Pengadilan Mesir Batalkan Pelarangan Cadar di Sekolah

محكمة مصرية تلغي حظر النقاب في المعاهد الأزهرية

للمرة الثانية… محكمة مصرية تلغي حظر النقاب بالمدن الجامعية

Menteri Pengajaran di Mesir melarang cadar bagi pelajar dan mahasiswi, Desember 2009. Larangannya itu kemudian dibatalkan oleh pengadilan Administrasi di Mesir. Demikian pula larangan memakai cadar yang dikeluarkan Al-Azhar atas perintah Grand Syekh Al-Azhar Dr Mohammed Sayyid Tantawi pun jadi batal.

Para mahasiswi dan pelajar puteri yang tadinya resah, mulai bernafas lega, namun masih ada pula sikap-sikap keras dari pihak pendidikan mengenai pemakaian niqab atau cadar ini. Padahal di Mesir, kaum wanita makin banyak yang memakai cadar itu di antaranya karena untuk menghindari pelecehan seks yang dikhabarkan menggejala di tempat umum di sana.

Di Mesir, kasus-kasus pelecehan seksual yang dilakukan kaum pria terhadap kaum perempuan di tempat-tempat umum terus meningkat, sehingga menjadi insiden yang dianggap biasa. Hasil penelitian Pusat Hak Asasi Perempuan di Mesir tahun 2008 menunjukkan, 83 persen kaum perempuan di Mesir pernah mengalami pelecehan seksual. Itulah sebabnya, jumlah kaum perempuan Mesir yang mengenakan niqab di Mesir belakangan ini, makin banyak. Niqab menjadi populer di kalangan perempuan Mesir karena mereka ingin melindungi diri mereka dari tindak pelecehan seksual.

Gejala yang aneh. Pihak pendidikan dan pengajaran serta ulama besar (didukung sarjana-sarjana agama pula) di Al-Azhar justru melarang cadar/ niqab. Padahal masyarakat sendiri merasa tidak aman dari gangguan ketika tanpa niqab/ cadar.

Inilah berita-beritanya:

KONTROVERSI CADAR

Pengadilan Mesir Bolehkan Cadar di Sekolah

Selasa, 02 Februari 2010, 09:54:56 WIB

Laporan: Syamsu Alam Darwis

Jakarta, RMOL. Pengadilan Administratif Mesir memutuskan pencabutan larangan memakai cadar (niqab) bagi siswa dan guru perempuan yang pernah dilarang oleh Grand Syekh Al-Azhar beberapa waktu lalu.

Menurut pengadilan tersebut, anak-anak sekolah di Al-Azhar, baik di tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah, dapat mengenakan cadar karena tidak ada perintah administratif untuk melarang hal tersebut. Begitu juga guru dan murid perempuan di lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya.

Seorang siswi berumur 14 tahun yang duduk di bangku Sekolah Menengah Al Azhar mengajukan gugatan terhadap Al-Azhar karena dilarang mengikuti pelajaran di kelas oleh kepala sekolah sesuai perintah Grand Syekh Al-Azhar Dr Mohammed Sayyid Tantawi yang telah mengeluarkan keputusan larangan bagi seluruh siswi yang bercadar memasuki ruang kelas di sekolah.

Pengacara Grand Syeikh Al-Azhar menerangkan bahwa tidak ada keputusan resmi untuk melarang cadar. Hanya ada intruksi lisan dari Lembaga Tinggi Al-Azhar bahwa siswi dan guru perempuan tidak diperkenankan memakai niqab di dalam ruang ujian.

Pada bulan Oktober 2009 lalu, Syeikh Tantawi menegaskan kepada seorang siswi yang sedang mengenakan cadar di kelas untuk melepasnya. Syeikh Tantawi mengatakan bahwa cadar bukan bersumber dari ajaran Islam.

Sementara itu, beberapa perguruan tinggi di Mesir bersikeras melarang mahasiswi bercadar mengikuti ujian, kecuali mahasiswi tersebut telah mengantongi putusan pengadilan yang membolehkannya masuk ujian dengan bercadar.

