Pemilihan Umum dan Gejala Ulama Blusak-blusuk

ADA ulama yang punya kecenderungan dekat-dekat dengan umara’ (penguasa), konon menurut pendapat sebagian kalangan, hal itu dilakukannya bukan untuk memberikan nasihat yang tulus, tetapi untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat duniawi.

Salah satu di antara mereka, menurut sebagian kalangan tadi, adalah Said Agiel Siradj, ulama NU (Nahdlatul Ulama) yang sudah pernah disebut sebagai ulama sesat oleh para kyai NU sendiri. Sosok ini diduga merupakan salah satu misionaris Syi’ah, yang juga dikenal dekat dengan Gus Dur, namun ketika Gus Dur menjabat sebagai presiden RI, ia tidak mendapat kursi empuk di kabinet dan sekitarnya.

Menjajakan Syi’ah

Keakraban dan kelekatannya di dalam menjajakan Syi’ah di Indonesia, dapat ditemukan pada sebuah pemberitaan di suaramedia.com edisi 08 Januari 2009. Di bawah judul berita KH Said Agiel Terkejut Haul Husein Sampai Dilarang, dikabarkan bahwa Kapolresta Cirebon AKBP Ary Laksmana sempat meminta panitia untuk membubarkan acara Haul Sayidina Husein di Keraton Kasepuhan Cirebon yang berlangsung Rabu malam tanggal 07 Januari 2009, dengan pembicara Said Agiel Siradj.

Ketika itu, Said Agiel Siradj mengaku heran adanya larangan itu, apalagi dihubungkan dengan aliran Syi’ah. Menurut Said Agiel Siradj, acara Haul Sayidina Husein yang memperingati tragedi di Karbala sebuah tragedi kemanusiaan yang tidak hanya boleh diklaim sebagai milik Syiah tetapi juga milik umat Islam tanpa mengenal Mahzabnya dan milik umat manusia. Lebih lanjut Said Agiel Siradj mengatakan, peristiwa Karbala yang menewaskan 18 keluarga Rasulullah dan 54 sahabat Rosulullah oleh pasukan Muawiyah pada tahun 70 Hijriah merupakan tragedi kemanusiaan yang luar biasa.

Lha, kalau yang tewas pada tragedi Karbala bukan hanya Husein ra, mengapa yang diperingati hanya Husein ra? Lagi pula, apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan acara peringatan semacam haul tadi? Yang pasti tidak. Itulah salah satu kesesatan berfikir orang-orang berpaham Syi’ah.

Menurut Kapolresta Cirebon AKBP Ary Laksmana, acara itu perlu dibubarkan karena panitia telah dianggap menipu pihak kepolisian. Dalam permohonan izin, yang dicantumkan adalah acara Peringatan Tahun Baru Islam, namun dalam pelaksanaannya acara yang digelar adalah Haul Sayidina Husein. “Saya juga sudah mengontak Pangeran Arief Natadiningrat (putra Mahkota Keraton Kasepuhan) yang juga mengaku jika izin panitia hanya Peringatan Satu Muharam, dan pihak Keraton meminta agar acara itu dibubarkan…” Demikian penjelasan Ary Laksmana.

Acara yang semula direncanakan berlangsung di Islamic Center Cirebon itu, akhirnya dipindahkan di Keraton Kasepuhan, dan tetap berlangsung Rabu malam (7 Januari 2009) itu juga, bahkan dibuka oleh Ketua MUI Kota Cirebon KH Mahfud Bakrie yang pada kesempatan itu justru mengucapkan terima kasih atas kesediaan Sultan Kasepuhan mengizinkan acara Haul Sayidina Husein tetap berlangsung. (http://www.suaramedia.com/nasional/kh-said-Agiel-terkejut-haul-husein-sampai-dilarang.html).

Berita lebih lengkapnya sebagai berikut:

Polisi Minta Haul Sayidina Husein Dibubarkan

By Republika Newsroom

Kamis, 08 Januari 2009 pukul 04:54:00

CIREBON — Kapolresta Cirebon AKBP Ary Laksmana sempat meminta panitia

untuk membubarkan Haul Sayidina Husein di Keraton Kasepuhan Cirebon

dengan pembicara Ketua PB Nahdlatul Ulama (NU) KH Said Agiel Siradj, Rabu

malam.

