Previous Post
Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInShare on Google+Email this to someoneShare on FacebookShare on VkontakteShare on Odnoklassniki
Read on Mobile

Pentunjuk Tentang Zakat Maal

by , 24 Juli 2014

Zakat merupakan kewajiban syar’i dan salah satu dari rukun Islam yang sangat penting setelah syahadatain dan shalat. Dalil dari Al Qur’an, As Sunnah maupun ijma’ kaum muslimin telah nyata menunjukkan bahwa zakat merupakan perkara wajib yang jika seseorang mengingkarinya bisa terjeru-mus ke dalam jurang kekufuran (murtad).Dia harus bertobat jika ingin kembali diakui lagi sebagai seorang muslim. Jika ia enggan bertobat maka boleh untuk diperangi. Sedang mereka yang bakhil atau membayar namun tidak sesuai kewajibannya maka ia telah berbuat zhalim dan akan berhadapan dengan ancaman Allah yang sangat keras.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala, artinya: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat.”. (QS. 3:180)

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang diberi oleh Allah harta kemudian ia tidak membayar zakatnya maka akan dijelmakan harta itu pada hari kiamat dalam bentuk ular yang kedua kelopak matanya menonjol. Ular itu melilitnya kemudian menggigit dengan dua rahangnya sambil berkata: “Aku hartamu aku simpananmu” (HR. Al-Bukhari)

Beberapa Faedah Zakat 

A. Faedah diniyah (segi agama)

Dengan berzakat berarti telah menjalankan salah satu dari rukun Islam yang menghantarkan seorang hamba kepada kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat.
Merupakan sarana bagi hamba untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Rabbnya, akan menambah keimanan karena keberadaannya yang memuat beberapa macam ketaatan.
Pembayar zakat akan mendapatkan pahala besar yang berlipat ganda, sebagaimana firman Allah, artinya: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. “. (QS. 2:276)

Dalam sebuah hadits yang muttafaq ‘alaih Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa shadaqah dari harta yang baik akan ditumbuhkan kembangkan oleh Allah berlipat ganda.
Zakat merupakan sarana penghapus dosa, seperti yang pernah disabda-kan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

B. Faedah Khuluqiyah (Segi Akhlak)

Menanamkan sifat kemuliaan, rasa toleran dan kelapangan dada kepada pribadi pembayar zakat.
Pembayar zakat biasanya identik dengan sifat rahmah (belas kasih) dan lembut kepada saudaranya yang tidak punya.

Merupakan realita bahwa menyumbangkan sesuatu yang bermanfaat baik berupa harta maupun raga bagi kaum muslimin akan melapangkan dada dan meluaskan jiwa. Sebab sudah pasti ia kan menjadi orang yang dicintai dan dihormati sesuai tingkat pengorbanannya. Di dalam zakat terdapat penyucian terhadap akhlak.

C. Faedah Ijtimaiyyah (Segi Sosial Kemasyarakatan):

  • Zakat merupakan sarana untuk membantu dalam memenuhi hajat hidup para fakir miskin yang merupakan kelompok mayoritas sebagian besar negara di dunia.
    Memberikan support kekuatan bagi kaum muslimin dan mengangkat eksistensi mereka.Ini bisa dilihat dalam kelompok penerima zakat, salah satunya adalah mujahidin fi sabilillah.
  • Zakat bisa mengurangi kecemburuan sosisal, dendam dan rasa dong-kol yang ada dalam dada fakir miskin. Karena masyarakat bawah biasanya jika melihat mereka yang berkelas ekonomi tinggi menghambur-hamburkan harta untuk sesuatu yang tidak bermanfaaat bisa tersulut rasa benci dan permusuhan mereka. Jikalau harta yang demikian melimpah itu dimanfaatkan untuk mengentaskan kemiskinan tentu akan terjalin keharmonisan dan cinta kasih antara si kaya dan si miskin.
  • Zakat akan memacu pertumbuhan ekonomi pelakunya dan yang jelas berkahnya akan melimpah.
  • Membayar zakat berarti memperluas peredaran harta benda atau uang, karena ketika harta dibelanjakan maka perputarannya akan meluas dan lebih banyak fihak yang mengambil manfaat.

