{ أَثْقَلُ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ : صَلَاةُ الْعِشَاءِ ، وَصَلَاةُ الْفَجْرِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Pemerintah Kota Tangerang Anjurkan Para Pegawai Shalat Berjamaah di Masjid

Wakil Walikota Tangerang, Arief Wismansyah, menghimbau kepada pegawai Pemerintah Kota Tangerang, khususnya yang bekerja di Gedung Pusat Pemerintahan (Puspem), kalau hendak shalat Dzuhur dan Ashar, sebaiknya shalatnya berjamaah di Masjid Al Azhom yang hanya dibatasi dengan jalan.

Arief Wismansyah juga mengimbau, hendaknya Masjid Raya Al Azhom menjadi pusat kegiatan, khususnya di bidang ilmu. Selama ini kegiatan pengajian yang ada masih perlu ditingkatkan agar benar-benar bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Inilah beritanya:


Pemkot Tangerang Anjurkan Para PNS Shalat Berjamaah di Masjid

Rabu, 07 Juli 2010, 13:32 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG–Pemkot Tangerang mengharapkan Masjid Raya Al-Azhom dijadikan sebagai pusat pengembangan Islam di Kota Tangerang. Beberapa kegiatan pendukung keagamaan harus lebih ditingkatkan kembali.

Menurut Wakil Walikota Tangerang, Arief Wismansyah, hendaknya Masjid Raya Al Azhom menjadi pusat kegiatan, khususnya di bidang ilmu. Selama ini kegiatan pengajian yang ada masih perlu ditingkatkan agar benar-benar bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Kita jangan hanya merasa bangga memiliki masjid yang indah, tapi masjid itu juga harus dimakmurkan,” ucap Arief, Rabu (7/7).

Arief juga menghimbau kepada pegawai Pemerintah Kota Tangerang, khususnya yang bekerja di Gedung Pusat Pemerintahan (Puspem), kalau hendak shalat Dzuhur dan Ashar, sebaiknya shalatnya berjamaah di Masjid Al Azhom yang hanya dibatasi dengan jalan.

Sementara itu, Humas Masjid Raya Al Azhom, Achmad Chairuddin, menyatakan, bahwa selama ini jamaah yang sholat di masjid ini, selain pegawai Pemkot Tangerang, juga masyarakat dari berbagai wilayah. Kegiatan lainnya antara lain pengajian, baik yang dikelola langsung oleh pengurus DKM maupun kerjasama dengan majelis taklim.

Masjid Raya Al-Azhom yang terletak di lingkungan kantor Pemkot Tangerang. Ini merupakan salah satu masjid terbesar di Kota Tangerang. Bangunan masjid itu memiliki ciri khas yang unik. Seluruh kubahnya berwarna biru dan mengingatkan orang seperti Masjid Aya Sofia di Istanbul, Turki.

Red: Endro Yuwanto

Rep: Muhammad Hafil

Sumber: republika.co.id

Hanya lelaki munafiq yang keberatan shalat berjamaah

Dalam Islam, shalat berjama’ah itu senantiasa dilakukan di masjid oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Menurut sahabat Nabi, hanya orang munafiq saja, laki-laki yang keberatan setiap waktu untuk shalat berjamaah. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan kepada jama’ah, Apakah kamu melihat Fulan ikut shalat berjamaah? ‘ Para sahabat menjawab, ‘Tidak’. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bertanya lagi, ‘ Apakah si Fulan (orang lain lagi) ikut shalat berjamaah? ‘ Sahabat menjawab, Tidak, Beliau Shallallahu’alaihi wasallam lalu bersabda: ‘Dua shalat ini sangat berat bagi orang munafiq.

Hadits-haditsnya sebagai berikut:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَجْرَ فَلَمَّا صَلَّى قَالَ شَاهِدٌ فُلَانٌ فَسَكَتَ الْقَوْمُ قَالُوا نَعَمْ وَلَمْ يَحْضُرْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَثْقَلَ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَالْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَإِنَّ الصَّفَّ الْأَوَّلَ عَلَى مِثْلِ صَفِّ الْمَلَائِكَةِ وَلَوْ تَعْلَمُونَ فَضِيلَتَهُ لَابْتَدَرْتُمُوهُ إِنَّ صَلَاتَكَ مَعَ رَجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِكَ مَعَ رَجُلٍ وَصَلَاتَكَ مَعَ رَجُلٍ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِكَ وَحْدَكَ وَمَا كَثُرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى

Dari Ubay bin Ka’b ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat subuh, selesai shalat beliau bertanya: “Apakah ada yang melihat fulan?” para sahabat terdiam, lalu mereka menjawab, “Ya.” Dan sahabat tersebut tidak hadir. Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya dan subuh, seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada dalam dua shalat tersebut, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Shaf (barisan) pertama adalah seperti shafnya para Malaikat, seandainya kalian mengetahui keutamaannya niscaya kalian akan bersegera menyongsongnya. Sungguh, shalatnya seseorang bersama dua orang adalah lebih baik ketimbang dengan satu orang, dan shalatnya seseorang dengan seorang adalah lebih baik dari ia shalat sendirian, semakin banyak jumlahnya akan lebih dicintai oleh Allah Tabaraka Wa Ta’ala.” (HR Ahmad, – 20312)