Menurut Kapolresta yang datang di Keraton Kasepuhan, acara itu perlu

dibubarkan karena panitia telah dianggap menipu pihak kepolisian karena

dalam ajuan izin mencantumkan Peringatan Tahun Baru Islam, namun dalam

pelaksanaanya acara yang digelar adalah Haul Sayidina Husein yang tidak

lain cucu Nabi Muhammad SAW.

“Saya juga sudah mengontak Pangeran Arief Natadiningrat (putra Mahkota

Keraton Kasepuhan) yang juga mengaku jika izin panitia hanya Peringatan

Satu Muharam, dan pihak Keraton meminta agar acara itu dibubarkan,”

katanya sambil menunjukkan surat dari Pangeran Nasfudin dari Keraton

Kasepuhan.

Kapolresta sempat memanggil Aan Anwarudin, Ketua Panitia Haul, yang

memintanya untuk membacakan surat pemberitahuan acara. “Coba anda baca

apakah ada kata-kata 10 Muharam atau Haul seperti acara sekarang ini,”

tanya Kapolresta.

Aan yang juga pengurus Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia terdiam

sesaat dan kemudian mengakui tidak ada kata-kata 10 Muharam atau Haul

Sayidina Husein.

Kapolresta kemudian meminta Aan untuk menghentikan acara, apalagi sesuai ajuan surat hanya berlangsung sampai pukul 23.00 WIB. “Jika lewat dari itu maka saya akan minta pihak Keraton untuk membubarkan karena pihak keraton juga menyatakan keberatan,” katanya.

Aan kemudian kembali ke arena acara di Bangsal Pagelaran Keraton yang saat itu tengah berceramah KH Said Agiel Siradj. Ia mengaku tidak mungkin membubarkan acara apalagi hanya gara-gara kesalahan pencantuman jenis acara.

“Surat itu dibuat terburu-buru karena Senin (5/1) ada penolakan mendadak dari Islamic Centre Kota Cirebon, sehingga kami memindahkan acara ke Keraton Kasepuhan setelah ada izin dari Sultan,” katanya. Ia juga mengaku heran dengan sikap yang tidak toleransi dari pihak kepolisian. “Saya siap pasang badan jika saya diperkarakan hanya gara-gara acara Haul ini,” katanya usai acara sekitar pukul 24.00 WIB.Menurut Kapolresta, dirinya sudah membuat surat kepada panitia bahwa acara seperti tidak bisa digelar di Kota Cirebon, dan hal itu juga atas desakan dari Pengurus Islamic Centre Kota Cirebon dan MUI Kota Cirebon yang mengaku keberatan dengan acara itu.

“Untuk menjaga kondusifitas Kota Cirebon, saya buat surat itu, karena dari Islamic Centre dan MUI juga datang kepada saya,” katanya. Namun, berdasarkan pantauan ANTARA, acara tersebut justru dibuka oleh Ketua MUI Kota Cirebon KH Mahfud Bakrie yang sempat mengucapkan terima kasih atas kesediaan Sultan Kasepuhan mengizinkan acara haul digelar.

Seperti diberitakan sebelumnya Haul Sayyidina Husein ra yang sebelumnya ditolak pengelola Islamic Center Kota Cirebon akhirnya dipindahkan ke Keraton Kasepuhan dan tetap berlangsung Rabu malam.

“Kami berterima kasih karena Sultan Sepuh pun sudah memberikan izin penyelenggaraan Haul Sayyidina Husein di Mande Mastaka Keraton Kasepuhan,” kata Humas Panitia Haul Sayyidina Husen ra, M Akbar.

Sementara pengurus Islamic Center Kota Cirebon melarang Haul Sayyidina Husein ra diselenggarakan di gedung mereka.

Amran, Ketua Pengurus Islamic Center Kota Cirebon mengungkapkan Haul Sayyidina Husein itu belum pernah dilakukan dan tidak pernah ada di Cirebon. “Haul ini pun identik dengan syiah,” katanya. Dede Muharam, Sekretaris pengurus Islamic Center juga sependapat bahwa panitia Haul memperalat anak-anak muda yang tergabung dalam PMII untuk menyelenggarakan acara yang berbau aliran Syiah. Abu Tuharoh, pimpinan Pondok Pesantren Al Sunnah, beranggapan yang memperingati Haul Sayyidina Husein itu beraliran Syiah sehingga pantas untuk dilarang. -* ant/ah*

(Sumber: http://www.republika.co.id/berita/24883.html>)

Begitulah keseriusan sosok Said Agiel Siradj di dalam menjajakan Syi’ah di Indonesia, sampai-sampai pihak kepolisian, Keraton dan MUI pun ‘terpedaya’ di bawah kekuatan lobinya. Bahkan, utuk meyakinkan ‘calon korbannya’ Said Agiel Siradj tak sungkan-sungkan menjadikan NU sebagai contoh ormas yang secara parsial mengadopsi ajaran Syi’ah. “…Nahdlatul Ulama juga mengambil beberapa hal yang dipraktekkan Syiah seperti tawasulan dan salawatan…” Begitu kata Said Agiel Siradj.

