(Sumber foto: akun twitter @a2y_tweet [email protected])


Pembuat dan penjual kaos berlogo palu-arit, HS alias Hendra Saputra, ditangkap Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri di Cililin-Bandung. Hendra diketahui telah menjual kaus berlambang Partai Komunis Indonesia (PKI) itu sudah  enam bulan melalui media sosial. Hendra mempekerjakan enam orang sebagai karyawan untuk memperlancar penjualan kaus tersebut.

“Penangkapan didapat dari temuan tim cyber crime Bareskrim Polri ketika melakukan patroli dan salah satu temuannya ini pada tanggal 12 Desember 2016,” ujar Dirtipideksus Bareskrim Mabes Polri Brigjen Pol Agung Setya di Mabes Polri Jalan Medan Merdeka, Gambir, Jakarta, Jumat (30/12/2016). Seperti dikutip dari sindonews.com.

Dia mengungkapkan beberapa barang bukti berupa komputer terdapat kode desain kaus berlogo PKI dengan warna merah dan putih sudah disita. Dia menambahkan, sistem penjualannya kaus diantar langsung ke alamat pembeli. “Yang bersangkutan (Hendra-red) sudah jual 50 kaus secara online,” ucapnya.

Atas perbuatannya, Hendra bisa dikenakan Pasal 107 a Undang-undang Nomor 27 Tahun 1999 tentang perubahan KUHP. Pasal tersebut mengatur kebijakan tentang kejahatan terhadap keamanan Negara, yakni tindak pidana dengan sengaja melawan hukum di muka umum dengan lisan, tulisan dari atau melalui media apa pun, menyatakan keinginan ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme dalam segala bentuk perwujudan.

Hendra juga dikenakan Pasal 28 ayat (2) juncto Pasal 45A ayat (2) Undang-undang Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik. Dia dinilai dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan.

Berikut pantauan redaksi eveline, mendapati  ragam komentar netizen pada linimasa twitter terkait pembuat dan penjual kaos berlambang palu arit ditangkap. “tuh kan ada PKI.. Waspada!”, tulis netizen dengan akun @5ecret5ervices, nampak mengingatkan soal bahaya laten komunis di NKRI.

Selanjutnya seorang netizen dengan akun @hamim_janim, beri dukungan atas langkah sigap aparat Kepolisian yang melakukan penangkapan. “Mantab Pak Polisi penjarakan saja komunis PKI musuh Bangsa Indonesia”.

Ada juga netizen pertanyakan dasar hukumnya bagi seorang yang hanya menjual kemudian ditangkap. “penjual segitu phobia kah sama simbol itu?? dasar penangkapan karena apa ya? cm jualan ditangkap”. Dikicaukan akun @mahabintangjr.*/eveline.co.id

***

Militer Khawatir : Komunisme dan PKI Bangkit Lagi Lewat PDIP

Posted on 30 Juni 2014 by nahimunkar.com

“Komunisme sedang lakukan rekonsolidasi secara serius dan terencana di Indonesia,” ujar mantan Aster Kasad Mayjen TNI Purn  Prijanto di Jakarta, Ahad (29/6/2014).

“Bagi saya hanya satu kalimat yang paling tepat, jangan pernah beri peluang untuk komunis berkuasa di Indonesia,” tandasnya.

Lebih jauh, Prijanto mengatakan,  istilah petugas partai yang disampaikan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kepada Jokowi juga dinilai modus komunisme. Sebab, istilah petugas partai mirip dengan pekerja partai yang pernah diakan tokoh PKI DN Aidit.

Militer Indonesia masih tetap menyimpan kekhawatiran dengan dua peristiwa yang terjadi yaitu ‘Affairs Madiun’ tahun l948, yang memakan korban tidak sedikit, terutama di daerah Madiun. Kemudian, peristiwa tahun l965, pemberotakan PKI, di mana 7 orang jenderal di bunuh oleh kader-kader komunis (PKI) dan Gerwani, dan mayatnya dimasukkan ke sumur Lubang Buaya. Ini tidak mudah dihapus trauma di kalangan militer Indonesia.

 Sekarang terjadi kolaborasi antara kader-kader komunis yang sudah menyusup di PDIP dengan kalangan Katolik yang memiliki ideologi ‘Theologi Pembebasan’ yang diadopsi dari Amerika Latin, dan bermuara di Tim Sukses Jokowi. Maka, sekarang Tim Sukses terus menggelindingkan dan menggelorakan tentang idiom atau kata ‘kerakyatan’.