عَنْ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ يَقُولُ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا صَلَاةَ الصُّبْحِ فَقَالَ أَشَهِدَ فُلَانٌ الصَّلَاةَ قَالُوا لَا قَالَ فَفُلَانٌ قَالُوا لَا قَالَ إِنَّ هَاتَيْنِ الصَّلَاتَيْنِ مِنْ أَثْقَلِ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَالصَّفُّ الْأَوَّلُ عَلَى مِثْلِ صَفِّ الْمَلَائِكَةِ وَلَوْ تَعْلَمُونَ فَضِيلَتَهُ لَابْتَدَرْتُمُوهُ وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ وَمَا كَانُوا أَكْثَرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ (رواه أبو داود والنسائي)

Dari Ubay bin Ka’b berkata; “Suatu hari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengerjakan shalat Subuh, lantas beliau bersabda, Apakah kamu melihat Fulan ikut shalat berjamaah? ‘ Para sahabat menjawab, ‘Tidak’. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bertanya lagi, ‘ Apakah si Fulan (orang lain lagi) ikut shalat berjamaah? ‘ Sahabat menjawab, Tidak, Beliau Shallallahu’alaihi wasallam lalu bersabda: ‘Dua shalat ini sangat berat bagi orang munafiq. Andaikan mereka mengetahui (pahala) nya, mereka pasti mendatanginya, walau dengan merangkak. Barisan pertama laksana barisan para malaikat, seandainya mereka mengetahui keutamaannya mereka pasti bersegera menuju barisan pertama. Shalatnya seseorang bersama orang lain lebih utama baginya daripada shalat sendirian, dan shalat seseorang bersama dua orang lebih utama daripada shalat bersama satu orang. Kalau mereka bertambah banyak. Allah Azza wa Jalla lebih mencintainya’.” (HR Abu Daud dan An-Nasai – 834, dihasankan oleh Al-Albani).

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { أَثْقَلُ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ : صَلَاةُ الْعِشَاءِ ، وَصَلَاةُ الْفَجْرِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat ‘isya’ dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya, pasti mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” (Hadits Muttfaq ‘alaih).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَصِيرٍ عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الصُّبْحِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ أَشَاهِدٌ فُلَانٌ قَالُوا لَا فَقَالَ أَشَاهِدٌ فُلَانٌ فَقَالُوا لَا لِنَفَرٍ مِنْ الْمُنَافِقِينَ لَمْ يَشْهَدُوا الصَّلَاةَ فَقَالَ إِنَّ هَاتَيْنِ الصَّلَاتَيْنِ أَثْقَلُ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

Dari Abdullah bin Abu Bashir dari Ubai bin Ka’b ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat subuh, kemudian menghadap kepada kami dengan wajahnya seraya mengatakan: “Apakah Fulan hadir?” Mereka mengatakan, “Tidak.” Lalu beliau bersabda lagi: “Apakah Fulan hadir?” Mereka menjawab, “Tidak.” Yaitu beberapa orang-orang Munafik yang tidak ikut menghadiri shalat. Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya dua shalat ini (yaitu Subuh dan Isya`) paling berat bagi orang-orang munafik, seandainya mereka mengetahui apa yang ada pada keduanya niscaya mereka mendatanginya walaupun dengan merangkak.” (HR Ad-Darimi – 1241)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَجِدُ عَرْقًا سَمِينًا أَوْ مِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ لَشَهِدَ الْعِشَاءَ

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku ingin memerintahkan seseorang mengumpulkan kayu bakar kemudian aku perintahkan seseorang untuk adzan dan aku perintahkan seseorang untuk memimpin orang-orang shalat. Sedangkan aku akan mendatangi orang-orang (yang tidak ikut shalat berjama’ah) lalu aku bakar rumah-rumah mereka. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seseorang di antara kalian mengetahui bahwa ia akan memperoleh daging yang gemuk, atau dua potongan daging yang bagus, pasti mereka akan mengikuti shalat ‘Isya berjama’ah.” (HR Al-Bukhari – 608, bab wujub sholatil jama’ah –wajibnya shalat berjamaah).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَثْقَلُ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ الْمُؤَذِّنَ فَيُؤَذِّنَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا يُصَلِّي بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزُمُ الْحَطَبِ إِلَى قَوْمٍ يَتَخَلَّفُونَ عَنْ الصَّلَاةِ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

Dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat yang paling berat bagi kaum munafiqin adalah shalat isya` dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui pahala yang terdapat pada keduanya niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. Dan aku sangat berkeinginan memerintahkan seorang mu`adzin untuk adzan, kemudian aku perintahkan seorang lelaki mengimami mereka, lalu aku pergi bersama beberapa orang dengan membawa kayu bakar menuju orang-orang yang meninggalkan shalat juma’ah untuk kemudian membakar rumah-rumah mereka. (HR Ahmad – 9122) :

