Pendangkalan Akidah Berkedok Ziarah

Oleh Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede

Ajaran Meminta kepada Isi Kubur

Seorang penggerak tour ziarah ke kubur-kubur –yang mereka sebut kuburan wali– dalam pengajian di satu masjid di Jakarta, saya dengar langsung, dia mengatakan: Kita boleh minta kepada Nabi untuk didoakan, demikian pula para wali yang sudah wafat. Karena ada hadits Nabi:

من حج فزار قبري بعد وفاتي كان كمن زارني في حياتي

Siapa yang berhaji lalu menziarahi kuburku setelah wafatku maka dia seperti orang yang menziarahiku dalam hidupku.

Lalu penggerak tour ziarah itu bertanya kepada jamaah yang dihadapi: Ketika Nabi hidup, boleh atau tidak, kita minta didoakan? Jamaah menjawab: boleh.

Ya, kalau boleh, maka setelah Nabi wafat pun boleh. Karena adanya hadits tersebut.

Demikianlah, seakan ajaran itu benar. Padahal berbahaya. Sebab, hadits itu adalah hadits maudhu’ (palsu).[1]

Di samping itu, qiyas (analog/ perbandingan) minta doa kepada Nabi saw waktu hidup boleh maka waktu sudah wafat juga boleh itu qiyas batil. Karena tidak sama antara hidup dan mati tetapi dia samakan. Buktinya, orang yang berziarah kepada Nabi waktu hidupnya maka jadi sahabat Nabi bila dia dalam keadaan Muslim sampai matinya. Sedangkan orang yang berziarah ke kubur Nabi sama sekali tidak dapat disebut sahabat Nabi hanya karena ziarah itu. Jadi minta doa kepada Nabi atau orang shaleh atau wali setelah wafatnya itu sama dengan tindakan orang musyrikin dalam QS Az-Zumar/ 39:3, menurut Fatwa Al-Lajnah Ad-Daaimah pimpinan Syekh Bin Baaz nomor 9027.[2]

Fatwa yang dimaksud adalah sebagai berikut:

Fatwa Haramnya Meminta kepada Isi Kubur

Meniru Musyrikin Jahiliyah

Semua permintaan dan apa yang disebut ngalap berkah kepada isi kubur alias mayat, serta berkilah bahwa mereka juga meyakini bahwa yang menentukan itu Allah Ta’ala, itu semua menirukan penyembahan orang musyrik jahiliyah. Jadi itu adalah perbuatan syirik. Berikut ini fatwanya:

Fatwa tentang Meminta kepada Isi Kubur

Soal: Orang-orang berkata ketika ada bencana dan kesulitan-kesulitan: Ya Rasulallah, dan yang lainnya di antara para wali. Dan mereka pergi ke kubur-kubur orang-orang shalih ketika mereka sakit, seraya minta tolong kepada mereka (mayat dalam kubur), dan mereka berkata: Sesungguhnya Allah akan menolak bala’ karena mereka (mayat dalam kubur), kami minta tolong kepada mereka tetapi niat kami kepada Allah, karena yang membekasi adalah Allah. Apakah ini syirik (menyekutukan Allah dengan lain-Nya) atau tidak? Dan apakah mereka dikatakan musyrik? Padahal mereka shalat, membaca Al-Qur’an dan lainnya dari amal yang baik.

Jawab: Apa yang mereka lakukan itu adalah syirik yang dulu ahli jahiliyah pertama ada di atasanya, karena mereka dulu menyembah Lata, Uza, Manat dan lainnya, mereka minta kepadanya dengan mengagungkannya dan mengharapkan agar berhala-berhala itu mendekatkan diri para penyembahnya kepada Allah. Dan mereka berkata:

{ ما نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى }

Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya“. (QS Az-Zumar/ 39: 3)

Mereka juga berkata:

{ هؤلاء شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ }

mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah“. (QS Yunus: 18).

Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa do’a itu adalah ibadah, dan sesungguhnya ibadah itu tidak ada kecuali milik Allah, dan Allah Ta’ala melarang berdoa kepada selain-Nya, maka Dia berfirman:

{ وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ }{ وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ }

106. Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim”.

107. Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Yunus/ 10: 106, 107).

Wajib atas orang muslimin untuk mengatakan:

{ إياك نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }

5. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. (QS Al-Fatihah: 5).

