“EXPLOITATION De L’HOMME Par L’HOMME” RAMADHAN

استغلال الإنسان للإنسان في رمضان

(Pemerasan Manusia oleh Manusia di Bulan Ramadhan)

HM. Aru Syeiff Assadullah
Pemred Tabloid Suara Islam

 

Bulan Ramadhan yang saat ini ditekuni umat Islam Indonesia, juga dijadikan obyek : Exploitation De L’homme par L’homme (pemerasan manusia) oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah.

Pengantar : Judul tulisan di atas : Exploitation De L’Homme Par L’Homme Ramadhan adalah artikel sorotan kritis  yang pernah kita muat pada edisi Ramadhan tahun silam.  Dengan sengaja laporan itu kita muat lengkap di bawah, karena suasana di negeri ini bukan mengalami perbaikan malah sebaliknya. Tulisan ini sangat relevan  dan menjadi spirit umat Islam untuk mendesak  pemerintah segera menerbitkan SK agar Ramadhan  dijadikan perhatian pemerintah NKRI untuk menolong umat Islam, bukan sebaliknya justru mengeksploitasi alias memeras umat Islam, seperti terjadi selama ini. 

Di masa pemerintahan Soekarno, era orde lama, seringkali presiden RI pertama ini,  berpidato berapi-api mengutip istilah : Exploitation de L’homme par L’homme, untuk menunjuk kejahatan para Kolonialis-penjajah (khususnya Belanda) yang telah mengeksploitir alias menghisap kekayaan bangsa Indonesia di seluruh wilayah Nusantara. Istilah itu menjadi segar kembali untuk menggambarkan Bulan Ramadhan yang saat ini ditekuni umat Islam Indonesia, juga dijadikan obyek : Exploitation De L’homme par L’homme oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah.

Memang sangat ‘malang’ nasib umat Islam Indonesia. Walau catatan statistik menyebutkan sebagai jumlah mayoritas mutlak, hampir 90%, namun umat Islam justru dijadikan  obyek  pemerasan, bahkan pemerintah yang seharusnya adil memberikan hak-hak umat Islam, justru ikut ambil bagian, ramai-ramai mengeksploitasi kepentingan Islam dan umat Islam. Contoh paling nyata adalah masalah Haji. Pemerintah hanya seolah-olah saja mau mengurusi dan menolong hajat paling dasar umat Islam ini. Tapi fakta penyelenggaraan haji oleh pemerintah sejak zaman Soeharto hingga kini hanya membukukan catatan kelam, tahun demi tahun, di mana umat Islam dijadikan obyek pemerasan. Yang paling menonjol biaya ONH (Ongkos Naik Haji) yang selalu lebih mahal dari negara Jiran Malaysia. Padahal fasilitas yang dinikmati jamaah haji Malaysia selalu lebih bagus dibandingkan jamaah haji Indonesia. Misalnya soal makanan, lokasi penginapan yang selalu berdekatan dengan Masjidil Haram dan seterusnya.

Kulihat makin hari, republic ini makin tak karuan. Yang ada hanya exploitation de l’homme par nation and exploitation de nation par l’homme. (Pemerasan manusia dan bangsa dengan mengoperasikan bangsa manusia) http://www.yudhieharyono.com/?p=464

Contoh lain eksploitasi oleh pemerintah adalah soal zakat. Pemerintah buru-buru ikut “cawe-cawe” seolah-olah memenuhi hajat umat Islam, lalu getol membentuk lembaga zakat mulai Bazis, Baznas dan seterusnya. Tak terbantahkan, jika hajat umat Islam itu berkaitan dengan ‘fulus’ pemerintah atau siapapun seolah-olah menjadi “Penolong” dan menunjukkan perhatian bahkan empati langsung terjun memprakarsai ini dan itu. Tapi ketika hajat dan aspirasi umat Islam menyangkut yang lebih substansial dan tidak “berbau” uang, sudah dipastikan aspirasi Islam jenis ini akan seret bahkan selalu gagal diwujudkan. Contohnya ketika umat Islam secara bulat menghendaki agar Ahmadiyah dibubarkan dan dilarang beroperasi di Indonesia, pemerintah menjadi “tuli” tak pernah mengabulkan hajat umat Islam ini. Kasus lain niscaya ketika umat Islam mendukung UU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang justru diajukan pemerintah ke DPR, tetapi perkembangannya terjadi “gesekan” silang-sengketa opini di tengah masyarakat. Puncaknya umat Islam dipelopori MUI dan FUI menggelar demo satu juta orang mendukung RUU Anti Pornografi dan Anti Pornoaksi. Tapi hasil akhirnya, pemerintah justru bagai menyerap kalangan yang anti RUU tersebut. Sungguh ironis. Kini ketika kasus pornografi merebak dengan beredarnya video-porno artis Luna-Cut Tari-Ariel, orang baru teringat kembali pentingnya UU Anti Pornografi dan Anti Pornoaksi.

