Pembantaian Tersadis terhadap Para Pendukung Cagub Esmael (Islam) di Filipina

Pembantaian paling sadis dalam sejarah di Filipina 23 November 2009 diduga dilakukan para pendukung gubernur Andal Ampatuan (Katolik), terhadap 57 anggota dan kerabat dari klan Esmael Mangudadatu (Islam), pesaing politik klan Ampatuan.

Ketua Komisi Hak Asasi Manusia Filipina Leila de Lima di Manila, Rabu (9/12), menyebutkan, para saksi pembunuhan itu berani tampil dan bersuara setelah pembantaian 23 November itu. Mereka menuturkan hal yang begitu mengerikan. Ada dari para korban yang dikubur hidup-hidup dan yang dibunuh dengan gergaji. Bahkan, ada dugaan sebagian dari wanita dalam rombongan itu digagahi lebih dulu.

Ini pembantaian warga terparah dalam sejarah,” kata penasehat politik presiden Filipina Gloria Arroyo, seperti dikutip harian Trouw.

Mutilasi
Senin kemarin polisi menemukan 21 jenazah, 13 perempuan dan delapan laki-laki. Beberapa korban dimutilasi dan dipenggal kepalanya. Sedikitnya sepuluh orang lain masih dilaporkan hilang.

Pelaku diduga pendukung gubernur Katolik Andal Ampatuan. Kabarnya tindakan mereka upaya mencegah politikus bersaing dari suku lain mencalonkan diri dalam pemilihan gubernur. Calon bersangkutan adalah tokoh Islam, Esmael Mangudadatu. Isterinya salah satu korban pembantaian.

International Federation of Journalists (IFJ) dan Reporter Sans Frontieres (RSF) menyatakan pembantian tersebut sebagai tindakan brutal terburuk sepanjang sejarah. Baru kali ini 12 jurnalis yang sedang meliput dibantai sekaligus.

Inilah berita-beritanya

Korban Pembantaian Digergaji dan Dikubur Hidup-hidup

Klan Ampatuan Telah Bunuh 250 Orang Lebih

Kamis, 10 Desember 2009 | 08:13 WIB

MANILA, KOMPAS.com – Keluarga besar Ampatuan yang sangat berkuasa di Provinsi Maguindanao telah membunuh lebih dari 250 orang selama delapan tahun berkuasa dengan aksi sarat teror. Ketua Komisi Hak Asasi Manusia Filipina Leila de Lima di Manila, Rabu (9/12), menyebutkan, aksi- aksi pembunuhan brutal itu selama ini dibiarkan pemerintahan Presiden Gloria Macapagal- Arroyo karena klan itu merupakan sekutu penting Presiden.

Polisi juga mencurigai sedikitnya 161 orang, termasuk para tentara dan polisi yang loyal terhadap klan Ampatuan. Mereka itu diduga terlibat langsung pada pembantaian 23 November di Maguindanao. Pembantaian itu dilakukan terhadap 57 anggota dan kerabat dari klan Esmael Mangudadatu, pesaing politik klan Ampatuan.

”Semua orang tahu soal pembunuhan itu, tetapi menoleransinya. Kami menginginkan pertanggungjawaban penuh sekarang,” ujar de Lima.

Dikubur hidup-hidup

De Lima menambahkan, para saksi pembunuhan itu berani tampil dan bersuara setelah pembantaian 23 November itu. Mereka menuturkan hal yang begitu mengerikan. Ada dari para korban yang dikubur hidup-hidup dan yang dibunuh dengan gergaji. Bahkan, ada dugaan sebagian dari wanita dalam rombongan itu digagahi lebih dulu.

Arroyo mengakhiri persekutuan setelah klan Ampatuan dituduh mengorganisasi pembantaian, yang dilakukan untuk menghentikan Esmael Mangudadatu mencalonkan diri sebagai gubernur di Filipian selatan pada pemilu Mei 2010.