Putusan larangan mahasiswi mengenakan cadar selama ujian yang dipaksakan oleh Menteri Pendidikan Mesir pada Oktober 2009 lalu telah dinyatakan sebagai inkonstitusional oleh Pengadilan Tinggi Administratif Mesir minggu lalu. Menurut putusan pengadilan kebebasan untuk mengenakan cadar dijamin oleh UU hak asasi manusia (HAM) dan konstitusi. Setiap orang berhak berpakaian sesuai dengan keyakinan dan lingkungan sosialnya. [fik]

http://www.rakyatmerdeka.co.id/internasional/2010/02/02/7278/KONTROVERSI-CADAR-Pengadilan-Mesir-Bolehkan-Cadar-di-Sekolah

Makin banyaknya wanita Mesir yang memakai cadar adalah satu kenyataan. Inilah ulasannya:

Perempuan Mesir, Niqab dan Pelecehan Seksual

Rabu, 03/02/2010 09:52 WIB

Bagi sebagian kaum perempuan Mesir, mengenakan niqab bukan sekedar menjalankan ajaran agama tapi juga untuk melindungi diri mereka dari tindak pelecehan seksual yang dilakukan kaum pria di tempat-tempat umum. Itulah sebabnya, para mahasiswi berniqab di Mesir menentang kebijakan pemerintah Negeri Piramid itu, yang memberlakukan larangan niqab di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi.

Di negeri Muslim seperti Mesir, perempuan mengenakan niqab merupakan hal yang biasa. Tapi belakangan ini, perdebatan soal niqab memanas di negeri itu menyusul kebijakan pemerintah Mesir melarang niqab. Sebagian Muslim memandang niqab sebagai kewajiban agama seperti perintah mengenakan jilbab. Tapi Imam Besar Al-Azhar Syaik Mohammed Sayyed Tantawi bulan Oktober lalu menyatakan bahwa niqab tidak ada hubungannya dengan agama dan semata-mata cuma tradisi saja. Syaikh Tantawi pun mendukung kebijakan melarang niqab di sekolah-sekolah dan universitas.

Pengakuan sejumlah kaum perempuan di Mesir yang memilih mengenakan niqab untuk melindungi dirinya, memberikan dimensi lain betapa kaum perempuan di Mesir rentan oleh tindak pelecehan seksual di tempat-tempat umum. Marwa Mohammed, mahasiswi jurusan hukum, mengungkapkan,” Saya mengenakan niqab untuk menghindari pelecehan seksual di jalan-jalan atau kendaraan umum. Dengan mengenakan niqab, orang akan berbeda memandang saya, orang akan sungkan mengganggu saya,” ujar Marwa.

Alasan serupa dilontarkan Aya, mahasiswi sastra Arab yang baru tiga bulan ini mengenakan niqab. “Niqab adalah kewajiban dalam Islam, terutama di jaman sekarang ini ketika pelecehan seksual sudah menjadi hal yang lazim,” tukasnya.

Di Mesir, kasus-kasus pelecehan seksual yang dilakukan kaum pria terhadap kaum perempuan di tempat-tempat umum terus meningkat, sehingga menjadi insiden yang dianggap biasa. Hasil penelitian Pusat Hak Asasi Perempuan di Mesir tahun 2008 menunjukkan, 83 persen kaum perempuan di Mesir pernah mengalami pelecehan seksual. Itulah sebabnya, jumlah kaum perempuan Mesir yang mengenakan niqab di Mesir belakangan ini, makin banyak. Niqab menjadi populer di kalangan perempuan Mesir karena mereka ingin melindungi diri mereka dari tindak pelecehan seksual.

Tapi pemerintah dan sejumlah ulama Mesir tidak menyelami lebih jauh trend niqab itu. Mereka hanya memandang niqab sebagai tradisi kaum salafi di Arab Saudi dan Yaman tanpa mau memahami bahwa kehormatan perempuan di Mesir terancam akibat maraknya tindak pelecehan seksual di negeri itu. (ln/mol)

http://eramuslim.com/berita/dunia/perempuan-mesir-niqab-dan-pelecehan-seksual.htm

محكمة مصرية تلغي حظر النقاب في المعاهد الأزهرية

آخر تحديث:الجمعة ,29/01/2010

ألغت محكمة القضاء الإداري في مصر، أمس، قراراً للأزهر بحظر ارتداء النقاب بين الطالبات والمعلمات في المعاهد التابعة له .وجاء الحكم الأخير الذي أصدرته محكمة القضاء الاداري بالقاهرة بعد دعوى قضائية اقامتها طالبة بمعهد أزهري ضد قرار شيخ الأزهر.

ومنعت الطالبة من دخول المعهد منذ أكتوبر/تشرين الأول الماضي لرفضها خلع النقاب في غرفة الدراسة .