HARTA YANG WAJIB DI KELUAR-KAN ZAKATNYA

  • Emas dan perak, dengan syarat telah mencapai nishab (batas minimal suatu harta wajib dizakati) dan melewati haul (putaran satu tahun penuh). Nishab emas adalah 85 gram dan perak 595 gram, dan harta yang dikeluarkan sebanyak dua setengan persen. Juga berlaku bagi mata uang yang telah mencapai nilai tersebut, demikian pula emas dan perak yang dipakai untuk perhiasan, meski dalam hal perhiasan ini ada sebagian ulama yang mewajibkan sekali saja seumur hidup bukan tiap tahun, di antaranya pendapat Anas bin Malik ra (Al Muhalla 6/78 dan Sunan Kubra 4/138).
  • Harta perniagaan/perdagangan, zakat yang dikeluarkan sebanyak dua setengah persen dengan hitungan jumlah nilai barang dagangan (harga asli/net) digabung dengan keuntungan bersih, dan jika memiliki hutang maka dipotong hutang terlebih dahulu. Termasuk ketegori perdagangan adalah jual-beli mobil, rumah (properti), textil dan binatang ternak. Akan tetapi mobil, rumah atau pakaian yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari tidak ada kewajiban mengeluarkan zakatnya. Pembayaran zakat perdagangan dilakukan setelah mencapai nishab dan melalui haul.
  • Hasil Tanaman berupa biji-bijian maupun buah-buahan, dibayarkan ketika panen dengan nishab kurang lebih 670 kg. Zakat yang dikeluarkan sebanyak sepuluh persen jika yang menyiraminya air hujan, dan jika meng-gunakan alat atau dengan memindah air maka cukup lima persen.
  • Peternakan, Untuk kambing ketentuan zakatnya adalah sebagai berikut:
    Antara 40 sampai 120 ekor zakatnya satu ekor kambing. Antara 121 sampai 200 ekor zakatnya dua ekor kambing. 201 zakatnya 3 ekor kambing, kemudian setiap 100 kambing selanjutnya zakatnya satu ekor. Sedangkan nishab sapi adalah sebanyak 30 ekor, dan ketentuannya dapat dirujuk dalam buku-buku yang membahas masalah zakat secara khusus. Demikian juga harta-harta lain yang secara globalnya telah mencapai batas ketentuan diwajibkannya zakat.

GOLONGAN YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT

  • Fuqara (fakir), yaitu orang yang tidak bisa memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya, penghasilannya hanya bisa menutupi separo kebutuhannya atau bahkan tidak sampai. Dalam arti mereka hidup jauh di bawah garis standar.
  • Masakin (miskin), yaitu orang yang penghasilannya sedikit dibawah garis standar, ia hanya kekurangan sedikit dalam hal pemenuhan kebutuhan. Syaikh Al-Utsaimin berpendapat bahwa seseorang yang tidak memiliki harta benda namun di sisi lain ia punya penghasilan baik itu berupa upah, gaji atau kesibukan lain yang memberi pemasukan mencukupi maka ia tidak berhak menerima zakat.
  • Amil Zakat, Mereka adalah petugas yang ditunjuk Hakim ‘Am dalam daulah (negara) untuk menarik zakat dari para aghniya’ (orang yang wajib berzakat) dan sekaligus mendistribusikannya kepada para mustahiq (yang berhak menerima zakat), juga bertanggung jawab menjaga harta zakat tersebut.
  • Muallaf, mereka adalah orang-orang yang masih lemah imannya, terutama sekali bagi yang memiliki kedudukan penting seperti pemimpin suatu kaum/suku.
  • Riqab (budak), termasuk dalam hal ini adalah membelinya lalu memerdekakannya, membantu hamba sahaya yang berusaha menebus dirinya karena ingin merdeka, dan melepaskan kaum muslimin yang menjadi tawanan/sandera.
  • Gharim, yaitu orang yang terlilit hutang dan tidak memiliki kemampuan untuk membayarnya. Mereka diberi bagian dari zakat untuk membantu melunasi hutang tersebut entah itu banyak atau sedikit.
  • Fi Sabilillah, yakni mereka yang berjuang di jalan Allah, para mujahidin diberi bagian zakat sesuai kebutuhan mereka dan dari zakat ini dapat dibelikan alat-alat yang dibutuhkan untuk berjihad. Termasuk fi sabilillah adalah para penuntut ilmu syar’i.
  • Ibnu Sabil, yakni musafir yang kehabisan bekal di tengah perjalanan. Ia diberi zakat sebanyak keperluannya untuk sampai kembali ke negerinya.

