PELECEHAN TERHADAP KITAB SUCI AL QUR’AN DAN
NABI MUHAMMAD Shallallahu ‘alaihi wasallam
DALAM KITAB SUCI AHMADIYAH “TADZKIRAH”

1. Dalam Al Qur’an disebutkan beberapa potongan ayat berikut:

اِنَّآاَنْزَلْنَاهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Artinya:
Sesungguhnya Kami yang telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan”. (Q.S. Al-Qadr: 1).

 

… وَبِالْحَقِّ أَنْزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ…

Artinya:
Dan kami turunkan (Al-Quran itu) dengan sebenar-benarnya dan (Al-Quran itu) telah turun dengan (membawa) kebenaran”. (Q.S. Al-Isra’ : 105)

 

…قَالُوْا هَذَا مَاوَعَدَنَا اللهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَدَقَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ…

Artinya :
Mereka berkata: Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya”. (Q.S. Al-Ahzab : 22)

 

…وَكَانَ اَمْرُ اللهِ مَفْعُوْلاً

Artinya:
Dan ketetapan Allah pasti berlaku”. (Q.S. An-Nisa: 47)

Sedangkan dalam Tadzkirah, potongan ayat-ayat tersebut dirangkaikan dengan beberapa perubahan, dan disebutkan beberapa kali dengan redaksi yang berbeda, yaitu:

 

 

اِنَّآاَنْزَلْنَاهُ قَرِيْبًامِّنَ الْقَادِيَانِ وَبِالْحَقِّ نَزَّلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَّلَ صَدَقَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ وَكَانَ اَمْرُ اللهِ مَفْعُوْلاً

Artinya:
Sesungguhnya Kami telah menurun-kannya (Tadzkirah) dekat Qadian dan dengan sebenarnya kami menurunkannya dan dengan sebenarnya telah turun. Maha Benar Allah dan Rasul-Nya dan ketetapan Allah pasti berlaku”.
(Tadzkirah 1969 halaman 74-75, 360, dan 367)

 

اِنَّآاَنْزَلْنَاهُ قَرِيْبًامِّنَ الْقَادِيَانِ وَبِالْحَقِّ نَزَّلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَّلَ وَكَانَ اَمْرُ اللهِ مَفْعُوْلاً

Artinya:
Sesungguhnya Kami telah menurun-kannya (Tadzkirah) dekat Qadian dan dengan sebenarnya kami menurunkannya dan dengan sebenarnya telah turun. Dan ketetapan Allah pasti berlaku”.
(Tadzkirah 1969 halaman 275)

2. Dalam Al Qur’an disebutkan beberapa potongan ayat berikut:

 

اِنَّآاَنْزَلْنَاهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Artinya:
Sesungguhnya Kami yang telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan”. (Q.S. Al-Qadr: 1).

Sedangkan dalam Tadzkirah, ayat tersebut ditulis dengan penambahan, yaitu:

 

اِنَّا اَنْزَلْنَاهُ فِىْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ اِنَّا كُنَّا مُنْزِلِيْنَ

Artinya:
Sesungguhnya Kami menurunkannya (Tadzkirah ini) pada malam Lailatul Qadar, sesungguhnya Kami benar-benar menurunkannya.”
(Tadzkirah 1969 halaman 569)

3. Dalam Al Qur’an disebutkan potongan ayat berikut:

 

وَ إِنْ كُنْتُمْ فِى رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَاْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهِ

Artinya:
Dan jika kamu dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami, buatlah satu surat yang semisal Al Qur’an itu.
(QS. Al Baqarah: 23)

Sedangkan dalam Tadzkirah, potongan ayat tersebut dirubah dan disebutkan beberapa kali dengan redaksi yang berbeda, yaitu:

 

وَاِنْ كُنْتُمْ فِى رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا فَاْتُوْا بِاَيَةٍ مِّنْ مِّثْلِهِ

Artinya:
Dan jika kamu dalam keraguan tentang apa yang telah Kami turunkan, maka buatlah satu ayat yang semisal dengannya.
(Tadzkirah 1969 halaman 798)

 

اِنْ كُنْتُمْ فِى رَيْبٍ مِمَّآ اَيَّدْنَا عَبْدَنَا فَاْتُوْا بِكِتَابٍ مِنْ مِثْلِهِ

