Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Tuban, Jawa Timur, menutup patung Dewa Perang Kongco Kwan Sing Tee Koen dengan kain putih di Kelenteng Kwan Swie Bio, 6 Agustus 2017. Penutupan patung dilakukan karena adanya penolakan dari sejumlah elemen masyarakat. ANTARA/Aguk Sudarmojo.


Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten Tuban, Jawa Timur, belum mengeluarkan IMB (izin mendirikan bangunan) untuk pembangunan Patung Dewa Perang Kongco di Kelenteng Kwan Swie Bio. Alasannya, kelenteng tempat berdirinya patung berstatus sengketa dan sedang dalam proses gugatan.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Tuban Hari Sunarno menjelaskan, IMB belum bisa dikeluarkan karena masih ada masalah hukum pada kepengurusan kelenteng lama dan baru. “Jadi pemerintah belum bisa mengeluarkan IMB pendirian patung Dewa Perang Kongco dalam waktu dekat ini,” kata Hari, Selasa, 8 Agustus 2017.

Menurut Hari, pengurus kelenteng lama masih mengajukan kasasi terkait kasus gugatan perdata kepengurusan kelenteng. “Masalah gugatannya saya kurang tahu pasti. Ya pemerintah belum bisa mengeluarkan IMB yang diajukan pengurus kelenteng baru terkait pembangunan patung.”

Pengurus kelenteng baru, kata Hari, sudah mengajukan IMB pendirian patung Dewa Perang Kongco atau Kwan Sing Tee Koen setinggi 30,4 meter di halaman belakang kelenteng pada April 2016.

Hari juga mengatakan, penutupan patung dengan kain putih atas permintaan pengurus kelenteng setelah memperoleh masukan dari Bupati Tuban Fatkhul Huda. Pesan bupati, kata hari, pengurus kelenteng harus bisa menenangkan kondisi penolakan yang marak melalui media sosial. “Patung sudah tertutup kain putih sejak sehari lalu. Forum Kerukunan Umat Beragama juga menyarankan patung ditutup,” ucap Hari.

Patung tertinggi se-Asia Tenggara yang sudah tertutup kain putih itu telah masuk catatan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Diresmikan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan pada 17 Juli 2017. Pada pondasi patung tertulis patung sumbangan keluarga Hindarto Lie Suk Chen Surabaya. Sedangkan di bawahnya tertulis “design by” (Koh Po) Hadi Purnomo dan Ir Djuli Kurniawan.

Sejumlah organisasi masyarakat (ormas), lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Jawa Timur, berunjuk rasa meminta patung dewa perang itu dirobohkan. Tuntutan itu disampaikan ke DPRD I Jawa Timur di Surabaya pada, Senin, 7 Agustus 2017.

Sumber: nasional.tempo.co

***

Generasi Muda Khonghucu Tolak Patung di Kelenteng Tuban, Sebab…

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Tuban, Jawa Timur, menutup patung Dewa Perang Kongco Kwan Sing Tee Koen dengan kain putih di Kelenteng Kwan Swie Bio, 6 Agustus 2017. Penutupan patung dilakukan karena adanya penolakan dari sejumlah elemen masyarakat. ANTARA/Aguk Sudarmojo.

Tuban – Patung Dewa Perang Guan Yu Chang bergelar Kwan Seng Tee Koen di kelenteng di Tuban ditentang umat yang tergabung Generasi Muda Khonghucu Indonesia. Patung yang berdiri menjulang di Kelenteng Kwan Swie Bio Kabupaten Tuban, Jawa Timur, itu kini tertutup kain.

Keberadaan patung ini sempat dipersoalkan sekelompok orang pada Senin, 7 Agustus 2017. Mereka yang tergabung dalam lembaga swadaya masyarakat berunjuk rasa meminta patung tersebut dirobohkan.

Ketua Presidium Generasi Muda Khonghucu Indonesia (gemaku.org) Kris Tan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Ahad 6 Agustus 2017, menyatakan pembangunan patung di dalam kompleks Kelenteng Tuban merupakan sikap yang tidak peka terhadap keutuhan berbangsa dan bernegara.

“Tuduhan yang beredar bahwa itu diprakarsai oleh umat Khonghucu adalah sebuah kekeliruan dan fitnah besar bagi penganut Khonghucu,” kata dia.

Kris Tan menegaskan, dalam tradisi ajaran leluhur Tionghoa sama sekali tidak dikenal doktrin membangun ikon patung yang megah dan absurd yang bahkan menuju pada praktik-praktik menduakan Tuhan Yang Maha Esa.

Menurut dia, dalam tradisi Khonghucu yang menjadi substansi religiusitas dan spiritualitas seseorang adalah bukan pada penyembahan terhadap benda-benda mati.

“Melainkan itu harus diejawantahkan dalam mencontoh prilaku dan meneladani sikap yang ditunjukan oleh Kwan Seng Tee Koen (Kwan Kong) yang kebetulan memang figur yang dianggap sebagai tokoh yang menjunjung tinggi Zhi, Ren, dan Yong yaitu Kebijaksanaan, Cinta kasih, dan Kebenaran,” katanya.

Fenomena pengkultusan yang berlebihan kata dia, justru telah menodai doktrin utama ajaran leluhur Tionghoa yang menyatakan “Tiada tempat lain meminta doa kecuali kepada Tian Tuhan Yang Maha Esa.

“Maka Generasi Muda Khonghucu Indonesia gemaku.org mengimbau dan mendesak pihak Kelenteng Tuban untuk segera membatalkan rencana atau membongkar patung tersebut karena sama sekali tidak sesuai dengan prinsip tradisi etnis Tionghoa yang mengedepankan kemanusiaan dan cinta kasih,” tuturnya.

“Daripada mencederai kehidupan berbangsa maka sebaiknya segera patung tersebut di bongkar saja,” kata Kris lalu menjelaskan bahwa ketika Kwan Seng Tee Koen menjadi gubernur di daerah Jingzhou justru menganjurkan pada seluruh pengikutnya untuk menghargai apa yang memang menjadi aturan rakyat Jingzhou.

Sumber: nasional.tempo.co

(nahimunkar.com)