Pemilu 2009


Pemilu Legilatif 2009 yang berlangsung Kamis 9 April 2009 diikuti 38 partai dengan 11.000 caleg (calon legislative). Penyontrengan tanda gambar yang biasanya dalam pemilu dengan cara mencoblos ini dilingkupi rupa-rupa kejadian dan tingkah laku. Sampai-sampai kabarnya ada yang surat suaranya justru ditulisi dengan amat tak sopan, misalnya Pemilu Paling Tolol . Diberitakan pula, sejumlah surat suara di kotak suara justru berisi kata atau kalimat-kalimat tertentu. Salah satunya di surat suara DPD Jawa Timur bertuliskan ‘Gak Kenal Bung’. Ada juga yang bertuliskan ‘Golput Yes’ dan ‘Otokrasi Yes’.

Dalam pelaksanaannya, ada juga TPS (tempat pemungutan suara) yang tidak didatangi satupun pemilih. Beritanya sebagai berikut:


Sampai Ditutup, Kosong Pemilih

BANGKALAN – Ironis benar pelaksanaan pileg di TPS 4 Kelurahan Kemayoran, Kecamatan Kota Bangkalan. TPS tersebut kosong pemilih sampai ditutup pukul 12.00. Padahal, TPS itu berada di tengah kota.


Berdasar pantauan koran ini, hingga pukul 10.00 tak seorang pemilih pun yang masuk daftar pemilih tetap (DPT) hadir. Bahkan, hingga batas akhir pencontrengan pukul 12.00 tetap tidak ada pemilih yang datang ke TPS.


Ketua KPPS TPS 4 Kelurahan Kemayoran Syaiful Rahman mengaku tidak tahu alasan ketidakhadiran 336 orang yang masuk DPT TPS tersebut. Padahal, dia menyatakan, undangan telah disebar untuk 194 pemilih laki-laki dan 142 pemilih perempuan itu. “Kami sudah kirimkan form C-4 atau undangan datang ke TPS sejak Selasa (7/4). Tapi, tetap saja tidak ada yang datang,” ujarnya.


Syaiful Rahman menampik bila pihaknya tidak bersikap aktif menjemput pemilih. Baginya, datang tidaknya warga yang tercantum dalam DPT merupakan hak asasi yang bersangkutan.(ale/C12/mat/jpnn/bh) (Jawa Pos Berita Utama [ Jum’at, 10 April 2009 ]).

Pemilu dengan biaya mahal itu tampaknya cukup dicuweki oleh sebagian para pemilih, bahkan ada yang satu TPS tak ada yang memilih sama sekali seperti tersebut. Lantas, dikatakan mahal itu seberapa mahalnya? Inilah beritanya:

Dibandingkan dengan Pemilu 2004 yang hanya menghabiskan biaya sekitar Rp 3,5 triliun untuk Pemilu DPR, DPRD I, DPRD II dan DPD serta Pemilihan Presiden (Pipres), maka Pemilu 2009 mengalami lonjakan yang sangat tajam. Ketua KPU, Abdul Hafidz Anshori menyebutkan total anggaran KPU dan Pemilu 2009 sekitar Rp 47,9 triliun. Anggaran tersebut dialokasikan untuk kebutuhan KPU dan Pemilu masing-masing sebesar Rp 18,6 triliun untuk tahun 2008, dan Rp. 29,3 triliun untuk proses Pemilu 2009. (http://jarikmataram.wordpress.com/2007/11/11/mahalnya-biaya-pemilu-2009/).


Dari Mana Dana dan Apa Resikonya?

Untuk membiayai pemilu itu rupanya ada lima lembaga asing yang ikut memberi dana dengan tentunya ada kemauan dibalik memberi dana itu. Berikut ini ulasan yang telah beredar:


Biaya Pemilu 37,5 Juta Dolar Didanai Asing

Ditulis oleh RAKYAT MERDEKA

Rabu, 11 Februari 2009 13:28


Lima lembaga asing ikut membiayai Pemilu 2009. Total duit yang digelontorkan sebesar 37,5 juta dolar AS.


PENGAMAT politik Universitas Indonesia (Ul) Ibramsyah menegaskan, sumbangan dana asing untuk Pemilu 2009, jelas memiliki tujuan. Hanya saja, kata dia, karena bantuan itu melalui institusi, kepentingan terselubung negara asing itu pun menjadi tersamarkan.