Artinya:
Jika kamu dalam keraguan tentang apa yang telah Kami kuatkan kepada hamba Kami, maka buatlah satu kitab yang semisal dengannya.
(Tadzkirah 1969 halaman 251)

4. Dalam Al Qur’an disebutkan ayat mengenai fungsi kerasulan Muhammad shallallhu ‘alaihi wasallam, yaitu:

 

وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

Artinya:
Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS. Al Anbiya’: 107)

Sedangkan dalam Tadzkirah, terdapat ayat buatan Mirza Ghulam Ahmad tentang kerasulannya, yaitu:

 

اِنَّا اَرْسَلْنَا اَحْمَدَ اِلَى قَوْمِهِ فَاَعْرَضُوْا وَقَالُوْا كَذَّابٌ أَشِرٌ

Artinya:
Sesungguhnya Kami mengutus Ahmad kepada kaumnya, akan tetapi mereka berpaling dan mereka berkata: seorang yang amat pendusta lagi sombong.
(Tadzkirah 1969 halaman 375 dan 391)

5. Dalam Al Qur’an disebutkan ayat berikut:

 

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِىْ يُحْبِبْكُمُ الله وَ يَغْفِرْلَكُمْ ُذنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya:
Katakanlah (wahai Muhammad): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Ali Imran: 31)

Ayat Al Qur’an yang ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallhu ‘alaihi wasallam hanya disebutkan satu kali, sedangkan dalam Tadzkirah ayat yang ditujukan kepada Nabi Mirza Ghulam Ahmad disebutkan beberapa kali, sehingga ayat-ayat tersebut seolah-olah berebut pengaruh antara Nabi Muhammad shallallhu ‘alaihi wasallam dengan Nabi Mirza Ghulam Ahmad dari India. Ayat-ayat tentang Mirza Ghulam Ahmad diantaranya:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِىْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ

Artinya:
Katakanlah (wahai Ahmad): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihimu.”
(Tadzkirah 1969 halaman 46)

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِىْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ

Artinya:
Katakanlah (wahai Ahmad): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihimu.”
(Tadzkirah 1969 halaman 61)

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِىْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ نُوْرًا وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ فُرْقَانًا وَّيَجْعَلْكُمْ مِّنَ الْمَنْصُوْرِيْنَ

Artinya:
Katakanlah (wahai Ahmad): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihimu, dan memberikan kepadamu cahaya dan furqan, dan menjadikan kamu termasuk orang-orang yang diselamatkan.
(Tadzkirah 1969 halaman 218)

 

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْ نِىْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَ يَغْفِرْلَكُمْ ذُ نُوْبَكُمْ وَ يَرْحَمْ عَلَيْكُمْ وَهُوَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ

Artinya:
Katakanlah (wahai Ahmad): jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu dan meng-ampuni dosa-dosamu dan mem-berikan rahmat kepadamu dan Dia Maha Penyayang diantara para penyayang.
(Tadzkirah 1969 halaman 221)

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِىْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَقُلْ يَااَيُّهَا النَّاسُ اِنِّى رَسُوْلُ اللهِ اِلَيْكُمْ جَمِيْعًا اَىْ مُرْسَلٌ مِّنَ اللهِ

Artinya:
Katakanlah (wahai Ahmad): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihimu – dan katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua – yaitu sebagai orang yang diutus oleh Allah”.
(Tadzkirah 1969 halaman 352)

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِىْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ

Artinya:
Katakanlah (wahai Ahmad): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihimu.
(Tadzkirah 1969 halaman 368)

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِىْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ

Artinya:
Katakanlah (wahai Ahmad): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihimu.
(Tadzkirah 1969 halaman 467)
6. Dalam Al Qur’an disebutkan ayat berikut:

 

… فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِىْ اِلَيْهِمْ …

…Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka…” (QS. Ibrahim: 37)

Sedangkan dalam Tadzkirah, potongan ayat tersebut dirubah dan ditambahi, yaitu:

 

وَاجْعَلْ اَفْئِدَةً كَثِيْرَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِىْ اِلَىَّ