Said Agiel Siradj juga menyayangkan orang yang menganggap Syiah bukan Islam. Karena, menurutnya, Syiah sebenarnya merupakan salah satu sekte dari agama Islam dan sejarah telah mencatat pemimpin Syiah yang membangun berbagai negeri seperti Yaman, Maroko dan Mesir. “Ada sepuluh raja di Mesir yang beraliran Syiah termasuk yang membangun Kota Kairo, jadi itu sebuah sejarah yang tidak bisa dinafikan.” Demikian salah satu materi promosi Said Agiel Siradj tentang Syi’ah.

Mendukung Presiden Wanita

Sebelumnya, di tahun 1998, ketika kader PDI-P mengusung Megawati sebagai calon presiden, Said Agiel Siradj termasuk satu diantara yang mendukung. Ironisnya, ketika Megawati benar-benar menjadi presiden menggantikan Abdurrahman Wahid yang terpaksa lengser karena di-impeach, Said Agiel Siradj juga tidak menikmati kursi empuk di kabinet dan sekitarnya.

Uniknya, Megawati yang menurut pandangan Said Agiel Siradj boleh dan layak menjadi orang nomor satu di Republik Indonesia ini, ternyata juga tidak sungkan-sungkan bertanya tentang hal-hal mendasar soal keagamaan. Misalnya, cara wudhu yang baik, cara mandi junub yang baik. Pertanyaan itu diajukan Mega di tahun 2009. Jangan terlalu jauh menafsirkan, apakah selama ini (sebelum 2009), Mega sama sekali tidak tahu dan tidak mempraktekkan wudhu yang benar, begitu juga dengan cara mandi junub yang benar? Wallahu a’lam.

9th February 2009, 09:51

Said Aqil Siradj:

Mega tidak malu bertanya cara wudhu

Ana Shofiana Syatiri


INILAH.COM, Jakarta – Kehausan Megawati akan ilmu agama dinilai Said Aqil Siradj cukup tinggi. Meski usianya tak lagi belia, Ketua Umum DPP PDIP itu dia tidak malu bertanya mengenai cara wudhu yang benar, sampai cara mandi junub. Ehhmm…

Said Aqil merupakan pengisi rutin yasinan atau pun yasinan rutin warga PDIP di Kebagusan, setiap Selasa malam. Pertemuan dengan Megawati tentunya juga menjadi suatu yang rutin, jika Mega sedang tidak berhalangan. Dan hubungan yang akrab tentunya tercipta.

Said Aqil, seperti dilansir dari buku ‘Mereka Bicara Mega’, mengaku putri Soekarno itu tidak pernah sungkan bertanya apa pun, menyangkut syariat agama Islam.

Dalam buku yang dilaunching Jumat kemarin, tertulis di halaman 35 bagaimana Megawati memenuhi kehausannya akan ajaran agama:

Pernah pula beliau bertanya, “Bagaimana cara mandi junub yang benar.” Saya pun mencoba menjelaskan secara detail seperti yang diajarkan Rasulullah.

Demikian juga ketika bersama keluarganya hendak menjalankan rukun Islam yang kelima, sempat menanyakan, ” Boleh nggak melempar jumrah di Arab Saudi, batunya kita bawa dari Indonesia?”

Saat menunaikan ibadah haji tahun 2000, Megawati terbilang cukup kuat. Menurut Ketua PBNU itu, Mega cukup kuat berjalan. “Saya sendiri sampai terpontal-pontal menyertainya. Juga ketika sa’i, saya agak ngos-ngosan mendampingnya,” aku Said Aqil.