وقد لا يكون هذا الحكم بالضرورة نهاية للقضية لأن مثل هذه القضايا يمكن استئنافها أكثر من مرة في مصر . (رويترز)

http://www.alkhaleej.ae/portal/15eec3d0-16c1-40df-a9b5-17216c2e5f2c.aspx

للمرة الثانية… محكمة مصرية تلغي حظر النقاب بالمدن الجامعية

الاثنين 04 محرم 1431 الموافق 21 ديسمبر 2009

الإسلام اليوم/ وكالات

أصدرت محكمة القضاء الإداري بمصر حكما جديدا بإلغاء قرار وزير التعليم العالي ورئيس جامعة عين شمس، بمنع دخول المنتقبات المدينة الجامعية للإقامة، وقضت المحكمة بأحقية طالبة منتقبة في السكن بالمدينة بعد بطلان قرار الوزير ورئيس الجامعة.

وقالت المحكمة في أسباب حكمها إن المحكمة الإدارية العليا أصدرت أحكاماً سابقة أكدت فيها أن النقاب يدخل ضمن الحرية الشخصية التي لا تحدد بقيود أو قوانين، شريطة ألا تخل بالأمن والنظام العام.

وأوضحت المحكمة في أسباب الحكم أن الثابت من أوراق الدعوى عدم وجود أي ضرر يخل بالأمن أو النظام الداخلي للجامعة أو المدينة الجامعية من دخول الطالبة مرتدية النقاب، مما يكون معه منع دخولها قيداً للحرية الشخصية المكفولة بقوة الدستور والقانون، ويترتب عليه الحكم ببطلان القرار.

كما قررت المحكمة، خلال جلسة الأحد، تأجيل ?? طعناً إلى جلسة ?? ديسمبر ضد القرار ذاته، أقامتها طالبات منتقبات.

كانت المحكمة قد أصدرت أول أحكامها في قضايا النقاب قبل أسبوع، وقضت فيه بإلغاء قرار منع دخول طالبة أخرى للإقامة في المدينة الجامعية.

http://islamtoday.net/albasheer/artshow-12-124657.htm

Tahun 2007 Mahkamah Mesir telah membolehkan niqab dan tidak boleh melarangnya. Inilah beritanya:

الاحـد 24 جمـادى الاولـى 1428 هـ 10 يونيو 2007 العدد 10421

محكمة مصرية: نقاب المرأة مباح شرعاً ولا يجوز حظر ارتدائه

قالت إنه يجوز الكشف عن وجهها إذا اقتضت الضرورة ذلك

القاهرة:عبده زينة وخالد محمد

أصدرت المحكمة الإدارية العليا في مصر أمس حكماً قالت فيه إن ارتداء المرأة للنقاب يدخل في دائرة المباح شرعاً، ولا يجوز الحظر المطلق لارتدائه، بل أنه يجوز إلزام المرأة المنقبة بالكشف عن وجهها إذا اقتضت الضرورة على ان «يكون أمام إحدى بنات جنسها أو لمختص تعينه الجامعة من الرجال». وأكدت أن ارتداء النقاب يندرج تحت مظاهر الحرية الشخصية.

وأسدلت المحكمة بحكمها واجب النفاذ، الستار على واحدة من أكثر القضايا الجدلية في مصر بعد 5 سنوات من الصراع القضائي، حيث قضت أمس بإلغاء قرار رئيس الجامعة الأميركية في القاهرة، بمنع الدكتورة إيمان الزيني من دخول مكتبة الجامعة بسبب ارتدائها النقاب. وفي أول رد فعل لها اعتبرت الدكتورة إيمان الزيني، في اتصال هاتفي مع «الشرق الأوسط» من السعودية حيث تقوم بتأدية العمرة، أن الحكم بمثابة «نصر من الله.. الحمد لله لقد جاء (الحكم) بعد فترة طويلة أصابنا فيها بعض الضيق ولكن لم نيأس يوما من أن نصر الله قادم وقريب».

وقال المحامي نزار غراب، وكيل إيمان الزيني، إن القرار يعد سابقة قانونية، وأنه يؤكد ضرورة خضوع الجامعة الأميركية في القاهرة للقانون والقضاء المصري.

http://www.aawsat.com/details.asp?section=4&article=422954&issueno=10421

(haji/ redaksi nahimunkar.com).