Mereka inilah para penerima zakat berdasarkan ketetapan Allah dalam kitabNya. Perhatian untuk para pengelola zakat bahwa harta zakat tidak dapat disalurkan kepada selain 8 golongan yang tersebut di atas dengan alasan apapun. Baik itu berupa pembangunan masjid, renovasi jalan dan lain sebagainya, karena Allah menye-butkan pembagian ini dengan bentuk hashr (terbatas) yakni dengan kata innama (hanya). Sebagaimana disebut-kan dalamsurat At-Taubah ayat60.

Dari sini jelas sekali bahwa Islam tidak menyia-nyiakan harta dan segala peluang yang dapat membawa maslahat umat sehingga tidak tersisa dalam setiap jiwa rasa tamak dan bakhil yang menguasai hawa nafsu. Bahkan mengarahkan-nya untuk kepentingan yang lebih besar sebagai salah satu potensi untuk perbaikan kondisi umat.

Maraji’: Fushul fi Ash-Shiyam wa At-Tarawih wa Az-Zakah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Panduan Praktis Menghitung Zakat, Adil Rasyad Ghanim. (Khalif)

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=149
Rabu, 07 April 04
http://www.alsofwah.or.id/cetakannur.php?id=149

Membayar Zakat
Jumat, 03 Juni 11

1- Zakat hanya diberikan kepada delapan pos yang tersebut dalam at-Taubah 60, tidak selain mereka, karena Allah membatasi mustahiq (pihak yang berhak) hanya pada mereka, maka anak yatim misalnya tidak diberi zakat karena namanya tidak tercantum di antara delapan pos.

2- Membayar zakat berpijak kepada asas maslahat, mempertimbangkan sejauh mana tujuan zakat bisa terwujud, maka tidak wajib memberi zakat kepada delapan pos seluruhnya, sebaliknya zakat bisa diberikan kepada satu atau sebagian dari mereka bila ada kemaslahatan untuk itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Muadz, “Sampaikan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan zakat atas mereka yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir mereka.” (Muttafaq alaihi).

3- Zakat hanya diberikan kepada muslim bukan selainnya, kecuali satu pos yaitu muallaf, berdasarkan hadits Muadz di atas di mana kata ganti pada, “Orang-orang kaya mereka.” dan, “Orang-orang fakir mereka.” kembali kepada kaum muslimin.

4- Bila harta sudah mencapai nishab dan berputar satu haul maka ia wajib dizakati dan kewajiban ini bersifat segera, karena kewajiban adalah perintah dan pada dasarnya perintah berlaku segera, penundaan berakibat tertundanya hak fakir miskin di mana hajat mereka terkadang tidak bisa ditunda, penundaan hanya dibolehkan bila ada udzur, bila wajib zakat menunda-nunda tanpa udzur lalu zakat tersebut hilang karena keteledorannya maka dia bertanggung jawab.

5- Bila harta sudah mencapai nishab dan belum berputar haul, bila muzakki berkenan menyegerakan kewajiban maka zakatnya sah, karena haul adalah haknya dan di sini dia tidak mengambilnya. Rasulullah shallallah ‘alaiji wasallam mengizinkan pamannya Abbas bin Abdul Mutthalib untuk melakukan itu. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Bila harta belum mencapai nishab, bila pemiliknya ingin berbuat baik maka ia adalah sedekah.

6- Diutamakan bagi muzakki memberikan zakatnya kepada kerabatnya yang tidak wajib dia nafkahi, karena hal itu mengandung dua manfaat, manfaat zakat dan manfaat silaturrahim.

7- Muzakki tidak memberikan zakatnya kepada orang yang nafkahnya adalah tanggung jawab muzakki seperti bapak ibu ke atas, anak cucu ke bawah dan istri, karena dalam hal ini muzakki mengambil manfaat dari zakatnya sendiri, seolah-olah dia memberikan zakatnya untuk dirinya dan menggugurkan kewajiban nafkah dengannya.

8- Zakat tidak diberikan kepada orang mampu dan orang kuat yang berpenghasilan, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Tidak ada bagian pada zakat untuk orang mampu dan orang kuat yang berpenghasilan.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa`i.

9- Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan keluarga beliau, yaitu Bani Hasyim, tidak halal menerima zakat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada al-Hasan, “Ekh, ekh, apakah kamu tidak tahu bahwa kami tidak makan sedekah.” (Muttafaq alaihi). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya sedekah tidak patut bagi keluarga Muhammad, karena ia adalah ampas harta manusia.” (Diriwayatkan oleh Muslim).