Begitulah sisi lain seorang Megawati dalam mempelajari Islam. Dan dalam pesan akhirnya, Said Aqil mengharapkan Mega semakin rajin membaca Al quran termasuk terjemahannya.[ana]

Di tahun 2004, Said Agiel Siradj terlihat konsisten sebagai pendukung Megawati, yang kala itu maju menjadi capres bersama Hasyim Muzadi sebagai cawapresnya. Sebagai anggota tim kampanye Mega-Hasyim kala itu, Said Agiel Siradj menyatakan menolak fatwa pengharaman pemimpin wanita. Alasannya, karena ajaran Islam menjunjung nilai-nilai demokrasi bahkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an terdapat surat yang membahas masalah demokrasi yakni Surat As-Syura dan salah satu prinsip demokrasi adalah tidak ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan.

Menurut Said Agiel Siradj pula, “… soal kepemimpinan itu bukan persoalan laki-laki atau perempuan namun masalah amanah. Karena itu pula Munas Alim Ulama NU di Mataram pada 1997 tidak mengharamkan pemimpin wanita. Itu kajian obyektif bukan untuk mendukung Mbak Tutut (Siti Hardiyanti Rukmana) atau Mbak Mega (Megawati Soekarnoputri)…”

Kala itu, Said Agiel Siradj mendapat dukungan dari Musdah Mulia, anggota Muslimat NU yang juga pendiri Pusat Kajian Agama dan Gender Litbang Departemen Agama. Menurut Musdah, kontoversi soal kepemimpinan wanita sebenarnya bukan hal baru karena hal itu telah terjadi sejak abad ke-7 masehi dan ternyata sampai abad ini pun masih berlangsung. “Sebenarnya masalah kepemimpinan itu bukan masalah bilologis tapi lebih pada kualitas dan kapasitas. Jadi jangan jadikan agama untuk kepentingan politik tertentu…” (http://m.infoanda.com/linksfollow.php?lh =VgsGBVdTBARS)

Loyalitas Said Agiel Siradj terhadap Mega dan PDIP-nya terlihat kian kental, ketika ia ikut ambil bagian sebagai anggota dewan pembina BMI (Baitul Muslimin Indonesia), ormas onderbouw PDI P, bersama sejumlah tokoh lainnya yaitu Syafi’i Ma’arif, Faisal Basri (mantan Sekjen DPP PAN), dan Mohamad Sobary (mantan Ketua Antara, di masa Gus Dur jadi Presiden).

Ketika UU Pornografi masih dalam perdebatan dan masih berupa RUU, Said Agiel Siradj termasuk yang berada di dalam barisan yang keberatan bila hal itu disahkan menjadi undang-undang. Pendiriannya itu sejalan dengan sikap PDIP, yang di dalam menegaskan pendiriannya menolak RUU Pornografi sampai menempuh walk out segala.

Menurut Said Agiel Siradj, RUU Pornografi hanya akan menimbulkan ‘kerepotan’ di masyarakat jika pengesahannya dipaksakan DPR-RI, karena sesuatu yang dipaksakan tidak akan langgeng. Anehnya, pendapat Said Agiel Siradj yang katanya Islam itu, justru berbeda dengan pendirian Agustin Teras Narang (Ketua Umum Majelis Adat Dayak Nasional), yang justru melihat perlunya RUU Pornografi mengakomodir kebutuhan dan kearifan budaya lokal di setiap daerah. Secara umum, Agustin Teras Narang menilai substansi yang ada dalam RUU tidak memiliki benturan budaya dengan adat istiadat masyarakat Suku Dayak yang mendiami Pulau Kalimantan.

Rupanya kelakuan ‘ulama’ Islam dari NU ini kalah konsisten dibandingkan dengan ‘ulama’ Dayak di dalam memperjuangkan moral umatnya.

Mendukung JK dan LDII

Kini, menjelang pilpres 2009 yang akan berlangsung 8 Juli 2009, Said Agiel Siradj kembali mengeluarkan jurus-jurus lamanya. Ketika menjadi pembicara dalam forum Bahtsul Masail tentang kepemimpinan di Rakernas Muslimat NU yang berlangsung di Makassar (Minggu, 31 Mei 2009) lalu, Said Agiel Siradj mengatakan bahwa Jusuf Kalla memenuhi kriteria pemimpin sebagaimana dirumuskan para ulama ahlussunnah wal Jamaah (sunni). Ulama sunni yang dimaksudnya itu, antara lain Imam Al-Maturidi.

