Pelawak Tukul dan Adegan Sumanto

Makan Kodok  Hidup-hidup

 

Bekas terhukum karena memakan mayat, Sumanto, ditampilkan di televisi dan mendemonstrasikan praktek memakan kodok hidup-hidup. Akibatnya, KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) mencekal acara empat mata di TV Trans7 di Jakarta yang di antaranya dibawakan oleh pelawak Tukul Arwana itu.

Beritanya ramai di berbagai media, di antaranya sebagai berikut:

 

Gara-gara Kodok, Empat Mata Dihentikan Siarannya

04/11/2008 | 16:00:09

Suryalive | Jakarta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pusat memutuskan untuk menghentikan program acara Empat Mata yang ditayangkan Trans7. Penghentian tersebut karena acara itu dinilai tidak pantas dan melanggar standar program siaran.

“Sejak hari ini, Selasa, KPI memberikan sanksi administratif berupa penghentian selama satu bulan. Jika ingin disiarkan kembali, masa satu bulan tersebut untuk evaluasi dan konsolidasi,” kata Ketua KPI Pusat Sasa Djuarsa Sendjaja, dalam jumpa pers di Kantor KPI, Jakarta, Selasa (4/11).

Sasa menuturkan, sebelumnya KPI telah memberikan teguran sebanyak tiga kali. Teguran tersebut ditayangkan pada 5 Mei 2007, 27 September 2007, dan 25 Agustus 2008. Namun, pada tayangan 29 Oktober 2008 dalam episode Sumanto, mantan pemakan mayat, kembali ditemukan pelanggaran. “Dalam salah satu adegan ada bintang tamu yang memakan hewan kodok hidup-hidup sehingga dinilai telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran,” ujar Sasa.

Menurut Sasa, penghentian acara yang dipandu oleh Tukul Arwana itu juga berdasarkan keluhan yang sangat gencar dari masyarakat. Untuk itu, tuturnya, KPI menindaklanjuti aduan tersebut dengan berdasarkan pelanggaran isi siaran.

Selanjutnya, apabila Trans7 tidak memenuhi keputusan ini, KPI akan memberikan sanksi lebih lanjut sesuai ketentuan Undang-Undang Penyiaran. “Jika tetap dilanggar, KPI akan memberikan denda dan jika tetap dilanggar lagi akan diberikan pencabutan izin siaran,” tuturnya. Kcm (suryalive.com)

 

Berita yang lebih lengkap sebagai berikut:

 

Gara-gara Sumanto, Empat Mata Dicekal

KPI Hentikan Acara Tukul Arwana

 

Anda yang tiap malam Selasa sampai Sabtu suka tertawa hahahihi

malam-malam di depan layar televisi, mulai Selasa (4/11) malam, tak bisa

lagi menyaksikan aksi kocak presenter Tukul Arwana di acara Empat Mata.

Empat Mata adalah acara yang tayang setiap Senin sampai Jumat di stasiun

televisi Trans7.

 

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Selasa (4/11), secara resmi

mengeluarkan surat berisi permintaan kepada manajemen Trans7 untuk

menghentikan tayangan tersebut.

Ini merupakan ekses dari kecerobohan tim kreatif Empat Mata yang pada

episode tayang 29 Oktober 2008 lalu menghadirkan bintang tamu manusia

pemakan mayat Sumanto.

Di tayangan tersebut ditampilkan tayangan demo bintang tamu yang memakan

seekor binatang hidup-hidup.

Melalui keterangan persnya, Ketua KPI Sasa Djuarsa Sendjaja mengutip

hasil sidang pleno KPI Pusat menegaskan, tayangan tersebut melanggar UU

Penyiaran.

“Tayangan tersebut sangat tidak pantas ditampilkan,” tegas Sasa.

Hasil pleno KPI Pusat menyimpulkan, episode Empat Mata tersebut telah

melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS)

Pasal 28 ayat 3.

Bunyinya, “Lembaga penyiaran televisi dilarang menyajikan program dan

promo program yang mengandung adegan di luar perikemanusiaan atau

sadistis”.

Tayangan itu juga melanggar Pasal 28 ayat 4 UU yang sama.

Bunyinya, “Lembaga penyiaran televisi dilarang menyajikan program yang

dapat dipersepsikan sebagai mengagung-agungkan kekerasan atau

menjustifikasi kekerasan sebagai hal yang lumrah dalam kehidupan

sehari-hari”.