De Lima menegaskan, persekutuan telah berlangsung lama antara pemerintahan Arroyo dan Ampatuan. Laporan-laporan tentang lawan politik klan Ampatuan yang lenyap di Maguindanao telah beredar selama beberapa tahun. ”Terlalu berbahaya untuk memvalidasi laporan-laporan itu secara dini. Kini kami memetik manfaat dari pengamanan militer dengan turun ke lapangan dan menyelidiki langsung,” ujar De Lima. (AP/AFP/OKI)

Editor: jimbon

Sumber : Kompas Cetak

http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/12/10/08132335/korban.pembantaian.digergaji.dan.dikubur.hidup-hidup

Pelaku pembantaian diduga pendukung gubernur Katolik Andal Ampatuan. Inilah beritanya:

Perseteruan politik Filipina mengakibatkan pertumpahan darah. Sedikitnya 21 orang dibunuh secara keji.

Ini pembantaian warga terparah dalam sejarah,” kata penasehat politik presiden Filipina Gloria Arroyo, seperti dikutip harian Trouw.

Mutilasi
Senin kemarin polisi menemukan 21 jenazah, 13 perempuan dan delapan laki-laki. Beberapa korban dimutilasi dan dipenggal kepalanya. Sedikitnya sepuluh orang lain masih dilaporkan hilang.

Pelaku diduga pendukung gubernur Katolik Andal Ampatuan. Kabarnya tindakan mereka upaya mencegah politikus bersaing dari suku lain mencalonkan diri dalam pemilihan gubernur. Calon bersangkutan adalah tokoh Islam, Esmael Mangudadatu. Isterinya salah satu korban pembantaian.

Pria bersenjata
Si isteri berencana mendaftarkan suami sebagai calon pemilihan gubernur Mei tahun depan. Ia ditemani sanak keluarga, pengacara dan wartawan ketika konvoi mereka dihentikan ratusan laki-laki bersenjata. Kelompok pria bersenjata ini menyandera semua penumpang serta membunuh isteri calon gubernur.

“Sebelum dibunuh, saya sempat berbicara dengan isteri saya lewat telpon. Ia bercerita bahwa ia diculik atas perintah keluarga Ampatuan,” cerita suaminya, Mangudadatu seperti dikutip harian Trouw.

Berpengaruh
Gubernur Ampatuan dan anggota keluarganya memang sangat berpengaruh dan berkuasa. Banyak anggota keluarga memegang jabatan politik penting. Ampatuan juga memiliki tentara sendiri, dipimpin putranya.

Pemilu Filipina sering dibarengi kekerasan, terutama di bagian selatan yang mayoritas penduduknya Islam. Di sana pasukan keamanan melawan kelompok pemberontak dan radikal muslim. Selain itu mereka juga harus menangani perseteruan keluarga seperti antara keluarga Ampatuan dan Mangudadatu.

Demikian tulis Trouw. http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia/article/pertumpahan-darah-di-filipina-0

Kejadian pembantaian, inilah beritanya:

Jum’at, 11 Desember 2009 | Jumlah artikel : 977

Tragedi Berdarah Wartawan Filipina

Rabu, 25 November 2009

Oleh Nur Hasan Murtiaji. Fernan Rahadi

Lima mobil yang memuat 40 orang berkonvoi hendak mendaftarkan Ismail Mangudadatu. salah satu kandidat gubernur Maguindanao wilayah di selatan Filipina. Senin (23/11). Di antara rombongan itu. terdapat 12 wartawan dan dua pengacara yang menyertai kepergian mereka.

Namun, jumlah pasti wartawan yang ikut masih belum jelas. Yang jelas, dalam rombongan yang didominasi wanita dan anak-anak itu. Mangudadatu tidak ikut serta. Tidak turut sertanya sang calon gubernur, memang disengaja.

Seringnya mendapat ancaman pembunuhan, menjadi salah satu alasan bukan Mangudadatu yang mendaftarkan diri. Istri dan dua adik perempuannya yang malah berangkat, dengan alasan bila wanita lebih aman ketimbang pria.

