Perintis Ukhuwah Syaithoniyah dan Ghirah Kafiriyah

Menabung Dosa Lipat Ganda

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Orang Muslim yang berbuat kebaikan akan dilipat gandakan pahalanya. Sedang bila ber-buat jahat maka dosanya hanya sepadan dengan kejahatannya itu. Namun kejahatan juga bisa berakibat berlipat gandanya dosa. Berikut ini keterangan dan contoh-contohnya.

Pahala dan dosa atas perbuatan itu di antaranya bisa disimak dalil-dalil berikut:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ(160)

Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (Al-An’aam: 160).

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا هَمَّ عَبْدِي بِسَيِّئَةٍ فَلاَ تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا سَيِّئَةً وَإِذَا هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوهَا حَسَنَةً فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا عَشْرًا

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: Rasulullah shallallahu ‘laihi wa sallam bersabda: Allah subhanahu wa ta’la berfirman kepada Malaikat pencatat amal: Apabila hambaKu berniat ingin melakukan kejahatan, maka jangan kamu menulisnya sebagai amal kejahatan. Apabila dia melakukannya barulah kamu menulisnya sebagai satu amal kejahatan. Jika hambaKu berniat ingin melakukan kebaikan, tetapi dia tidak (sempat) melakukannya, maka catatlah sebagai satu amalan kebaikan. Jika dia melakukannya maka catatlah kebaikan itu sepuluh kali lipat. (Muttafaq ‘Alaih).

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ*. رواه مسلم والنسائي وابن ماجه والترمذي باختصار القصة).

Barangsiapa membuat/ merintis dalam Islam suatu perbuatan kebaikan maka baginya pahala kebaikan itu dan pahala orang yang mengerjakannya setelahnya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa membuat/ merintis dalam Islam suatu perbuatan kejelekan maka dosa kejelekan itu (menimpa) atasnya dan (ditambah dengan) dosa orang yang mengerjakannya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun. (HR Muslim, An-Nasaa’I, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi dengan kisah ringkas).

وَقَدْ أَخْرَجَ مُسْلِم مِنْ حَدِيث جَرِير ” مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَم سُنَّة حَسَنَة كَانَ لَهُ أَجْرهَا وَأَجْر مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْم الْقِيَامَة وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلام سُنَّة سَيِّئَة كَانَ عَلَيْهِ وِزْرهَا وَوِزْر مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْم الْقِيَامَة ” وَهُوَ مَحْمُول عَلَى مَنْ لَمْ يَتُبْ مِنْ ذَلِكَ الذَّنْب. (فتح الباري ج: 12 ص: 193)

Imam Ibnu Hajar menjelaskan, bahwa Imam Muslim telah mengeluarkan hadits Jarir: Barangsiapa membuat/ merintis dalam Islam suatu perbuatan kebaikan maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya sampai hari Qiyamat, dan barangsiapa membuat / merintis dalam Islam suatu perbuatan kejelekan maka (ditimpakan) atasnya dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya sampai hari Qiyamat. (Komentar Ibnu Hajar dalam Fathul Bari): yaitu mencakup atas orang yang belum/ tidak bertaubat dari dosa yang demikian itu. (Fat-hul Bari juz 12 halaman 193).

Mencontohi/ merintis perbuatan dosa, lalu ditiru-tiru orang, bahkan disebarkan ke masyarakat, maka pembuat contoh itu akan mendapatkan dosa dia sendiri dan dosa orang-orang yang menirukannya selama perbuatan dosa itu masih dilakukan, tanpa mengurangi dosa peniru-peniru itu, dan selama pembuat contoh itu tidak bertaubat. Peniru-peniru yang melakukan dosa itupun mendapatkan dosa mereka, selama mereka tidak bertaubat. Untuk memudahkan pemahaman, berikut ini kami kemukakan contoh-contohnya.