“Itu pun karena terkait dengan transparansi dan audit publik yang bersifat terbuka dan dipelototi banyak orang,” kata Ibramsyah kepada Rakyat Merdeka, kemarin.


Yang berbahaya, kata Ibramsyah, bantuan asing yang langsung kepada calon presiden dan wakil presiden. Soalnya, kata dia, bantuan model ini tidak kelihatan. “Lihat saja pengalaman Pemilu 2004. KPU bak macan ompong. KPU tidak berdaya mengaudit dana yang mengalir ke figur-figur kontestan peniilu saat itu,” ujarnya.


Ibramsyah membeberkan bahayanya dana asing yang langsung masuk ke figur-figur capres-cawapres. Dia bilang, ada dua kepentingan besar yang menyelimuti pemberian fulus ke figur capres-cawapres tersebut. Yaitu, kepentingan bisnis dan hubungan internasional.

“Dua faktor ini sangat diperhatikan betul oleh mereka,” katanya.


Kuda Troya Politik

Di tempat terpisah, pengamat intelijen AC Manulang menyatakan, bantuan asing untuk pemilu merupakan global grand strategy Amerika Serikat. Indonesia akan dipaksa setuju dengan proses globalisasi yang diusung negara-negara donor.


“Saya tidak anti bantuan asing. Tapi, bukan tidak mungkin bantuan tersebut bagian dari ‘kuda troya politik’. Artinya, di balik pekerjaan yang besar terdapat operasi intelijen,” jelas AC Manullang kepada Rakyat Merdeka, kemarin.


Indonesia, kata bekas Kepala BAKIN ini, harus segera melakukan kontra subversi dan early warning untuk mencegah operasi intelijen-intelijen asing tersebut. Terlebih, pascareformasi intelijen-intelijen asing sudah masuk ke jantung pemerintahan.


“Bahkan sekarang ini intelijen asing itu sulit dibedakan dengan warga negara biasa. Sudah banyak sekali intel asing yang ada di negara kita,” katanya.


Dia membeberkan, bentuk operasi intelijen asing di Indonesia. Di antaranya, aksi spionase (memata-matai kegiatan struktural di Indonesia, mulai dari bankir hingga organisasi-organisasi lainnya), sabotase (menciptakan kondisi tidak kondusif) dan melakukan infiltrasi dan penetrasi.


“Sedangkan, grand strategy globalnya, asing bermain dalam isu islamisasi, HAM, bhineka tunggal ika, dan demokrasi yang mengarah pada kesejahteraan rakyat sehingga membuka pintu pihak asing untuk datang membantu,” tandasnya.


Sebelumnya, Menneg PPN/ Kepala Bappenas Paskah Suzetta menjelaskan, bantuan donor asing untuk Pemilihan Umum 2009 lebih terkoordinir dibanding Pemilu 2004. Sebab, kata dia, semua bantuan asing yang masuk dikoordinasi oleh United Nations Development Programme (UNDP).


“Pada Pemilu 2004, bantuan diberikan langsung oleh donor ke Komisi Pemilihan tingkat Daerah. Akibatnya, terjadi perebutan dana bantuan asing.


Kalau sekarang, semuanya dipegang langsung oleh Komisi Pusat sehingga lebih tertib,” katanya.

Paskah menegaskan, semua bantuan asing sudah dialokasikan dalam penerimaan hibah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2008 dan 2009. Dia membantah bantuan asing untuk pemilu merupakan intervensi negara asing. “Tidak benar itu. Kan penentuan program dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan, bukan oleh donor asing,” tandasnya. • ZK


http://puspen.depdagri.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=345:biaya-pemilu-375-juta-dolar-didanai-asing&catid=61:aktual-media-cetak&Itemid=76

Demikianlah, Pemilu 2009 biayanya mahal, ikut didanai lima lembaga asing, ada maskud-maksud dibalik itu, dan ada pula yang tak mau tahu, hingga cukup disikapi dengan cuwek belaka. Sementara itu di antara para caleg telah habis-habisan dalam bersaing karena jumlahnya yang 11.000 caleg. Sampai-sampai tidak sedikit yang kemungkinan bukan hanya habis-habisan harta dan tenaga, tetapi juga imannya bisa sirna, karena mempercayai dukun ataupun minta berkah kepada kuburan-kuburan.

Itulah bagian dari Pemilu di Indonesia di antara berita-berita lainnya yang tak kalah serunya. (haji).