Oleh Dr. Slamet Muliono

Desa Jamprong kecamatan Kenduruan, Tuban Jawa Timur,  tidak banyak dikenal luas oleh masyarakat Jawa Timur. Hal ini wajar, di samping karena letak desa Jamprong sangat  jauh dari kota Tuban, juga karena posisinya yang dikelilingi hutan dan bukit yang berbatasan dengan Bojonegoro di sebelah selatan dan Blora, Jawa Tengah di sebelah Barat. Masyarakat desa ini dikenal dengan berbagai tindakan kriminal, seperti banyak kasus perampokan, pembunuhan, tawuran, tempat pelacuran, minuman keras dan sejenisnya.

Dari sisi ekonomi, masyarakat desa ini mengandalkan hasil pertanian yang berdekatan dengan hutan. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang menopang kehidupannya di hutan dengan mencuri kayu dan hasil hutan. Hukum rimba merupakan konsekuensi dari kehidupan di hutan, dimana yang kuat dan berani maka berkuasa. Tidak sedikit terjadi perkelahian berujung pembunuhan ketika terjadi perselisihan dan persengketaan memperebutkan hasil hutan.

Secara umum, masyarakat Jamprong berbasis Abangan. Sebagian besar beragama (kebatinan Jawa) “Darmogandul” sehingga bisa dikatakan memusuhi semua agama yang datang ke kampung ini. Di kampung ini sempat ada dakwah Islam yang dibawa oleh keluarga Muhammadiyah, namun tidak bertahan lama dan juru dakwahnya terusir dan pindah ke kampung lain. Perlawanan terhadap dakwah Islam di kampung itu tidak lepas dari kekhawatiran tersingkirnya tradisi dan budaya setempat yang sudah mengakar.

Namun dalam perkembangan waktu, ada seorang warga asli Jamprong yang pulang dari menimba ilmu di pesantren Al-Furqan, Sidayu Gresik Jawa Timur dan memulai berdakwah di kampungnya. Dia berdakwah dengan bijak dengan mengajarkan Islam tanpa mengedepankan benturan dengan budaya dan tradisi setempat. Awal mula berdakwah memang mengalami tantangan yang berat, di antaranya sedikit pengikut dan dicurigai sebagai kelompok sesat, serta dianggap membahayakan tradisi lokal yang sudah berlangsung lama, seperti sedekah bumi, nyadran, dan praktek-praktek keagamaan berbasis Kejawen. Bahkan ancaman pembunuhan juga sempat dialami oleh dai muda ini apabila tidak berhenti berdakwah dan  terus mengajarkan Islam di kampung itu.  Dia bercerita bahwa ketika berceramah di masjid, sempat didatangi seorang preman dan meminta agar menghentikan dakwahnya dan  akan mengobrak-abrik apabila terus berdakwah di kampung ini. Preman itu dikenal sebagai orang yang sadis, berani, dan sangat ditakuti serta tidak segan-segan membunuh orang yang berbeda pandangan dengannya. Bahkan pemerintah setempat juga menghalang-halangi dakwah ini dengan mengharuskan adanya surat ijin bila mengadakan pengajian.

Namun berkat kegigihan dan kesabaran, dan tentu petunjuk Allah, dakwah yang disampaikan mulai diterima oleh sekelompok kecil masyarakat, yakni keluarganya dan bergeser ke sanak familinya. Dakwah di kampung Abangan ini mulai berkembang ketika para tokoh masyarakat berhasil didekati dan diajak untuk masuk dalam barisan dakwah. Bahkan strategi dakwah yang merangkul para tokoh dan pemuka masyarakat itu sangat efektif dan cukup menopang lancarnya gerakan dakwah. Tidak berkembangnya dakwah terdahulu, hingga terusinya juru dakwah, ternyata disebabkan ketersinggungan dan kekhawatiran para tokoh atau pemuka masyarakat akan tersingkir bila dakwah Islam berkembang.

Bahkan dakwah bisa bebas berkembang dan bersifat terbuka dengan adanya dua hal penting. Pertama, peresmian masjid yang mendatangkan seorang jenderal dari Jakarta. Hal ini menghalangi pihak birokrasi untuk menghalangi dakwah. Kedua, keikutsertaan mantan preman dalam pengajian di kampung itu. Preman itu siap berada di baris depan dan siaga membela dakwah ini. Dia sempat menyatakan,”Siapapun yang mengganggu dakwah ini akan berhadapan dengan saya.” Bahkan dia akan membunuh siapapun yang menghalangi dakwah  Islam ini.

Masjid Al-Iman, desa Jamprong, kecamatan Kenduruan, Tuban

Masjid Al-Iman ini dibangun masyarakat secara mandiri dan dikerjakan secara gotong royong dan bahu membahu, sehingga masjid ini bisa dimanfaatkan untuk shalat jamaah dan mengaji anak-anak kampung.

Masjid menghadap bukit dengan tanah yang subur

Masjid ini sudah banyak diramaikan oleh warga desa Jamprong dengan berbagai aktivitas dakwah. Pengajian rutin mingguan dengan mengkaji dan mendalami Islam sudah dilakukan. Anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) juga banyak mendekat di masjid, baik untuk shalat berjamaah atau mengaji. Aktivitas anak-anak usia SD itu di samping mengaji, juga menghafal Al-Qur’an. Bahkan jumlah anak yang menghafal Al-Qur’an itu sudah mencapai 50 anak, sementara pengasuhnya hanya satu. Oleh karena itu, pengasuh sekaligus da’i di masjid ini membutuhkan tenaga pendamping untuk menangani anak warga setempat yang ingin menghafal Al-Qur’an. Padahal banyak pihak yang ingin menitipkan anaknya ke kampung itu untuk menghafal Al-Qur’an. Hal ini ditolaknya dengan halus, karena keterbatasan tenaga dan ketidakmampuan menggaji guru.

Saat ini, sang perintis dan pejuang putra daerah asli Jamprong ini bercita-cita menjadikan desa ini sebagai kota ilmu sehingga hilanglah sejarah desa yang dikenal dengan kampung perampok, pembunuh, tempat pelacuran, dan berbagai hal buruk lainnya. Dia berkeinginan membangun pondok di kampungnya untuk mendidik warganya dengan agama yang benar sehingga muncul cahaya dan berkah Allah.

Surabaya, 1 Februari 2016

(nahimunkar.com)