Perintis patung wanita telanjang

Ada presiden yang menghiasi istananya di Bogor, misalnya, dengan gambar-gambar porno berupa wanita-wanita yang pakaiannya sangat tipis, dan patung-patung wanita telan-jang. Lalu dia tidak jadi presiden lagi karena sebelum mati pun sudah tak berkuasa, maka gambar dan patung porno itu tidak dipajang lagi oleh penguasa berikutnya. Tetapi ketika anaknya yang perempuan kemudian jadi presiden, maka patung porno dan gambar-gambar merangsang syahwat itu dipasang lagi. Maka penerus kejorokan yang tentu saja dosa itu mendapat dosa, dan ayahnya yang sudah dikubur itupun bertambah siksanya insya Allah dengan dosa dari anak perempuannya yang meneruskan perbuatan ayahnya itu, tanpa mengurangi dosa si anak itu sendiri.

Perintis “penyembahan” kuburan dan ruwatan

Ada presiden yang sukanya menghidupkan “penyembahan” kuburan, ke mana-mana yang dituju pertama kali adalah kuburan tua. Lalu di mana-mana hidup subur kembali “penyembahan” kuburan. Kenapa disebut “penyembahan”? Karena kalau sekadar ziarah kubur yang memang disunnahkan bagi lelaki di dalam Islam, tentu tidak perlu kuburan tua. Justru kubur kerabat dan yang tempatnya tidak di jauh-jauh sana. Ketika sudah ngluruk (datang ke tempat jauh) bahkan yang dicari adalah kuburan tua, atau apa yang dipercayai sebagai kuburan keramat, maka tentu ada hal-hal yang lain lagi, yang tentu saja tidak sesuai syari’at, karena tak ada petunjuk apalagi perintah seperti itu. Maka hal itu jelas keburukan. Ketika menghidupkan keburukan seperti itu, otomatis berdosa dan akan mendapatkan dosa dari orang-orang yang menirunya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka.

Di samping itu dia (Abdurrahman Wahid alias Gus Dur) juga menghidupkan kembali kemusyrikan berupa apa yang disebut Ruwatan, yaitu upacara kepercayaan tentang apa yang mereka sebut membuang sial. Dengan upacara Ruwatan itu maka tidak akan dimangsa oleh raksasa Betoro Kolo, menurut keyakinan kemusyrikan mereka. Upacara kemusyrikan itu sudah terkubur, tak terdengar di masyarakat, namun kemudian dihidup-hidupkan kembali oleh orang yang pernah menjabat sebagai presiden Indonesia yang kemudian diturunkan dari jabatannya oleh DPR dan MPR (Dewan Perwakilan Rakyat dan Majelis Permusyawaratan Rakyat) dalam kasus perduitan, di antaranya dana dari Raja Brunei Darussalam. Ini walau dia sudah tak jadi presiden lagi, insya Allah tabungan dosanya masih berlanjut, selama keburukan yang dia hidupkan itu masih dilakukan orang, dan dia belum bertaubat dengan sebenar-benar taubat.

Menghidupkan budaya dekati zina

Ada budaya yang sudah kurang diminati, dan itu adalah pekerjaan waranggono, ledek, sinden dan semacamnya yang pekerjaannya dekat dengan zina. Budaya nyanyi-nyanyi para ledek, waranggono, sinden dan semacamnya yang dekat dengan syahwat itu dihidup-hidupkan kembali oleh tokoh yang ingin meraih suara (pemilih dalam pemilihan umum) dari orang abangan (mengaku Islam hanya namanya, tapi tidak melaksanakan ajarannya). Suara belum tentu didapat, dosa insya Allah ya.

Menghidupkan kembali lomba cantik-cantikan, merangsang syahwat

Ada lomba cantik-cantikan perempuan yang bulan Juli 2002 mulai diadakan lagi dengan sebutan “Puteri Indonesia”. Sebenarnya keburukan model itu sudah dikubur di akhir masa Soeharto. Tetapi kemudian dihidupkan lagi oleh orang-orang (Moeryati Sudibyo dari perusahaan kosmetik Mustika Ratu dll) bahkan sampai sangat dihormati. Hingga Gubernur DKI Jakarta yang lalu Sutiyoso –yang kini kabarnya ingin mencalonkan diri sebagai pemimpin Indonesia dalam pemilu 2009— waktu itu pun karena ingin “menikmati” kecantikan wanita yang diadu kecantikannya, sampai-sampai dia terlambat ketika harus mendatangi acara pidato pencalonan kembali dirinya sebagai gubernur DKI Jakarta, 2002. Keterlambatan yang disengaja, maka dia koling dulu bahwa dirinya terlambat karena urusan perempuan cantik itu. Di zaman jahiliyah saja yang dilombakan hanya syair atau puisi, bukan kecantikan perempuan. Tapi zaman reformasi, justru lebih dari sekadar jahiliyah: lomba merangsang syahwat.