(Pengucapan ayat itu) dalam setiap raka’at dalam shalat, sebagai petunjuk bagi mereka bahwa ibadah itu tidak ada kecuali bagiNya, dan bahwa permintaan tolong itu tidak ada kecuali pada-Nya, bukan orang-orang mati dari para nabi dan seluruh orang yang shalih. Dan janganlah menjadikan kamu tertipu yang demikian itu dengan banyaknya shalat mereka, puasa mereka, bacaan-bacaan (Al-Qur’an) mereka, karena sesungguhnya mereka termasuk orang yang sesat usaha mereka dalam kehidupan di dunia, sedang mereka mengira bahwa mereka berbuat baik. Dan yang demikian itu bahwasanya tidak terbangun di atas landasan tauhid yang murni, maka usaha mereka itu adalah bagai debu yang beterbangan. Dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah atas kesyirikan mereka dan musnahnya amal mereka itu banyak, maka rujukkanlah hal itu kepada ayat-ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih dan kitab-kitab Ahlus Sunnah. Kami memohon kepada Allah hidayah untuk kami dan kamu.

Al-Lajnah Ad-Daaimah lil-buhuts al-‘ilmiyyah wal ifta’, fatwa nomor 9027

Ketua : Abdul aziz bin Abdullah bin Baaz

Wakil Ketua Lajnah Daaimah: Abdul Razzaq ‘Afifi

Anggota; Abdullah bin Ghadyan

Anggota: Abdullah bin Qu’ud.

Masalah ziarah kubur yang hukumnya sunnah agar ummat Islam ini mengingat akherat ternyata sudah diselewengkan sebegitu jauh, kepada permintaan terhadap isi kubur yang menirukan praktek musyrikin jahiliyah. Sedang landasannya (seperti yang diajarkan oleh seorang guru ngaji di sebuh masjid di Jakarta tersebut di atas) adalah hadits maudhu’ alias palsu, lalu dibuat pula qiyas ma’al fariq yaitu perbandingan yang tidak nyambung.

Oleh karena itu masalah ziarah kubur ini perlu kita bicarakan sebagai berikut:

Kemusyrikan dan Ziarah Kubur

Menziarahi kubur orang Islam itu disyari’atkan bahkan disunnahkan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam menziarahi kuburan di Baqi’ (kuburan kaum muslimin di Madinah), dan demikian pula kuburan para syuhada’ perang Uhud. Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam berkata:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلاَحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ.

artinya:“Semoga keselamatan (dilimpakan) atas kalian wahai penghuni kubur dari orang-orang Mukmin dan Muslim, sedangkan kami insya Allah akan menyusul kalian, kami mohon kepada Allah (semoga) untuk kami dan kalian (diberi) afiat. “ (Hadits dikeluarkan oleh Muslim 975 dari Buraidah).

Pada mulanya dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam melarang ziarah kubur, kemudian beliau membolehkannya dengan sabdanya:

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمِ الآخِرَةَ

artinya: “Dahulu saya telah melarang kalian ziarah kubur, maka (kini) ziarahlah kalian padanya karena sesungguhnya itu mengingatkan akherat.”[3] (HR Muslim 977, At-Tirmidzi 1054, At-Thayalisi 807, Ibnu Hibban 3168, Al-Hakim 12/375, Abu Daud 3235, dan Ahmad 5/359).

Dan dalam riwayat yang lain:

« كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُزَهِّدُ فِى الدُّنْيَا وَتُذَكِّرُ الآخِرَةَ ».

artinya:” Dahulu saya telah melarang kalian ziarah kubur, maka (kini) ziarahlah kalian ke kubur-kubur karena sesungguhnya (ziarah kubur) itu menzuhudkan (menjauhkan diri dari kecintaan) terhadap dunia dan mengingatkan akhirat.”

Hadits-hadits tentang ziarah kubur itu diriwayatkan dalam kitab Shahihain —Al-Bukhari dan Muslim—, Sunan At-Tirmidzi dan lainnya. Kese-luruhan hadits-hadits tersebut ada di kitab Misykatul Mashabih 1/154.


Ziarah kubur itu ada dua macam: Syar’iyah (di-syari’atkan) dan syirkiyah (termasuk kemusyrikan).

Ziarah kubur yang Syar’iyah

Ziarah kubur yang disyari’atkan dalam Islam adalah berziarah ke kubur Muslimin, dan mengucapkan salam atas mereka, mendo’akan untuk mereka agar diberi ampunan dan maghfirah, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits. Dan hendaklah kamu mengambil pelajaran (i’tibar) dengan keadaan mereka dahulunya bahwa mereka dulu begini dan begitu, mereka adalah nabi -nabi, wali-wali, orang-orang shalih, raja-raja, umara’ (pemimpin pemerintahan) dan orang-orang kaya. Mereka telah mati, telah dipendam, telah menjadi tanah, dan mereka telah menjumpai apa yang telah mereka perbuat baik berupa kebaikan atau keburukan.