Tak hanya itu, tayangan episode Sumanto tersebut juga melanggar Pasal 36

UU Penyiaran yang berbunyi, “Lembaga penyiaran dilarang menyiarkan

program yang mendorong atau mengajarkan tindakan kekerasan atau

penyiksaan terhadap binatang”.

Dalam catatan KPI Pusat, bukan kali ini saja tayangan Empat Mata

mendapat peringatan.

Sebelumnya, program KPI telah memberikan teguran sebanyak tiga kali

terhadap tayangan tersebut.

Teguran sebelumnya dilayangkan pada 5 Mei 2007, 27 September 2007 serta

25 Agustus 2008.

Namun berdasarkan pemantauan KPI Pusat pada program Empat Mata yang

tayang 29 Oktober 2008 episode Sumanto, Mantan Pemakan Mayat ditemukan

adanya pelanggaran. “Sesuai UU Penyiaran, KPI memutuskan untuk

menghentikan sementara program Empat Mata, mengingat adegan dalam

program tersebut sangat tidak pantas dan melanggar SPS yang ditetapkan

KPI,” beber Sasa.

 

Sanksi Lanjutan

Sebelumnya KPI Pusat memang menerima reaksi dan pengaduan masyarakat

kepada KPI yang mengeluhkan tayangan di atas sangat gencar.

Untuk itu berdasarkan UU Penyiaran, KPI wajib menerima dan

menindaklanjuti aduan masyarakat berkaitan dengan pelanggaran isi siaran.

KPI Pusat dalam siaran persnya menambahkan, jika Trans 7 tidak mematuhi

keputusan ini, maka KPI akan mempertimbangkan sanksi lebih lanjut sesuai

dengan ketentuan dalam UU Penyiaran.

Menanggapi persoalan ini, Wakil Ketua KPI Pusat, Fetty Fajriati Miftach,

menyatakan heran dengan ditampilkannya psikopat dalam acara TV.

 

Tanggapan Trans 7

Kemarin siang, manajemen Trans 7 langsung merespon surat KPI ini dengan

mengirimkan surat tanggapan penghentian program Empat Mata.

Dalam surat yang ditandatangani Direktur Utamanya, Atiek Nur Wahyuni,

Trans 7 menyatakan mengerti sepenuhnya alasan penghentian program tersebut.

Namun, Atiek memohon agar Empat Mata masih dapat ditayangkan hingga hari

Jumat, 7 November 2008.

Atiek dalam suratnya beralasan, hal ini terkait dengan komitmen antara

Trans 7 dengan pemasang iklan.

Linda, media relations Trans7 kepada Persda Network, membenarkan adanya

pertemuan manajemen Trans7 dengan KPI Pusat di gedung KPI Pusat tersebut.

“Tadi (kemarin) siang, dari kami langsung ke KPI Pusat untuk membahas

keputusan penghentian tayangan tersebut. Secara prinsip kami

mengapresiasi keputusan KPI Pusat,” ujar Linda.

Linda mengatakan, pihaknya belum mengetahui kapan penghentian tayangan

tersebut akan dicabut.

Yang jelas, pascapertemuan dengan KPI Pusat, manajemen Trans7 langsung

menggelar pertemuan tertutup di kantor Trans7, di Menara Bank Mega, Jl

Kapten Tendean, Jakarta Selatan.

Dalam pertemuan itu, manajemen Trans7 bersama tim kreatif program Empat

Mata melakukan evaluasi dan pembenahan.

Tukul merupakan presenter yang terus menjadi ikon Empat Mata sejak

program ini digulirkan Trans7 beberapa tahun lalu.

Dari program yang selalu menampilkan bintang tamu dari beragam kalangan

ini, Tukul kabarnya mendapat bayaran Rp 20 juta per episode. (http://www.tribun-timur.com, * TRIBUN TIMUR MAKASSAR RSS* Rabu, 05-11-2008 )

 

 

Media yang Anda baca ini, nahimunkar.com, telah menyoroti masalah-masalah semacam itu. Misalnya, TV Trans7 Promosikan Pernikahan Gay

9:58 pm Artikel

Ramadhan: Dari Tradisi Hingga Komedi dan Banci

10:02 pm Artikel

 

Mari kita simak kembali masalah celakanya para pelawak:

 Celakalah para pelawak

Kenapa sekarang ini para pelawak dijadikan tontonan bahkan andalan? Padahal di dalam Islam, para pelawak itu adalah termasuk jenis orang yang dikecam oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan berkali-kali dinyatakan celakah baginya, celakalah baginya…

عن بَهْزُ بْنُ حَكِيمٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالْحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ فَيَكْذِبُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ (الترمذي وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ)

Dari Bahz bin Hakim, bahwa bapaknya telah bercerita kepadanya dari kakeknya, ia berkata, aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Celakalah bagi orang yang berbicara dengan satu pembicaraan agar menjadikan tertawanya kaum, maka ia berdusta, celakalah baginya, celakalah baginya.” (HR At-Tirmidzi, hadits hasan).