Menurut Said Agiel Siradj yang suka blusak-blusuk (keluar masuk) ke gereja ini, JK dinilai mampu menjaga dan memelihara martabat bangsa yang dipimpinnya. Selain itu, JK juga dinilai mampu meningkatkan semangat keberagamaan dan meningkatkan kecerdasan serta memelihara hak properti warga negara. Secara pribadi, Said Agiel Siradj menilai JK profesional dan proporsional, yaitu mampu menciptakan suasana yang membuat warga negara solid, bersikap terbuka, tidak ragu-ragu dan bertangung jawab.

Selain memenuhi kriteria para ulama sunni, menurut Said Agiel Siradj, Jusuf Kalla juga merupakan tokoh yang kapabel, berintegritas tinggi, berani dan tegas. Selain itu, menurut Said Agiel Siradj, Jusuf Kalla sudah kaya, sehingga tidak mungkin korupsi. (Harian Berita Kota edisi Senin, 1 Juni 2009). Itulah seabreg ‘pujian’ yang ditebar Said Agiel Siradj untuk capres Jusuf Kalla, di Makassar, tanah kelahiran JK, dan tentunya di sana banyak pendukung JK.

Tentu saja Said Agiel Siradj tidak akan menampilkan sisi lain JK yang pernah meresmikan masjid dan menara pondok Pesantren LDII Burengan, Kediri, pada tanggal 23 Januari 2009 lalu, dalam rangka mendapatkan dukungan LDII. Padahal, LDII adalah salah satu aliran sesat yang sampai kini masih dinyatakan sesat oleh Rekomendasi Munas MUI 2005. Rekomendasi Munas MUI 2005 itu menegaskan:

Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah.

MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

Lebih dari itu tentu saja Said Agiel Siradj tidak akan mengabarkan kepada khalayak bahwa LDII membalas kunjungan dan permintaan dukungan JK itu dengan membebaskan warga LDII untuk menentukan pilihannya alias belum tentu mendukung Golkar. (lihat okezone edisi Jum’at, 6 Maret 2009 – 16:20 wib, di bawah judul Temui JK, LDII Tolak Dukung Golkar).

Bagi Said Agiel Siradj, LDII tidak sama dengan Ahmadiyah yang mengingkari ma `ulima minaddin bidhdharurah, mengakui adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Sedangkan LDII tidak sesat, tetapi termasuk kelompok yang eksklusif (mutanaththi`, tanaththu`). “…LDII masih dalam bagian firqah islamiah, karena meyakini apa yang disebut ma ’ulima minaddin bidhdharurah, meski dalam beberapa hal LDII (menurut beberapa kalangan yang mengamati organisasi ini) berbeda dengan mayoritas ulama dalam menafsirkan ayat tertentu. Perbedaan penafsiran itu sendiri dalam banyak kesempatan dibantah oleh pengurus LDII. Seandainya dugaan para pengamat itu benar, perbedaan itu tidak menyebabkan LDII menyandang label ‘sesat’. Itu tidak sesat, hanya salah atau sempit…” (http://afternewparadigm.blogspot.com/2008/08/prof-dr-kh-said-Agiel-siradj.html)

Boleh jadi di tahun 2009 kali ini, Said Agiel Siradj sudah berpindah ke lain hati. Bila sebelumnya ia menjadi pendukung yang gigih bagi Megawati dan PDIP-nya, kini nampaknya ia lebih condong menjadi pendukung JK-Wiranto, sebagaimana bisa dibaca melalui pujian dan dukungannya di atas. Entah lontaran apa yang akan dikemukakan Said Aqiel Siradj dalam mendukung JK-Wiranto yang dikenal dekat dengan aliran sesat LDII dan NII KW IX itu. Kalau untuk mendukung Megawati dalam menghalalkan calon presiden wanita masa lalu, Said Aqiel Siradj telah membantah-bantah maksud ayat dan hadits. Di antaranya:

{ الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ }

34. Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS An-Nisaa’: 34). Ayat itu oleh Said Aqiel Siradj dianggap hanya khabar bukan mengandung perintah. Pedahal, kalau Said Aqiel Siradj mau jujur, banyak ayat-ayat yang sifatnya khabar namun isinya perintah atau larangan. Seperti ayat tentang ‘iddah pun hanya khabar, tetapi merupakan perintah untuk menjalani masa tunggu bagi wanita yang dicerai maupun ditinggal mati suaminya. Bila nikah di masa ‘iddah maka hukumnya tidak sah. Bahkan Said Aqiel Siradj menganggap bahwa ayat itu (An-Nisaa’: 34) hanya khusus untuk kepemimpinan lelaki dalam urusan “ranjang”. (Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Polemik Presiden Wanita, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, cetakan pertama, 1988, halaman 60).