Iring-iringan laju konvoi kendaraan terhenti di sebuah pos pemeriksaan polisi, di jalan bebas hambatan. Dan di sinilah tragedi itu bermula, yang tragisnya justru dicentakan sendiri oleh Mangudadatu.

Istn Mangudadatu. Genalyn. ungkapnya, sempat menelepon sebelum tragedi itu terjadi. “Ia mengatakan, mereka dicegat 100 pria bersenjata, kemudian teleponnya terputus.” ujar Mangudadatu.

Ternyata. hubungan per telepon itu menjadi percakapan terakhirnya dengan sang istri, belakangan. 24 orang ditemukan dalam keadaan tewas terkapar di tepi jalan, di wilayah pegunungan yang terpencil, sekitar lima kilometer dari lokasi kejadian.

Kemarin, jumlah korban yang ditemukan pun terus bertambah, menjadi 35 orang. Polisi masih terus menggali daerah sekitar, yang diduga menjadi tempat penguburan para korban.

Di antara korban tewas itu, kata juru bicara kepolisian, Leonardo Espina, terdapat seorang wartawan yang turut dalam rombongan tersebut. Belum diketahui nasib 11 wartawan lainnya, yang memunculkan kekhawatiran mereka juga terbunuh.

Namun, polisi maupun Joy Sonza, kepala stasiun TV pribadi, UNTV, mengidentifikasi jumlah wartawan tewas tiga orang. Perbedaan jumlah wartawan disampaikan Noynoy Espina, wakil ketua Persatuan Wartawan Nasional Filipina, yang menyebut 20 wartawan tewas, berdasarkan laporan yang diterimanya dari lokasi.

Apalagi, koran-koran dan radio setempat mengaku belum bisa menghubungi wartawan mereka. Menurut Reporter Tanpa Batas yang berbasis di Paris, Prancis, jika 12 wartawan lokal itu benar-benar tewas. “Insiden berdarah tersebut akan menjadi peristiwa pembunuhan terbesar yang pernah terjadi terhadap wartawan.”

“Meliput berita selalu menjadi hal yang berbahaya di Filipina. Tetapi, pembunuhan tak beralasan seperti ini adalah sebuah penyerangan terhadap sistem demokrasi di negara ini,” ujar Bob Dietz, koordinator Program Asia untuk Komite Perlindungan Wartawan, di New York.

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan Komite Perlindungan Wartawan, banyak serangan terhadap gedung media yang menimbulkan kematian, tapi tidak semuanya yang tewas adalah wartawan. Sebagai contoh, lima wartawan dan enam karyawan saluran TV satelit Al-Shaabiya tewas saat kantornya di Baghdad diserang, 2006 silam.

Klub Wartawan Nasional di Filipina juga mengutuk kejadian brutal tersebut. “Kami berharap budaya kekebalan di Mindanao harus diubah.” kata Presiden Klub. Benny Antiporda.Presiden Filipina. Gloria Macapagal Arroyo, telah menyatakan kondisi darurat di dua provinsi selatan Filipina. Ia memerintahkan pasukan keamanan segera mengejar kelompok bersenjata pelaku tindakan keji tersebut.

“Tidak ada seorang pun yang tidak tersentuh hukum,” ujar juru bicara Arroyo. Cerge Remonde, yang menyebut penstiwa itu sebagai kejadian tak wajar.

Perseteruan kian

Insiden berdarah di Maguindanao berawal dari perseteruan dua kian yang sama-sama ingin berkuasa. Provinsi Maguindanao adalah bagian dari wilayah otonomi Mindanao yang dibentuk berdasarkan kesepakatan perdamaian 1996 dengan kelompok Muslim.

Pemilu di wilayah selatan itu memang kerap diwarnai kekerasan. Pemilu terakhir pada 2007 dianggap berjalan damai, meski 130 orang tewas.

Motif politik dalam pembunuhan itu, diakui Pemerintah Filipina, sebagaimana yang dituding oleh keluarga Mangudadatu. Identitas penyerang memang belum jelas, tapi militer juga meyakini kasus itu bermotif politis.

