Pasar Murah Kristenisasi di Sentul Bogor

 

 

Tipuan dan kelicikan menjadi jurus andalan

dalam gerakan pemurtadan terhadap umat Islam.

 

Pada musim haji tahun 1429H, para misionaris Kristen mengedarkan buku manasik haji palsu berjudul “Upacara Ibadah Haji” (Jumat, 13/11/2008). Buku yang sampul depannya memajang foto Masjidil Haram ini ternyata berisi hujatan terhadap Islam, pelecehan terhadap Allah SWT dan penghinaan terhadap Nabi Muhammad. (lihat nahimunkar.com, Buku Panduan Haji Palsu dan Fatwa Mati, 9:23 pm).

 

Masih pada bulan yang sama, para misionaris melancarkan aksi tipuan di Bekasi, dalam acara Bekasi Berbagi Bahagia (B3) hari Ahad (23/11 2008) yang digelar Yayasan Mahanaim. Awalnya, mereka minta izin kepada walikota Bekasi untuk acara kegiatan sosial seperti pernikahan massal, aneka lomba seperti lomba tumpeng tertinggi dan terindah, hingga lomba joget, dan pembagian hadiah. Pesertanya diikuti oleh keluarga, remaja, dan anak-anak. Tapi praktiknya adalah gerakan pengkristenan dan pemurtadan terhadap umat Islam. Acara bertema dengan tema “Indonesia Bangkit Jadi Berkat” itu dipenuhi dengan seremonial Kristiani, seperti: lagu-lagu rohani Kristen dan doa-doa dalam nama Yesus yang dipimpin oleh pendeta.

 

 

S

iang itu adalah hari yang aneh bagi Salim. Selepas shalat dzuhur berjamaah di masjid, ia melihat puluhan minibus Metromini 91 jurusan Batangsari–Tanah Abang datang dan parkir berjajar di sekitar komplek DPA Palmerah Slipi, Jakarta Barat. Bus-bus itu  kebanyakan dipenuhi oleh ibu-ibu berjilbab yang sebagian membawa anak-anak balitanya. Sedangkan anak-anak usia remaja dan bapak-bapak yang hadir tidak banyak jumlahnya.

Melihat penampilan ibu-ibu berjilbab tersebut, mulanya Salim mengira bahwa mereka akan menghadiri acara Tabligh Akbar di tempat lain. Tapi Salim merasa curiga, karena ia tidak pernah mendengar ada Tabligh Akbar pada hari itu. Sebagai aktivis masjid, biasanya ia selalu tahu kalau ada acara Tabligh Akbar yang diumumkan sebelum shalat Jum’at.

”Mau ke mana ini, Bu?” selidiknya. ”Mau ke Sentul, Dik, tamasya dan belanja sembako murah,” jawab seorang ibu dari dalam bus.

”Kok jauh banget, beli sembako ke daerah Bogor?” tanya Salim dalam hati. Tanpa pikir panjang, Salim pun mengontak rekannya yang punya mobil. Tak lama kemudian rekannya datang membawa mobil. Tepat pukul dua siang, Salim dan ketiga rekannya membuntuti bus-bus itu, meluncur menuju kawasan Sentul-Bogor lewat tol Jagorawi. Di sepanjang jalan tol, Salim sering berdecak kaget bertemu dengan puluhan metromini yang datang dari berbagai daerah di sekitar Jabodetabek. Tetapi ketika sampai di kawasan Sentul City, Salim semakin kaget luar biasa. Jalan di kawasan ini menjadi lautan mobil yang terdiri dari ratusan metromini, bus, mobil pribadi dan sepeda motor. Nampak jelas dalam tulisan yang tertempel di bagian depan kendaraan tersebut, bahwa mereka adalah rombongan dari  Bogor, Tangerang, Bekasi, Jakarta, Depok, Karawang, Purwakarta, Cianjur. Bahkan ada bus berplat nomor Semarang.

Karena bahu jalan tak bisa menampung ratusan bus, maka sebagian besar kendaraan parkir beberapa kilometer dari lokasi yang dituju, lalu para rombongan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Begitu pula Salim dan rekan-rekannya. Tak lupa, Salim menyalakan kamera di HP-nya untuk mengabadikan hal-hal yang unik, sementara tiga orang rekannya sibuk bertanya-tanya kepada ibu-ibu yang datang dari berbagai daerah. Ternyata lokasi yang dituju adalah lapangan Taman Budaya di kawasan kompleks Sentul City Bogor Jawa Barat. Umumnya mereka datang ke tempat itu dikoordinir oleh seseorang bahkan ada yang melalui ibu-ibu posyandu di tempatnya masing-masing. Mereka tidak tahu banyak tentang acara yang sedang mereka datangi. Mereka hanya tahu bahwa mereka datang untuk mendapatkan ”Sembako Murah” sembari bertamasya gratis.

Salim berusaha mendapatkan informasi dari pengelola Taman Budaya tentang acara besar-besaran itu, tapi tak banyak yang ia dapat. Ia hanya dapat informasi bahwa acara itu diselenggarakan oleh PT Anika.