Juga hadits

لن يُفلِح قومٌ وَلَّوا أمْرَهُم امرأة” رواه البخاري من حديث عبد الرحمن بن أبي بكرة

Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (menyerahkan kepemimpinan) mereka kepada seorang perempuan. (HR Al-Bukhari).

Lagi-lagi Said Aqiel Siradj menyusupkan dalih khabariyah (berita). “Karena itu, hukum (larangan) pun tidak memiliki signifikasi yang kuat,” katanya. ((Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Polemik Presiden Wanita, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, cetakan pertama, 1988, halaman 60).

Coba kita bandingkan, ada hadits:

لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلاَّ نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ. (ابن سعد ، والطبرانى عن سلمان الفارسى قال الهيثمى (8/241) : رجاله ثقات)

Tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang muslim (HR Ibnu Sa’ad dan At-Thabrani dari Salman Al-Farisi. Berkata Al-Haitsami, rijalnya kuat/ terpercaya).

Hadits itu bentuknya hanya khabar. Apakah dari pengertian hadits ini hukum larangan menjadi kafir tidak memiliki signifakasi yang kuat?

Selain menabrak ayat dan hadits, Said Aqiel Siradj ketika membela calon presiden wanita tampaknya bukan hanya menabrak ayat dan hadits, tetapi organisasi yang dia ikuti (bahkan dia termasuk memimpin organisasi itu) yakni NU pun dia tabrak. Sampai-sampai ada lontaran Dr  Said Aqiel Siradj lagi, bahwa sebaiknya NU (Nahdlatul  Ulama) dipimpin oleh wanita, supaya maju. Selama ini NU tidak  maju-maju karena selalu dipimpin laki-laki, katanya. (lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Polemik Presiden Wanita, halaman 103, Republika, 30 November 1998).

Terhadap ungkapan seperti itu, sebenarnya tidak usah dibantah. Karena sudah mengakui bahwa NU tidak maju-maju, dengan terus terang mengaku itu sudah lowung (mending). Hanya saja ketika jalan keluarnya adalah saran buruk berupa agar NU dipimpin wanita, sedang usulan itu sasarannya adalah untuk menghalalkan dukungannya terhadap calon presiden wanita, maka urusannya jadi merembet-rembet. Lha wong dipimpin laki-laki saja tidak maju-maju, kok malah agar dipimpin wanita. Itu bagaimana? Lha yang Muslimat NU (NU perempuan) itu bukan hanya dipimpin oleh wanita, tetapi anggotanya 100 persen wanita, lha kok ya tidak maju-maju juga. Kalau mengikuti cara berfikir Dr Said Aqiel Siradj, mestinya Muslimat NU itu jauh lebih maju dibanding NU (laki-laki). Kenyataannya tidak. Berarti itu hanya asal bunyi saja, dan masih plus tidak benar. Bahkan ketidak benaran itu masih dia tambahi pula dengan membantah pernyataannya sendiri. Said Aqiel Siradj itu btadi telah usul, agar NU maju maka perlu dipimpin wanita, itu tahun 1998. Kemudian pada tahun 1999 Said Aqiel Siradj bertandang mencalonkan diri untuk memimpin NU, bersaing dengan Hasyim Muzadi, namun Said keok karena beredar isu (kurang lebihnya berisi) agar warga Nahdliyin (NU) tidak memilih orang yang suka blusak-blusuk ke gereja. Pencalonan Said Aqiel Siradj itu dalam Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-30 yang berlangsung di pesantren Hidayatul Mubtadi’in, Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Muktamar tersebut dibuka secara resmi oleh Presiden Gus Dur pada hari Minggu, 21 November 1999, dan berlangsung hingga 27 November 1999.