Indikasi bangkitnya kembali komunisme dan PKI ini, sangat kentara dengan berbagai aktivitas mereka  yang terang-terangan dan terbuka. Seperti dalam masa kampanye Pilpres, ada beberapa peristiwa yang dapat dinilai sebagai indikasi bangkitnya komunisme alias  PKI di Indonesia.

Cina memiliki 10 juta kader komunis yang menggenggam negara yang berpenduduk 1,5 miliar. Tidak ada kekuatan di dunia memiliki kemampuan yang begitu besar, secara ideologi dan pendukung ideologi kemunisme, kecuali Cina. Sekarang Cina menjadi satu-satunya super-power di dunia, dan dibangun diatas landasan ideologi komunisme.

Inilah masalah yang bakal dihadapi masa depan dunia secara global. Kekuatan Cina, dan kekuatan militernya, serta kader-kader komunisme yang militant.

Berikut ini sorotan dari opini redaksi voaislam.com.

***

Militer Indonesia Khawatir Bangkitnya Kembali PKI di Indonesia Melalui PDIP

JAKARTA-  Kalangan militer Indonesia sangat khawatir dengan usaha-usaha yang sistematis yang dilakukan oleh unsur-unsur dalam tubuh PDIP yang berusaha membangkitkan kembali komunisme (PKI).

Karena, komunisme merupakan ancaman yang bersifat laten, dan melakukan perebutan kekuasaan dengan jalan kekerasan. Seperti ‘Madiun Affairs’ tahun l948,  dan kemudian tahun l965, pemberontakan PKI, yang memakan korban, termasuk sejumlah jenderal yang dibunuh oleh PKI.

Indikasi bangkitnya kembali komunisme dan PKI ini, sangat kentara dengan berbagai aktivitas mereka  yang terang-terangan dan terbuka. Seperti dalam masa kampanye Pilpres, ada beberapa peristiwa yang dapat dinilai sebagai indikasi bangkitnya komunisme alias  PKI di Indonesia. Peristiwa itu bisa ditelusuri sejak Oktober 2002.

Saat itu, kader PDIP Ribka Tjiptaning menulis buku dengan judul yang sangat provokatif ‘Aku Bangga Jadi Anak PKI’. Buku Ribka Tjiptaning ini beredar luas, dan Tjiptaning yang menjadi anggota DPR dari PDIP, dan merupakan kader PDIP itu, tak henti-henti melakukan penggalangan di berbagai daerah unsur-unsur yang berbau komunisme.

Menyusul kemudian Juni 2010, pertemuan anak PKI dari berbagai kota yang turut dihadiri oleh anggota DPR RI dari Fraksi PDI-Perjuangan, Rieke Dyah Pitaloka di Banyuwangi, Jawa Timur. Terakhir dikabarkan anak eks-PKI itu melakukan kunjungan ke China guna belajar politik dari partai komunis di sana.

Satu-satunya negara di Asia yang masih tetap mempertahankan ideologi komunisme adalah Cina. Cina tidak pernah berubah dalam menganut ideologi kemunisme. Sejak Mao Tse Tung yang menjadi pendiri komunisme di Cina. Sekalipun pernah terjadi perubahan di masa Deng Xiao Ping, tetapi komunisme tetap tidak pernah berubah di Cina.

Cina tetap bertumpu kepada komunisme. Jaringan negara atau struktur
negara di kuasai atau diisi oleh kader-kader komunis. Mulai dari stelsel yang paling bawah sampai ke tingkat presiden dan perdana menteri diisi oleh kader-kader komunis. Semua stelsel dan struktur birokrasi dan kekuasaan di Cina, semuanya dipegang oleh kader-kader dan tokoh komunis, yang secara ideologi mereka sanggat matang.

Cina memiliki 10 juta kader komunis yang menggenggam negara yang berpenduduk 1,5 miliar. Tidak ada kekuatan di dunia memiliki kemampuan yang begitu besar, secara ideologi dan pendukung ideologi kemunisme, kecuali Cina. Sekarang Cina menjadi satu-satunya super-power di dunia, dan dibangun diatas landasan ideologi komunisme.