“Kejadian ini benar-benar terencana karena mereka telah menyiapkan lubang besar (untuk mengubur mayat-mayat).” kata Mangudadatu, kemarin.

Kian Mangudadatu menuduh kian Ampatuan. yang kini menjadi penguasa di wilayah itu sejak 2001. sebagai dalang di balik penyerangan. “Mereka tak mau kami mencalonkan gubernur di Maguindanao. Mereka merasa yang punya hak milik wilayah itu dan menginginkan segalanya,” kata kakak Mangudadatu. Jong. Selasa (24/11).

Saudara Mangudadatu, Khdadafeh, mengatakan, Ampatuan pernah memperingatkan Ismail untuk tidak mendaftarkan diri dalam pemilihan gubernur. Anaknya, Andal Ampatuan Junior, dicalonkan menjadi gubernur dan dia telah mengumumkan bahwa kami akan dibunuh jika Ismail mengajukan diri sebagai gubernur,” kata Khdadafeh. seperti dikutip AFP. ap/reuiere. d ginting (Republika.co.id)

Ringkasan Artikel ini

“Yang jelas, dalam rombongan yang didominasi wanita dan anak-anak itu. Dan di sinilah tragedi itu bermula, yang tragisnya justru dicentakan sendiri oleh Mangudadatu. 24 orang ditemukan dalam keadaan tewas terkapar di tepi jalan, di wilayah pegunungan yang terpencil, sekitar lima kilometer dari lokasi kejadian. Di antara korban tewas itu, kata juru bicara kepolisian, Leonardo Espina, terdapat seorang wartawan yang turut dalam rombongan tersebut. Perbedaan jumlah wartawan disampaikan Noynoy Espina, wakil ketua Persatuan Wartawan Nasional Filipina, yang menyebut 20 wartawan tewas, berdasarkan laporan yang diterimanya dari lokasi. Menurut Reporter Tanpa Batas yang berbasis di Paris, Prancis, jika 12 wartawan lokal itu benar-benar tewas. Berdasarkan informasi yang dikumpulkan Komite Perlindungan Wartawan, banyak serangan terhadap gedung media yang menimbulkan kematian, tapi tidak semuanya yang tewas adalah wartawan. yang kini menjadi penguasa di wilayah itu sejak 2001. ”

http://bataviase.co.id/detailberita-10317240.html

Proses selanjutnya, inilah beritanya:

Tersangka Pembantaian Filipina Ditangkap

26 November 2009 – 12:31 WIB

Yolanda Desvira Dewi

VHRmedia, Manila – Militer Philipina menahan 20 orang yang diduga terlibat pembantaian 12 jurnalis dan 57 penduduk sipil di Provinsi Manguindanao, 23 November lalu.

Juru bicara militer Letkol Romeo Brawner, Kamis (26/11), menyatakan Wali Kota Andal Ampatuan Jr menjadi tersangka utama dalam pembantaian tersebut. “Kami berharap Wali Kota Andal Ampatuan Jr menyerahkan diri,” katanya.

Situs Al Jazeera memberitakan, Andal Ampatuan mengaku akan menyerahkan diri sebagai bentuk kerja sama dengan pemerintah. Ampatuan adalah anggota klan paling berkuasa di Manguindanao. Ayah Ampatuan Jr, Gubernur Andal Ampatuan Sr, menyiapkan Ampatuan Jr sebagai pengganti.

Pembantaian tersebut meningkatkan tekanan terhadap Presiden Gloria Macapagal Arroyo agar mengambil tindakan tegas terhadap klan Ampatuan. Arroyo memberlakukan status darurat di Provinsi Maguindanao dan memerintahkan tambahan pasukan di wilayah tersebut.

International Federation of Journalists (IFJ) dan Reporter Sans Frontieres (RSF) menyatakan pembantian tersebut sebagai tindakan brutal terburuk sepanjang sejarah. Baru kali ini 12 jurnalis yang sedang meliput dibantai sekaligus.(E1)

http://www.vhrmedia.com/Tersangka-Pembantaian-Filipina-Ditangkap-berita2745.html