10- Barangsiapa wajib zakat lalu dia tidak membayarnya, maka zakat tersebut adalah hutang atasnya, sekalipun hal itu berlangsung beberapa tahun, dia tetap mengeluarkan zakat untuk tahun-tahun yang berlalu.

11- Pada dasarnya zakat suatu kota untuk kota tersebut, berdasarkan hadits Muadz di atas, kecuali bila muzakki tidak menemukan mustahiq di kota dia tinggal, berdasarkan hadits Muadz di atas.

12- Muzakki boleh memberikan zakatnya kepada mustahiq di luar kota tempat tinggalnya bila ada kemaslahatan seperti tingginya tingkat kemiskinan, hubungan kekerabatan atau kemaslahatan lainnya.

13- Boleh membayar zakat dengan cara mencicil perbulan dan memberikannya kepada seorang miskin atau fakir perbulannya seolah-olah itu gaji bulanannya, misalnya zakat Anda tahun ini adalah dua belas ribu, Anda berikan seribu perbulannya kepada seorang fakir.

14- Zakat uang tidak harus diterima mustahiq berupa uang, bila ada tuntutan kemaslahatan maka tidak mengapa bila uang zakat tersebut dibelikan barang tertentu yang dipertimbangkan lebih bermanfaat bagi mustahiq, misalnya bila fakir itu diberi zakat dalam bentuk uang, maka dia akan membelanjakannya untuk dirinya sendiri dan menelantarkan anak dan istrinya, dalam kondisi ini zakat bisa diberikan kepada keluarga tersebut dalam bentuk bahan makanan pokok atau lainnya. Wallahu a’lam.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatfiqih&id=235
http://www.alsofwah.or.id/cetakfiqih.php?id=235

Zakat Hasil Bumi yang Diperdagangkan
Senin, 21 Februari 11

Di sini terdapat dua sisi: Sisi ia sebagai hasil bumi yang memenuhi syarat zakat hasil bumi, di mana zakatnya adalah sepersepuluh atau seperdua puluh, sesuai dengan kondisinya. Sisi ia sebagai barang perniagaan di mana zakatnya adalah dua setengah persen.

Para fuqaha sepakat bahwa ia tidak dikenakan dua kali zakat: zakat hasil bumi dan zakat perniagaan, akan tetapi hanya satu zakat, zakat hasil bumi atau zakat perniagaan?

Madzhab Hanafi dan Syafi’i dalam qaul qadim berkata, zakat perniagaan. Madzhab Maliki dan Syafi’i dalam qaul jadid berkata, zakat hasil bumi.

Pihak yang menetapkan zakat perniagaan beralasan bahwa ia lebih menguntungkan fakir miskin, karena zakatnya berpatokan kepada prosentase yang meningkat dengan bertambahnya harta.

Pihak yang menetapkan zakat hasil bumi beralasan bahwa sisi ini lebih kuat, karena pada dasarnya hasil bumi dizakati dengan zakat hasil bumi, tidak dibelokkan kepada perniagaan tanpa dalil.

Pendapat kedua lebih dekat, karena:

1- Sejalan dengan prinsip dasar, hasil bumi dizakati dengan zakat hasil bumi.

2- Peletak syariat bukan tidak mengetahui bahwa tidak sedikit petani menanamnya dengan tujuan dijual atau diperdagangkan, namun demikian zakatnya ditetapkan dengan zakat hasil bumi.

3- Dengan asumsi alasan kedua pendapat sama-sama kuat, maka salah satunya tidak lebih berhak untuk diterima daripada yang lain, sehingga dalam kondisi ini kita kembali kepada hukum dasar, yaitu zakat hasil bumi. Wallahu a’lam.

Korelasi masalah ini dengan zaman terletak pada dua titik:

1- Pemilik hasil bumi adalah penanamnya kemudian penjualnya saat panen. Masalah inilah yang diperdebatkan di atas.

2- Pemilik hasil bumi bukan penanamnya akan tetapi pembelinya saat panen untuk dijual kembali. Untuk masalah ini berlaku zakat perniagaan.

Perlu ditambahkan bahwa kadar wajib yang harus dikeluarkan dalam kedua kemungkinan di atas, hanya wajib dibayarkan bila:

1- Harta zakat telah mencapai nishab. Nishab zakat hasil bumi telah hadir. Untuk nishab zakat perniagaan akan hadir penjelasannya, insya Allah.

