.

 

Aqidah atau keyakinan dalam Islam merupakan fondasi yang sangat menentukan. Bila aqidahnya benar maka amaliahnya insya Allah akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya apabila aqidahnya batil hingga keluar dari Islam maka seluruh amaliyahnya akan sia-sia, tidak diterima oleh AllahSubhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Ta’ala telah berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65) بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ[الزمر/65، 66]

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS Az-Zimar/ 39: 65, 66).

Batalnya aqidah yang mengakibatkan rusaknya amal itu bukan sekedar seperti batalnya shalat ketika batalnya wudhu’, yang hal itu mudah, dengan wudhu’ lagi kemudian mengulang shalat lagi dari awal maka sah. Namun kalau batalnya aqidah, akan menghapus semua amal.

Oleh karena itu amat sangat penting bagi Ummat Islam untuk membentengi aqidah dari aneka kesesatan dan penyimpangan. Karena kalau sampai mengakibatkan batalnya aqidah maka akan musnah semua amaliahnya seperti tersebut.

Hal tu dikemukakan Hartono Ahmad Jaiz dari Jakarta dalam seminar di Palu Sulawesi Tengah, Ahad 28 Februari 2010/ 14 Rabi’ul Awwal 1431H. Seminar ini bertema Membentengi Aqidah dari Berbagai Penyimpangan dengan menghadirkan pula pembicara setempat, Ustadz Taufiqur Rahman, Putera Ulama pemimpin Pesantren Walisongo di Poso yang dibantai bersama ratusan santrinya oleh orang kafir nasrani beberapa tahun lalu. Saat itu anak ulama ini baru belajar di LIPIA Jakarta yang kemudian belajar di Universitas Islam Madinah jurusan Hadits. Seminar diselenggarakan oleh para pemuda dan mahasiswa Islam yang menurut ketua panitia karena keprihatinan banyaknya gejala kemusyrikan dan aneka kesesatan yang mewabah di masyarakat, dari menempelkan gambar-gambar para tokoh agama yang dianggap punya berkah sampai aneka kesesatan lainnya.

Perlu diketahui, apa yang disebut gejala kemusyrikan dan kesesatan itu bahkan sampai kepada ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia)nya di kota itu yang juga memimpin STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) yang oleh orang-orang ditengarai sebagai tokoh aliran sesat Syi’ah. Buktinya, Zainal Abidin alumni S3 IAIN (kini UIN) Alauddin Makassar itu menulis buku, dan dia tulis akhir kesimpulannya:

“…antara syi’ah dan sunni atau dengan mazhab Islam lainnya tidak ada pertentangan, yang ada hanya perbedaan dalam interpretasi terhadap ajaran Islam.” (Drs. H. Zainal Abidin, MAg, Konsep Imamah dalam Kalam Syi’ah, LP4M, Palu, cetakan 1, 2005, halaman 131).

Dusta dan penyesatan seperti itu akan membahayakan bagi Ummat Islam, karena kenyataannya, dibanding orang kafir saja Syi’ah seringkali lebih kejam dan sadis serta tidak toleran sama sekali terhadap Islam (Sunni). Contohnya, di dunia ini, sampai di negeri-negeri orang kafir sekelipun, bahkan di Roma sekalipun, di sana ada masjidnya. Namun di Teheran ibukota Iran yang berfaham Syi’ah tidak ada satupun masjid sunni (Ahlus Sunnah). Bahkan Syekh Taskhiri, ulama Syi’ah Iran terkemuka ketika ditanya wartawan di satu Negara di Afrika Utara, apakah tidak bisa di Teheran didirikan masjid sunni. Dijawab, sampai sekarang belum saatnya.

Para pemuda Islam di Palu, dengan adanya gejala dusta dan penyesatan dari tokoh yang ada itu, dan gejala kesesatan lainnya, maka di samping mengadakan seminar tersebut diadakan pula dauroh dengan tema Membongkar Aqidah Syi’ah. Dauroh diselenggarakan bekerjasama dengan Perhimpuan Al-Irsyad Pusat di Jakarta, dengan pembicara Hartono Ahmad Jaiz. Para peserta terdiri dari para da’I dan pemuda Islam serta mahasiswa-mahasiswi di Palu dan sekitarnya.