Jadi, ziarah kubur itu tidak untuk mengambil pelajaran dan menebalkan sikap meterialistis yang mementingkan kehidupan dunia ini. Karena kehidupan di dunia ini adalah tipuan dan tidak kekal, sedangkan kita semua akan mati dan akan dikubur. Maka sebaiknya kita tidak tertipu oleh gebyar dan kesenangan dunia. Inilah hakikat ziarah kubur yang syar’i itu.

Ziarah kubur yang syirkiyah

Adapun ziarah kubur yang syirkiyah atau menyekutukan Allah dan sangat dilarang dalam Islam adalah apabila peziarah menciumi kuburan, atau sujud di atasnya, atau mengusap-usapnya, atau memanggil-manggil penghuninya, atau minta pertolongan padanya (istighatsah dengan kubur), atau minta keselamatan (istinjad) padanya, atau bernadzar (misalnya kalau sukses usahanya maka akan mengadakan penyembelihan) untuk kubur, atau menyangka/ meyakini bahwa (mayit) yang dikubur itu bisa memberi manfaat atau mudharat padanya.
Ziarah kubur yang model ini adalah bertentangan dengan hikmah disyari’atkannya ziarah kubur itu sendiri. Bahkan itu adalah kenyataan yang dulunya diperbuat oleh ahli jahiliyah. Oleh karena itu dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang ziarah kubur.

Menjauhi syirik itu mutlak

Allah memerintahkan semua manusia agar memurnikan ibadahnya hanya untuk Allah, sedang Dia menciptakan seluruh manusia hanyalah untuk beribadah kepadaNya dengan ikhlas. Sebagaimana Allah firmankan,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ [الذاريات/56]

artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.” (Adz-Dzaariyaat/ 51:56).

Ketahuilah bahwa ibadah itu tidak sah kecuali bersama tauhid (mengesakan Allah Ta’ala). Sebagaimana shalat itu tidak sah kecuali beserta thaharah (suci) dan wudhu’. Maka apabila kemusyrikan masuk ke dalam ibadah pasti rusaklah ibadah itu, seperti halnya hadats apabila masuk ke dalam wudhu’ maka rusaklah wudhu’nya.

Syirik itu jika mencampuri ibadah maka merusak ibadah , dan menghapus pahala ketaatan, hingga pelakunya termasuk penghuni neraka yang kekal di dalamnya.

Ketahuilah bahwa di antara hal-hal penting yang wajib diketahui adalah: mengetahui syirik. Siapa yang tidak tahu syirik boleh jadi dia terjatuh di dalam kemusyrikan, sedangkan dia tidak tahu! Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ [النساء/48]

artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendakiNya.” (QS An-Nisaa’: 48, 116).
Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Dia tidak mengampuni hamba yang mati dalam keadaan musyrik. Dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi hambaNya yang Ia kehendaki.

Ayat di atas menunjukkan bahwa syirik adalah sebesar-besar dosa. Karena Allah menjelaskan bahwa Dia tidak mengampuni dosa syirik bagi orang yang belum bertobat (sebelum kematiannya). Sedangkan dosa selain syirik maka ada di bawah kehendak Allah, jika Dia berkehendak, maka Dia akan mengampuni, dan jika Dia berkehendak, Dia akan menyiksanya karena dosanya itu. Dengan demikian wajib bagi setiap hamba untuk takut pada kemusyrikan yang merupakan dosa terbesar itu.

Wajib sama sekali atas setiap Muslim mengetahui dan menghindari syirik itu. Untuk mengetahuinya di antaranya hendaklah dibaca risalah Al-Ushuuluts Tsalaatsah (sudah diterjemahkan dengan penjelasannya, berjudul Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama), dan Kitab Tauhid karangan Syaikh Muhammad At-Tamimi (keduanya diterbitkan oleh Darul Haq).
Dalam buku itu disebutkan firman Allah,

إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ [المائدة/72]

artinya: “Sesungguhnya barangsiapa menyekutukan Allah maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga dan tempatnya adalah neraka, dan tidak ada seorang pun penolong bagi orang-orang yang dhalim.” (QS Al-Maidah: 72).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ قَالَ « أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهْوَ خَلَقَكَ » .


