Tampilan kicauan netizen menagih janji Jokowi “tak berangus kebebasan pers” saat masih menjadi calon presiden pada masa Pilpres 2014./TWITTER


Hidayatullah.com– Masyarakat pengguna media sosial internet (netizen) menagih janji Presiden Joko Widodo (Widodo) yang mengaku tidak akan memberangus kebebasan berekspresi dan berpendapat, terkhusus di dunia maya selama pemerintahannya.

Netizen menagih lantaran janji itu dinilai tak ditepati Jokowi. Mengingat, sepanjang pemerintahan Presiden Jokowi- Wapres Jusuf Kalla (JK) dua tahun lebih ini, setidaknya sudah tiga kali pemerintah melalui lembaga terkait melakukan pemblokiran terhadap situs dan media online Islam.

Pertama, sekitar Maret-April 2015, kedua, jelang Aksi Damai 411 (Aksi Bela Islam II) 4 November 2016, dan ketiga, akhir tahun 2016 hingga kini.

Pantauan hidayatullah.com, Senin (02/01/2017) sekitar pukul 07.15 waktu di Jakarta, netizen terus menyuarakan tanda pagar (tagar) #StopBlokirMediaIslam.

Tagar #StopBlokirMediaIslam pun kembali menduduki jajaran tema paling tren dibahas (trending topic Indonesia/TTI), setelah kemarin, Ahad (01/01/2017) juga menduduki TTI bahkan mencapai peringkat pertama.

Sempat timbul tenggelam, tagar #StopBlokirMediaIslam pagi ini kembali meramaikan TTI sekitar pukul 08.20 WIB.

Netizen dengan akun Arif [email protected], misalnya, mengingatkan Presiden Jokowi akan janjinya tersebut.

“Mohon Pak @jokowi #melawanlupa…CC @jituofficial #stopblokirmediaislam,” kicaunya sembari menandai (mention) akun Jokowi dan Jurnalis Islam Bersatu (JITU).

Janji Presiden itu

Dalam kicauan tersebut, Arif Priyono melampirkan kliping digital tangkapan layar (screen shoot) tampilan berita sebuah media mainstrem online yang berisi pernyataan janji Jokowi tak memberangus kebebasan berekspresi dan berpendapat.

Di situ diberitakan janji Jokowi sebagai calon presiden pada Pilpres 2014 lalu di hadapan 1.000-an netizen pada acara “Jokowi Ngobrol Bareng Netizen” di Ballroom Hotel Lumire, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (26/06/2014).

Saat itu, capres Jokowi mengatakan sikapnya untuk terus menumbuhkan kebebasan berekspresi, tak terkecuali kebebasan berpendapat dan berekspresi di dunia maya.

Jokowi, dalam berita itu, disebut tidak akan melakukan tindakan represif kendati para netizen mengkritiknya secara keras. Justru segala kritikan dari para pegiat internet dan aktivis media sosial, klaim Jokowi, akan dijadikannya sebagai masukan penting dalam mengambil kebijakan yang lebih baik.

“Silakan kritik, yang paling keras sekali pun saya tidak akan pernah marah,” ujar Jokowi saat itu dikutip laman tribunnews.com.

Jokowi menyampaikan itu menjawab pertanyaan blogger politik, Dian Paramita, yang diberitakan mengaku khawatir jika pemerintah akan bersikap represif terhadap para netizen yang mengkritisi kebijakan Jokowi saat terpilih menjadi presiden.

“Saya sangat takut dengan pemerintah yang sangat represif terhadap blogger yang kritis menyatakan pendapatnya kepada pemerintah. Kami ingin tetap merasa aman menyatakan pendapat,” ujar Dian saat itu.

Bagi Jokowi saat itu, jika ada yang mengkritik, dianggapnya sebagai koreksi dan evaluasi untuk memperbaiki.

“Jangan pernah berpikir semua yang saya lakukan baik. Saya memerlukan kritik dan masukan secara terbuka dari para netizen,” ungkap Jokowi berjanji saat itu.

Janji Jokowi tersebut pun dinilai oleh netizen saat ini bak isapan jempol belaka. Pemblokiran situs dan media Islam dinilai bentuk “pemberangusan kebebasan berekspresi”.

“Ini janji Pak @jokowi, Pilpres dulu mayoritas pendukung Bapak Muslim lho, kenapa Bapak malah sebaliknya (sekarang. Red)? Tanya knapa#StopBlokirMediaIslam,” kicau akun M.Alfian Nurul [email protected] me-Retweet kicauan Arif Priyono tersebut.

Disebut Ironis

Sementara, netizen dengan nama akun Yayan [email protected] menyebut, kondisi saat ini tersebut sungguh ironis, mengingat Jokowi-JK justru diangkat popularitasnya lewat media sosial.

“Amat ironis pemerintahan yang naik lewat popularitas di media sosial #StopBlokirMediaIslam…,” kicaunya, Senin ini.

Bahkan, netizen juga menganggap pemblokiran tersebut sebagai bentuk semena-mena pemerintah yang melebihi rezim Orde Baru zaman Soeharto dulu.

“Demokrasi sudah hilang, lebih parah dari jaman Pak Harto. #StopBlokirMediaIslam,” kicau [email protected].

“Ada apa dengan rezim yang sekarang, kok panas banget sama yang berbau Islam? #StopBlokirMediaIslam,” kicau Erchy Williar [email protected].

Seorang pengusaha Muslim, Asih Subagyo, melalui akunnya ‏@Asih_Subagyo berkicau:

InnaliLlahi, ternyata diam-diam ada pemblokiran media Islam. Berita-berita bakal enggak berimbang. Ada monopoli berita. #StopBlokirMediaIslam.”

Berdasarkan informasi yang diterima hidayatullah.com, situs dan media online Islam yang diblokir Kementerian Komunikasi dan Informatika per 30 Desember 2016 tersebut, berdasarkan susunan daftarnya, adalah voa-islam.com, nahimungkar.com, kiblat.net, bisyarah.com, dakwahtangerang.com, islampos.com, suaranews.com, izzamedia.com, gensyiah.com, muqawamah.com, dan abuzubair.net.

“Sebagian besar situs yang diblokir sudah dikenal rekam jejaknya sebagai situs-situs berita rujukan umat, mereka bukan situs radikal #StopBlokirMediaIslam,” jelas akun JITU dalam kicauannya, kemarin.*

Rep: SKR

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Sumber : hidayatullah.com – Senin, 2 Januari 2017

(nahimunkar.com)