2- Haul untuk zakat perniagaan, atau saat panen untuk zakat hasil bumi.

Masalah: Bila hasil bumi tidak memenuhi kriteria zakat hasil bumi, misalnya kayu atau sayur-mayur, maka zakatnya adalah zakat perniagaan bila ia dijual, mencapai nishab dan berputar satu haul.

Masalah: Hasil bumi dari ladang atau sawah sewa. Zakat hasil bumi dibayar oleh penanam atau penyewa tanah, sedangkan pemilik tanah menzakati upah sewa yang diterima dengan zakat uang bila surat dan ketentuannya terpenuhi.

Masalah: Kadar wajib dalam zakat hasil bumi dibayarkan tanpa memandang biaya yang dikeluarkan oleh petani, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus para amil zakat dan memerintahkan mereka agar menaksir hasil kebun atas pemiliknya kemudian mengambil zakat berdasarkan taksiran tersebut tanpa bertanya tentang biaya kebun kepada pemiliknya.

Masalah: Hasil bumi digabungkan dengan hasil bumi yang lain untuk melengkapi nishab bila keduanya satu jenis sekalipun berbeda macam, misalnya gabah dengan gabah atau kurma dengan kurma. Sebaliknya, bila jenisnya berbeda seperti gabah dengan kurma, maka tidak digabungkan untuk melengkapi nishab. Wallahu a’lam.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatfiqih&id=221
http://www.alsofwah.or.id/cetakfiqih.php?id=221

CARA MEMBAYAR ZAKAT HARTA

Cara Mengeluarkan Zakat 

Soal: Saya memiliki gaji bulanan yang melebihi kebutuhan. Gaji tersebut saya tabung di sebuah bank. Setiap bulan jumlah tabungan itu terus bertambah dan kadang kala juga berkurang. Apakah saya wajib membayarkan zakatnya setiap bulan setelah genap satu haul, sementara cara seperti itu sangat sulit. Ataukah lebih baik saya menetapkan satu bulan tertentu, lalu saya hitung jumlah tabungan yang telah genap satu haul pada bulan itu untuk dibayarkan zakatnya, demikian pula halnya pada tahun berikut?

Jawab: Kami lebih memilih cara yang kedua bagi Anda. Sebab cara seperti itu lebih mudah dan lebih ringan serta lebih aman. Dan insya Allah juga ada tambahan pahala karena menyegerakan pembayaran zakat. Anda boleh menentukan bulan tertentu, bulan Ramadhan misalnya. Setiap datang bulan Ramadhan, Anda menghitung jumlah uang tabungan Anda untuk dibayarkan zakatnya untuk Allah. Sekalipun di antara harta tersebut barangkali baru Anda peroleh atau Anda tabung satu atau dua bulan yang lalu. (Syaikh Ibnu Jibrin)

Soal: Seorang pegawai menabung gaji bulanannya dalam jumlah yang berubah-ubah setiap bulan. Kadang uang yang ia tabung sedikit dan kadang banyak. Sebagian dari uang tabungannya itu ada yang telah genap satu haul dan ada yang belum. Sementara ia tidak dapat menentukan uang yang telah genap satu tahun. Bagaimanakah caranya membayarkan zakat uang tabungannya itu?

Soal: Seorang pegawai lainnya memiliki gaji bulanan yang selalu ditabungnya dalam kotak tabungan. Setiap hari ia isi kotak tabungan itu dengan sejumlah uang dan dalam waktu yang tidak begitu jauh ia juga mengambil sejumlah uang untuk nafkah sehari-hari sesuai kebutuhan dari kotak itu. Bagaimanakah cara ia menentukan uang tabungan yang telah genap satu tahun? Dan bagai-manakah caranya mengeluarkan zakat uang tabungannya itu? Sementara sebagaimana yang diketahui, tidak semua uang tabungannya itu telah genap satu haul!