Rangkaian singkatnya sebagai berikut:

Ketua Umum PBNU periode 1984-1989 dengan Musytasyar KHR As’ad Syamsul Arifin bersama 8 Kiyai lainnya, dan Ro’is ‘Am Syuriyah KH Ahmad Siddiq. Kepemimpinan Gus Dur itu bisa terpilih lagi. Sampai saat Gus Dur terpilih menjadi Presiden RI 1999, dia masih berstatus ketua Umum PBNU. Kemudian kedudukannya digantikan oleh Hasyim Muzadi setelah bersaing ketat dengan Dr Said Agil Siradj dalam muktamar NU di Jawa Timur, dengan isu jangan sampai memilih orang yang suka blusak-blusuk (keluar masuk) ke Gereja, maksudnya adalah Said Agil Siradj. Meskipun isu itu bisa berhasil menggagalkan Said Agil Siradj hingga tidak mampu mengalahkan Hasyim Muzadi, namun hasilnya sama juga, yaitu gemar-gemar juga Hasyim Muzadi itu dalam hal berkasih-kasihan dengan gereja. Buktinya, justru dia mengadakan acara do’a bersama antara agama secara besar-besaran di senayan Jakarta Agustus 2000. (lihat buku Hartono Ahmad Jaiz dan Abduh Zulfidar Akaha, Bila Kyai Dipertuhankan, Membedah Sikap Beragama NU, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2001, dalam judul bab NU dan Peran Kesejarahannya Mempraktekkan Nasihat Kruschov Berdampingan dengan Lawan, Berhadapan dengan Pembaharu).

Setelah kita runtutkan peristiwanya, Said Aqiel Siradj tahun 1998 melontarkan pemikiran bahwa sebaiknya NU (Nahdlatul  Ulama) dipimpin oleh wanita, supaya maju. Selama ini NU tidak  maju-maju karena selalu dipimpin laki-laki, katanya. Tahu-tahu dalam perjalanan kiprahnya, Said Aqiel Siradj mencalonkan diri sebagai calon ketua umum PBNU dalam Muktamar NU ke-30 di Kediri Jawa Timur tahun 1999. Apakah Said Aqiel Siradj merasa dirinya itu perempuan atau bagaimana, sehingga mencalonkan diri untuk memimpin NU saat itu. Kalau dia merasa laki-laki ya malu dong. Dia sendiri yang mengusulkan agar NU dipimpin oleh wanita, kok dia malah mencalonkan diri padahal berkelamin lelaki. Periode mendatang pun kalau dia mencalonkan diri untuk memimpin NU, berarti ia menganggap dirinya adalah perempuan!

Ketika keberanian Said Aqiel Siradj dalam mendukung calon presiden sudah terbukti menabrak-nabrak ayat, hadits, dan organisasi seperti itu, lantas dukungannya sekarang (2009) terhadap capres dan cawapres (JK-Wiranto) yang tampak dekat dengan aliran-aliran sesat (LDII dan NII KW IX) itu apakah tidak mungkin dia akan membenarkan yang sesat, atau sebaliknya menyesatkan yang benar? Mudah-mudahan saja tidak. Sekalipun tidak, toh sudah jelas dia blusak-blusuk. Jadi ya ataupun tidak, hampir tiada beda.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan ummatnya dari bahaya tokoh sesat lagi menyesatkan. Haditsnya sebagai berikut:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِى الأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ ».

Dari Tsauban, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya yang aku takuti (bahayanya) atas ummatku hanyalah imam-imam/ pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. (HR Ahmad, rijalnya tsiqot –terpercaya menurut Al-Haitsami, juga dikeluarkan oleh Abu Daud, Ad-Darimi, dan At-Tirmidzi, ia berkata: Hadits Shahih. Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah berkata, isnadnya shahih atas syarat Muslim).

Siapakah aimmah mudhillin (imam-imam/ pemimpin-pemimpin atau tokoh-tokoh yang menyesatkan) itu?

( إنما أخاف على أمتي الأئمة ) أي شر الأئمة ( المضلين ) المائلين عن الحق المميلين عنه (التيسير بشرح الجامع الصغير ـ للمناوى – (ج 1 / ص 728))

Imam-imam yang menyesatkan (al-Aimmah al-mudhillin) artinya seburuk-buruk imam/ pemimpin, yang menyimpang dari kebenaran dan menyelewengkan darinya. (Al-Munawi, At-Taisir bisyarhil Jami’is Shaghir juz 2 halaman 728).

أئمة مضلين أي داعين إلى البدع والفسق والفجور (تحفة الأحوذي – (ج 6 / ص 401))

Imam-imam yang menyesatkan, artinya penyeru-penyeru kepada bid’ah-bid’ah, kefasikan (pelanggaran-pelanggaran) dan fujur (kejahatan-kejahatan). (Al-Mubarokafuri, Tuhfatul Ahwadzi, syarah Jami’ At-Tirmidzi juz 6 halaman 401). (haji/tede)