   Dalam Kitab Tuhfatul Ahwadzi syarah At-Tirmidzi dijelaskan, bercandanya Nabi hanyalah benar dan tidak menyakiti hati serta tak keterusan.  Sedangkan lawak, maka Syaikh Al-Mubarakafuri mengecamnya sebagai berikut:

فَإِنْ كُنْت أَيُّهَا السَّامِعُ تَقْتَصِرُ عَلَيْهِ أَحْيَانًا وَعَلَى النُّدُورِ فَلَا حَرَجَ عَلَيْك . وَلَكِنْ مِنْ الْغَلَطِ الْعَظِيمِ أَنْ يَتَّخِذَ الْإِنْسَانُ الْمِزَاحَ حِرْفَةً , وَيُوَاظِبَ عَلَيْهِ وَيُفْرِطَ فِيهِ ثُمَّ يَتَمَسَّكُ بِفِعْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَهُوَ كَمَنْ يَدُورُ مَعَ الزُّنُوجِ أَبَدًا لِيَنْظُرَ إِلَى رَقْصِهِمْ , وَيَتَمَسَّكُ بِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذِنَ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فِي النَّظَرِ إِلَيْهِمْ وَهُمْ يَلْعَبُونَ ( وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ ) كَرَّرَهُ إِيذَانًا بِشِدَّةِ هَلَكَتِهِ , وَذَلِكَ لِأَنَّ الْكَذِبَ وَحْدَهُ رَأْسُ كُلِّ مَذْمُومٍ وَجِمَاعُ كُلِّ شَرٍّ .

 Maka apabila engkau wahai pendengar membatasi candaan sesuai dengan yang dialami Nabi saw dan hanya kadang-kadang secara jarang maka tidak apa-apa. Tetapi menjadi salah besar apabila seseorang menjadikan candaan/ lelucon itu sebagai profesi/ pekerjaan (seperti pelawak, pen), dan menekuninya dan keterusan dengannya, kemudian (berdalih) memegangi perbuatan Rasulullah saw, maka itu seperti orang yang mengitari Zunuj (satu masyarakat dari Sudan) terus-terusan untuk melihat jogetnya dengan berdalih bahwa Nabi saw mengizinkan Aisyah ra melihat mereka (zunuj) yang sedang bermain. Celakalah baginya, celakalah baginya; kata-kata ini diulang-ulang (oleh Nabi saw) menunjukkan sangat keras kerusakannya. Hal itu karena bohong itu sendiri adalah pangkal segala yang tercela dan pusat segala keburukan. (Al-Mubarakafuri, Tuhfatul Ahwadzi, Syarah Jami’ At-Tirmidzi, juz 6 halaman 498 المباركفوري). – (ج 6 / ص 498 ], الكتاب : تحفة الأحوذي بشرح جامع الترمذي)

 

Bahaya lawakan itupun sudah dikemukakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan melarang kita untuk banyak tertawa, karena akan mematikan hati:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ (ابن ماجة إِسْنَاده صَحِيح رِجَاله ثِقَات)

Riwayat dari Abi Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Janganlah kamu sekalian banyak tertawa, karena banyak tertawa itu mematikan hati. (HR Ibnu Majah, sanadnya shahih, rijalnya kuat).

    As-Sindi dalam Kitab Syarah Sunan Ibnu Majah menjelaskan, “mematikan hati” itu maksudnya menjadikannya keras, tidak terpengaruh oleh nasihat-nasihat sebagaimana mayit.

   Imam Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fathul Bari dalam bab tersenyum dan tertawa, bahwa yang tampak dari kumpulan hadits-hadits bahwa Nabi saw keadaannya yang paling banyak tidak lebih dari tersenyum, dan barangkali lebih dari itu adalah tertawa. Dan yang dibenci hanyalah banyaknya tertawa atau kelewatan dengannya, karena hal itu menghilangkan sopan santun.