Jawab: Soal pertama dan kedua sebenarnya tidak jauh berbeda. Lajnah juga sering disodorkan pertanyaan serupa, maka lajnah akan menjawabnya secara tuntas, supaya faidahnya dapat dipetik bersama. Jawabannya sebagai berikut: Barangsiapa memiliki uang yang telah mencapai nishabnya, kemudian dalam waktu lain kembali memperoleh uang yang tidak terkait sama sekali dengan uang pertama tadi, seperti uang tabungan dari gaji bulanan, harta warisan, hadiah, uang hasil penyewaan rumah dan lainnya, apabila ia sungguh-sungguh ingin menghitung dengan teliti haknya dan tidak menyerahkan zakat kepada yang berhak kecuali sejumlah harta yang benar-benar wajib dikeluarkan zakatnya, maka hendaklah ia membuat pembukuan hasil usahanya. Ia hitung jumlah uang yang dimiliki untuk menetapkan haul dimulai sejak pertama kali ia memiliki uang itu. Lalu ia keluarkan zakat dari harta yang telah ditetapkannya itu bila telah genap satu haul.

Jika ia ingin cara yang lebih mudah, lebih memilih cara yang lebih sosial dan lebih mengutama-kan fakir miskin dan golongan yang berhak menerima zakat lainnya, maka ia boleh mengeluarkan zakat dari seluruh uang yang telah mencapai nishab dari yang dimilikinya setiap kali telah genap satu haul. Dengan begitu pahala yang diterimanya lebih besar, lebih mengangkat derajatnya dan lebih mudah dilakukan serta lebih menjaga hak-hak fakir miskin dan seluruh golongan yang berhak menerima zakat. Hendaklah jumlah yang berlebih dari zakat yang wajib dibayarnya diniatkan untuk berbuat baik, sebagai ungkapan rasa syukurnya kepada Allah subhaanahu wata’ala atas nikmat-nikmat-Nya dan anugerah-Nya yang berlimpah. Dan mengharap agar Allah menambah karunia-Nya itu bagi dirinya. Sebagaimana firman Allahsubhaanahu wata’ala:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُم

“Jika kamu bersyukur maka Aku akan tambah nikmat-Ku bagi kamu.”

Semoga Allah senantiasa memberi taufiq bagi kita semua.(Lajnah Da’imah)

Boleh Menyegerakan Pembayaran Zakat Sebelum Genap Satu Haul

Soal: Saya adalah seorang pegawai yang menerima gaji bulanan, setiap bulan saya sisihkan sebagian uang gaji itu untuk ditabung. Dan tidak ada hitungan tertentu atas uang tabungan itu. Bagaimanakah cara saya mengeluarkan zakatnya?

Jawab: Anda wajib mengeluarkan zakat dari setiap bagian tabungan uang yang Anda miliki bila telah genap satu haul. Namun, jika Anda bayarkan zakat dari seluruh uang yang Anda miliki (tanpa memisahkan antara yang genap satu haul dan yang belum genap satu haul), maka hal itu dibolehkan. Dengan demikian, bagian uang yang belum genap satu haul, didahulukan pembayaran zakatnya. Menyegerakan zakat sebelum genap satu haul hukumnya dibolehkan. Lebih-lebih dalam kondisi yang mendesak dan dibutuhkan serta ada mashlahat syar’i yang mendorong hal itu.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=indexkajian&id=1488§ion=kj056
http://www.alsofwah.or.id/cetakkajian.php?id=1498&idjudul=1488

(nahimunkar.com)

Next Post

Related Post

Menyamakan Semua Agama Sama di Sisi Tuhan, Kh Maman Imanulhaq Faqih Dianjurkan Pindah ke Agama Buddha.
Oleh: Moh Aflah (si anak Kampung) Saya mencoba mencermati dan membandingkan pernyataan KH Maman Imanulhaq

Related Post

Meninggal Mendadak, Arif Fadilah Penghina dan Penuduh Tokoh Islam
Pengguna media sosial (netizen) digegerkan dengan pemilik akun Facebook Arif Fadilah yang meninggal dunia secara

One thought on “Pentunjuk Tentang Zakat Maal”

  1. 1. saya ndak sepakat dengan dibolehkannya dibayarkan menyegerakan sebelum genap satu tahun. Karena haul meruppakan syarat syah. kalau ndak dipenuhi ya ndak syah.
    2. untuk semua saja perlu diketahui, bahwa Zakat profesi yang berbasis gaji bulanan dalam islam tidak di ajarkan/tidak disyari’atkan. bagi yang menganjurkan pembayaran zakat profesi mereka ini mendahului Allah dan Rasulnya.
    Pada zaman Nabi, orang yang digaji negara dari baitulmaal (pegawai negeri)sudah ada, dan nabi tidak meminta zakatnya untuk ditarik tiap kali gajian,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *