Pembunuhan Massal Melalui Kondomisasi

 

ISTILAH kondomisasi sesungguhnya juga dikenal di dunia pertanian. Misalnya, pada tanaman kakao (theobroma cacao) alias pohon cokelat, yang diambil bijinya untuk dijadikan bubuk coklat. Kalau sudah jadi bubuk, dapat dijadikan untuk minuman dan makanan (kue coklat) dan sebagainya.

Kondomisasi pada tanaman kakao dijadikan pilihan, karena metode ini ternyata cukup ampuh dalam menangkal masuknya hama penggerek buah yang selama ini menjadi momok petani.

Metode ini antara lain sudah diterapkan oleh para petani di Kalimantan Timur sejak tahun 2001. Bedanya, kondom untuk buah kakao bukan dari bahan latex tetapi kantung plastik berukuran sekitar 10 x 20 sentimeter yang dilubangi kecil untuk mengikat pangkal buah ke batang.

Mengapa kakao perlu dipasangi kondom? Karena sebagai makhluk hidup, buah kakao bahkan tanaman kakao tempat si buah kakao bergantung hidup, tidak mampu melindungi dirinya sendiri dari hama pengerek, sehingga memerlukan pihak ketiga (petani) yang memasangkan kantong plastik (kondomisasi).

Bagaimana dengan kondomisasi pada manusia? Yang sudah pasti, manusia berbeda dengan tanaman kakao, alat kelaminnya juga berbeda dengan buah kakao. Manusia mempunyai kuasa dan kehendak untuk menghindar dari virus, bakteri, dan sebagainya. Bahkan manusia cukup punya informasi dan bahkan pengetahuan tentang kaitan sebuah kegiatan (aktivitas seks bebas alias zina yang jelas haram dan dosa besar) dengan kemungkinan menimbulkan penyakit (kelamin).

Pelaku seks bebas dan perzinaan sudah pasti tahu, bahwa perbuatan itu akan membawa pelakunya kepada kondisi tertentu yang menggerogoti kesehatannya. Dari perilaku seks bebas dan perzinaan itu, akan timbul akibat berupa penyakit kelamin, seperti sipilis dan sebagainya, hingga mengidap virus HIV-AIDS yang hingga kini belum ditemukan penangkalnya secara efektif.

Oleh karena itu, penanggulangan HIV-AIDS seharusnya tidak menempuh cara yang sama dengan cara yang ditempuh petani kakao. Buah kakao dipasangi plastik (kondomisasi) karena ia tidak bisa menghindar dari serangan hama. Sedangkan manusia, sangat bisa menghindar dari hama atau virus. Maka upaya yang seharusnya ditempuh adalah bukan membungkus ‘buah kakao’ para pelaku seks bebas dan perzinaan, tetapi memperkecil dan bahkan meniadakan peluang bagi mereka untuk melakukan seks bebas dan perzinaan.

Metode kondomisasi yang diterapkan aktivis peduli HIV-AIDS, ibarat memberi transfusi darah terus menerus kepada dua orang yang sedang saling bunuh dengan pisau tajam. Agar keduanya tidak cepat mati karena kehabisan darah, maka kepada keduanya diberikan transfusi darah. Ini jelas keliru. Seharusnya, kondisikan atau paksa mereka untuk berhenti saling bunuh. Pemerintah mempunyai kekuasaan dan kemampuan untuk melakukan itu.

Begitu juga dengan upaya menanggulangi penyebaran virus HIV-AIDS. Kondisikan dan paksa mereka untuk berhenti melakukan seks bebas dan perzinaan. Caranya, tutup semua tempat pelacuran, beri sanksi hukum yang berat kepada siapapun yang menjajakan diri, menjadi germo, memberikan fasilitas, dan tentu saja para hidung belang.

Penyebaran HIV-AIDS tidak akan pernah mereda, bahkan akan terus meluas, bila tempat pelacuran tetap eksis, peluang menjadi pelacur dan konsumennya tetap ada, apalagi bila aktivitas pelacuran dan sejenisnya malah dibekingi aparat pemerintah. Semakin parah, jika kepada mereka yang sudah terlanjur suka mempraktekkan seks bebas dan perzinaan justru diberi kemudahan dalam memperoleh kondom, apalagi bila kondom itu dibagi-bagikan secara gratis.