Hajat  umat Islam berkaitan bulan Ramadhan, puncaknya Hari Raya Idul Fitri, tentu merupakan hajat yang menyentuh seluruh individu umat Islam. Dalam kaitan ibadah umat Islam sepanjang satu bulan penuh itu, yang pokok tentulah ibadah puasanya yang berlangsung sebulan penuh juga. Kendati perintah pokok Bulan  Ramadhan adalah shaum atau puasa, tetapi yang terjadi pada bulan puasa umat Islam justru berlomba-lomba mengkonsumsi segala jenis makanan yang jauh lebih banyak ketimbang hari-hari biasa. Konsumsi makanan yang berlebih-lebihan itu berlanjut dengan konsumsi barang lainnya, mulai alat rumah tangga, furniture, alat elektronika juga busana atau pakaian, dan  segala-macam barang yang hakikatnya bukan kebutuhan pokok (primer). Antisipasi umat Islam merespon Ramadhan sedemikian itu niscaya tidak benar. Dan kebiasaan seperti itulah yang kemudian dieksploitasi  kaum pedagang dan dunia niaga. Seakan menjadi momentum ritual tahunan bagi kaum pedagang, dengan datangnya Ramadhan dan Idul Fitri atau Lebaran, maka tiba saatnya untuk memeras habis-habisan umat Islam.

Harga-harga barang selalu melonjak naik berlipat-lipat kali begitu momentum Ramadhan dan Lebaran datang. Tahun ini, sebagaimana dilaporkan pada Suara Islam Edisi 95 tahun lalu yang berjudul : Puasa dan Arisan Bom Gas. Kenaikan harga-harga barang kebutuhan pokok “dikomando” oleh cabe keriting yang melonjak harganya sampai 4 kali lipat mencapai Rp 50.000/Kg. Pemerintah memang tidak ikut mengeksploitasi Ramadhan dan Lebaran, tapi fungsinya mengamankan dan membela hak-hak umat Islam, tidak pernah dijalankan secara maksimal. Pejabat terkait seperti Menteri Perdagangan, Kepala Bulog hanya Sidak ke pasar-pasar lalu diikuti keterangan pers dengan pernyataan barang kebutuhan pokok dinyatakan aman dan mencukupi kebutuhan sampai pasca Lebaran. Hanya itu yang bisa dilakukan pemerintah dan sama sekali tidak bisa menghentikan lonjakan harga-harga barang.

Menjelang Lebaran tiba, saat jutaan umat Islam bersiap-siap mudik ke kampung halaman, pemerintah melalui Polri dan aparat keamanan. Dan Kementerian Perhubungan, hanya mengumumkan kesiapannya mengamankan Lebaran. Alat transportasi mencukupi, jalan-jalan sudah diperbaiki. Pemudik dengan mengendarai sepeda motor pun dipersiapkan pengamanannya yang ekstra dan khusus. Adakah hal yang kongkrit menjadi “hadiah” bagi umat Islam dari pemerintah dalam kaitan Ramadhan dan Idul Fitri ? Rasanya memang tidak ada. Bahkan pemerintah melalui pelayanan angkutan transportasi yang dimilikinya, ikut berlomba-lomba memeras umat Islam pula dengan memanfaatkan momentum Lebaran. Tiket Kereta Api dinaikkan bahkan ditambahkan biaya Tuslah. Begitu juga tiket pesawat terbang Garuda  yang merupakan armada udara milik pemerintah. Justru momentum membludaknya penumpang di hari Lebaran itu ,dimanfaatkan untuk “memalak” alias memeras umat Islam. Sungguh menyedihkan. Kenyataan pahit ini sudah berlangsung saban tahun dan selalu berulang tahun berikutnya, bahkan berganti presiden demi presiden.

Negara tetangga, Malaysia, tidak terjadi eksploitasi kepada umat Islam di sana. Aspirasi Islam agar umatnya menjadi tekun mengikuti Ramadhan dengan konsisten, didorong pemerintah Malaysia dengan melakukan “razia”  di tempat-tempat umum bagi sesiapa saja yang ingkar menjalankan shaum Ramadhan, maka ia akan ditangkap dan mendapat hukuman yang cukup membuat jera yakni terkena saman alias denda dalam jumlah besar sehingga menakutkan umat Islam tidak mentaati ajaran Islam : Puasa. Andaikata saja pemerintah RI bisa mengikuti jejak kebijakan Negeri Jiran Malaysia ini. Niscaya Aspirasi Islam benar-benar ditolong oleh pemerintah secara nyata.

Media Elektronika

Adalah media elektronika alias televisi, yang ikut habis-habisan mengeksploitasi momentum Ramadhan dan Idul Fitri alias Lebaran. Tayangan lebih sepuluh stasiun televisi belum lagi stasiun daerah, tak pelak hanyalah sajian berbau “dagang”, hiburan, bahkan sebagian juga pelecehan terhadap makna Ramadhannya yang sakral. Artis-artis sekadar didandani yang Islami, berkerudung, juga pelawak semua sekadar tampil “ugal-ugalan” mengeksploitasi momentum Ramadhan. Acara-acara menjelang makan Sahur, di sekitar Buka puasa, semua Sami-Mawon atau sama saja, hakikatnya sekadar menaikkan rating dan ujungnya mengeduk “fulus”

Entah sampai kapan, Ramadhan ditempatkan maknanya sebagaimana dimaksudkan oleh syariat Islam, yakni sebagai Syahru Ibadah, bulan mulia turunnya Al Qur’an dan umat Islam semua menyongsong datangnya Ramadhan dengan semangat yang gigih mencari Ridho dan ampunan Allah dalam rangkaian ibadah sebulan penuh yang penuh Hikmat pula. Pemerintah wajib mengawalnya. Wallahu a’lam bisshawab

http://suara-islam.com, Tuesday, 26 July 2011 18:46   Written by Shodiq Ramadhan

foto sembangbincang.blogspot.com

(nahimunkar.com)