” artis Rieke Dyah Pitaloka (RDP) pemeran tokoh Oneng dalam serial teve bertajuk Bajaj Bajuri. Sebelum ngetop sebagai artis papan atas, RDP adalah salah satu bintang iklan panas. Bahkan RDP pernah dijuluki si meong tentunya dengan konotasi syahwat. Kini, RDP tidak lagi menjadi bagian dari PKB yang konflik melulu itu. Sejak Januari 2008 RDP loncat ke PDIP.

Semasih menjadi bagian dari PKB, RDP termasuk salah satu artis yang gigih menolak RUU-APP (Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi) antara lain bersama Inul dan istri Gus Dur Shinta Nuriyah. Kedua nama itu (RDP dan Shinta) juga tercantum sebagai penyokong AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) yang mendukung keberadaan Ahmadiyah yang sesat dan menyesatkan itu.

Itulah gambaran sebagian kecil dari lakon keblinger yang menggunakan wadah-wadah mereka untuk mengejar kenikmatan dunia dan syahwatnya dengan dalih memperjuangkan nasib bangsa atau dibungkus slogan-slogan yang indah-indah dan bahkan tampak Islami.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُوا فِي لأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ(11)أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لاَ يَشْعُرُونَ(12)

“Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”

Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS Al-Baqarah: 11, 12). (haji/tede)