 

Karantina Kristenisasi untuk Anak-anak

Jutaan orang yang berbaur jadi satu untuk mendapatkan sembako murah serba lima ribu, jelas menyiksa anak-anak kecil dan wanita usia lanjut. Mereka tidak tahan berdesak-desakan dalam kompetisi membeli sembako murah. Maka ibu-ibu yang membawa anak-anak kecil, memilih menitipkan anak-anaknya di arena bermain khusus anak-anak. Di tempat ini mereka bisa bermaik sepuas-puasnya tanpa ada gangguan, karena arena ini berpagar besi keliling.

Sementara orang tuanya antre berebut membeli sembako murah yang terdiri dari beras, minyak goreng, mie instan, dll, sang anak asyik bermain leluasa dalam pengawasan panitia.

Ternyata, pukul 5 sore arena bermain ini ditutup dan dikunci dengan alasan keamanan dan baru akan dibuka pukul 7 malam. Dalam arena ini, para penginjil mencekoki anak-anak dengan dongeng-dongeng tentang kebaikan doktrin Kristiani. Mereka diberi aneka permen, coklat dan bendera  bergambar salib bertuliskan ”Aku Siap Dibangkitkan Menjadi Ksatria Allah.” Tak ayal, arena bermain anak-anak ini berubah menjadi Karantina Kristenisasi untuk anak-anak.

Anehnya, para orang tua tidak merasa terusik dengan situasi ini. Hanya ada beberapa orang tua saja sadar akan bahaya situasi ini bagi buah hati mereka. Tak banyak orang yang melakukan perlawanan dengan marah-marah dan memaki-maki panitia untuk memaksa supaya anak mereka diizinkan pulang.

Salim pun mulai menarik kesimpulan kalau acara akhir tahun ini adalah Kristenisasi berkedok pasar murah.

 

Jebakan Festival Natal

Dalam situasi yang sangat ramai, rombongan yang sudah mendapatkan sembako ingin secepatnya pulang agar bisa beraktivitas seperti biasanya. Tapi mereka tidak bisa pulang, mengingat supir bus belum mendapatkan uang sewa bus dari panitia. Nampaknya ini disengaja agar umat Islam menghabiskan waktu lebih lama dengan menunggu uang transport di arena yang nyaman. Dan satu-satunya lokasi yang nyaman adalah lapangan yang terletak di sebelah timur.

Di lapangan terbuka seluas lapangan sepak bola ini disuguhkan berbagai hiburan dan pengobatan gratis.

Sambil menunggu pembagian uang transport, rombongan yang memiliki keluhan sakit, dapat mendatangi stand pengobatan gratis yang dilayani oleh para dokter Kristen. Sama seperti stand sembako murah, stand pengobatan yang terletak di sisi selatan lapangan ini pun dipadati oleh antrean panjang orang yang ingin mendapatkan pengobatan gratis. Para dokter Kristen melayani para pasien dengan sabar dan murah senyum. Demi misi agama, mereka begitu bersemangat menyentuh hati umat dengan kedok kasihnya.

Sementara bagi pengunjung yang suka hiburan dan musik, mereka bisa menikmati pertunjukan musik yang disajikan oleh para aktivis gereja. Dengan berbagai pesonanya, mereka bebas menyuguhkan lagu-lagu rohani Kristen untuk memperingati Natal dan memuji ketuhanan Yesus. Anehnya, tak sedikit lelaki berpeci dan wanita berjilbab yang terbawa arus dengan berjoget, melambaikan tangan keatas, dan sebagainya menuruti instruksi para pembawa acara dan penyanyi rohani.

Para pengunjung semakin antusias karena dari atas panggung diumumkan bahwa pada akhir acara itu nanti akan diberikan beberapa doorprize.

Penasaran dengan banyaknya pria berpeci, Salim bertanya kepada seseorang berpeci haji yang bertampang Ambon. Ternyata dia bukan seorang Muslim, melainkan seorang Nasrani jemaat sebuah gereja di Jakarta.

”Ooooh, ternyata mereka mereka berpenampilan islami untuk memancing umat Islam agar larut dalam acara Kristen itu,” guman Salim dalam hati.

 

Klinik Merubah Akidah

Satu pemandangan yang menarik di pojok lapangan adalah stand berukuran 5×6 meter. Bagian depan stand ini bertuliskan ”Klinik Merubah Nasib.” Dalam ruangan yang disekat dengan penutup kain putih terdapat beberapa meja lengkap dengan kursinya. Setiap meja dijaga oleh seorang petugas yang memakai kaus seragam bertuliskan ”Yayasan Obor Berkat Indonesia.”

Ruangan ini pun antri dengan pengunjung yang rata-rata memiliki banyak masalah rumah tangga, perjodohan, pekerjaan, karier, dan sebagainya.