Dalam kesempatan itu dibeberkan betapa jauhnya kesesatan Syi’ah, sampai-sampai Presiden Iran Ahmadi Nejad pun mengecam dua sahabat, Thalhah dan Zubair, dianggap sebagai orang yang berkhianat dan kembali kepada kepercayaan lama (artinya murtad). Padahal dua sahabat itu termasuk yang diberi khabar gembira masuk surga oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Masalah yang tidak kalah sesatnya adalah kemusyrikan baru yang berlabel baru pula yakni pluralisme agama (menyemakan semua agama) dan multikulturalisme. Maka masjid At-Taqwa Muhammadiyah di Palu pun mengadakan ceramah tentang bahaya Pluarlisme agama dan multikulturalisme dengan menghadirkan Hartono Ahmad Jaiz di sela-sela seminar dan dauroh tersebut.

Pentingnya membentengi aqidah

Dalam seminar, Hartono Ahmad Jaiz menguatkan apa yang jadi latar belakang diadakannya pembahasan tentang pentingnya membentengi aqidah dari aneka penyimpangan. Karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan tuntunannya. Di antaranya:

عن النعمان بن بشير رضي الله عنهما ، عن النَّبيّ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( مَثَلُ القَائِمِ في حُدُودِ اللهِ وَالوَاقعِ فِيهَا ، كَمَثَلِ قَومٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَصَارَ بَعْضُهُمْ أعْلاها وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا ، وَكَانَ الَّذِينَ في أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوا مِنَ المَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقهُمْ ، فَقَالُوا : لَوْ أنَّا خَرَقْنَا في نَصِيبِنَا خَرْقاً وَلَمْ نُؤذِ مَنْ فَوقَنَا ، فَإِنْ تَرَكُوهُمْ وَمَا أرَادُوا هَلَكُوا جَميعاً ، وَإنْ أخَذُوا عَلَى أيدِيهِمْ نَجَوا وَنَجَوْا جَميعاً )) رواه البخاري . (( القَائِمُ في حُدُودِ اللهِ تَعَالَى )) معناه : المنكر لَهَا ، القائم في دفعِها وإزالتِها ، وَالمُرادُ بالحُدُودِ : مَا نَهَى الله عَنْهُ . (( اسْتَهَمُوا )) : اقْتَرَعُوا . أخرجه : البخاري 3/182 ( 2493 ) . رياض الصالحين – (ج 1 / ص 147)

Perumpamaan orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan yang melanggarnya adalah bagaikan suatu kaum yang mengadakan undian untuk naik sebuah kapal, maka jadilah sebagian mereka ada di atas dan sebagian lagi di bawah. Lalu orang-orang yang ada di bawah jika mereka hendak mengambil air maka harus melewatiorang yang di atas mereka. Maka mereka berkata: “Seandainya kami melubangi kapal ini maka kami tidak mengganggu orang yang di atas kami.”Jika para penumpang kapal itu membiarkan apa yang mereka kehendaki itu maka semuanya akan binasa. Tetapi jika mereka mencegahnya maka selamatlah dan selamat semuanya.” (Hadits Riwayat Al-Bukharinomor 2493, Riyadhush Sholihin juz 1 halaman 147).

Demikianlah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hal menjaga agama, kalau sampai ada kesesatan, apalagi yang sifatnya mengeluarkan dari iman menjadi kafir, maka mesti harus dicegah. Dan itu kalau tidak ada yang mencegahnya maka akan tenggelam lah masyarakat dalam kekafiran. Demikian pula kesesatan-kesesatan lainnya, apabila dibiarkan berlangsung dan tidak dicegah, maka akan merajalela lah kesesatan itu.

Contoh pelaksanaan dalam mencegah kesesatan:

عَنْ تَمِيمِ بْنِ طَرَفَةَ عَنْ عَدِىِّ بْنِ حَاتِمٍ أَنَّ رَجُلاً خَطَبَ عِنْدَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ مَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ رَشِدَ وَمَنْ يَعْصِهِمَا فَقَدْ غَوَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بِئْسَ الْخَطِيبُ أَنْتَ. قُلْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ». قَالَ ابْنُ نُمَيْرٍ فَقَدْ غَوِىَ.