Perintis ukhuwah syaithoniyah dan ghirah kafiriyah

Di saat aliran kekafiran Ahmadiyah yang merusak Islam tapi mengatasnamakan Islam itu diumumkan penyimpangannya dari pokok-pokok ajaran Islam dan direkomendasikan untuk menghentikan seluruh kegiatannya oleh Bakor Pakem (Badan Kordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat) di Kejaksaan Agung, 16 April 2008, muncullah muka-muka lama yang membela kafirin perusak Islam itu. Mereka itu secara mudahnya mungkin dapat disebut sebagai perintis ukhuwah syaithoniyah dan ghirah kafiriyah. Bahkan kemudian 298 nama diiklankan setengah halaman di Media Indonesia Senin 26 Mei 2008. Mereka adalah orang-orang pluralis-me agama (menyamakan semua agama) alias kemusyrikan baru dari berbagai agama.

Ada sejumlah orang yang sudah dikenal tidak pro Islam alias pro kafirin Ahmadiyah walau mengaku Islam misalnya Azyumardi Azra, Gus Dur/ Abdurrahman Wahid, Buyung Nasution, Ahmad Syafii Maarif, Dawam Rahardjo dan lain-lain yang mereka itu rela bergabung dengan orang macam Anand Krishna (Hindu?) yang mengacak-acak kandungan Al-Qur’an lewat tulisan-tulisannya yang diterbitkan penerbitan Katolik / Kompas yakni Gramedia. Mereka direncanakan mengadakan apel akbar di Lapangan Monas Jakarta 1 Juni 2008, di antaranya membela kekafiran Ahmadiyah. Ghirah kafiriyah telah tumbuh pada diri mereka, menggantikan ghirah Islamiyah yang seharusnya ditunjukkan dengan sikap asyiddaau ’alal kuffar (keras terhadap orang-orang kafir) sebagaimana para sahabat Nabi Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam.

Yang benar adalah ghirah Islamiyah dan ukhuwah Islamiyah tumbuh dalam dada setiap orang yang mengaku Muslim. Itu sudah menjadi sifat yang telah dipuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا(29)

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS Al-fat-h: 29).

Para pembela kafirin Ahmadiyah itu yang mereka pilih bukan ukhuwah (persaudaraan) Islamiyah dan ghirah (kecemburuan) Islamiyah tetapi sebaliknya yaitu ukhuwah syaithoniyah dan ghirah kafiriyah.

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ(257)

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah: 257).

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ(73)

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS Al-Anfal: 73).

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ(67)

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma`ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. (QS At-Taubah: 67).

إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ(19)

Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Jatsiyah: 19).

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَامَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الإِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلاَّ مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ(128)

Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin (syaitan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman: “Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS Al-An’am: 128).

Di Indonesia ini adanya sejumlah orang secara beramai-ramai membela kekafiran Ahmadiyah itu adalah gejala baru. Dapat disebut sebagai perintis ukhuwah syaithoniyah dan ghirah kafiriyah. Tentu saja lebih dahsyat dibanding contoh-contoh tersebut di atas yang sifatnya hanya merintis jalan keburukan secara perorangan atau kelompok kecil. Sedang para perintis ukhuwah syaithoniyah dan ghirah kafiriyah ini tingkatnya nasional bahkan hubungannya secara internasional. Betapa dahsyatnya keburukan mereka, dan betapa berat dosa-dosa yang akan dipikulnya bila mereka tak bertaubat dengan sebenar-benar taubat sebelum nyawanya sampai di tenggorokan. Setelah itu hanya penyesalan, memikul dosa yang amat dahsyat.

