Via Fb Firanda Andirja

Pidato Gubernur Provinsi DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (alias Ahok) di Kabupaten Kepulauan Seribu pada hari Selasa, 27 September 2016 (kemudian videonya beredar) antara lain menyatakan, “…Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya, ya kan. Dibohongin pakai surat al Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak bapak ibu. Jadi bapak ibu perasaan nggak bisa pilih nih karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya..” 

Demikian penggalan dari perkataan Ahok yang ramai dipersoalkan.

Mari kita bahas perkataan Ahok yang jadi persoalan, dilihat secara keyakinan Islam, karena menyangkut ayat Al-Qur’an yang merupakan keyakinan inti dalam Islam. Kalimat Ahok ini akan kami susul dengan kalimat yang senada untuk mengurai agar terkuak duduk soalnya secara keyakinan dalam Islam.

  1. Dibohongi pakai surat al Maidah 51”. (dibohongi pakai sesuatu (ayat) yang diyakini mutlak benarnya dalam keyakinan Islam). Berikut ini untuk bahan perbandingan.
  2. Dibohongi pakai hadits mutawatir. (dibohongi pakai sesuatu (hadits) yang diyakini sangat kuat benarnya dalam keyakinan Islam).
  3. Dibohongi pakai hadits shahih. (dibohongi pakai sesuatu (hadits) yang diyakini kuat benarnya dalam keyakinan Islam).

Dari tiga kalimat itu akan tergambar seberapa kadar penistaan dari lafal dibohongi ketika disandingkan dengan lafal “pakai surat al Maidah 51” secara keyakinan dalam Islam. Sebab sudahmenyinggung keyakinan Islam yang tingkatnya paling tinggi yaitu mengenai sesuatu (ayat) yang diyakini mutlak benarnya. Sehingga ketika Ahok mengatakan “Dibohongin pakai surat al Maidah 51” itu sudah menyangkut ranah keyakinan tertinggi karena diyakini mutlak benarnya, namun dinista dengan ucapan dibohongin. Sedangkan ucapan dibohongin itu bila diturunkan kadarnya, yakni misalnya ucapan nomor 3: “Dibohongi pakai hadits shahih”, itupun tetap merupakan penyinggungan terhadap keyakinan dalam Islam. Karena sama dengan mengatakan: dibohongi pakai sesuatu (hadits) yang diyakini kuat benarnya dalam keyakinan Islam.

Kesimpulannya, perkataan Ahok:  “Dibohongin pakai surat al Maidah 51” itu telah menyinggung keyakinan Islam yang terdalam karena menyangkut sesuatu (ayat) yang diyakini mutlak benarnya.

***

Kesaksian Para Ahli dalam Persidangan – Persidangan Ahok Terdakwa Penista Agama

Ahli bahasa: Ahok nilai Al Maidah 51 sumber kebohongan

Saksi ahli Bahasa Indonesia, Prof. Mahyuni menyatakan, konteks kalimat yang digunakan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam pernyataannya di Kepualuan Seribu 27 September tahun lalu adalah menganggap surat Al Maidah 51 sebagai sumber kebohongan.

“(Iya), Al Maidah di sini dianggap menjadi sumber kebohongan,” ujar Mahyuni kepada majelis hakim di sidang lanjutan kasus penistaan agama di Gedung Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, hari ini. /rimanews.com – 13 FEB 2017

Saksi Ahli PBNU Sebut Ahok Punya Niat Nistakan Agama

by Nahimunkar.com, 21 Februari 2017

 Wakil Rais Aam PBNU, Miftachul Akhyar dalam persidangan dugaan kasus penistaan agama memberikan kesaksian kalau terdakwa Basuki T Purnama (Ahok) sudah memiliki niat menodai agama pada ucapan surat Al Maidah 51 di Kepulauan Seribu

“Jadi kalau orang ngomong tak ada niat, itu dia lagi ngelindur namanya. Apalagi ini disampaikan di pertengahan (pidato). Terasa sesuatu yang penting,” ujar Ahli agama dari PBNU, Miftachul di Auditorium Kementan, Jakarta Selatan, Selasa (21/2/2017).

Dia menerangkan, dalam pidatonya Ahok itu ada perbuatan yang menjurus pada penghilangan pemahaman terkait agama Islam yang mana itu ada pada kalimat penodaan agama yang dilakukan Ahok dan terjadi selama kurang lebih 20 detik itu.

“Jadi niat seseorang (Ahok) saat pidato saat itu, ahli sudah sampaikan itu penistaan agama?” tanya hakim.

“Kita tahu, ucapan itu kan dorongan ucapan hati,” jawab Akhyar.

Maka itu, ungkapnya, kalimat penodaan agama yang terekam selama 20 detik itu dianggap sesat dan menyesatkan. “Jadi, itu ada penyesatan, orang yang sudah memahami dengan ucapan itu akhirnya hilang dan menurun keimanannya,” terangnya. /metro.sindonews.com.

