Perda Minuman Keras

Pemerintah Daerah sudah ada yang mensahkan Perda (Peraturan Daerah) tentang miras (minuman keras), contohnya di Subang Jawa Barat. Hanya saja di tempat lainnya, kalau ada aturannya masih sangat longgar. Surabaya misalnya, ya sudah ada peraturannya, namun sayangnya, berdasarkan peraturan yang ada, para pemilik toko miras ilegal pun tidak dikenakan hukuman penjara, hanya dikenakan wajib lapor. Padahal korban tewas akibat miras telah banyak, di samping kejahatan-kejahatan aneka macam akibat miras yang meresahkan masyarakat.

DALAM hal minuman keras, kebijakan yang seharusnya diterbitkan adalah menempatkan minuman keras sebagai barang haram. Sebagai barang haram, peredaran dan keberadaannya sama sekali tidak diperkenankan alias dilarang.

Secara nasional memang belum ada peraturan yang secara tegas melarang menjual, menyimpan, membuat, dan mengkonsumsi minuman keras. Padahal, peraturan itu sangat dibutuhkan mengingat peredaran miras sudah sedemikian tidak terkontrol. Miras dapat ditemui di mana saja, dan dapat dibeli serta dikonsumsi oleh siapa saja.

Untungnya, sudah ada beberapa daerah yang menyadari pentingnya mengatur miras melalui perda, antara lain di Subang, Jawa Barat. Raperda miras sudah berusia 3 tahun, sampai akhirnya disahkan menjadi perda pada 15 Juni 2009. Upaya ini merupakan langkah maju yang sepatutnya diteladani dan disempurnakan oleh daerah lain.

Perda tentang pelarangan minuman keras yang mendapat dukungan dari Ulama, Wakil Bupati, dan Kepolisian ini, ternyata sempat ditolak oleh PDI Perjuangan, dan diminta untuk ditinjau ulang. Namun akhirnya perda itu disetujui secara aklamasi. Meski sudah disahkan secara aklamasi, muncul aksi unjuk rasa dari para pedagang miras yang menolak diterbitkannya Perda tersebut.

Salah satu butir yang tercantum dalam perda tentang minuman keras adalah melarang warga dalam kondisi mabuk, masuk dan berada di wilayah hukum Kabupaten Subang. Jika dilanggar, pelaku akan dikenai kurungan enam bulan dan atau membayar denda sebesar Rp50 juta. Juga disebutkan, setiap orang dilarang memasuki daerah Subang dalam kondisi yang dipengaruhi minuman beralkohol dan atau jika tindakannya berdampak hukum ketertiban dan keamanan di daerah Subang. Selain dalam kondisi mabuk, larangan lain memasuki dan atau melintasi Kabupaten Subang adalah warga yang membawa minuman beralkohol.

Kapolres Subang AKBP Sugiyono berharap, dengan adanya perda miras, akan menguatkan aparat kepolisian untuk melakukan pemberantasan miras di Subang. “Siapapun yang membawa miras ke Kabupaten Subang akan kita proses,” tegasnya.

Menurut Agus Warsito (Ketua Fraksi Golkar), minuman keras sangat membahayakan generasi muda, dan sudah banyak nyawa melayang akibat minuman keras. Faktanya, sebagaimana diberitakan okezone edisi Selasa, 19 Mei 2009, dua warga dari Kecamatan Pusakanagara dan Pamanukan Kabupaten Subang, tewas usai menggelar pesta minuman keras di tempat hajatan dan pesta dangdut (17 Mei 2009).

Dua warga yang tewas itu adalah Suwinto (22 tahun) warga Dusun Karang Tempel RT 07 RW 02, Desa Cigugur Kaler, Kecamatan Pusakajaya; dan Jacky Hilman (27) warga Dusun Pangadangan RT 016 RW 06, Desa Rancasari, Kecamatan Pamanukan. Selain memakan korban jiwa, dua orang warga lainnya menjalani perawatan intensif di Puskesmas Pusakanagara, yakni Rawin yang masih berusia 17 tahun, warga Dusun Krajan III, Desa Cigigur Kidul, Kecamatan Pusakangara; dan Cahyadi yang masih berusia 18 tahun, warga Desa Cigugur Kidul, Kecamatan Puskanagara.