Ibarat perahu bocor, tutup sumber bocornya, bukan dengan menyediakan pompa penyedot air untuk mengurangi tingkat kebocoran perahu, padahal pada saat bersamaan sejumlah orang justru berusaha membocorkan perahu dari sisi lainnya.

Menurut Prof. Dr. Chuzaimah Tahido, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, membagikan kondom termasuk menolong orang untuk bermaksiat. Padahal, tolong-menolong yang diajarkan Islam adalah tolong-menolong dalam kebaikan, sebagaimana diperintahkan-Nya melalui surat Al-Maa’idah ayat 2.

وَتَعاَوَنُواْ عَلَى اْلبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوْا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS Al-Maaidah: 2).

 

Dr Richard Smith, salah seorang pakar AIDS yang selama bertahun-tahun mengadakan penelitian tentang AIDS dan penggunaan kondom, justru mengecam sejumlah aktivis AIDS yang menganjurkan penggunaan kondom dalam rangka mempraktekkan “safe sex” (seks yang aman dengan kondom). Padahal, anjuran itu (safe sex dengan kondom) sama saja dengan mengundang datangnya kematian. Menurut Smith, agar resiko terjangkiti HIV/AIDS dapat dihindari, cara satu-satunya adalah menghindari hubungan seks di luar nikah.

Prof. Dadang Hawari pada sebuah media pernah mengatakan, bahwa mereka yang menyatakan kondom 100 persen aman merupakan pernyataan yang menyesatkan dan penuh kebohongan. Salah satu alasannya adalah, kondom dirancang untuk program Keluarga Berencana, bukan untuk menanggulangi penyebaran virus HIV-AIDS. Sebagai alat kontrasepsi, kegagalan kondom mencapai 20 persen, sebagaimana hasil penelitian Prof. Dr. Biran Affandi, mantan aktivis HMI Jakarta.

Kalau untuk program KB saja kegagalan kondom sebagai alat kontrasepsi mencapai angka 20 persen, apalagi bila kondom digunakan sebagai alat penangkal penyebaran virus HIV-AIDS, maka tingkat kegagalannya jauh lebih besar lagi. Karena, bila digunakan perumpamaan, besarnya sperma sebesar jeruk Garut, sedangkan besarnya virus HIV seperti sebuah titik. Kalau jeruk Garut saja bisa menembus pori-pori kondom, apalagi virus HIV-AIDS yang jauh lebh kecil.

Penelitian Biran Affandi itu mendukung penelitian yang dilakukan Carey dari Division of Pshysical Sciences, Rockville, Maryland, USA, pada tahun 1992. Dari hasl penelitian tersebut ditemukan fakta bahwa Virus HIV dapat menembus kondom. Di tahun 1993, Direktur Jenderal WHO Hiroshi Nakajima mengatakan, bahwa efektivitas kondom diragukan.

Dua tahun kemudian (1995), dari Konferensi Konferensi AIDS Asia Pacific yang berlangsung di Chiang Mai, Thailand, dilaporkan bahwa penggunaan kondom aman tidaklah benar. Sebab, pada kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang; dalam keadaan meregang lebar pori-pori tersebut mencapai 10 kali. Virus HIV sendiri berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian, virus HIV jelas dengan leluasa dapat menembus pori-pori kondom.

Artinya, upaya kondomisasi sebagaimana diupayakan sekelompok orang selama ini merupakan upaya pembunuhan massal terselubung. Apalagi, selain membagi-bagikan kondom secara gratis, sekelompok orang ini juga tengah berupaya membagi-bagikan jarum suntik secara gratis kepada para pengguna narkoba, dengan alasan salah satu penyebab terjangkitinya HIV-AIDS pada tubuh seseorang adalah karena mereka menggunakan jarum suntik secara bergantian ketika mengkonsumsi narkoba. Ini jelas-jelas punya niat serius melakukan pembunuhan massal dengan kedok kemanusiaan.

Karena, meski katakanlah ada jenis kondom tertentu yang memang efektif mencegah penyebaran virus HIV-AIDS melalui perilaku seks bebas dan perzinaan, namun apakah bisa dipastikan bahwa para pelaku seks bebas dan perzinaan itu dapat membedakan jenis kondom yang sesuai dan yang tidak. Masalah lain, apakah para pelaku seks bebas dan perzinaan tadi, dengan kesadarannya sendiri mau menggunakan kondom. Belum tentu juga.