(رواه مسلم )

Dari Adi bin Hatim bahwa seorang lelaki berkhutbah di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu khatib itu berkata, barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah mendapat petunjuk, dan barangsiapa bermaksiat kepada keduanya maka sungguh dia telah sesat. Maka berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasllam: Seburuk-buruk khatib adalah engkau. Katakanlah: barangsiapa bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ibnu Numair berakata, (barangsiapa bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya) maka sungguh dia telah sesat. (Hadits Riwayat Muslim).

Dalam kasus ini, sebenarnya secara bahasa, mengganti apa yang telah disebutkan dengan kata ganti (dhomir) itu tidak ada masalah. Namun dalam hal ini Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung menginterupsi khatib, dan agar diucapkan langsung:

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

barangsiapa bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Bukan وَمَنْ يَعْصِهِمَاbarangsiapa bermaksiat kepada keduanya.

Karena hal itu untuk mencegah adanya kemungkinan ada yang salah faham, hingga akan menyejajarkan antara Allah dan Rasul-Nya. Sehingga untuk menghindari rusaknya aqidah maka khatib itu Nabi peringatkan langsung, walau di hadits lain (yang mungkin kasusnya tidak mengakibatkan pemahaman yang keliru) ternyata boleh-boleh saja diucapkanوَمَنْ يَعْصِهِمَا.

Mengenai hal yang seolah tidak ada salahnya pun ketika orang punya ilmu mengerti bahwa perbuatan itu salah atau menyimpang maka mesti diperingatkan. Contohnya adalah peringatan dari seorang Tabi’ien berikut ini:

عَنْ أَبِي رَبَاحٍ عن سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أنه رأىرَجُلًا يُصَلِّي بَعْدَطلوع الفجر أكثر من رَّكْعَتَيْنِ يُكْثِرُ فيها الركوع والسجود فنهاه فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ أَيُعَذِّبُنِي اللَّهُ عَلَى الصَّلَاةِ قَالَ لَا وَلَكِنْ يُعَذِّبُكَ اللَّهُ بِخِلَافِ السُّنَّةِ

Riwayat dari Abi Rabah, dari Sa’id bin Musayyab, bahwa dia melihat seorang lelaki shalat setelah terbit fajar, lebih banyak dari dua raka’at, dia memperbanyak ruku’ dan sujud, maka Sa’id bin Musayyab (seorang tabi’ien) melarangnya, lalu orang itu bertanya: Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku karena shalat? Sa’id menjawab, tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena (kamu) menyelisihi sunnah.[1]

Ini termasuk jawaban elok dari Sa’id bin Musayyab rahimahullah, yaitu senjata yang kuat menghadapi pelaku bid’ah, yang menganggap baik banyaknya bid’ah, dengan nama dzikir dan shalat, kemudian mereka mengingkari ahlis sunnah, dengan tuduhan tidak doyan dzikir dan shalat. Padahal ahlis sunnah itu sebenarnya hanyalah mengingkari penyimpangan mereka dari sunnah dalam dzikir, shalat, dan sebagainya.[2]

Dari contoh-contoh itu, menurut Hartono Ahmad Jaiz, seminar atau pembahasan mengenai pentingnya membentengi aqidah dari aneka penyimpangan seperti ini sangat perlu. Oleh karena itu, penulis buku-buku Islami ini mengemukakan, atas pertolongan Allah Ta’ala telah dia tulis beberapa buku di antaranya Pangkal Kekeliruan Golongan Sesat, juga buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia.

Hal itu dilakukan, menurut pembicara ini, karena kalau tidak dilakukan padahal dirinya tahu, maka akan dimintai pertanggungan jawab di akherat. Karena kaki hamba Allah tidak bergeser sejengkal pun kelak di akherat sebelum ditanya empat perkara, di antaranya ilmunya untuk apa.