Inilah masalah yang bakal dihadapi masa depan dunia secara global. Kekuatan Cina, dan kekuatan militernya, serta kader-kader komunisme yang militan, dan memiliki komitmen secara konsisten (istiqomah), di tengah-tengah perubahan dan situasi global. Cina komunis yang didukung kekuatan militer, dan kader- kader komunis sangat militan, bisa menjadi ancaman kawasan, khususnya di Asia.

Militer Indonesia masih tetap menyimpan kekhawatiran dengan dua peristiwa yang terjadi yaitu ‘Affairs Madiun’ tahun l948, yang memakan korban tidak sedikit, terutama di daerah Madiun. Kemudian, peristiwa tahun l965, pemberotakan PKI, di mana 7 orang jenderal di bunuh oleh kader-kader komunis (PKI) dan Gerwani, dan mayatnya dimasukkan ke sumur Lubang Buaya. Ini tidak mudah dihapus trauma dikalangan militer Indonesia.

“Komunisme sedang lakukan rekonsolidasi secara serius dan terencana di Indonesia,” ujar mantan Aster Kasad Mayjen TNI Purn  Prijanto di Jakarta, Minggu (29/6/2014).

Lebih jauh, Prijanto mengatakan,  istilah petugas partai yang disampaikan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kepada Jokowi juga dinilai modus komunisme. Sebab, istilah petugas partai mirip dengan pekerja partai yang pernah diakan tokoh PKI DN Aidit.

“Dalam otak orang PKI, Babinsa adalah salah satu dari ‘7 Setan Desa’ yang harus dimusnahkan. Adu domba, saling fitnah, lempar isu sembunyi tangan, mengobok-obak institusi TNI AD mirip dengan suasana kebatinan saat PKI akan lakukan kudeta tahun 1965,” kata mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta tahun 2007-2012 tersebut.

Menurut Prijanto, pelan-pelan rakyat dijauhkan dari TNI di saat yang sama alutsista TNI dilemahkan. TNI akan terus dihancurkan dengan menggunakan isu HAM, dan tokoh-tokohnya disudutkan dengan pelanggaran HAM. Semua dijalankan dengan sistematis. Seperti nampak dalam kampanye negatif terhadap Prabowo.

Selanjutnya, Prijanto mengomentari pernyataan Jokowi, “Tank Leopard yang dibutuhkan TNI AD ditolak. Dalam sejarah, TNI-AD memang adalah musuh bebuyutan komunis-PKI. Sepertinya ada aktor tertentu yang secara terbuka ataupun tersembunyi memanfaatkan kebebasan dalam Pilpres untuk memfitnah dan adu domba. Ada apa? Siapa yang bermain?,” jelas dia.

Dia menjelaskan, rangkaian petistiwa tersebut patut dinilai, komunis PKI menggeliat. Ancaman laten komunis sangat nyata, perlu kita waspadai. “Bagi saya hanya satu kalimat yang paling tepat, jangan pernah beri peluang untuk komunis berkuasa di Indonesia,” tandasnya.

Sekarang terjadi kolaborasi antara kader-kader komunis yang sudah menyusup di PDIP dengan kalangan Katolik yang memiliki ideologi ‘Theologi Pembebasan’ yang diadopsi dari Amerika Latin, dan bermuara di Tim Sukses Jokowi. Maka, sekarang Tim Sukses terus menggelindingkan dan menggelorakan tentang idiom atau kata ‘kerakyatan’.

Jokowi dijadikan ‘nabi’ orang-orang miskin, rakyat jelata, kaum proletar, dan tokoh yang lahir dari ‘rakyat untuk rakyat’. Jokowi menjadi tokoh antitesa Probowo, seorang militer pelanggar HAM, bergaya borjuis, dan tidak sesuai dengan kehidupan rakyat jelata, yang menjadi mayoritas rakyat Indonesia. Jokowi seakan menjadi pembebas kaum ‘papa’ yang tertindas kaum kapitalis atau kaum borjuis pemilik modal.

Tetapi, semua hanyalah kepalsuan dan kebohongan belaka, memoles Jokowi dengan citra sebagai ‘nabi’  rakyat miskin. Itu hanyalah taktik kader-kader komunis yang sekarang menyusup ke dalam tubuh PDIP. Mereka berusaha melakukan perebutan kekuasaan yang dibantu kalangan oportunis, yang haus kekuasaan. Wallahu a’lam. (voa-islam.com) Senin, 2 Ramadhan 1435 H / 30 Juni 2014 07:00 wib

(nahimunkar.com)