Artinya:
Buatlah hati banyak orang cenderung kepadaku
(Tadzkirah 1969 halaman 776)

1. Dalam Tadzkirah juga banyak ayat-ayat yang merupakan buatan Mirza Ghulam Ahmad sendiri, diantaranya:

اَنْتَ مِنِّىْ وَاَناَ مِنْكَ

Artinya:
Kamu berasal dari-Ku dan Aku darimu.
(Tadzkirah 1969 halaman 774)

 

وَضَعْنَا النَّاسَ تَحْتَ اَقْدَامِكَ

Artinya:
Kami menempatkan manusia berada dibawah kedua telapak kakimu.
(Tadzkirah 1969 halaman 744)

اَنْتَ مِنِّىْ وَاَناَ مِنْكَ
ظُهُوْرُكَ ظُهُوْرِىْ

Artinya:
Kamu berasal dari-Ku dan Aku darimu.
Punggungmu adalah punggung-Ku

(Tadzkirah 1969 halaman 704)

 

رَحِمَكَ اللهُ

اِنَّكَ اَنْتَ اْلاَعْلَى

Artinya:
Allah mengasihimu.
Sesungguhnya kamu adalah yang tertinggi
.”
(Tadzkirah 1969 halaman 693)

7. Dalam Al Qur’an disebutkan ayat berikut:

 

… وَآتَاكُمْ مَالَمْ يُؤْتِ اَحَدًا مِّنَ الْعَالَمِيْنَ.

Artinya:
… dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain.” (QS. Al Maidah: 20)

Sedangkan dalam Tadzkirah, potongan ayat tersebut dirubah dan ditambahi, yaitu:

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ اَذْهَبَ عَنِّى الْحَزَنَ وَآتَانِىْ مَالَمْ يُؤْتَ اَحَدٌ مِّنَ الْعَالَمِيْنَ

Artinya:
Segala puji bagi Allah Dzat Yang telah menghilangkan dariku kesedihan dan telah memberikan kepadaku apa yang tidak pernah Dia berikan kepada seorangpun di alam ini.
(Tadzkirah 1969 halaman 664)

8. Dalam Al Qur’an disebutkan ayat berikut:

 

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْآنَ وَلَوْكَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا

Artinya:
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak didalamnya.” (QS. An Nisa’: 82)

Sedangkan dalam Tadzkirah, ayat tersebut dipenggal dan dirubah, yaitu:

قُلْ اِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا

Artinya:
Katakanlah: kalau kiranya bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya.”
(Tadzkirah 1969 halaman 663)

PERIHAL WAHYU YANG MERUPAKAN BAJAKAN
DARI AL QUR’AN

Dalam Buku Suatu Tanggapan Benarkah Ahmadiyah Sesat?, terbitan Pedoman Besar Gerakan Ahmadiyah Indonesia (PB GAI), Yogyakarta, Agustus 2002, halaman 13 disebutkan:
“… Apakah wahyunya merupakan potongan-potongan Alqur’an atau bukan potongan Alqur’an, bukan urusan Mirza Ghulam Ahmad tetapi urusan Allah subhanahu wata’ala.!

TANGGAPAN AKHIR LPPI

Perilaku dusta yang amat keji seperti ini telah dijelaskan dalam Al Qur’an, yaitu ancaman bagi orang yang mengaku menerima wahyu dan menulis kitab dengan tangannya sendiri, kemudian dikatakannya dari Allah subhanahu wata’ala, serta merubah dan membajak wahyu Allah yang telah diturunkan kepada Rasul-Nya. Allah berfirman:

 

{مِنَ الَّذِيْنَ هَادُوْا يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهِ وَ يَقُوْلُوْنَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ …}

Artinya:
Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa…” (QS. An Nisa’: 46)

 

{فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيْثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوْبُهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهِ وَنَسُوْا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوْا بِهِ…}

Artinya:
(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya…” (QS. Al Maidah: 13)

{فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيْهِمْ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هذَا مِنْ عِنْدِ اللهِ لِيَشْتَرُوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيْلاً فَوَيْلٌ لَّهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيْهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُوْنَ}

Artinya:
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 79).

(M Amin Djamaluddin –LPPI—Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam/ Hartono Ahmad Jaiz).