Kasus di atas hanya salah satu saja dari sejumlah kasus memilukan yang terjadi di Subang. Sehingga, masyarakat Subang menjadi begitu geram terhadap begitu bebasnya keberadaan dan penyebaran miras di wilayahnya. Saking bebasnya, berbagai merek miras dari berbagai daerah bisa ditemukan di Subang. Misalnya, miras asal Manado dengan kadar alkohol sangat tinggi (47%) sudah beredar di Kabupaten Subang. Selain itu, miras yang biasa dijual di hotel berbintang pun, seperi Chivas dan Black Label, banyak ditemukan di warung-warung kecil. (http://suarasubang.blogspot.com/2009/05/miras-asal-manado-beredar-di-subang.html)

Menurut AKBP Drs. Sugiyono, SH (Kapolres Subang) berdasarkan hasil razia yang dilakukan jajarannya di wilayah kecamatan Pusakanagara, dalam tempo 4 jam berhasil disita 2.591 botol berbagai merek, yang keseluruhannya berasal dari warung-warung atau kios-kios yang berada di pedesaan. Berbagai acara hajatan di sekitar pedesaan itu telah menjadi sasaran penjualan berbagai miras tersebut. Kalau dulu ada istilah listrik masuk desa, kini ada miras kelas hotel berbintang masuk desa.

Di bulan sebelumnya, April 2009, pernah dilakukan razia miras selama kurang lebih tujuh hari, dari tanggal 24 sampai dengan 30 april 2009. Namun baru beberapa hari dilaksanakan operasi, telah berhasil dirampas dan dimusnahkan sebanyak 11.310 botol miras yang berkadar alkohol di atas 4-20 persen yang terdiri dari berbagai macam merk.

Menurut catatan kepolisian, mayoritas pengguna miras itu adalah anak-anak muda yang dengan sengaja mengkonsumsi miras hanya untuk kepuasan sesaat. Kondisi ini merupakan salah satu pendorong diterbitkannya perda tentang larangan miras di Subang. Menurut Kapolres Subang, di kabupaten Indramayu saja, setelah diterbitkan perda miras, maka tidak ada lagi peredaran miras yang berkadar alkohol tinggi secara bebas.

Pesta Miras Dimana-mana

Pesta miras hingga merenggut nyawa tidak hanya terjadi di Subang dan Indramayu, tetapi kejadian seperti itu dapat ditemukan di banyak tempat di Indonesia. Lokasi pesta miras, tidak hanya di tempat-tempat tertutup tetapi juga di tempat-tempat terbuka, bahkan di kuburan pun pesta miras kerap digelar. Pelaku pesta miras, bukan hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak usia sekolah menengah pertama (SMP), bahkan remaja yang baru merekah (abege) tak sedikit yang jadi korban pesta miras. Semaraknya pesta miras di berbagai tempat dan diikuti oleh berbagai kalangan, penyebabnya antara lain karena begitu mudahnya memperoleh miras, bahkan di kedai-kedai jamu pinggir jalan miras berbagai merek dapat dibeli.

Salah satu contoh kasus, terjadi di Pondok Rangon, Cipayung, Jakarta Timur. Korbannya, Dasya Azira Gumay berusia 14 tahun, jenis kelamin perempuan. Menurut ketentuan WHO, remaja adalah mereka yang berusia 15-25 tahun. Berarti Dasya termasuk golongan usia pra remaja atau biasa disebut ABG (anak baru gede).

Dasya ditemukan tewas di gubuk yang sebagian dindingnya gedek, dekat gedung SMPN 230. Ia tewas dengan luka membiru di leher setelah dicekoki pil tidur yang dioplos minuman keras (miras) murahan di kuburan (TPU) Pondok Rangon.

Manurut keterangan polisi, Dasya bersama sejumlah temannya sejak siang berkumpul di TPU Pondok Ranggon. Bermodalkan uang lima ribu rupiah, mereka membeli 40 butir pil penyebab kantuk serta minuman keras yang biasa untuk campuran jamu. Obat dan minuman itu dioplos lalu bergantian ditenggak kawanan tersebut. Dasya yang tak biasa minuman keras mulai lemas. Para abege itu bingung, lalu membawa Dasya ke rumah salah seorang teman mereka di Pondok Rangon. Namun, pemilik rumah menyuruh mereka pergi. Alasannya, anak-anak itu tengah mabuk. Akhirnya, Dasya dibawa ke sebuah gubuk yang terletak di samping sekolah, persis di depan kuburan. Di tempat iu, Dasya menghembuskan nafas terakhir.