Pemandangan yang menarik dalam ruangan ini adalah ibu berjilbab yang sedang dilayani oleh petugas. Salim menguping pembicaraan antara ibu berjilbab dengan petugas. Setelah sang ibu berjilbab curhat mengutarakan problem dalam hidupnya, giliran petugas berbicara. Dengan lembut, murah senyum dan penuh perhatian, sang petugas menjelaskan solusi bahwa semua masalah di dunia ini hanya bisa diselesaikan dalam nama Yesus. Karena Yesus adalah satu-satunya jalan kebenaran dan hidup. Keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Yesus, sebab di bawah kolong langit ini hanya olehnya manusia dapat diselamatkan. Setelah menerangkan bahwa Yesus adalah satu-satunya pengharapan, sang petugas meminta alamat dan nomor telepon ibu berjilbab, dan berjanji dalam waktu dekat akan menghubunginya. Sebelum keluar dari ruangan, sang petugas mendoakan ibu berjilbab dalam nama Yesus.

Salim baru sadar bahwa ternyata area ini adalah ruang konseling untuk menjala umat Islam. Salim melongok ke dalam ruangan sambil membidikkan HP kameranya untuk mengambil gambar, tapi diusir oleh petugas.

 

Sembako Murah yang Menipu

Pukul 04.30, Salim dan rekan-rekannya shalat di mushalla mungil di pinggir selatan Taman Budaya. Situasi di mushalla ini kontras dengan situasi di festival musik natal maupun di klinik konseling. Hanya ada beberapa orang saja yang menunaikan kewajiban shalat. Usai shalat, Salim berbincang-bincang dengan jamaah shalat yang lainnya. Pak Ahmad yang datang jauh-jauh Balaraja Tangerang, sangat kesal dengan acara ini. Mereka merasa ditipu oleh para koordinator dengan iming-iming sembako murah dan transportasi gratis. Padahal acara yang sesungguhnya adalah perayaan Natal dan Kristenisasi.

Sayangnya, orang seperti Pak Ahmad di lokasi ini tidak banyak.

 

Sembako Murah Misi Ternyata Mahal

Di tengah jutaan pengunjung yang membeli sembako murah, Pak Abu, tukang ojek yang datang dari Bekasi menyimpan kesan negatif terhadap acara Kristen ini, meski ia berhasil membeli sembako seharga Rp 20.000 dengan mendapatkan beras 3 liter, minyak goreng 1 liter, gula 2 kg, dan mie instant 8 bungkus. Kalau dihitung-hitung, memang ia mendapatkan keuntungan sembako yang lebih murah dengan selisih kurang lebih Rp 30.000 jika ia membeli di warung biasa. Dikurangi biaya makan sore di warung seharga 10.000, maka keuntungan materi yang diperolehnya hanya Rp 20.000.

Apalagi dengan pengorbanan perjalanan dari rumah ke kokasi selama 7 jam (PP), ditambah dengan antre berdesak-desakan selama sejam, jalan kaki 2 km dari parkir mobil ke lokasi, serta uang makan di lokasi Rp 10.000, tentunya uang 20.000 tidak ada artinya sama-sekali. Padahal kalau ia narik ojek selama 7 jam bisa membawa penumpang minimal 7 kali dengan keuntungan minimal 50.000.

”Brengsek, ternyata gue dibohongin. Seumur hidup gue kapok ikut acara kayak ginian. Entar kalau ada acara beginian lagi, gue ajak warga di tempat gue biar kagak ikutan,” tuturnya kesal dalam logat betawi yang kental.

Salim tidak bisa mengikuti acara sampai akhir. Pukul 17.30 ia harus pulang karena ada jadwal taklim di masjid. Ternyata perjalanan pulang pun tak mulus. Jalanan di Sentul  City macet dengan ratusan bus. Setelah satu jam bergumul dengan kemacetan, barulah ia bisa keluar menuju tol Jagorawi.

Salim dan rekan-rekannya pun pulang dengan membawa keprihatinan. Kenapa acara yang luar biasa besar dan spektakuler seperti ini tidak diantisipasi oleh ormas-ormas Islam? Padahal kasus Kristenisasi berkedok sembako murah bukan hal yang baru. Pada akhir Mei 2008 ketika diadakan acara serupa di kawasan Monas Jakarta Pusat, umat Islam kecolongan dan tidak mengantisipasinya dengan pembentengan akidah terhadap umat Islam.

Mudah-mudahan tahun berikutnya umat Islam lebih waspada dan sigap dalam mengantisipasi gerakan Kristenisasi berkedok sembako murah yang menipu umat. Acara ini adalah tipuan akidah dan tipuan ekonomi, seperti yang dirasakan oleh Pak Abu dari Bekasi tersebut.

Karena Kristenisasi berkedok Pasar Murah adalah misi murahan yang menipu umat. Inilah upaya licik para misionaris yang melakukan pemurtadan secara terselubung.

( وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ) [سورة البقرة: 109]

 

 

”Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran…” (Qs. Al-Baqarah   109). (masml)