   Imam Bukhari dalam kitabnya Adabul Mufrad dan Ibnu Majah mengemukakan hadits Rasulullah saw dari Abu Hurairah: . Janganlah kamu sekalian banyak tertawa, karena banyak tertawa itu mematikan hati.

 

10 Tayangan TV bermasalah

Disamping itu tahun ini KPI telah memperingatkan adanya 10 tayangan TV yang bermasalah yaitu:

 

Cinta Bunga (SCTV)

Dangdut Mania Dadakan 2 (TPI)

Jelita (RCTI)

Mask Rider Blade (ANTV)

Namaku Mentari (RCTI)

Rubiah (TPI)

Super Seleb Show (Indosiar)

Si Entong (TPI)

Mister Bego (ANTV)

Extravaganza (TRANSTV)

 

Berita selengkapnya sebagai berikut:

Sepuluh Tayangan Bermasalah Versi KPI

 

JAKARTA – Acara variety show, Extravaganza, yang muncul di Trans TV

dinyatakan tak layak tayang. Acara yang antara lain dibintangi Aming,

Tora Sudiro, dan Virnie Ismail itu termasuk di antara 10 tayangan

bermasalah yang dirilis Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) kemarin (9/5).

 

Saat jumpa pers di Kantor KPI, Extravaganza disebut bermasalah karena

menampilkan rangkaian tindakan yang mengesankan kekerasan fisik. Banyak

kekerasan secara verbal, percakapan yang mengarah vulgar, serta tidak

memperhatikan norma kesopanan dan kesusilaan.

 

KPI juga menangkap pelanggaran yang secara garis besar hampir sama pada

sembilan acara lain. Yaitu, Cinta Bunga (SCTV), Dangdut Mania Dadakan2

(TPI), Jelita (RCTI), Mask Rider Blade (antv), Mister Bego (antv),

Namaku Mentari (RCTI), Rubiah (TPI), Super Seleb Show (Indosiar), dan Si

Entong (TPI).

 

Contohnya Si Entong. Sinetron itu tidak jelas tayangan untuk anak atau

remaja. Banyak kata-kata kasar dan penggambaran anak yang tidak

mendidik,” kata Nina Armando, salah seorang tim panelis yang menjadi

narasumber. “Misalnya, anak-anak pacaran. Kemudian, ada penggambaran

guru yang melecehkan, tidak memperhatikan norma kesopanan, dan tidak

mencantumkan klasifikasi acara,” jelasnya.

 

Penetapan 10 tayangan bermasalah itu berdasar hasil evaluasi tim panelis

yang diketuai Prof Dr Arief Rahman dengan dibantu 11 orang analis

independen. Pemantauan difokuskan kepada tiga jenis acara. Yaitu,

sinetron serial, variety show, dan tayangan anak. Suatu tayangan dinilai

bermasalah apabila mengandung unsur kekerasan fisik, sosial, dan psikologis.

 

Menurut Nina, di luar 10 acara itu, bukan berarti yang lain bebas

masalah. “Nah! Yang 10 acara itu ternyata terjaring,” imbuhnya.

 

Prof Sasa Djuarsa Sendjaja, ketua KPI Pusat, menjelaskan, pihaknya

melakukan analisis kualitatif dan mengambil sampel masing-masing

tayangan dari tiga kategori yang dinilai itu. Masing-masing acara

dipantau selama empat jam, 1-13 April 2008. “Yang potensi masalahnya

cukup besar adalah yang kami nilai bermasalah,” ujarnya.

 

Sasa menambahkan, pihaknya tidak memberikan sanksi kepada stasiun TV

yang menayangkan 10 acara bermasalah itu. Untuk sementara, KPI masih

memberikan warning dan menjadi contoh bagi acara lain agar menyajikan

yang lebih baik. “Itu gambaran bagi yang lain bahwa ini lho yang salah,”

tambahnya.(gen/tia) (Jawa Pos, Sabtu, 10 Mei 2008).

 

Kembali ke Tukul

Koran local Suara Merdeka yang terbit di Semarang memberitakan:

…wajah Tukul belakangan kerap menghiasi media massa dan televisi. Sederet iklan, sinetron, acara lawak, dan talk show di beberapa stasiun televisi nasional, menjadikannya bintang utama.