Pengubah kurikulum IAIN dari Ahlus Sunnah ke kesesatan

Contoh yang nyata pula, perintis yang mengubah kurikulum IAIN (Institut Agama Islam Negeri) se-Indonesia dari faham Ahlus Sunnah ke apa yang disebut Mu’tazilah dengan lebih senang disebut rasionalis adalah Professor Doktor Harun Nasution keluaran Universitas Mc Gill di Montreal Canada. Dengan dalih faham Ahlus Sunnah itu tidak maju, maka digantilah kurikulum IAIN se-Indonesia semau Harun Nasution.

Republika memberitakan:

…saat dia menjabat rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1973 kini Universitas Islam negeri/UIN). Saat itu, secara revolusioner dia merombak kurikulum IAIN seluruh Indonesia. Pengantar ilmu agama dimasukkan dengan harapan akan mengubah pandangan mahasiswa. Demikian pula filsafat, tasawuf, ilmu kalam, tauhid, sosiologi, dan metodologi riset. Menurut dia, kurikulum IAIN yang selama ini berorientasi fikih harus diubah karena hal itu membuat pikiran mahasiswa jumud. (Republika, DIALOG JUM’AT, Jumat, 19 September 2003, Prof Harun Nasution Pembangun Fondasi Islam Modern).

Yang diinginkan Harun Nasution dengan mengubah kurikulum itu adalah munculnya alumni-alumni IAIN se-Indonesia yang menjadi tokoh sesat tingkat dunia seperti Khomeini. Berita Republika sebagai berikut:

Dari semua itu, ada satu obsesi penting Harun yang layak dicatat di sini. Dia berharap, dengan semua upayanya itu, lahir ulama Indonesia yang mirip dengan Imam Khomeini. Pemimpin spiritual Iran itu adalah ulama sekaligus pemikir (ahli filsafat), atau pemikir yang sekaligus ulama.

Jika banyak ulama sekaliber Khomeini muncul di sini, maka gagasan Alfarabi tentang al-Madinah al-Fadhilah sangat mungkin terlaksana. Ini karena menurut gagasan yang diadopsi dari konsep Plato tentang Negara Ideal itu, negara hanya akan makmur jika dipimpin para filsuf yang cerdas, bersifat warak, zuhud, dan karenanya pantang menyaksikan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). hery sucipto/berbagai sumber. (Republika, DIALOG JUM’AT, Jumat, 19 September 2003).

 

Apa yang Harun cela sebagai berorientasi fikih  itu kaitannya adalah menyandarkan Islam kepada dalil (Al-Qur’an dan As-Sunnah). Kemudian dia alihkan kepada mengandalkan akal dan mengusung filsafat. Bahkan mengobarkan faham filsafat yang di antaranya menyebarkan faham kekafiran yakni tidak ada kebangkitan jasad di hari Qiyamat, dan tak ada siksa.

Pengubahan kurikulum itu masih pula disertai mengirimkan para dosen IAIN se-Indonesia untuk belajar apa yang diklaim sebagai metodologi untuk memahami Islam ke orang-orang kafir di Barat: Amerika, Eropa, Australia, dan Turki negeri sekuler.

 Di samping itu Harun juga membenci apa yang dia sebut metode hafalan. Itulah senjata ampuh untuk menghabisi Islam lewat pendidikan tinggi Islam. Karena dengan cara memberedel hafalan itu maka mahasiswa tidak lagi hafal ayat-ayat dan hadits-hadits sebagai landasan Islam. Ketika sudah tidak hafal, maka mudahlah Harun Nasution dan anak buahnya untuk mengisi apa saja yang dimaui, tanpa ada daya lagi bagi mahasiswa untuk membantah kebusukan-kebusukan bahkan kemusyrikan yang disuntikkan. Makanya ketika Harun Nasution mengemukakan bahwa Bunda Theresia (non Islam) juga kelak masuk surga, maka mahasiswa pascasarjana IAIN yang diajari faham kemusyrikan baru yakni pluralisme agama inipun manggut-manggut (mengangguk-angguk) saja karena tidak hafal ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits, serta tidak tahu tafsir yang benar. (baca selengkapnya pada buku saya Nabi-nabi Palsu dan Para penyesat Umat, Pustaka Al-kautsar, Jakarta, 2008)