Saksi Ahli Pidana MUI Nyatakan Pidato Ahok Sudah Jelas Ada Motif Jahat

by Nahimunkar.com, 28 Februari 2017

Pasal yang menjerat Ahok yakni pasal 156a KUHP tidak memerlukan laporan dari korban. Sebab, subjek korban adalah agama yang telah dinodai oleh ucapan Ahok.

Selain itu, sambung dia, ucapan yang dilontarkan Ahok merupakan salah satu pembentukan niat jahat tak terlepas dari motif. “Tentang ungkapan perasaan (Ahok) di Kepulauan Seribu dan buku ‘Merubah Indonesia’ sudah jelas ada motif,” kata Abdul dalam ruang persidangan ke-12 yang digelar di Auditorium Kementrian Pertanian, Jalan Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (28/2)..

Motif tersebut,  lanjut Abdul, semakin memperjelas unsur kesalahan yang dilakukan dengan sengaja sehingga tampak hubungan jelas antara motif dan sikap batin Ahok yakni pertama adalah agar umat Islam tidak percaya kewajiban memilih gubernur muslim.

“Kedua, agar umat Islam tidak percaya kepada siapa saja yang mengungkapkan (surat al-Maidah ayat 51),” ujar Abdul. (republika)

Saksi Ahli Agama Pastikan Ahok Lakukan Penistaan Alquran

by Nahimunkar.com, 13 Februari 2017

Penjelasan Ahli MUI Kenapa ‘Dibohongi Pakai Al Maidah’ Jadi Masalah

MUI melalui sikap keagamaannya menyatakan pidato Basuki T Purnama (Ahok) terkait Surat Al Maidah ayat 51 di Kepulauan Seribu termasuk menghina Al Quran dan ulama. Ahli agama dari Komisi Fatwa MUI Muhammad Amin Suma menjelaskan mengenai sikap tersebut.

“Apakah saudara tahu yang dipermasalahkan dalam pernyataan sikap keagamaan MUI itu apa?” tanya majelis hakim dalam lanjutan sidang Ahok di Kementerian Pertanian, Jl RM Harsono, Jakarta Selatan, Senin (13/2/2017).

Amin dihadirkan sebagai saksi ahli dalam persidangan dengan terdakwa Ahok.

“Yang utama, pertama itu adalah dibohongi pakai Al Maidah 51, dan pernyataan dibohongi dan dibodohi pakai Al Maidah 51 itu yang menjadi inti persoalan yang saya ketahui,” jawab Amin yang di MUI menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Fatwa.

Majelis hakim bertanya lagi, kenapa kata-kata ‘dibohongi dan dibodohi’ bisa menjadi masalah. Menurut Amin, Al Quran tidak pernah membohongi siapapun.

“Masalahnya kata-kata dibohongi pakai Al Maidah 51 atau dibodohi pakai Al Maidah 51 karena Quran tidak akan pernah membohongi siapapun. Walau dengan dirinya sendiri,” ujar Amin.

“Contohnya saya, dalam Al Quran kesaksian saya wajib menyatakan sebenar-benarnya walaupun kepada diri saya sendiri, kepada orang tua dan siapapun juga itu ada dalam Al Quran, tidak boleh saya mendustai diri saya,” lanjutnya./ news.detik.com

Ahli pidana tegaskan ucapan Ahok menodai agama

by Nahimunkar.com,  6 November 2016

Sudah Singgung Al Maidah 51 Sebelum di Pulau Seribu, Saksi Ahli: “Ahok Memang Berniat Jahat”

by Nahimunkar.com, 17 November 2016

Saksi Ahli Pidana MUI Pusat DR Abdul Chair Ramadhan, Sh, MH mengungkapkan bahwa Gubernur DKI Jakarta non-aktif, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), sudah menyebut-nyebut Al-Qur’an surat Al Maidah ayat 51 sebelum dia bicara di Kepulauan Seribu.

“Berarti Ahok memang ada Niat Jahat (Mens Rea) dengan motif agar umat Islam tidak percaya pada Al Maidah 51 dan alim ulama yang menyampaikannya,” kata DR Abdul Chair dalam rilisnya yang diterima redaksi, Rabu (9/11).

“Perbuatan demonstratif diwujudkan di Pulau Seribu dan dilanjutkan di Balai Kota,” imbuhnya.

Menurut anggota Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat ini, jelas sekali ungkapan perasaan yang bersangkutan pada pokoknya bersifat permusuhan kepada alim ulama dan penodaan terhadap kesucian Al-Qur’an, sehingga terpenuhi unsur Pasal 156a KUHP.

“Unsur Kesalahan dengan sengaja, Mens Rea, Actus Reus, terpenuhi…tanpa adanya alasan penghapus pidana, baik alasan pembenar maupun pemaaf,” tegasnya. (s)

Sumber: salam-online.com/ Rabu, 8 Safar 1438 H / 9 November 2016

Kunjungan Ahok ke Kepulauan Seribu, Ahli: Potensi Abuse Of Power dan Kampanye Terselubung

by Nahimunkar.com, 20 Oktober 2016

Prof Syaiful Bahri, saksi ahli dari pihak terkait dalam persidangan gugatan cuti kampanye yang diajukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengatakan bahwa gubernur DKI itu berpotensi besar melakukan abuse of power dan melakukan kampanye terselubung.