Kedatangan pelawak yang terlahir dengan nama Riyanto (43) ke Kota Semarang itu memang untuk mudik alias pulang kampung. Ayah dari Novita Eka Afriana (7 tahun 5 bulan) buah cintanya dengan Susiana (38) itu dahulu memang tinggal di Jalam Perbalan Purwosari V Nomor 754, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Semarang Utara, Semarang.

Selain untuk berziarah ke makam orang tuanya, almarhum Suwandi dan almarhumah Sutimah, yang dikebumikan di Pemakanan Bergota, Tukul juga berkeinginan bersilaturahmi dengan rekan-rekannya dahulu.

“Sejak kecil saya memang tinggal di Semarang. Setiap Lebaran ada kerinduan untuk kembali ke sini,” ungkap Tukul saat ditemui, Rabu (25/10), sekitar pukul 07.00.

Dia mengaku selalu rindu untuk menyambangi jalan-jalan di Kota ATLAS, seperti Pedurungan, Tegalwareng (sekarang Jalan Sriwijaya), Jrakah, Panggung, Peterongan, dan Simongan. Lantas apa keunikan jalan yang dia sebut itu? Aha, rupanya bagi Tukul, nama jalan itu tak bakal lekang dalam ingatan.

Pasalnya, pada awal 1980 hingga akhir 1981, pelawak yang kerap menyebut namanya Reinaldi saat di atas panggung itu pernah menjadi sopir angkutan kota.

Sopir angkot? Ya, Tukul memang pernah melakoni hidup menjadi sopir dan bahkan kernet angkot. Itu dia lakukan jauh sebelum tenar.

“Saya masih ingat betul bagaimana susah mencari duit saat dahulu menjadi sopir angkot. Namun itu ada hikmahnya. Sekarang saya jadi bisa menghargai rezeki yang diberikan Tuhan,” ungkap pembawa acara talk show “Empat Mata” di salah satu stasiun televisi swasta nasional itu.

Kendati sekarang selebriti, Tukul mengaku tak bakal melupakan rekan-rekannya yang kini masih bekerja sebagai sopir. (Fahmi ZM, Budi Winarto, Abduh Imanulhaq-41j, Suara Merdeka, Jumat, 27 Oktober 2006).

Banyak yang risih

Pelawak yang dulunya kernet kemudian jadi supir angkutan kota di Semarang itu ketika belakangan dikenal sebagai pelawak, langsung banyak yang risih terhadap tingkah lakunya. Karena Tukul sering sengak-sengkok atau cipak-cipuk atau sembarangan menciumi wanita bukan isterinya di panggung acara. Itu jelas akhlaq tercela dan menjerumuskan manusia karena dia mempertontonkan kemaksiatannya secara terang-terangan. Padahal menciumi wanita bukan isterinya itu termasuk unsur zina. Apalagi dilakukan di depan umum lagi, ditonton oleh jutaan manusia.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperintgatkan:

1550 حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ النُّطْقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ *

1550  Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda: Allah subhanahu wa ta’ala telah mencatat bahwa anak Adam cenderung terhadap perbuatan zina. Keinginan tersebut tidak dapat dielakkan lagi, di mana dia akan melakukan zina mata dalam bentuk pandangan, zina mulut dalam bentuk pertuturan, zina perasaan yaitu bercita-cita dan berkeinginan mendapatkannya manakala kemaluanlah yang menentukannya berlaku atau tidak * (Muttafaq ‘alaih).

Dalam hal mengajak kepada keburukan, dalam hal ini berbuat maksiat dipertontonkan oleh Tukul, telah diancam oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

(( مَنْ دَعَا إِلَى هُدَىً ، كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أجُورِ مَنْ تَبِعَه ، لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ أجُورِهمْ شَيئاً ، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ ، كَانَ عَلَيهِ مِنَ الإثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ ، لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيئاً )) رواه مسلم . صحيح مسلم – (ج 8 / ص 62)6980

Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya sampai hari qiyamat, tanpa mengurangi pahala mereka (orang yang mengikuti petunjuk itu) sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya sampai hari qiyamat, yang demikian itu tidak mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka (orang-orang yang mengikutinya). (HR Muslim, dari Abu Hurairah, Shahih Muslim juz 8 halaman 62, nomor 6980).

   Akhirnya, semoga tidak tukul (tumbuh) Tukul-Tukul lainnya yang di samping norak dan menjijikkan serta tidak mutu, masih pula menjerumuskan manusia seperti itu. (haji).