عَنْ أَبِى بَرْزَةَ الأَسْلَمِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ ». ) الترمذى قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.قال الشيخ الألباني : صحيح(

Dari Abi Barzah Al-Aslami berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: tidaklah bergeser dua tapak kaki hamba pada Hari Qiyamat sehingga ditanya tentang umurnya dia habiskan untuk apa, tentang ilmunya dia kerjakan untuk apa, tentang hartanya dari mana dia usahakannya dan untuk apa dia belanjakannya, dan tentang badannya dia gunakan untuk apa. (HR At-Tirmidzi, dia berkata hasan shahih. Syaikh Al-Albani berkata: shahih).

Orang yang punya ilmu dan tahu lingkungannya ada penyelewengan atau kesesatan maka akan ditanya di akherat apabila sewaktu hidupnya diam saja tidak menecegahnya. Sedangkan yang namanya sesat, definisinya, menurut penceramah ini, dengan mengutip Imam Ath-Thabari: Setiap yang menyimpang dari jalan yang benar dan setiap yang berjalan bukan pada jalan yang benar itu adalah sesat. (Tafsir At-Thabari juz 1 halaman 84).

Jalan yang benar adalah wahyu dari Allah yang telah disampaikan kepada ummat ini oleh Nabi Muhammad shalllallahu ‘alaihi wa sallam berupa Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka apapun yang menyimpang dari Al-Qur’an dan As-sunnah itu jelas sesat.

Golongan-golongan yang mengaku hanya golongan mereka saja yang sah Islamnya, sedang yang lain dianggap tidak sah, itu justru faham yang sesat. Karena memberikan syarat baru yang tidak ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang sahnya keislaman seseorang, yakni harus masuk ke golongan mereka. Itulah salah satu bentuk kesesatan. Ada juga kesesatan sebaliknya dari yang itu, yakni menganggap selain Islam pun masuk surga. Itu jelas sesat, karena bertentangan dengan Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 85.

Aneka firqoh (golongan) sesat mesti di dalamnya ada hal-hal yang menyimpang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga dalam Islam, ukurannya jelas, setiap yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah pasti sesat. Karena Al-Qur’an dan As-Sunnah itu telah komplit, sempurna, sebagaimana ditegaskan oleh Allah Ta’ala:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS Al-Maaidah: 3).

Dari sini maka terbantahlah orang yang mengatakan bahwa yang berhak menentukan sesat itu hanyalah Allah. Terbantahnya kenapa? Karena Allah telah menurunkan wahyu-Nya dan sudah komplit. Sehingga sudah ada ukurannya, yaitu yang menyimpang dari wahyu itulah sesat. Maka orang yang menyatakan sesatnya suatu kesesatan, apabila pernyataannya itu sesuai dengan wahyu tersebut, berarti justru melanjutkan apa yang dicontohi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan itulah sebenarnya di antara tugas orang yang berilmu.

Membongkar Sesatnya Syi’ah.

Pada hari sebelumnya (Sabtu) dalam dauroh tentang membongkar aqidah syi’ah dikemukakan, seringkali orang menganggap syi’ah itu hanya beda mazhab dengan Ahlis Sunnah. Padahal sebenarnya sangat beda prinsip, bahkan sikap syi’ah terhadap Ahlis Sunnah itu sering lebih kejam dan tidak toleran dibanding orang kafir sekalipun. Hingga para ulama Sunni di Iran dibantai dan masjid-masjid Sunni serta madrasah-madrasahnya dihancurkan oleh rejim Syi’ah sejak menangnya Khomeini 1979. Itu sebagaimana dilaporkan dalam buku Kedholiman Syi’ah terhadap Ahlus Sunnah di Iran (Ma’satu Ahlis Sunnah fi Iran) oleh Abu Sulaiman Abdul Munim bin Mamud Al-Balusy, diterjemahkan dan diterbitkan LPPI Jakarta, 1420H/ 1999. Padahal gereja ataupun sinagog Yahudi serta sekolahan-sekolahan Kristen pun ada di Teheran, tetapi masjid Ahlus Sunnah tidak boleh ada satupun di sana, sehingga orang Islam (Sunni) apabila berjum’atan harus ke keduataan-keduataan Negara-negara Timur Tengah di Teheran.

Itulah yang perlu sekali difahami, bahwa Syi’ah lebih kejam dan tidak toleran terhadap Islam dibanding orang kafir sekalipun.