Dari Abdullah, ia berkata, aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dosa apa yang paling besar di sisi Allah? Nabi bersabda: “(Dosa terbesar) adalah engkau menjadikan tandingan (sekutu) bagi Allah sedangkan Dia lah yang menciptakanmu.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Syaikh Muhammad Al-Utsaimin menjeaskan firman Allah

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

yang artinya: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukanNya dengan sesuatu pun.” (An-Nisaa’: 36).

Dalam ayat ini Allah memerintahkan agar manusia beribadah kepadaNya serta melarang berbuat syirik. Dan ini mengandung pengertian bahwa penyembahan itu hanyalah milik Allah semata.
Barangsiapa tidak menyembah Allah maka dia kafir dan sombong.

Barangsiapa menyembah Allah tetapi juga menyembah selainNya, maka dia kafir dan musyrik.
Barangsiapa menyembah Allah saja, maka dia orang Muslim yang sesungguhnya.

Syirik ada dua macam: besar dan kecil.

Syirik besar yaitu menyekutukan Allah dengan selainNya yang menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam.

Lebih jelasnya, syirik akbar (besar) yaitu menjadikan tandingan atau sekutu terhadap Allah dalam hal beribadah, berdoa, atau mengharapkan, atau takut, atau cinta, dalam memperlakukan tandingan itu seperti memperlakukannya kepada Allah. Atau memperlakukan tandingan itu dengan perlakuan jenis ibadah.

Itulah syirik yang Allah haramkan atas pelakunya untuk masuk surga, sedang tempatnya adalah neraka.

Syirik kecil adalah setiap pekerjaan: ucapan atau tindakan yang dinyatakan oleh syara’ bahwa termasuk perbuatan syirik, namun tidak menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam.

Lebih jelasnya, syirik ashghar (kecil) adalah seluruh perkataan dan perbuatan yang menjadi perantara kepada syirik besar, seperti bersumpah dengan selain Allah, riya’ , beramal tidak ikhlas karena Allah.

Riya’ yaitu menampak-nampakkan (pamer) kebaikan agar dipuji orang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan kekhawatirannya terhadap sahabatnya akan adanya riya’ pada mereka, karena riya’ itu paling banyak dan disenangi oleh jiwa manusia dan paling mudah dilakukan.

Kalau sahabat yang imannya sangat tebal saja diperingatkan dengan kekhawatiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan adanya syirik kecil (riya’) itu pada mereka, maka umat Islam hendaknya lebih khawatir adanya syirik besar dan kecil karena lemahnya iman. Sedangkan berziarah kubur yang sampai memberlakukan kuburan sebagai jenis yang diibadahi dan dimintai tolong itu jelas satu jenis kemusyrikan. Maka apakah tidak pantas untuk dikhawatiri.

Syirik yang kecil (ashghar) pun sangat ditekankan untuk dihindari, apalagi syirik besar (akbar). Maka perbuatan yang menjurus kepada kemusyrikan wajib dihindari.

Demikian pula ziarah kubur yang menjurus kepada kemusyrikan, wajib pula dihindari. Ketegasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah melarang ziarah kubur itu kaitannya adalah dengan dosa yang paling besar yakni syirik. Selama seseorang belum bisa membersihkan dirinya dari kemusyrikan dalam hal ziarah kubur, maka larangan berziarah kubur tetap berlaku pada orang itu. Dan dia baru tidak dilarang bila memang sudah jelas ziarah kuburnya itu tanpa tercampuri kemusyrikan sedikitpun. (Hartono).

Sumber:

  • Ajwibah al masaail atstsamaan fis sunnah wal bid’ah walkufr wal iimaan, oleh Al-‘allamah as-syaikh Muhammad Sulthan Al-Ma’shumi.
  • Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
  • Kitab Tauhid oleh Syaikh Muhammad At Tamimi.
  • Al-Jami’ Al-Farid lil as-ilah wal ajwibah ‘ala kitab at Tauhid, oleh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al Jarullah.

(Artikel : Bulein Annur – Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits, kutipan ini dengan diberi teks ayat dan hadits oleh nahimunkar.com) (alsofwah.or.id))

(Dipetik dari Buku karya Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede, Pendangkalan Akidah Berkedok Ziarah, di Balik Kasus Kuburan Keramat Mbah Priok, Jakarta, Juni 2010).


[1] Menurut Syeikh Al-Albani dalam Dha’if Al Jami’ no. 5553. juga dalam Silsilah Al-Ahaadits Ad-Dho’ifah 1/120.

[2] Hartono Ahmad Jaiz, Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2010, halaman 23-24).

[3] (HR Ibnu Majah dalam sunannya, nomor 1571).