عَنِ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ يَجِدُ ثَلَاثَ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ فَثَلَاثُ آيَاتٍ يَقْرَأُ بِهِنَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلَاثِ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ إِنَّ أَثْقَلَ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَالْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

Telah menceritakan kepada kami Waki’ berkata; telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “apakah salah seorang kalian suka sekiranya pulang ke rumahnya dengan membawa tiga ekor unta gemuk yang sedang hamil, sesungguhnya tiga ayat yang dibaca dalam shalat adalah lebih baik dari tiga unta gemuk yang sedang hamil. Dan sesungguhnya shalat yang paling berat dirasakan oleh orang munafiq adalah shalat isya` dan subuh, sekiranya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya sungguh mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” (HR Ahmad – 9635) :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَثْقَلَ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَوْ عَلِمَ أَحَدُكُمْ أَنَّهُ إِذَا وَجَدَ عَرْقًا مِنْ شَاةٍ سَمِينَةٍ أَوْ مِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ لَأَتَيْتُمُوهَا أَجْمَعِينَ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا يُصَلِّي بِالنَّاسِ ثُمَّ آخُذَ حُزَمًا مِنْ حَطَبٍ فَآتِيَ الَّذِينَ تَخَلَّفُوا عَنْ الصَّلَاةِ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

و حَدَّثَنَاه أَبُو مُعَاوِيَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ وَهَذَا أَتَمُّ

Dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafiq adalah shalat isya` yang akhir dan shalat subuh, sekiranya mereka mengetahui apa yang ada pada keduanya sungguh mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. Jika salah seorang dari kalian mengetahui bahwasanya ia akan mendapatkan tulang dari kambing yang gemuk, atau rusuk kambing yang bagus (banyak dagingnya), kalian semua pasti akan mendatanginya. Sungguh, aku berkeinginan untuk memerintahkan agar shalat ditegakkan, kemudian aku perintahkan seorang lelaki untuk mengimami shalat orang-orang, sedang aku mengambil kayu bakar lalu mendatangi orang-orang yang tidak ikut shalat berjama’ah kemudian membakar rumah-rumah mereka.” Dan telah menceritakannya kepada kami Abu Mu’awiyah dan Ibnu Numair dan ini lebih lengkap.” (HR Ahmad – 10457) :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ صَلَاةٌ أَثْقَلَ عَلَى الْمُنَافِقِينَ مِنْ الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ الْمُؤَذِّنَ فَيُقِيمَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا يَؤُمُّ النَّاسَ ثُمَّ آخُذَ شُعَلًا مِنْ نَارٍ فَأُحَرِّقَ عَلَى مَنْ لَا يَخْرُجُ إِلَى الصَّلَاةِ بَعْدُ

Dari Abu Hurairah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang-orang Munafik kecuali shalat shubuh dan ‘Isya. Seandainya mereka mengetahui (kebaikan) yang ada pada keduanya tentulah mereka akan mendatanginya walau harus dengan merangkak. Sungguh, aku berkeinginan untuk memerintahkan seorang mu’adzin sehingga shalat ditegakkan dan aki perintahkan seseorang untuk memimpin orang-orang shalat, lalu aku menyalakan api dan membakar (rumah-rumah) orang yang tidak keluar untuk shalat berjama’ah (tanpa alasan yang benar).” (HR Al-Bukhari – 617)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ayahku telah menceritakan kepada kami Al A’masy (Dan diriwayatkan dari jalan lain) telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib sedangkan lafadz hadits darinya, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah dari Al A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah katanya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat yang dirasakan berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya` dan shalat subuh, sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang dan ia mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar untuk menjumpai suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah mereka.” (HR Muslim – 1041)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الشُّهَدَاءُ الْغَرِقُ وَالْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْهَدِمُ وَقَالَ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ لَاسْتَهَمُوا

Dari Abu Hurairah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang yang mati syahid itu adalah; orang yang mati kerena tenggelam, karena penyakit kusta, karena sakit perut, dan orang yang mati karena tertimpa reruntuhan.” Beliau juga bersabda: “Seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terdapat dalam bersegera menuju shalat, tentulah mereka akan berlomba-limba. Dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terdapat pada waktu ‘atamah (shalat ‘Isya) dan shubuh, tentulah mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak, dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang ada pada shaf pertama tentulah mereka akan berlomba meraihnya.” (HR Al-Bukhari – 679)

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : { أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إلَى الْمَسْجِدِ ، فَرَخَّصَ لَهُ ، فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ ، فَقَالَ : هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ ؟ قَالَ : نَعَمْ .

قَالَ : فَأَجِبْ } رَوَاهُ مُسْلِم .

Dari Abu Hurairah dia berkata; “Seorang buta (tuna netra) pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berujar “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk shalat di rumah. Ketika sahabat itu berpaling, beliau kembali bertanya: “Apakah engkau mendengar panggilan shalat (adzan)?” laki-laki itu menjawab; “Benar.” Beliau bersabda: “Penuhilah seruan tersebut (hadiri jamaah shalat).” (HR Muslim – 1044)

(nahimunkar.com)