Berdasarkan hasil visum, kematian Dasya diduga akibat pukulan benda tumpul di leher. Polisi masih menyelidiki penyebab luka di leher Dasya. Namun, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan seksual. Dasya ahirnya dimakamkan di TPU Pondok Ranggon, pada hari Kamis, 30 April 2009 siang. (http://www.poskota.co.id/kriminal/2009/04/30/pesta-miras-oplosan-di-kuburan-bunga-smpn-230-dibunuh/)

Sekitar dua pekan kemudian, di Tegal, sejumlah 23 orang tewas akibat pesta miras oplosan, dan beberapa lainya sekarat. Menurut Kombes Dewa Bagus Made Suharya (Kapolwil Pekalongan), berdasarkan hasil pemeriksaan hingga 15 Mei 2009, para korban meninggal setelah menenggak miras oplosan yang dibeli dari warung milik Tomo di Kota Tegal. Tomo mengakui, miras oplosannya itu terbuat dari campuran bio ethanol yang biasa digunakan untuk bahan bakar kompor dengan air dan gula merah.

Hampir bersamaan dengan itu, di Pati tiga orang warga Desa Waturoyo Kecamatan Margoyoso, tewas setelah minum miras oplosan. Sebelumnya, ketiga korban sempat dirawat di Rumah Sakit Islam Margoyoso, namun akhirnya meninggal pada hari Jum’at 15 Mei 2009.

Sekitar sepekan sebelumnya, di Indramayu, tiga pemuda tewas setelah mengkonsumsi miras oplosan. Kejadian itu terjadi pada sebuah hajatan yang berlangsung di Desa Kertanegara, Haurgeulis, Indramayu, pada hari Sabtu tanggal 09 Mei 2009. Ketiga korban tewas tersebut adalah Wandi (25 tahun), Herman (23tahun), dan Nosanori (30 tahun). Minggu pagi tanggal 10 Mei 2009, ketiganya tewas setelah sempat dirawat di RS Bhayangkara Losarang.

Pasca kejadian tersebut, Kapolres Indramayu AKBP Mashudi langsung memerintahkan anak buahnya menggelar razia besar-besaran. Sasarannya, gudang milik distributor, agen, toko dan kios se-Kabupaten Indramayu. Tak kurang dari 18.800 botol miras berbagai merk yang masih dikemas rapat dalam 400 kardus diamankan, untuk dimusnahkan.

Masih di bulan Mei 2009, di Pasuruan dan Jember, empat orang tewas setelah mengkonsumsi miras oplosan (minuman keras dioplos dengan jenis narkoba tertentu). Dua korban dari Jember adalah Susilo Hadi alias Modik (30 tahun) dan Jefri (25 tahun). Keduanya warga Kelurahan/Kecamatan Sumbersari. Jefri tewas Selasa 5 Mei 2009 pukul 13.00 WIB, sedangkan Modik tewas pukul 16.30 WIB.

Sedangkan dua korban pesta miras di Pasuruan menimpa Ghofur (40 tahun) dan Hadi (40 tahun). Ghofur warga Dusun Pucangan, Kelurahan/Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan tewas pada hari Selasa 5 Mei 2009, dan Hadi (40 tahun) warga Krapyakrejo, Kecamatan Gadingrejo tewas pada hari Rabu 6 Mei 2009 dini hari. (st13/st9 http://www.surya.co.id/2009/05/07/pesta-miras-empat-tewas.html)

Sebulan sebeluna, April 2009, di Jakarta Utara, dua pemuda tewas dan seorang lainnya sekarat di rumah sakit setelah menenggak minuman keras merk Ciu oplosan. Keduanya adalah Bagus Setiadi (19 tahun) dan Santo alias Gembel (19 tahun). Mereka meninggal dunia pada hari Senin tanggal 13 April 2009 malam di RS Sulianto Saroso, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Keduanya, menurut warga, pada hari Sabtu tnggal 11 April 2009 sore, terlibat pesta miras di Jl. Bentengan V RT 05/05, Sunter Jaya, Tanjung Priok, bersama 3 pemuda lainnya. Mereka membeli miras kemasan dalam plastik di sebuah warung, untuk ditenggak secara bergiliran. Menjelang magrib, acara nongkrong bubar setelah Bagus dan Gembel mendadak terkapar. Warga kemudian melarikan keduanya ke rumah sakit.