Maka dari itu, dokter Arief Basuki, Sp.An, Ketua Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Surabaya mengatakan, penanggulangan HIV-AIDS bukan dengan jalan membagi-bagikan kondom, tetapi mempraktekkan pola hidup sehat seperti tidak mengonsumsi narkoba dan anti seks bebas. “Penanggulangan AIDS harus dilakukan secara holistik dan komprehensif, tidak hanya bersifat edukasi kognitif, tapi juga melibatkan partisipasi sekolah dan anak muda untuk mencegahnya. Bukan solusi yang salah alamat, yakni pembagian kondom di kalangan anak muda.” Begitu penjelasan yang disampaikannya pada sebuah talkshow di Surabaya.

Pendapat Arief Basuki mendapat dukungan dari Mark Schuster dari Rand (sebuah lembaga penelitian nirlaba) dan dari seorang pediatri di University of California, USA. Menurut penelitian mereka, setelah kampanye kondomisasi, aktivitas seks bebas di kalangan pelajar pria meningkat dari 37% menjadi 50% dan di kalangan pelajar wanita meningkat dari 27% menjadi 32% (USA Today,14/4/1998).

Menurut R. Dachroni, Presiden BEM STISIPOL Raja Haji/Fisip Umrah dan Tim KPAD Provinsi Kepulauan Riau, “…upaya kondominasi adalah sebuah langkah konyol yang secara tidak langsung telah mengajarkan masyarakat yang seharusnya menjadi manusia yang beradab, tetapi justru sebaliknya mengajarkan manusia untuk menjadi biadab karena seolah-olah ada ‘penghalalan’ untuk melakukan hubungan seks dengan pasangan yang berbeda…”

Menurut Dachroni pula, “Kondom adalah murni produk bisnis yang memanfaatkan momentum HIV AIDS sebagai sarana penglaris. Penggunaan atau sosialisasi kondom mestinya tidak sevulgar dan harus dibatasi untuk pihak-pihak tertentu saja tidak dijual bebas dan tidak dipromosikan secara besar-besaran. Banyak cara lain yang dapat dilaksanakan tanpa menimbulkan masalah baru.” (http://batampos.co.id/opini)

Kalau benar demikian, nampaknya kondomisasi selain merupakan salah satu upaya pembunuhan massal, juga didukung oleh pabrik kondom. Siapa yang diuntungkan?

 

Kecaman Allah Ta’ala terhadap pembunuh dan perusak

Kecaman Allah Ta’ala terhadap para pembunuh dan perusak telah jelas:

 

مِنْ أَجْلِ ذلِكَ كَتَبْناَ عَلَى بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْساً بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فيِ اْلأَرْضِ فَكَأَنَّماَ قَتَلَ النَّاسَ جَمِْْيعاً وَمَنْ أَحْياَهاَ فَكَأَنمَّاَ أَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعاً وَلَقَدْ جَائَتْهُمْ رُسُلَنَا بِالْبَيِّناَتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيْراً مِنْهُمْ بَعْدَ ذلِكَ فيِ اْلأَرْضِ لَمُسْرِفُوْنَ

 

32.  Oleh Karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain[411], atau bukan Karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya[412]. dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu[413] sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi. (QS Al-Maaidah/ 5: 32).

 

[411]  Yakni: membunuh orang bukan karena qishaash.

[412]  hukum ini bukanlah mengenai Bani Israil saja, tetapi juga mengenai manusia seluruhnya. Allah memandang bahwa membunuh seseorang itu adalah sebagai membunuh manusia seluruhnya, Karena orang seorang itu adalah anggota masyarakat dan karena membunuh seseorang berarti juga membunuh keturunannya.

[413]  ialah: sesudah kedatangan Rasul membawa keterangan yang nyata.

 

وَإِذاَ قِيْلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُوْا فيِ اْلأَرْضِ قَالُوْا إِنمُّاَ نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ # أَلآ إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلَكِنْ لاَ يَشْعُرُوْنَ

11.  Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”

12.  Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS Al-Baqarah/ 2: 11, 12).

 

أَمْ نَجْعَلُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ كَاْلمُفْسِدِيْنَ فيِ اْلأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ اْلمُتَّقِيْنَ كَاْلفُجَّارِ

28.  Patutkah kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? patutkah (pula) kami menganggap orang- orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma’siat? (Shaad/ 38: 28). (haji/tede)