“Di menit 11 tepatnya terlihat jelas bahwa Ahok melakukan soft marketing untuk meyakinkan warga agar memilih dia,” kata Syaiful Bahri saat ditemui di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (19/10).

Menurut dia, secara keseluruhan, calon petahana yang diusung partai Golkar, NasDem, Hamura dan PDIP tersebut seolah-olah mengatakan jangan memilih dia jika ada yang lebih baik dari dirinya.

Tetapi, ada ucapan berikutnya yang dilanjutkan dengan menyebut ‘ada yang hanya mengumbar janji’ dan ‘orang yang membeli kucing dalam karung adalah bodoh’.

“Pada menit 11, 19 dan 20, dia terindikasi mengumbar janji-janji program dan ada klaim yang dikatakan oleh Ahok,” beber Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta itu.

Mantan dekan di Fakultas Hukum UMJ ini juga mengatakan bahwa video tersebut telah jauh meleset dari tema budidaya ikan sebagaimana agenda kunjungan Ahok ke kepulauan seribu.(Fadlan Syam Butho)

Sumber: aktual.com/Andy Abdul Hamid/Oktober 19, 2016

Kena Deh! Video Hakim Tanya Apa Hubunganya Ikan dengan Al Maidah? Ahok Glagapan Muter-muter Jawabnya

by Nahimunkar.com, 5 April 2017

Kasus penodaan agama Islam dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjalani sidang ke-17 di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Selasa (4/4/2017).

Awal pemeriksaan, Ketua Majelis Hakim Dwiarso Budi Santiarto mencecar Ahok soal hubungan program budidaya ikan dan Surah Al Maidah ayat 51.

“Maksudnya saudara itu apa, ikan dengan Al Maidah itu apa hubungannya?” tanya Dwiarso dalam ruang sidang di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (4/4).

Seperti diketahui Ahok berpidato di Kepulauan Seribu terkait program Budidaya Ikan, tapi malah menyinggung surat Al Maidah 51.

Menjawab itu, Ahok mengatakan, pengutipan Surah Al Maidah ayat 51 lantaran dia teringat saat situasi Pilgub Bangka Belitung 2007 lalu. Di tengah pembicaraan di Kepulauan Seribu, Ahok melihat seorang ibu yang tak antusias melihat pidatonya.

“Saya tebak-tebak, apakah karena uang. Terlintas ini jangan-jangan kayak di Belitung, orang polos, karena dia pikir dalam pilkada, harus bayar budi nih kalau milih program,” kata Ahok.

Oleh karena itu, lanjut dia, sebenarnya tak ada hubungan program budidaya ikan dengan Pilkada. Ahok hanya berharap masyarakat Kepulauan Seribu mengambil program tersebut.

Dwiarso kembali bertanya: “Saudara katakan, jangan-jangan seperti di Belitung, apa itu? Panen Kerapu juga?” “Bukan, selebaran menolak saya menjadi gubernur. (Pilkada) 2007,” jawab Ahok.

“Ya ini hubungannya apa, saudara di sini ini (Kepulauan Seribu) bukan kampanye Pilkada. Sedangkan di Belitung peristiwa Pilkada 2007 masalah Al Maidah itu. Gimana Anda sambungkan di pikiran saudara itu?” cecar hakim Dwiarso.

Ahok mengatakan bahwa daerah Bangka Belitung kecil, sehingga kenal satu sama lain. Ahok pun cerita pernah berbicara dengan seorang ibu yang menyampaikan tak bisa memilih karena berbeda agama.

“Dia bilang ‘Mohon maaf Hok, ibu gak pilih kamu’, kenapa saya tanya, ‘Ibu takut murtad, meninggalkan agama ibu’,” ucap Ahok.

Lantas berdasarkan pengalamannya bertemu ibu-ibu di Belitung itu, dia kembali teringat saat Ahok bertemu warga di Kepulauan Seribu. Kebetulan ketika itu dia berpidato. Ahok menduga ibu di Kepulauan Seribu itu ingin berbicara tidak memilih program.

Jawaban muter-muter gak nyambung ini membuat hakim kembali bertanya.

“Tadi sudah disampaikan dan dengar, gak pilih saya gak apa-apa asal program jalan, karena sampai Oktober 2017. Lah terus hubungannya apa dengan Al Maidah? Kalau sampai situ saya masih bisa menghubungkan,” kata hakim Dwiarso.

Majelis Hakim lantas menyatakan sidang kasus dugaan penistaan agama akan dilanjutkan pekan depan dengan agenda pembacaan tuntutan. Sidang itu akan digelar pada 11 April 2017. [PORTAL-ISLAM]

(nahimunkar.com)