Pelajar dan Mahasiswa

Di kalangan pelajar dan mahasiswa, pesta miras sudah menjadi hal yang biasa. Misalnya, sebagaimana diberitakan Bengkulu Ekspress edisi 07 Mei 2009, di bawah judul Pesta Miras, 11 Pelajar Diringkus Satpol PP. Pada tanggal 06 Mei 2009, sekitar jam 10:00 pagi sejumlah 11 pelajar SMA dan SMP ditangkap satpol PP setempat saat sedang menggelar pesta miras. Mereka adalah Dila (Siswi SMAN 1 Curup Timur), Dika (Siswa SMAN 1 Curup Timur), Pasya (Siswa SMPN 1 Curup Kota), Kio (Siswa SMPN 2 Curup Kota), Randi (Siswa SMAN 1 Curup Timur), Immo (Siswa SMAN 1 Curup Timur), Fery (Siswa SMAN 1 Curup Timur), Elsa (Siswi SMAN 1 Curup Timur), Sari (Siswi SMAN 1 Curup Timur), Windia Sari (Siswi SMAN 1 Curup Tengah) dan Donda (Siswi SMAN 1 Curup Timur).

Sementara itu, di Tasikmalaya, pada hari Kamis tanggal 7 Mei 2009 seorang mahasiswa dan tiga rekannya ditangkap saat pesta miras di ruang terbuka komplek lapang olahraga Dadaha Kota Tasikmalaya, ditangkap Tim Satnarkoba Polsek Cihideung Kota Tasikmalaya. Akibat perbuatannya itu, dengan keadaan setengah mabuk, mereka digiring petugas yang kebetulan sedang melakukan operasi penanggulangan penyakit masyarakat (operasi pekat) di sana.

Siang itu, Rif Ab (18 tahun) mahasiswa yang baru masuk di perguruan tinggi swasta Kota Tasikmalaya, diajak teman-temannya yakni Ek Pr (21 tahun), Fa Sur (19 tahun), dan Bu Kur (19 tahun), untuk mabuk-mabukan sambil minum minuman keras merk mac donald. Namun, tanpa disadari mereka, polisi yang sudah mengetahui informasi pesta miras itu, langsung menggerebek para pemuda tanggung tersebut.

Maraknya pesta miras berkorelasi dengan mudahnya memperoleh miras. Oleh karena itu, sebagaimana dilakukan aparat polsek Asemrowo (Surabaya), mereka melakukan penggerebekan terhadap dua toko yang menjadi tempat membeli miras. Dari 2 toko itu, petugas menyita setidaknya 84 botol miras dari berbagai jenis dan merk.

Toko pertama milik Rusmah Sitinjak (54 tahun), warga Balongsari. Dari toko ini polisi menyita 24 botol Paloma dan 12 botol Topi Miring. Sedangkan toko kedua yang digerebek milik Sahat Sitorus (60 tahun), warga Putat Jaya. Dari toko ini petugas menyita 12 botol Arak Beras, 11 botol Newport, 14 botol Vodka dan 11 botol Mansion House. Yang lebih parah lagi, ternyata mereka tidak mempunyai izin menjual miras. Dengan demikian mereka telah melanggar Pasal 2 (2) huruf d ke 3 Jo pasal 22 (1) Perda Kota Surabaya nomor 12 tahun 2003 tentang perizinan bidang kesehatan (miras) Jo pasal 03Permenkes RI nomor 86 Menkes/PER/IV. Sayangnya, berdasarkan peraturan yang ada, para pemilik toko miras ilegal itu tidak dikenakan hukuman penjara, hanya dikenakan wajib lapor.

Kalau cuma dikenakan wajib lapor, tentu tidak membuat para penjual miras ilegal itu kapok dan mencari komoditas lain untk dijual, juga tidak membuat para penjual miras ilegal lainnya menutup usahanya. Seharusnya kota besar seperti Surabaya punya Perda tentang miras yang dapat membuat penjual dan konsumennya kapok sebenar-benarnya. Subang sudah mulai, kapan di daeah lainnya? (haji/tede)