Perlu diketahui, perbedaan antara empat Madzhab dalam Islam yakni Hanafi, Maliki, dan Hanbali ituhanya dalam masalah Furu’iyah (cabang, bukan pokok). Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljama’ah dengan Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah, maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul (masalah pokok atau prinsip agama).

Rukun Iman Syi’ah berbeda dengan rukun Iman Ahlus Sunnah. Rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita (Ahlussunnah).

Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.

Sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah.

1. Ahlussunnah : Rukun Islam kita ada 5 (lima)

a)Syahadatain

b)As-Sholah

c)As-Shoum

d)Az-Zakah

e)Al-Haj

Syiah : Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:

a)As-Sholah

b)As-Shoum

c)Az-Zakah

d)Al-Haj

e)Al wilayah

2. Ahlussunnah : Rukun Iman ada 6 (enam) :

a)Iman kepada Allah

b)Iman kepada Malaikat-malaikat Nya

c)Iman kepada Kitab-kitab Nya

d)Iman kepada Rasul Nya

e)Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat

f)Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.

Syiah : Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)*

a)At-Tauhid

b)An Nubuwwah

c)Al Imamah

d)Al Adlu

e)Al Ma’ad

3. Ahlussunnah : Dua kalimat syahadat

Syiah : Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut imam mereka.

4. Ahlussunnah : Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.

Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.

Syiah : Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka.

5. Ahlussunnah : Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah :

a)Abu Bakar

b)Umar

c)Utsman

d)Ali Radhiallahu anhu

Syiah : Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka).

6. Ahlussunnah : Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum.
Berarti mereka dapat berbuat salah/ dosa/ lupa. Karena sifat ma’shum, hanya dimiliki oleh para Nabi.

Syiah : Para imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat ma’shum, seperti para Nabi. Bahkan kemudian dianggap kedudukan imam lebih tinggi dibanding Nabi, sehingga ucapan-ucapannya pun diberlakukan sebagai hadits.

7. Ahlussunnah : Dilarang mencaci-maki para sahabat.

Syiah : Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai’at Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah. (lihat Membedah Kesesatan Aqidah Syiah, Author: assunnah_fm)

Dalam dauroh membongkar aqidah syiah ini dibacakan pula Surat Edaran Departemen Agama No: D/BA.01/4865/1983 Tanggal: 5 Desember 1983 tentang: Hal Ihwal Mengenai Golongan Syi’ah. Di antara isinya adalah perbedaan-perbedaan prinsip antara Ahlus Sunnah dengan Syi’ah yang tidak jauh dengan apa yang telah diuraikan di atas.

Demikian pula dibacakan milis yang di antara isinya:

Iran rupanya hanya ingin menutupi kejahatan pemerintahannya terhadap kaum sunni dengan berteriak-teriak melawan Amerika Serikat dan Israel.

Sebagai Negara demokrasi, Iran benar-benar melupakan hak-hak kaum sunni yang merupakan 20 persen dari populasi mereka.

Tidak ada MP (member of parliament) sunni di Iran, tidak ada petugas kedutaan Iran yang sunni, tidak ada menteri sunni di Iran, bahkan Iran melarang adzan versi sunni.

Kaum sunni harus melakukan shalat Jum’at di kedutaan Negara-negara Islam yang sunni karena tidak ada masjid sunni di Iran.

Kaum Sunni Iran sangat membenci Ahmadi Nejad karena menginjak hak-hak kaum sunni.

Allahul Musta’an

hanif

([email protected], 12 Juni 2009 15.11)

Seminar dan dauroh di Palu tentang aliran sesat dan syi’ah itu mendapat perhatian dan sambutan yang sangat antusias dari Ummat Islam. Banyaknya hadirin dari Palu dan kota-kota lainnya mengakibatkan tempat yang tersedia tidak mampu menampung seluruhnya.

(nahimunkar.com)


[1] Riwayat Ad-Darimi 1/116, Abdur Razaq 4755, Al-Baihaqi 2/ 466, lihat Irwaul Ghalil oleh Al-Albani 2/236, sanadnya shahih.

[2]Abu ‘Ubaidah Ibrahim bin Mahmud Abdul al-Radhi, Rowai’ul Ajwibah, Darul Iman, Iskandariyah Mesir, 2004, halaman 109.